ORION

ORION
Merah Berdarah



“Nona Gista, apakah ini karena Pahlawan Kota?!” tanya Mahanta dengan panik.


Setelah menaruh cangkir teh yang barusan ia minum, Gista hanya menganggukkan kepala dengan santai.


Di tempat Gista dan Mahanta sekarang.


“Nona Gista, saya akan mencari Orion sekarang!”


Mahanta kemudian bangkit dari tempat duduknya, ia bergegas menuju keluar namun saat memegang gagang pintu dirinya berhenti bergerak. Lantas terkejut karena tekanan berasal dari lantai atas membuatnya gemetar.


“Tunggu sebentar lagi, Mahanta.”


Justru Gista bersikap biasa saja. Seolah-olah tahu hal ini akan terjadi, Mahanta menoleh ke belakang dan menatapnya tidak percaya. Mahanta bertanya-tanya dalam benak, mengapa Gista jadi seperti ini? Mahanta menganggap sikap Gista hari ini sungguh aneh.


“Anda serius mengatakan hal itu?” tanya Mahanta dengan kening yang berkerut.


“Jangan membuatku bicara dua kali,” tegas Gista dengan suara datar. Seraya menatap sinis ke arahnya.


***


Dinding api yang dibuat Orion agar dapat mengekang Endaru mulai terlihat goyah. Api yang terus membakar seolah dipadamkan dengan paksa melalui tekanan udara. Selama beberapa waktu pun, dinding api itu hancur dan menyisakan percikan api hingga tersebar ke seluruh perabotan dalam kamar.


Semua barang-barang di sana pun terbakar karena percikan api yang tiba-tiba membesar hingga sulit dipadamkan kembali. Bahkan meskipun jika dengan kekuatan Endaru.


“Ingat ini baik-baik, bocah tua. Semua yang dikatakan wanita yang mau menampungmu itu semata-mata hanya untuk memancingku, dan aku bertaruh yang berkaitan denganmu adalah kebohongan,” jelas Endaru. Ia berdiri seraya kembali mengeluarkan kekuatan pengendali gravitasi.


Sedangkan Orion, kedua kakinya terjebak pada lantai, tekanan itu terus membuatnya turun. Tapi berkat api merah, Orion dapat mempertahankan posisinya.


Ia kini terdiam sembari memikirkan kembali apa yang dikatakan Gista dan Endaru barusan. Memang benar, awalnya pun Orion tidak pernah tertarik dengan Pahlawan Kota namun begitu Gista mengatakan sesuatu tentang itu, Orion dengan mudahnya tertarik. Dan juga perkataannya yang menyinggung darah penghubung jiwa dan raga.


“Aku pun tak mengerti apa maksudnya. Jadi tolong berhentilah menggunakan kekuatan di tempat yang banyak orang seperti ini. Endaru!”


Bahkan Orion memohon pada Endaru untuk menghentikannya. Tapi tetap saja, Endaru selalu memasang wajah kesal, tatapannya yang dingin membuat Orion berpikir bahwa ia sama sekali tak bisa diajak bicara.


“Kenapa aku peduli?”


“Kau!! Aku bisa saja membunuhmu tapi tak aku lakukan karena tahu kau sedang tersiksa. Jadi kenapa kau menolak untuk bicara padaku?!”


“Kita sudahi saja pembicaraannya. Dari awal, kau yang mulai menyinggung perkara 30 tahun yang lalu. Aku di sana sangat menderita tapi lihat sekarang? Dia ingin membuatku menderita lagi? Dia bahkan menggunakan orang lain,” gerutu Endaru dengan kebencian yang semakin mendalam.


30 tahun yang lalu? Padahal Orion hanya bicara itu saja dan bukan berarti ia mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat itu. Orion benar-benar tak habis pikir tentang Endaru yang semakin lama semakin menyalahpahami hal ini.


Orion memaksa kedua kakinya untuk melesat ke arah Endaru berdiri saat ini. Dengan tangan yang dikepalkan erat dengan api yang membara. Melekat hingga ke tulang Orion.


