ORION

ORION
Pertarungan yang Sengit I



Bertemunya dengan Phantom Gank. Kelompok yang suka sekali mengacau telah datang, entah dengan alasan atau tujuan apa mereka datang kemari. Bahkan sekali dobrak menghancurkan pintu, membuat Ketua Meers geger dan panik. Namun sebisa mungkin ia harus menahan perasaan ketika panik jika tidak ia akan kalah pada mereka.


“Tujuan kalian apa?”


“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, ingin berkencan dengan Nona yang cantik ini,” jawab salah seorang bertopeng lalu tertawa bahak-bahak.


Ketua Meera mengayunkan lengan ke depan, air mengalir dan membasahi mereka tiba-tiba.


Drap! Drap!


Ketua Meera menggunakan kesempatan ini untuk berlari ke belakang mereka, namun sayangnya salah satu dari mereka yang berdekatan dengannya menarik rambut Ketua Meera.


“Ugh!” Ketua Meera mengerang kesakitan seraya berusaha untuk melepaskan diri darinya.


Akan tetapi, pria yang menjambak rambutnya itu justru mendorong tubuh Ketua Meera ke dalam kembali. Terlempar hingga menatap pintu kamar mandi.


“Hei! Wanita itu mau kabur! Cepat kejar!”


“Kh, airnya membutakan penglihatanku.” Pria itu menggosokkan kedua matanya dengan kuat sembari menggelengkan kepala dan membiarkan air terciprat sana-sini.


Mereka kembali mengejar, Ketua Meera bergegas bangkit dan membuka pintu kamar mandi, ia masuk ke dalam seraya melirik ke segala arah.


“Tidak ada yang berguna,” ucap Ketua Meera berdecak kesal seraya menahan pintunya.


“Hei, Nona! Kami akan baik-baik padamu! Jadi bukalah pintu ini! Aduh, astaga, dia wanita yang sangat kuat!”


Mereka berusaha untuk mendobraknya kembali. Dan itu tak lama lagi akan rusak. Ketua Meera juga tidak bisa menahannya terus-menerus, sehingga ia pun memecahkan kaca jendela berserta dengan tirai di sana.


Lalu merusak ponselnya dengan genggaman tangan hingga mengeluarkan arus listrik pendek dari dalam baterai ponsel tersebut.


Dak!


Pintu kamar mandi telah hancur karena mereka. Namun air mulai tergenang di bawah kedua kaki mereka yang telah menginjakkan kaki ke dalam. Ketua Meera berdiri di depan jendela.


“Aku tidak akan ikut dengan kalian. Karena kalian bukan tipeku!” sahut Ketua Meera seraya melempar ponsel yang dalam keadaan rusak itu ke genangan air.


“He-hei ...apa mataku salah lihat kalau,”


Bzzzt!


Mereka semua terdiam. Tubuh mereka menjadi kaku dan tak lagi dapat bergerak dalam posisi berdiri seperti itu. Sebab, arus listrik pendek yang berasal dari baterai ponsel mengalir ke dalam genangan air sehingga dapat menyetrum mereka dalam sekejap.


“Tenang saja, itu tidak akan membuat kalian mati.”


Ketua Meera menjatuhkan diri dari jendela yang barusan ia pecahkan. Tentu saja ia takkan mempasrahkan diri, ia memperlambat kecepatannya saat turun dengan aliran air yang seperti berselancar di udara.


Sampai ia mendarat dengan mudah. Lalu mendapati banyak orang berlarian ke sana dan kemari, tampak mereka menghindari area kecelakaan.


“Apa yang mereka lakukan. Apa ini juga ulah dari kelompok Phantom Gank? Tapi, mereka sebenarnya siapa?”


Ketua Meera bertanya-tanya ada apa sebenarnya di kota, negara luar ini sekarang. Namun yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pergi untuk menjemput di mana Mahanta berada. Karena sebelumnya Mahanta bilang pada Ketua Meera soal kepergiannya.


Karena itulah, Ketua Meera bergegas untuk pergi. Akan tetapi, nampaknya nasib buruk terus menghampirinya hingga saat ini. Ia merasakan hawa membunuh sesaat, bergegas Ketua Meera mengumpat ke balik gang kecil, bersembunyi di balik tiang besar.


“Siapa lagi? Kalau Phantom Gank, rasanya tidak mungkin. Karena mereka hidung belang, jadi mengincar wanita untuk dijadikan hiburan,” gumam Ketua Meera.


