
Penculikan Ade ternyata tidak ada kaitannya dengan Chameleon. Begitu juga saat Orion keluar dan menemukan Ade bersandar pada dinding dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tapi,
“Teman?”
“Iya. Teman Ayah juga bilang kalau aku sebenarnya anak Ayah,” kata Ade sambil tersenyum.
Terdengar kabar membahagiakan meskipun itu belum tentu jika tanpa bukti saat ini. Namun, Orion merasa janggal. Menyebut teman, sedangkan Orion tidak memiliki teman. Kalaupun seseorang itu mengaku sebagai teman, seharusnya itu berkaitan dengan NED.
Orion menoleh ke sisi kanan dan kiri bagian atas. Untuk sesaat ia berpikir bahwa ada orang lain di sini sekarang. Tapi tetap tidak ada. Selain para penculik yang tengah terbaring saat ini.
“Ayah, sedang cari apa?” tanya Ade.
“Teman yang kamu maksud itu, apakah kamu masih mengingatnya? Jika kamu ingat maka cepat beritahu padaku,” pinta Orion berwajah serius.
“Ade juga tidak yakin. Karena tiba-tiba orang itu ada di hadapan Ade. Seingatku, dia pria bermata sipit. Hanya itu,” tutur Ade.
“Begitu, ya.”
Pria bermata sipit. Entah itu siapa tapi yang pasti adalah Chameleon. Semenjak malam itu, Orion selalu berpikir bahwa seseorang asing adalah Chameleon. Akan tetapi, bagaimana jika ternyata orang yang dimaksud Ade itu temannya atau lebih tepatnya rekan kerjanya dulu?
Jika memikirkan kemungkinan itu, maka bisa saja. Tetapi masih ada sesuatu yang janggal. Samar-samar Orion dapat merasakannya.
Tap, tap!
Orion dan Ade pun keluar dari gudang tersebut. Meninggalkan semua pria yang kini tengah terbaring tak sadarkan diri begitu saja. Dan menemui anggota Grup Arutala yang lain.
“Anda tidak apa-apa?” tanya salah seorang anggota Grup Arutala pada Orion.
“Kenapa aku ditanya begitu sedangkan anak ini tidak? Sudah, sana pergi. Bawa anak ini pulang ke rumah saja,” ucap Orion.
“Anak ini,” gumam Ade kecewa. Melirik sinis dengan harapan sirna. Jangankan memanggil nama, kalau Orion saja tidak pernah menanyakan namanya.
“Baik, silahkan!”
Setelah Ade masuk ke dalam mobil. Orion juga dipersilahkan untuk segera masuk akan tetapi Orion menolak. Ia berkata bahwa ada urusan lain yang harus dikerjakan di sekitar sini. Mereka pun bergegas pergi tanpa Orion.
“Karura, apa kau merasakan sesuatu?” tanya Orion.
“Tidak, sama sekali. Di sini sangat sepi kecuali orang-orang yang ada di sana,” jawab Karura.
“Lalu, Karura. Apa yang sebelumnya terjadi? Ketika malam itu, saat aku tidak sadarkan diri. Kau melihatnya, 'kan?” sindir Orion.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku hanya melihat pertarungan Nona itu sepintas saja,” ucap Karura dengan tenang.
***
Malam dengan rembulan terang dan bintang tak terhitung jumlahnya. Mahanta menghampiri Orion yang berada di luar gerbang rumah Arutala. Terlihat uap dingin keluar dari mulutnya.
“Aku pikir kau merokok,” ucap Mahanta.
“Dulu aku perokok berat tapi karena mantan istri melarangku, makanya jadi kebiasaan untuk menggantinya dengan manisan.”
Orion menunjukkan wadah piring plastik dengan camilan berwarna putih berupa marshmallow kenyal. Terdapat uang dingin bermunculan di atasnya. Orion sangat menikmati ketika memakannya satu demi satu.
Membuat Mahanta tak habis pikir bahwa Orion suka dengan camilan manis-manis.
“Tidak semua orang benci dengan rasa manis. Termasuk orang tua yang sudah berjalan membungkuk,” sindir Mahanta.
“Kau menyindirku? Tapi aku tidak berjalan dengan membungkuk, kau tahu.” Orion kesal.
Orion menawarinya lalu Mahanta tak sungkan untuk menerima camilan itu. Mereka sama-sama menikmatinya sembari menatap langit malam. Padahal saat itu cuaca sedang dingin, tapi mereka memakan yang dingin-dingin seperti itu.
