
“Ayah!!!” panggil Endaru dengan bersemangat lantas berlari kecil menghampiri Orion.
“Hah? Siapa yang Ayahmu? Dan jangan mendekat!” pekik Orion.
“Tidak mungkin. Ayah tidak mengenaliku?” ucap Endaru sedih.
“Ya, aku bercanda! Haha!” lanjutnya kemudian tertawa.
“Hei, turunkan aku!” Pemain Kecapi masih tidak menyerah, ia terus memberontak meski omongannya tidak selalu didengar oleh Pemain Kecapi.
“Ada apa ini? Kenapa kau membawa orang ini?”
“Kau tidak tahu? Aku membawa Pemain Kecapi untukmu. Maksudku agar aku dapat berjumpa denganmu. Ya, ceritanya panjang,” ujarnya yang terus tersenyum berseri-seri.
“Lupakan omong kosong itu. Sekarang, cepat pergi ke stasiun, anak perempuan itu menunggu,” ucap Orion.
“Eh, lalu kau bagaimana?”
“Aku datang kemari tidak melewati stasiun. Intinya aku datang tanpa kendaraan sama sekali. Pokoknya urusan di sini dan di sana masih banyak. Jangan ikuti aku.”
Suara Orion yang tegas namun dingin, sesaat Endaru terdiam sembari berpikir sejenak tentang tindakannya yang aneh. Sebelum Orion pergi menjauh, Endaru menarik pakaiannya dari belakang.
“Kenapa kau berada di sisi musuh sekarang? Apa kau jadi musuh kami sekarang?” tanya Endaru tanpa banyak omongan lain lagi.
“Entahlah. Nanti kau bisa melihatnya sendiri.”
“Hei, Orion! Apa kau masih ingat dengan yang aku katakan sebelumnya?”
“Hah? Tiba-tiba apa yang kau bicarakan?” Orion menoleh ke belakang.
“Aku hanya percaya padamu. Dan anggapan atau sebutanku barusan untukmu bukanlah main-main. Ayah!” tuturnya tegas, sembari menyebut Orion sebagai Ayah untuk yang kedua kalinya.
Orion tersentak. Tadinya ia berpikir bahwa itu hanya candaan, raut wajah Endaru pun bisa dibuat-buat, karena memang Endaru adalah orang yang paling menjengkelkan nomor dua setelah Chameleon.
Lalu, apa Orion tidak salah dengar barusan?
“Kau bicara apa?”
“Yah! Aku menganggapmu Ayah!” ujarnya sekali lagi sambil meninggikan suaranya.
Perkara hal ini, tentu Orion bingung harus menanggapinya bagaimana. Waktu terus berjalan, sore hari ini akan semakin menggelap tuk menghadapi pergantian pada langit malam.
Burung-burung yang sudah jauh terbang lebih bebas pun tahu bahwa saat ini adalah waktunya untuk pulang setelah bermain-main. Menghadapi masalah yang ada, namun–
“Omong kosong apa yang kau bicarakan. Pergilah!” Menolak panggilan itu, Orion berlalu pergi sembari melambaikan tangannya.
Walau mungkin itu terdengar menyakitkan, tapi apalah daya bagi Orion yang tidak bisa selamanya bersama dengan Endaru. Di balik lengan pakaiannya yang panjang, di situ terdapat sebuah gelang hitam yang meremas pergelangan tangannya.
Salah-salah, urat nadinya akan putus jika terus bersama dengan Endaru saat ini. Secepatnya ia harus menghindar, setidaknya sebelum ada anggota kelompok Chameleon datang.
Tetapi, ternyata ada yang menguping pembicaraan mereka di seberang museum. Ialah Saint Ken. Ia baru saja datang, dan lihatlah apa yang ia lihat saat ini? Pertemuan sesama mantan rekan telah berlangsung sangat singkat. Ken terkekeh begitu melihat wajah Endaru yang syok juga bingung.
“Ada apa, Orion?!” Senyum di wajahnya menghilang.
“Apa salahku?! Ataukah kau sedang diancam?! Hei! Setidaknya bicarakan tentang rencanamu terhadap Chameleon!!” imbuhnya yang semakin meninggikan suaranya.
“Orion yang aku kenal tidak seperti ini! Katakan padaku, Orion!” teriaknya sekali lagi.
