
Orion tersadar setelah dua jam berlalu. Ia terbaring di atas ranjang dengan Mahanta yang duduk di samping, menunggu dengan menahan kantuknya.
“Mahanta!” panggil Orion lantas ia mengambil posisi duduk setelah sepenuhnya sadar.
“Orion? Kau sudah bangun.”
Terlihat seorang wanita yang juga sedang duduk di dekat jendela seraya menyeruput teh. Gista, melirik Orion dengan tajam. Orion rasa ia tahu kenapa Gista meliriknya begitu.
“Aku sudah jelaskan semuanya, benar?” tanya Orion pada Mahanta.
“Iya, benar.”
“Sudah kau katakan semuanya pada wanita di sana?” Sekali lagi Orion bertanya.
Mahanta menganggukkan-anggukan kepala dengan semangat. Dan kemudian ketika Orion beralih pandang ke arah Gista, tatapan tajam itu masih sama.
“Aku sudah tahu semuanya. Tapi kenapa tidak bilang kalau Api Abadi yang menyuruhmu untuk cari mati agar pengendaliannya sempurna?” sahut Gista.
“Ah, itu. 'Kan Api Abadi adalah suatu kekuatan yang tak lazim. Bukankah wajar jika dibayar dengan setengah kehidupan? Bahkan lihat ini, tanganku menjadi begini.”
“Aku tahu Orion. Lalu, benarkah kau ke sana karena Chameleon sendiri yang meminta?” tanya Gista.
“Chameleon memang memintaku datang dan dia berniat untuk merekrut diriku sebagai anggota. Tentu saja awalnya aku berniat untuk ikut tapi setelah melihat kekejiannya pada orang, aku tak sanggup.”
Jelas saja, siapa yang akan mau bergabung kalau atasannya saja sudah tidak waras. Orion tidak sudi bergabung apalagi sampai rela menyerahkan nyawa untuk Chameleon.
“Keputusan yang bagus tapi juga buruk. Jika kau bergabung maka ada kemungkinan rencana Chameleon akan sepenuhnya terungkap.”
“Nona Gista, maksud Anda, kita harus mengirim Orion sebagai agen ganda begitu?” sahut Mahanta bertanya.
“Kalau Orion bersedia, aku juga tidak masalah. Lagipula Orion terlanjur ikut campur soal Chameleon,” tutur Gista seraya meletakkan cangkirnya.
Mendengar itu, Orion sedikit tertawa kecil.
“Ha! Pada akhirnya kalian tidak ada bedanya dengan orang-orang di masa lalu, yang menginginkan diriku untuk kepentingan mereka,” ujar Orion menyindir.
“Bukan begitu, Orion!” pekik Mahanta.
“Bilangnya demi kepentingan bersama, kehidupan atau hal-hal lainnya semisal kebaikanku juga. Namun sebetulnya itu demi kepentingan diri sendiri. Manusia itu 'kan egois,” imbuh Orion kembali menyindir.
“Orion!”
Mahanta mungkin tidak ada niatan seperti itu. Mahanta itu pria lugu, yang tidak akan memanfaatkan orang dan akan rela mengorbankan diri untuk banyak orang.
“Hm, ya kau ada benarnya, Orion. Setiap manusia memang egois namun juga makhluk sosial. Kalaupun kau tak mau, juga tak apa. Aku juga terkadang suka bergerak sendiri untuk mengurus hal ini,” ucap Gista memahami perkataannya.
“Ya, sudah.”
Situasinya jadi canggung. Hening seketika tanpa adanya obrolan dalam waktu panjang. Mungkin sekitar 1 jam mereka berdiam diri di kamar Orion.
Gista pun sepertinya tidak ada hal yang ia bicarakan. Namun situasi itu berubah dalam sekejap begitu ponsel Gista berdering kuat.
Ia mendapatkan panggilan dari Ketua Radhika, mengenai insiden ledakan tak terduga di perbatasan antar kota.
“Ketua Radhika, sepertinya ada banyak yang ingin dibicarakan. Perlukah saya datang ke sana?” tanya Gista seraya bangkit dari kursinya.
“Hei, Orion. Perlu kau ketahui kalau Nona Gista sebetulnya tidak ada niatan untuk itu. Lalu, apakah kau tahu? Sebelum dia tahu bahwa kau memiliki Api Abadi, dia sangat cemas karena banyak orang mengincarmu,” bisik Mahanta.