Kresek!
Sudah tak lagi tersisa camilan malam ini, Orion meremas wadahnya lalu membuangnya ke tempat sampah. Berjalan menuju ke suatu tempat, Mahanta yang penasaran akan ke mana Orion saat itu pun mengikutinya.
“Kau mau ke mana?”
“Chameleon. Aku merasakan keberadaannya,” tutur Orion membuat Mahanta tersentak.
“Kau bisa merasakan keberadaannya?” tanya Mahanta tak percaya lantas mempercepat langkahnya menghampiri Orion.
“Ya. Mungkin ini karena aku terlalu sensitif dengan dia,” singkat Orion.
Malam ini sebuah pasar malam akan dibuka. Yang di mana letaknya tak jauh dari daerah sana dan masih berada di lingkup kota J-Karta. Daerah bagian barat.
Sebelumnya terjadi suatu insiden mengerikan di sana. Dan itu semua karena ulah rekan Chameleon yang bernama Jinan, pria dengan kumis tipis dengan alat pancing berbenang baja. Hanya dengan pancingnya ia mudah mengambil organ dalam tubuh manusia dalam waktu singkat.
Juga, ledakan yang sengaja dibuat itu karena mereka ingin memanas-manasi Orion saja. Dan pada akhirnya Orion yang kalut dalam perasaan cemas, takut dan amarah membludak. Sampai ia membakar tangan kanan Jinan hingga hangus tak bersisa.
Dan sekarang, lokasi Pasar Malam tidak terlalu dekat dengan lokasi kejadian mengenaskan itu.
“Aku jadi rindu dengan masa kecilku,” ucap Mahanta bernostalgia seraya menggenggam jaring ikan kecil.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan? Jangan bermain-main, Mahanta.”
“Dibuat santai saja. Lagipula sudah banyak anggota yang menyebar, bukan?”
Pasar Malam yang menyajikan beberapa hal seperti jajanan, permainan, dan bahkan juga ada bazar buku yang jarang laku.
Tanpa sadar Mahanta sekarang terlarut dalam area Pasar Malam itu sendiri. Ia sedang bermain tangkap ikan di tengah anak-anak. Orion yang berada di sampingnya itu justru malu karena memiliki rekan kekanakan seperti ini.
“Orion, apakah benar dia ada di sini?” tanya Gista yang muncul dari belakang.
“Ya, dia benar-benar ada di sini. Tapi aku masih belum yakin karena di sini banyak sekali orangnya,” kata Orion seraya menghadap Gista.
“Hm, ya sudahlah kalau begitu. Aku akan—”
“Oh, tunggu!”
Begitu Gista hendak membalikkan badan, Orion tampaknya bersikap aneh sekarang. Ia kemudian pergi dan membeli kopi hangat di seberang. Setelah ia membelinya, Orion lantas pergi melewati kerumunan orang.
“Mau ke mana dia?”
“Ikuti saja,” ucap Mahanta dengan serius. Mahanta pula merasa aneh walau hanya sekejap saja, ia mungkin merasakan hawa yang berubah di area ini.
Segera beberapa dari mereka mulai bergerak dengan diam-diam. Begitu pun Mahanta dan Gista, mereka turut mengikuti langkah Orion secepat mungkin hingga berhenti di suatu tempat.
Sebuah bazar buku yang terletak di sudut area jalanan. Tidak ada satu pun lampu yang terpasang bahkan untuk menerangi buku-bukunya saja tidak. Juga, pria tua yang duduk di belakang meja. Pria tua itu hanya terdiam dan menundukkan kepala.
“Selamat malam. Apa Anda ingin secangkir kopi hangat?” Orion menyodorkan gelas kertas berisi kopi hangat tersebut kepada pria itu.
Tiba-tiba apa yang ia lakukan. Sampai-sampai semua anggota yang tengah bersembunyi dalam keramaian menganga tercengang.
“Wah, ada pria baik di sini rupanya, ya. Tapi kenapa aku harus menerima kopi ini?” ujarnya membalas dengan senyum tersinggung.
Setelah beberapa saat, pria itu kemudian menggenggam gelasnya.
“Jika Anda menerimanya. Maka mungkin Anda adalah orang yang saya cari,” sahut Orion membalas senyuman. Lalu, pria itu terkejut lantas menarik tangannya.