Berulang kali ia memastikan bahwa perkataan Orion pasti ada maksudnya namun seberapa keras ia berusaha untuk berpikir apa yang telah terjadi dan makna dari perbincangan mereka, tetaplah tiada hasil. Nihil! Endaru sama sekali tidak bisa memikirkan alasan yang bagus tentang sikap Orion yang sudah berbeda drastis itu.
“AYAH!”
Usai kepergian Orion membuat Endaru sangat tersiksa. Saint Ken akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Ia masih terkekeh-kekeh dengan niat mengejek Endaru yang diabaikan.
“Sepertinya kau sangat menyanyanginya, bahkan menganggap dia sebagai Ayahmu sendiri. Tapi lihatlah dia? Tak sedikit pun ia merasa peduli terhadapmu.”
“Apa maumu? Kau mengejekku?” ketus Endaru.
“Tidak, aku hanya mengatakan fakta. Tapi kedatanganku ke sini seperti yang sudah dijanjikan. Ingat kita pernah bertemu, kau boleh menganggapku sebagai Ayah juga,” ujarnya.
“Orang sepertimu banyak tipu daya.”
“Lalu, apakah kesepakatan itu masih berlaku? Aku berpikir bahwa tujuanmu bukanlah Chameleon melainkan pria api itu,” kata Ken.
“Tujuanku memang itu, tapi Chameleon, tapi sudah seharusnya aku membasmi tokek kurang ajar yang sudah membuat Orion berada di pihaknya dengan cara paksa.”
“Wah, wah, kasar sekali cara bicaramu.”
Endaru sejujurnya merasa sakit hati, tapi bukan berarti dirinya akan menyerah begitu saja. Selama ia masih hidup, maka jalan pun akan selalu terbuka lebar di hadapannya.
“Aku pasti akan membawamu kembali. Karena aku tahu kau berencana untuk apa, Orion. Tidak, Ayah!”
***
Di stasiun. Ramon, Runo dan Ketua Meera tengah mencari keberadaan anak perempuan bernama Madeira. Tapi tampaknya akan membutuhkan sedikit waktu, karena tidak ada anak yang sesuai, bahkan meskipun mereka menemukannya pastilah anak itu adalah anak orang lain.
“Pengecut, kemarikan fotonya!” Ramon setengah berteriak karena ini adalah kebiasaannya, terlebih ia memanggil Runo dengan sebutan pengecut, meski tidak sopan namun itu adalah fakta.
“Berhenti memanggilku pengecut, dasar otak otot,” balasnya jengkel. Runo lantas membalas ejekan Ramon seraya memberikan ponsel yang telah menunjukkan foto seorang anak perempuan.
“Wah, dia sangat cantik. Dan juga dia terlihat dewasa,” ucap Ramon memuji.
“Berhenti bercanda dan cepat temukan anak itu. Aku tidak mau kalau dia mengalami hal-hal buruk lagi,” sahut Ketua Meera lantas ia kembali mengelilingi seluruh stasiun guna menemukan anak tersebut.
Karena usahanya akan sia-sia hanya mengelilingi stasiun saja, maka Ketua Meera pun mengambil tindakan cepat dengan cara bertanya pada orang-orang sekitar dan juga petugas.
“Permisi, apakah Anda pernah melihat anak perempuan?” tanya Ketua Meera.
Ramon menyusulnya sembari ia menunjukkan foto melalui ponsel milik Runo dan berkata, “Ini anaknya. Apa bapak tahu?”
“Hm, mari aku ingat sebentar.” Petugas yang berada di sekitar stasiun tuk menunggu kedatangan kereta selanjutnya nanti, lekas mengingat apakah dirinya pernah melihat anak perempuan sesuai yang telah ditunjukkan.
Petugas itu cukup tua, jadi butuh waktu hanya untuk sekadar mengingatnya.
“Tunggu, sepertinya aku pernah melihat anak ini beberapa jam yang lalu. Dia ada di sini sekitar pukul 8 pagi. Tapi entah ke mana dia sekarang,” ujarnya.
“Apa bapak pernah menanyakan ke mana perginya?”
“Entah ya. Tapi aku pernah mengajaknya berbicara, aku pikir dia anak yang tersesat tapi ternyata dia menunggu seseorang di sini. Makanya aku sempat membiarkannya duduk di dalam.”
“Kalau mencari anak itu, dia mungkin sedang ke kamar kecil,” sahut seorang petugas muda lainnya yang kemudian pergi masuk ke dalam tuk bersiap bertugas.
Dengan ini, Ketua Meera dan lainnya tidak akan pergi sebab mereka akan menunggu beberapa saat lagi sampai Ade kembali muncul.
