
Raka menghela napas panjang. Selang beberapa waktu yang singkat, angin kencang keluar dari tubuhnya, tudung kepalanya terbuka dan ujung dari setiap helai rambut dan pakaian yang ia kenakan termasuk jubah ikut terangkat dengan ringannya.
“Nona Gista memberi saya perintah untuk membawa Orion. Sekaligus membawa bukti tentang pengkhianatan Anda pada Organisasi. Yaitu Anda sendiri.”
Situasinya cukup memanas serta menegangkan. Di antara mereka yang saling bertukar pandang dengan tajam, lalu saling menyerang dari jarak jauh satu sama lain. Pertarungan mereka di halaman belakang, sulit dihentikan.
Terdapat beberapa orang yang tampak mengawasi, sebagian dari mereka adalah orang-orang Caraka selebihnya para pasien yang kebingungan di dalam ruangan. Sedikit mereka melihat namun kemudian menutup tirai jendela rapat-rapat.
Dinding api yang berubah kembali menjadi bentuk memanjang, sedangkan Raka menggunakan angin yang kuat tuk menghempas semua serangan demi serangan dari Caraka.
“Tak kusangka kalau ada Pejuang NED yang memiliki dua kekuatan. Apa rahasiamu?”
Kala itu, Caraka tengah menahan angin yang cukup kuat, membuat kedua kakinya terus terseret ke belakang secara perlahan lantas Caraka terus menahannya sekuat tenaga.
“Keturunan.”
Di sela-sela angin yang mendorongnya mundur tanpa jeda barangkali sedetik saja, Caraka nekat menggunakan kekuatan api dari belakang punggungnya. Angin berhembus dan membuat api itu terus berkobar-kobar.
“Mohon jangan terlalu melawan, dan tolong ikut untuk kali ini saja.”
Meskipun Raka bilang begitu dengan beraninya, namun sebenarnya ia cukup takut saat berhadapan dengan Caraka. Walau terlihat sekarang yang unggul adalah dirinya, Raka tetap berpikir bahwa Caraka bukan levelnya untuk saat ini.
Swooshh!
Kobaran api semakin membesar di punggung, angin kuat yang dikendalikan Raka pun kian membesar dan sangat kuat hingga membuat Caraka terus berada di posisinya saat ini. Seolah terjebak.
Perlahan-lahan bentuk dari api milik Caraka berubah, memanjang ke segala arah mengarah ke depan. Caraka yang berada di tengah, membuatnya terlihat ia seperti laba-laba.
Tap! Raka melompat mundur satu langkah, mengarahkan angin ke atas, seketika tubuh Caraka terangkat ke atas karena pengaruh angin tersebut.
Jrash!!
Satu demi satu hujaman dari atas berasal dari api itu berhasil menggores lengan Raka sekali lagi. Sulit untuk menghindar namun yang menjadi pertanyaan baginya saat ini, kenapa Caraka dapat mudah mengendalikan apinya di saat ia sendiri sedang kesusahan?
“Kekuatannya benar-benar di luar nalar, tidak, mungkin orangnya ...” gumam Raka seraya tersenyum masam.
Datang lagi api yang cukup besar terkumpul di depan Caraka yang masih dalam posisi mengudara. Sebelum Caraka menyerang, Raka menjatuhkan tubuh Caraka, sehingga serangannya tidak akan mengarah padanya.
Srak! Raka melesat ke arahnya dengan bantuan angin yang membuat ia lebih cepat menuju ke arah Caraka. Dengan begitu, Caraka akan kesulitan bereaksi.
Akan tetapi ...
“Berusaha untuk memperpendek jarak? Jangan bercanda, jarak dekat maupun jarak jauh itu tidak ada bedanya bagiku,” tutur Caraka mengejek.
“Huh?”
Eksperesi kebingungan, sedikit ia meragu saat ketika ia sudah berada di depannya. Mengarahkan telapak tangan ke tubuh Caraka.
“Kau ingin menghempasku?”
Jrash!!
Pikiran serta tindakan Raka mudah dibaca olehnya. Keraguan pun semakin menjadi. Caraka menghilang dari depannya, dan berbagai serangan dari belakang menghujam punggung yang terbuka lebar.
Celah kecil serta titik buta yang sulit dijangkau oleh Raka ternyata sudah diincar lama olehnya.