Buakk! Tinju Orion melayang begitu cepat dan kuat, tertuju pada ulu hati Endaru hingga merasakan sesak napas sesaat. Kekuatannya lenyap dalam sekejap ketika ia hilang kesadaran dalam waktu sebentar itu.


“Apa benar kau memiliki darah yang sama? Yang terkadang membuatmu harus kabur karena merasa berbahaya?” Sekali lagi Orion menanyakan itu, suaranya tegas dan berat.


“Ohok ...ohok! Ergh ...s*al!”


Endaru terbatuk-batuk, lalu memaki Orion depan wajah. Tak disangka anak ini masih punya banyak keberanian. Orion lantas menghela napas lantas menggelengkan kepala.


“Hanya karena satu masalah, anak muda seperti itu mudah gelap mata. Kalau begitu kau tidaklah pantas menyandang gelar Pahlawan Kota!” kecam Orion tanpa jeda. Ia mencela, merendahkan harga diri serta memaki Endaru dengan beberapa kata kotor.


“Heh, orang sepertimu lah yang membuatku sengsara! Terus saja caci aku, terus saja cap aku sebagai manusia terburuk yang pernah ada!” Bukan merendah ia justru kembali menyahut perkataan Orion.


Endaru benar-benar keras kepala. Setelah dihajar pun, ia masih dapat mengeluarkan kekuatan yang begitu besar. Gravitasi semakin membuatnya bertekuk lutut, percikan api di sekitaran tubuh Orion ikut tersebar dan membuat barang-barang di sana lagi-lagi terbakar.


“Kenapa? Kau sulit berdiri? Atau sulit bernapas meskipun hanya sebentar?” ejeknya dengan mata sipit.


Orion tetap diam, dan dalam kondisi seperti itu ia mengangkat tangannya lagi. Dengan tekanan yang semakin kuat, sebagian tulang rusuk pun menjadi patah. Tak terhitung banyaknya luka yang diderita oleh Orion, baik dari kekuatan Endaru ataupun karena kekuatannya sendiri.


Api itu terus menggerus kulit luar dan dalamnya. Darah ikut mengalir dengan derasnya hingga menggenangi mereka berdua.


Orion memusatkan kekuatan berada di telapak tangan. Keluar dengan cepat dan membentuk sebuah bola. Lagi-lagi Endaru menekan kekuatan itu, membuat apinya goyah.


“Tidak akan kubiarkan kau semena-mena!”


“Kau lah yang harusnya mendengarkan dulu apa perkataan orang tua! Dasar bocah bodoh!”


Keduanya berteriak bersamaan. Kedua kalimat itu menjadi satu namun tidak bisa didengarkan bahkan tidak nyambung.


Semula bola api berubah menjadi suatu benda yang memanjang. Ujungnya runcing, ketika benda itu melesat, secara bersamaan Endaru membuat gravitasi di sekitar mereka menjadi lebih berat sebanyak 30x kali lipat.


Akibatnya, ketika api meruncing itu ditekan sedangkan Orion mempertahankannya, justru menjadikan serangan mereka berbenturan satu sama lain. Sehingga ledakan pun tak terelakkan. Sembarang api membludak keluar memecahkan kaca jendela, tirai yang tersibak menjadi abu dan barang-barang pun tak ada lagi yang tersisa.


Puing-puing yang hancur tersisa itu pun jatuh ke bawah, beruntung tidak ada orang yang saat itu tengah berjalan di sekitaran sana. Angin malam berhembus kencang sesaat setelah ledakan itu berakhir. Bagian dinding-dinding di sana pula nyaris menghancurkan lantai. Bangunan hotel sekali lagi berguncang hebat.


“Ada apa ini?”


“Gempa? Tidak, sepertinya bukan.”


“Hotelnya ...”


Melihat kejadian histeris itu, ledakan yang dalam sekali membuat telinga mereka berdenging. Malam hari ini, pagi-pagi buta sekali sudah ada keributan semacam ini.


Tanggapan dari orang-orang luar ataupun para penghuni hotel sekalipun. Juga setiap ketua yang ada di dalam kamar hotel, tentu tidak akan berdiam diri lagi. Dengan banyak pikiran negatif bermunculan saat ini.