**
Pukul 4.50 sore. Stasiun.
“Akhirnya lega juga,” ucap Ade sembari berjalan keluar dari toilet usai menuntaskan hajatnya.
Sebetulnya Ade pergi ke toilet baru saja. Lantas ke manakah perginya selama beberapa jam yang lalu bahkan ketika pukul 3 sore saat Ketua Meera dan dua anak magang telah datang justru Ade tak kunjung muncul?
Itu karena Ade sempat tersesat. Ia nyaris tersasar hingga melintasi perbatasan garis kuning, bahkan dirinya sudah melewati beberapa rel kereta api lalu sempat duduk di tempat tunggu yang berada di seberang.
Ia tak sengaja melakukannya sebab awalnya memang ia mencari toilet itu di sekitar tempat duduk awalnya yang seharusnya, tapi karena banyaknya orang mondar-mandir membuat Ade kesulitan bergerak, dan berpikir bahwa toilet itu tidak ada di sini. Itulah mengapa ia sampai tersesat.
“Seharusnya aku tanya saja tadi ya. Aku terlalu gensi dengan orang asing sih,” gumamnya yang kecewa pada diri sendiri seraya mengelus perut yang sejak tadi keroncongan.
“Itu dia!” seru Ramon sambil menunjuk Ade.
Runo dan Ketua Meera reflek menoleh ke arah yang telah ditunjuk, begitu sadar bahwa perempuan itu adalah yang mereka cari, segera mereka bergegas tuk menghampirinya sebelum hilang lagi.
“Ada apa? Kenapa orang itu menunjuk diriku?” tanya Ade pada dirinya sendiri yang bingung.
Karena tiba-tiba ditunjuk ia jadi resah, ia takut apabila orang-orang itu adalah musuh sama seperti Mr. Iki Gentle yang pernah menyerangnya di bawah tanah.
“Jangan bilang –”
“Ade!! Ini aku!” panggil Ketua Meera.
Mengenali suara itu serta wajah yang tak asing, Ade lantas bernapas lega. Dirinya tak menyangka bahwa kakak yang ia kenali ada di sini. Tanpa ragu, Ade pun melangkah maju tuk menghampirinya.
“Kakak!!” Ia juga memanggil lantas memeluknya dengan penuh kerinduan serta ketakutan.
“Ade, kamu baik-baik saja? Ternyata benar isi pesan yang diterima oleh Nona Gista ya?” tanya Ketua Meera, ia bersyukur karena Ade terlihat baik-baik saja.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi ini mungkin karena Ayah,” pikirnya.
“Maksudmu Orion? Dia membebaskanmu dari sana, tapi sebagai gantinya—”
“Aku tahu, kak. Jadi tolonglah dia. Aku tidak mau jika kehilangan Ayahku lagi,” ucap Ade meminta pertolongan.
Baik Ketua Meera maupun Ramon atau Runo, ketiga dari mereka tentu tahu bahwa itu mustahil dilakukan. Secara Orion berada dalam genggaman Chameleon secara langsung. Yang di mana dirinya bebas tapi secara tidak langsung juga tidak bebas. Ibarat sangkarnya ada di negara ini namun dengan pijakan yang rapuh atau kecil.
“Maafkan aku tentang itu, Ade. Aku tidak bisa melakukannya dan sekarang, kita harus menetap di sini sampai yang lainnya berkumpul.”
“Hei, jangan terus bicara di dalam sini. Jika tidak naik kereta, maka akan lebih baik kalau kalian berada di halaman luar saja,” ucap si petugas muda yang menegur mereka.
Karena terkena teguran, maka mereka harus berpindah tempat untuk bicara. Lebih tepatnya di halaman luar dekat parkiran. Di sana ada sudut terpencil yang cukup untuk mereka dan takkan mudah terganggu oleh orang-orang yang berlalu lalang.
“Tadi, maksud kakak apa? Apa kita tidak bisa menyelamatkan Ayah?”
“Maafkan aku. Bukan itu maksudnya, hanya saja ini belum waktunya. Dengar, kami berada di sini dengan dua tujuan. Selain tujuan menyelamatkanmu, kami harus menemukan dan membereskan kekacauan karena seseorang.”
“Maksud kakak, yang seperti pria berkemeja hitam saat itu? Yang memiliki kekuatan aneh berwarna hitam gelap itu?” tanya Ade.