Disusul dengan ledakan di akhir dan membuat asap mengepul-ngepul. Caraka berada tepat di belakangnya seraya ia kembali menyiapkan serangannya lagi.
“Kalau saja kita tidak bertemu, maka mungkin kau akan tetap hidup. Yah, tapi, kalau dia tidak datang maka anak itu menghilang selamanya,” ucap Caraka.
Tubuh Raka yang membujur kaku, tak dapat digerakkan. Mengira bahwa ini telah selesai adalah suatu kesalahan, ketika Caraka berbalik badan untuk segera pergi, justru Raka kembali bangkit.
“Ugh ...apinya mirip sekali dengan api Orion. Warnanya pun sama persis, tapi level mereka berbeda jauh,” oceh Raka.
Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor dengan napas berat. Tubuhnya sulit bergerak sesuai kemauan namun dapat berdiri dan berhadapan dengannya lagi adalah suatu keajaiban.
Raka masih beruntung, karena masih hidup saat ini. Kekuatannya pun tidak menurun, angin yang kembali ia hasilkan justru semakin menguat. Caraka terkejut, membelalakkan kedua mata dan kemudian mengambil jarak untuk berwaspada terhadapnya.
“Harusnya kau diam saja di sana.”
Meski tengah berwaspada, Caraka tidak ragu sekalipun saat kembali menyiapkan serangannya. Desiran angin yang melewati kekuatan di antara mereka, api dan angin terasa menyatu walau hanya sesaat.
Raka menggunakan teknik memperluas jangkauan serang, merentangkan kedua tangan dan seketika angin menerpa diri mereka secara meluas ke seluruh area di sana.
Anginnya sekilas terasa tidak berbahaya, hanya meniupnya lembut namun setelah beberapa saat, muncul beberapa luka sayatan di sekujur tubuh Caraka. Seolah tersayat belati yang terhitung ribuan banyaknya.
“Yah, saya ...hm, aku tidak terbiasa bicara sopan. Mungkin akan lebih baiknya begini, meski aku tetap kalah nanti.”
Caraka memang takkan gentar hanya dengan serangan lambat seperti itu. Kalaupun ia mau menghindar sudah pasti ia lakukan sejak tadi, namun ia sedang menunggu timing yang pas.
Sesaat setelah teknik Raka menyayat semua bagian tubuh hingga darah terus mengalir keluar, Caraka kembali mengeluarkan api dari punggungnya dan membentuk setengah sayap di bagian punggung kirinya.
“Apa itu?” Raka bergumam dan bertanya-tanya apakah yang ada di punggung Caraka.
“Kau pasti tidak pernah melihat ini sebelumnya.”
Swooosh!!
Caraka mengepakkan sayapnya yang melebar, hembusan angin yang panas dan cukup kuat membuat pandangan Raka mengabur. Terasa sangat panas hingga asap putih itu terus mengelilingi Raka dan membuat kulitnya kemerahan terkelupas.
“Ini ...?!”
Crak! Crak!
Bahkan setiap bulu di sayap bisa digunakan sebagai senjata, menerjang Raka dengan hujaman yang lebih keras dan kuat dari sebelum-sebelumnya.
Sebelum semua bulu-bulu itu menancap ke tubuh Raka, ia menghempaskannya dengan angin kuat. Gemerisik dari semak-semak serta rerumputan yang terlihat itu tercabut satu-persatu, menerbangkan mereka ke langit.
Drap! Drap!
“Sudah kuduga mustahil melawannya sendiri,” batin Raka.
Ia berlari sangat cepat, di saat Caraka sibuk bertahan dari angin kuat itu. Mengambil kesempatan ini agar ia terlepas dari genggamannya, namun dalam waktu singkat Caraka kembali mengejar.
“Hah?!”
Saking terkejutnya ia menganga seraya menoleh ke belakang. Tak menyangka bahwa Caraka dengan lihainya mengantisipasi serangan tadi.
“Akan kulakukan lagi!” tegas Raka. Kembali menggunakan teknik memperluas jangkauan serang.
“Oh, dia cukup berbahaya. Menggunakan teknik ini dua kali seolah-olah teknik biasa. Dia pasti anggota tingkat atas milik Nona Gista,” pikirnya seraya berhenti dalam beberapa waktu ketika menghadapi angin yang menyayatnya lagi.