Angin berembus dari belakang, Ketua Meera reflek menghindar seraya menoleh ke belakang. Ia merasakan hawa membunuh itu tiba-tiba, dan nyaris ujung kuku yang tajam menusuk belakang punggungnya. Seketika ia bergidik merinding.


Tak menyangka akan bertemu dengan seorang wanita dengan kunciran kuda. Kulitnya yang putih pucat, sempat membuat Ketua Meera terbelalak terkejut. Lantaran, ini berada dalam gang dengan dua gedung di sisi kanan dan kirinya, yang seharusnya gelap dan panas namun justru wanita di hadapan Ketua Meera terlihat sebaliknya.


Pucat dan dingin, itulah yang Ketua Meera lihat dan rasakan dalam sesaat.


“Sera Erwiana Fitria. Wanita tipe monster yang juga pernah menggigit leher Mahanta, ya.”


“Kau cukup tahu aku rupanya,” ucap Sera dengan tatapan tajam, bola mata yang cerah berkilau bagai emas itu bersinar.


“Ya, siapa yang tidak tahu tentangmu. Ah, tapi seharusnya aku tidak mengenal. Apalagi ini adalah kali pertama kita bertemu, bukan?” ujar Ketua Meera seraya mengangkat kedua bahu.


“Raiya Meera, bertugas di wilayah kota B-Karta. Wanita yang meninggal 7 tahun lalu karena terjebak dalam reruntuhan bangunan,” ungkap Sera.


“Wah, kau tahu aku ya.” Ketua Meera terkejut.


“Tentu, tapi aku tidak mengerti. Kenapa kau memiliki kekuatan yang berhubungan dengan air,” pikir Sera.


“Kenapa kau berpikir begitu?”


“Bukankah kalau orang yang mati karena reruntuhan bangunan maka kekuatan yang dimiliki oleh orang itu pastilah berhubungan dengan bangunan itu juga. Atau tanah?” celetuk Sera menyeringai.


“Hm, jadi maksudmu kalau aku memiliki kekuatan air maka kematianku dulu karena tenggelam atau sejenisnya, ya?” sahut Ketua Meera.


“Ya.”


“Oh begitu,” ucap Ketua Meera menyunggingkan senyum lantas perlahan ia melangkah mundur.


“Kau berniat kabur, ya?”


Situasi ini cukup jelas. Bagi Ketua Meera yang berada di tingkat 6 di antara 8 ketua Organisasi NED lainnya, melawan Sera yang berada di posisi ke-4. Meski keduanya sama-sama tidak mengetahui soal itu, namun itu terlihat jelas dari insting Ketua Meera yang merasakan bahwa Sera berada di atasnya.


Ketahuilah, walau bukan pemilik darah penghubung jiwa dan raga, setiap Pejuang NED memiliki kekuatan fisik, intuisi, insting ataupun energi kehidupan mereka jauh lebih unggul dari manusia biasa.


Drap! Drap!


Ketua Meera tertawa, lalu melarikan diri dari Sera yang adalah tipe monster. Dan ini juga merupakan alasan Ketua Meera melarikan diri. Sebagai tipe penyerang sekalipun, tentu ia akan kalah dalam sekejap.


“Kau tidak akan bisa kabur. Misiku di sini adalah mengurangi musuh Tuan Chameleon!” pekik Sera seraya mempercepat langkahnya.


Sera mengungguli Ketua Meera. Langkahnya cepat ibarat seekor cheetah. Larinya sangat cepat, lantas Ketua Meera mengambil tindakan dengan mengalirkan air.


Sehingga langkah Sera menjadi licin karena air tergenang. Nyaris ia terjatuh. Melihat Ketua Meera yang kian menjauh hanya karena pengalihan itu, Sera pun melompat tinggi.


Duuaaak!


Pijakan pada kedua kaki Sera menghancurkan jalan untuk pejalan kaki di saja. Nyaris mengenai Ketua Meera yang berada tepat di sampingnya.


“Cepat sekali. Kepalaku bisa pecah kalau terinjak itu,” gumam Ketua Meera.


Tap, tap!


Ketua Meera berbalik, ia pergi dan menemukan celah untuknya bersembunyi. Begitu Sera menoleh, hilang sudah jejak Ketua Meera saat itu juga.


“Hm?” Ternyata Orion lah yang menyembunyikan keberadaan Ketua Meera di dalam salah satu toko kecil di sekitar.


“Maaf, Ketua Meera. Saya berbuat lancang pada Anda,” kata Orion seraya melepaskan tangan yang sebelumnya membekap mulut Ketua Meera.