“Ya, seperti itulah. Dan tidak hanya dia saja, Ade. Tapi aku bersyukur karena kamu selamat,” ucap Ketua Meera.
PAT!
Dalam sekejap, semua lampu padam, listrik tak lagi berfungsi. Tak hanya di area stasiun bahkan di beberapa tempat di luar sana juga sepenuhnya mati.
“Eh, apa yang terjadi? Semuanya mati? Hei, coba nyalakan ponselnya!” Ketua Meera berteriak.
“Baiklah. Tapi, aneh. Sinyalnya menghilang. Padahal sebelumnya ada tersisa sedikit, tapi sekarang benar-benar menghilang. Kita tidak akan bisa menghubungi yang lainnya,” ujar Ramon.
Tak hanya listrik saja padam, karena tidak adanya cahaya bahkan sedikit saja, membuat kereta api harus berhenti beroperasi. Semua yang ada di kota NY, Cal-Forn dan S-Frans, dan beberapa kota lainnya yang berdekatan juga tertimpa masalah yang sama.
“Ini buruk. Kita tidak bisa menghubungi mereka,” ucap Ketua Meera memijat keningnya, lelah.
“Apa kakak baik-baik saja? Bukankah sebelumnya kepala kakak terbentur, aku yakin itu masih berbekas,” kata Ade mengkhawatirkannya.
“Tidak, aku tidak apa-apa, Ade. Yang terpenting jangan pergi dari sini. Kita harus tetap bersama, tetaplah menggandeng tanganku dengan erat ya,” pinta Ketua Meera.
“Baiklah, kak.”
“Ini benar-benar gawat, Ramon, Ketua Raiya.” Daripada Ade, sepertinya Runo jauh lebih takut. Ia bahkan menggandeng lengan Ramon saking ia takut juga merasa tak nyaman berada dalam kegelapan seperti ini.
“Kau, benar-benar pengecut sekali! Kita harus pergi dari sini, mengerti!” teriak Runo.
“Jangan! Jangan pergi dari sini, jika memungkinkan bagi kalian untuk bergerak sampai ke gerbang stasiun di halaman luar, aku ijinkan,” sahut Ketua Meera.
“Ya, aku mengerti maksud Ketua Raiya. Ini agar mempermudah pertemuan kita dengan yang lainnya yang akan datang bukan?”
“Ya, begitulah. Aku akan menunggu di sini bersama Ade. Kalian berdua pergilah, dan jangan sampai berbuat ulah,” tegas Ketua Meera.
Pemadaman listrik ini terjadi entah karena alasan apa masih belum ditemukan, tentunya karena pemadaman listrik hingga akhirnya membuat kegaduhan di setiap sudut daerah.
Sementara Ketua Meera harus menunggu di halaman bagian sudut bersama Ade, Ramon dan Runo pergi ke gerbang depan tuk menemui Mahanta dan lainnya yang mungkin sebentar lagi akan datang.
***
Di suatu tempat. Dekat di perempatan jalan, Gista berdiri diam dengan mata terpejam. Ia kembali memperluas jangkauan kekuatannya di kota S-Frans guna melacak keberadaan Chameleon.
“Dia selalu bersama dengan bawahannya ...dan Orion? Jadi dia benar-benar berpihak pada musuh sekarang?”
Sesaat setelah ia selesai mengetahui keberadaannya, perlahan Gista membuka kedua matanya dan betapa ia terkejut karena melihat sekelilingnya gelap kecuali lampu dari banyaknya kendaraan di jalan raya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku akan mengurungkan niatku karena Chameleon sedang tidak sendiri.”
Gista berbalik badan, berlalu pergi meninggalkan kota S-Frans dengan tangan bekunya mengeluarkan uap dingin. Kendaraan masih sibuk berlalu-lalang, namun juga sebagian berhenti di tengah jalan karena pemadaman listrik ini.
Semua penduduk di negara ini dibuat heboh karena pemadaman, tapi takkan ada yang menyangka bahwa masalahnya bukanlah karena korsleting listrik melainkan ulah seseorang.
“Bagaimana jalan-jalanmu yang menghabiskan 4 jam lamanya?” tanya Chameleon pada Orion yang telah kembali ke markas.
“Aku senang kau memberikanku kesempatan kecil. Tapi kenapa harus semua kota yang kau padamkan listriknya, bahkan hanya untuk melenyapkan pemilik gedung?” balas Orion bertanya mengenai tindakan Chameleon yang berlebihan.
“Menjaga agar tak ada informasi yang bocor,” katanya.