ORION

ORION
Saling Memberikan Keuntungan



“Hm, sayangnya saya tidak pernah bertemu dengan orang yang ahli seperti itu. Tapi kalau mendengar Anda sampai mencarinya kemari, apakah itu berarti dia buron?” pikir Ken.


“Ya. Bahkan sekarang saya sempat curiga dengan Anda. Yang mungkin saja Anda adalah dia,” celetuk Orion.


“Apa ...apa maksud Anda?”


Perbincangan di antara mereka didengar oleh beberapa kriminal lainnya yang berada di sekitar. Tetapi itu tidak membuat Orion ragu untuk mengatakan segala hal yang ia tahu tentang Chameleon. Ia juga takkan membiarkan dirinya lengah lagi seperti sebelumnya.


“Saya hanya berpikir bahwa pola pikir Anda itu mirip dengannya. Tapi tentu saja, saya tahu dia bukanlah Anda. Melainkan karena hubungan di antara kalian yang sudah terjalin beberapa bulan atau mungkin baru saja terjadi.”


Sekali lagi Orion mendesaknya dengan beberapa baris kalimat. Kini tutur kata Orion menjadikan penentu agar Ken dapat membongkar sesuatu tentangnya sendiri secara tidak sadar. Tapi masih sangat mustahil, karena Ken sangat berhati-hati.


“Maksud Anda ...yang suka memelihara banyak kriminal di Emblem Priest-ku? Wah, saya jadi tersinggung nih. Tapi saya benar-benar tidak berniat untuk melakukan kejahatan seperti Chameleon yang Anda bicarakan,” sangkal Ken.


Albe, pria dengan banyak jahitan di wajah itu menganggukkan kepala beberapa kali. Mengetahui bahwa Ken sama sekali tidak berhubungan dengan orang lain.


“Kalaupun mirip. Tetapi saya benar-benar ...ah, tapi memang tindakan ini salah. Saya mengambil mereka dengan paksa lalu membuat mereka untuk menjadi senjataku. Tapi tentu saja itu agar semua masyarakat di kota ini akan sejahtera selamanya,” imbuh Ken seraya mengangkat kedua lengan. Berharap Orion akan mengerti.


“Jangan merasa bahwa saya menyalahkan Anda secara sepihak. Saya tidak berniat menambah musuh kecuali mereka yang berhubungan langsung dengan Chameleon. Itu saja.”


“Ah, itu!” Ken tersentak. Tidak dapat menjawab apa-apa.


“Atau ...jangan bilang bahwa Anda benar-benar memiliki hubungan dengannya? Dan serbuk putih itu?” tukas Orion semakin membuat Ken tersudutkan bagai tikus kecil.


“Saya—”


“Tuan Ken. Saya datang karena ingin menyerahkan—” Seseorang yang sebelumnya telah datang kembali. Namun ucapannya terpotong begitu Ken berbicara lagi.


“Mu-mu-mungkin, saya dapat membantu pencarian Anda terhadap Chameleon itu. Nah, ini adalah rekan saya. Kriminal yang pernah membobol banyak identitas pribadi. Baik dari komputer atau bahkan ke tubuh manusia itu sendiri,” ujar Ken.


“Maksud Anda?” tanya Orion tidak mengerti. Ia masih dapat mengendalikan wajah, ekspresi tenang, kalem sehingga sulit dibaca oleh orang lain.


“Maksud saya. Saya akan meyakinkan Anda bahwa saya tidak ada hubungannya dengan Chameleon,” jelas Ken seraya menundukkan kepala.


“Jujurlah padaku. Katakan, apa Anda menerima barang seperti itu dari seseorang yang bisa disebut sebagai Chameleon? Aku tidak tahu identitas siapa yang sedang dia gunakan ketika bertemu denganmu. Tapi orang itu selalu memproduksi barang seperti itu di negara kami,” jelas Orion.


Orion meminta dengan keras agar Ken memberitahukan segala hal yang ia tahu tentang Chameleon.


“Saya pun cukup yakin, bahwa benda itu Anda sengaja menunjukkannya. Karena mungkin adalah perintah dari orang itu. Apa saya salah?” celetuk Orion.


“Ha ...pada akhirnya saya tidak bisa berbohong seperti orang itu. Memang benar. Saya mengakuinya.” Ken menghela napas dengan raut wajah masam, menatap Orion dengan peluh bercucuran.


“Katakan, ke mana dia pergi?” tanya Orion sekali lagi.