“Darah langka. Dan Chameleon yang sempat menyamar untuk bertemu denganku, ya?”
“Iya kau benar. Nona Gista tidak mau kau sampai terlibat kekacauan ini lebih dalam karena dia begitu peduli denganmu,” tutur Mahanta.
Orion sama sekali tak menggubris perkataannya. Lantaran, ia juga tahu betul sifat Gista semasa kuliahan itu bagaimana. Terlihat dingin namun sebenarnya sangat memikirkan banyak orang.
Tapi juga ia takkan sungkan menggunakan orang agar tujuannya tercapai, yang di mana ia harus menindaklanjuti Chameleon yang memakan banyak waktu.
Usai Gista berbicara lewat telepon dengan Ketua Radhika, Gista segera meletakkan ponselnya dan kemudian menghampiri Orion.
“Ketua Radhika telah menemukanmu saat itu. Tapi kau nekat ke tempat Chameleon bersama seseorang. Siapa dia?” tanya Gista.
Orion teringat akan serbuk putih itu, tidak ada dalam genggamannya ataupun pakaian yang ia kenakan karena bantuan seseorang. Sekilas melihat ke lantai, menemukannya lantas mengambil benda tersebut.
“Ini! Kudapatkan dari orang yang dimaksud Ketua Radhika. Dia yang menemukannya di ruang Chameleon. Tujuan Chameleon semakin meluas,” ujar Orion sembari menunjukkan serbuk putih itu.
Kemudian ia berdiri dan menatap Gista lalu berkata, “Takkan kau memperdebatkan tentang orang lain yang aku percaya di saat Chameleon terus melakukan tindakan hina itu.”
Melihat reaksi Gista yang diam saja, Orion pun kembali mengatakan sesuatu.
“Kau tahu aku memiliki Api Abadi, dan Chameleon berniat merekrutku dalam grup-nya. Jadi kau berniat memanfaatkan ku dalam celah seperti itu,” tukas Orion.
“Awalnya aku tidak berniat membuatmu terlibat. Namun apa boleh buat karena sudah terlanjur seperti ini,” sahut Gista.
“Dan lihat tangan kananku? Sekarang aku menjadi monster betulan karena sekali aku memegang sesuatu dengan tangan kanan pasti benda itu akan hancur menjadi debu.”
Orion memperlihatkan tangan kanannya pada Gista dan Mahanta. Mereka berdua masih sangat terkejut karena perubahan yang tiba-tiba itu.
Gista mengambil sebuk putih tersebut.
“Menurut prosedur, serbuk putih ini harusnya diberikan pada aparat namun tidak bisa karena terlalu berbahaya. Dan orang yang menjadi pengelola adalah Chameleon,” jelas Gista.
“Aku tahu harusnya begitu.”
“Ya, karena pengelola adalah Chameleon jadi kita tidak bisa sembarangan melaporkan hal ini. Jadi, bagaimana?” tanya Gista.
“Manfaatkanlah aku demi menangkap ataupun membunuh Chameleon. Maka aku pun akan memanfaatkan nama besar-mu,” tutur Orion dengan tatapan tajam.
Hitung-hitung sekali urusan dapat diselesaikan dalam satu langkah. Pada akhirnya Orion dan Gista memang memiliki rencana yang sama. Terdengar egois namun ini kesempatan dalam sekali seumur hidup.
Kalau tidak dicoba dengan tawaran Chameleon, maka mungkin jejaknya akan semakin menjauh dan itu hal tersulit bagi Organisasi utama NED.
“Baiklah kalau itu maumu.”
“Heh, ternyata kau sama sekali tidak berubah Gista. Wanita yang memiliki sikap penuh perhitungan, melindungi namun juga untuk memanfaatkan apa yang orang itu punya,” sindir Orion.
“Aku tidak sejahat yang kau pikirkan. Daripada diriku, kau telah berubah drastis. Pria yang lugu kini bangkit kembali dengan sikap terlalu berhati-hati,” sindir balik Gista.
Situasi di antara mereka justru mirip sekali. Mahanta yang berada di tengah-tengah mereka saja tahu hal itu. Namun dirinya hanya bisa terdiam dengan wajah bingung mengenai pembicaraan mereka.
“Ngomong-ngomong, apakah ada pakaian tahan api?”