“Ya. Pria itu menyebut dirinya Chameleon. Dia memberi banyak benda itu setelah saya ketagihan mencobanya satu icip. Dia juga lah yang menyuruh saya untuk sengaja menunjukkan benda itu ke orang yang bernama Pak Orion Sadawira,” ungkap Ken.


“Dia jugalah yang menyuruh saya untuk tutup mulut bahwa saya telah bertemu dengannya. Tapi apakah dia sengaja melakukan hal itu?” imbuhnya seraya memijat kening.


“Ya, dia memang sengaja melakukan hal itu.”


“Uh, pria ini benar-benar ...tidak bisa aku baca pikirannya. Sulit dilawan,” batinnya.


Ken sudah kehabisan akal setelah ini. Ia tidak bisa menyahut kata-kata Orion dan pasrah mengatakan segalanya pada Orion.


“La-lalu apakah Anda akan melaporkan hal itu?” tanya Ken dengan sedikit terbata.


“Membantu. Apa yang bisa saya bantu?”


“Seperti yang saya tanyakan pada Anda sebelum ini. Untuk saat ini, katakan di mana Chameleon berada. Saya cukup yakin bahwa dia mengatakannya,” ujar Orion.


“Itu ...saya tidak hal jelasnya. Selain air mancur. Saya tidak sengaja mendengar perbincangannya dengan temannya saat datang kemari,” ujar Ken.


“Tuan Ken, membicarakan hal seperti itu di sini ...apakah tidak masalah?” Pria yang berada di sampingnya mengajukan pertanyaan. Ia merasa agak berbahaya saat mereka membicarakan, apalagi tentang Chameleon.


“Tidak masalah,” kata Ken seraya melambaikan tangan.


“Air mancur kah? Ini sulit. Tetapi terima kasih.” Orion tersenyum.


“Lalu, apakah bantuan yang Anda butuhkan?” Ken kembali bertanya dengan wajah gugup.


“Jadilah rekan saya untuk sementara. Tanpa membawa nama Organisasi tempat saya berada ataupun Emblem Priest milik Anda. Bagaimana?”


“Apa? Itu artinya apa pun itu aku harus melakukannya. Aku mengabdi padanya sampai dia bilang hubungan di antara kita berakhir? Ini seperti perbudakan!” Ken membatin. Ia menggeram seraya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Ken saja kesal mendengar itu yang secara tak langsung membuat dirinya sebagai budak Orion. Apalagi orang yang mengatakan itu sendiri.


Brak!


Terdengar seperti ada suatu barang yang hancur. Lebih tepatnya adalah sebuah pintu pada salah satu ruangan yang berdekatan dengan ruang tamu. Dan itu dari ruang di mana kriminal, yang berbadan gempal dan bermata kecil.


BUM! BUM!


Ia berjalan menuju ruang tamu bagai didatangi oleh seekor raksasa.


“Wama, dia kenapa? Ripia, buat dia berhenti.” Ken memberi perintah.


“Baik Tuan Ken,” ucap Ripia.


Selang beberapa saat, hantaman itu berhenti begitu Wama, nama yang diberikan oleh Ken pada pria berbadan gempal telah sampai ke ruang tamu. Ripia, pria yang dapat meretas banyak jejak dari komputer maupun tubuh manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjelaskan padanya, bahwa saat ini ada hal penting di ruang tamu.


“Tidak mau! Aku mau bertemu dengannya!” pekik Wama yang menolak untuk kembali. Ia lantas kembali berjalan dan menatap Orion.


“Orion, ada monster,” bisik Endaru pada Orion namun tidak digubrisnya.


SRAAAAAA!


Uap panas keluar dari sekujur tubuh Orion, yang kemudian percikan hingga menyemburkan api. Ketika Orion berdiri, kursi yang sebelumnya ia gunakan untuk duduk pun hangus menjadi abu.


Sedikit api menjalar ke dinding, membentuk tulisan NED. Tulisan yang akan membekas jika dinding itu tidak di cat ulang.


“Apa yang Anda lakukan?” tanya Ken terkejut.


“Hanya memberikan tanda. Anggap saja ini sebagai hubungan di antara kita mulai terjalin.”


“Candy!” ucap Wama pada Orion.


“Maaf, aku tidak bisa memberikan permen itu lagi. Sudah habis, nanti akan kuberikan saat berkunjung kembali, ya,” balas Orion pada Wama.


Pada akhirnya hubungan di antara mereka tidak dapat dihindari. Orion akan membiarkan Emblen Priest dan para Saint-nya namun sebagai ganti, Orion memanfaatkan mereka untuk membantunya mencari jejak Chameleon.