ORION

ORION
Pemancing, Jinan I



Datang tanpa diundang. Pria yang begitu mudahnya mengayunkan senjata tuk membunuh itu benar-benar tak bisa dibiarkan. Orion melesat ke arahnya dengan setengah Api Abadi membakar tubuhnya.


“Dia jadi melawanku. Persis seperti yang dikatakan oleh Tuan Chameleon. Dia murka karena orang yang barusan kubunuh!”


Clak! Srak!


Kail pancingnya mengait bagian belakang Orion, ia tetap mengabaikan hal tersebut dan kemudian menyerang dengan sebilah pedang berwarna kemerahan. Menyatu, melekat pada bagian kulit punggung lengannya.


Setiap sayatan, menghasilkan luka yang begitu dalam bagi pria tersebut. Lantas, tak cukup ia menyeret Orion tuk mundur dengan alat pancingnya yang masih mengait di sana, ia mendekat dan kemudian menendang tubuh Orion.


“Kau keterlaluan terhadap mereka!”


Dalam api yang masih membara dalam ledakan. Orion menembusnya, lalu melayangkan pukulan tepat di wajah. Pria itu bahkan tak sempat berkutik, alat pancingnya masih ia genggam kuat dengan tubuhnya yang terus terdesak mundur.


Tanpa memberi jeda waktu, Orion memukulnya hanya dengan kepalan tangan kiri. Terus saja Orion melayangkan pukulan tanpa henti, hingga akhirnya wajahnya dipenuhi memar akibat pukulan tersebut.


“Ergh! Aku memang tak sejago Tuan Chameleon. Tapi aku masih berada di atasmu!”


Dak!


Dalam waktu singkat, celah yang ia manfaatkan akhirnya berguna. Pria itu menyandung kaki bagian dalam Orion dengan menundukkan tubuhnya sedikit. Orion luput, lantas pria itu kembali menyerang denga benang baja yang menegang.


Menyayat tubuh Orion yang sebelumnya telah pulih berkat Api Abadi, bagian dalam tubuhnya pun ikut terluka.


Api menyambar cepat begitu Orion melangkah mundur. Seperti sumbu yang sudah dipersiapkan, api membakar ke jalanan menuju ke posisi pria itu dengan arah lurus.


“Kalian! Diam di tempat!” teriak salah seorang petugas polisi dari belakang posisi pria itu.


Glar!!


Api menyambar tidak pada tempatnya. Orion mengepal tangan, dan membiarkan api itu seolah meledak di tengah jalan menuju ke posisi si pemancing.


“Jangan! Pergilah! Jangan datang! Jangan lawan dia!” teriak Orion memohon pada petugas tersebut yang menodongkan senjata ke arah si pemancing.


Orion kembali berlari, ke arah pria itu. Agar tak ada lagi korban, Orion sebisa mungkin harus mendekat dan membuat pria itu sibuk terhadap dirinya seorang.


“Mengganggu saja belatung itu!” amuknya menoleh ke belakang.


Dor!


Tembakan melesat cepat, namun hanya menggores kaki bagian paha kanan pria itu. Orion tersentak, tak sadar ia menghentikan langkahnya karena terkejut akan suara bak petir menggelegar.


“Aku bilang diam di tempat! Dasar mo-monster!” pekik petugas itu dengan tangan yang gemetar memegang senjata api.


“Ck! Dungu! Kenapa harus ada petugas yang kebetulan lewat kemari?”


Situasinya cukup kacau. Daerah bagian barat di kota J-Karta sudah cukup kacau karena ledakan barusa. Dan sekarang, Orion dan pria itu akan menjadi kriminal kalau sekali lagi mereka melawan.


Namun di sisi lain, Orion tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Bruk!


Tubuh yang sempoyongan karena peluru melesat sebelumnya pun akhirnya tumbang. Orion memanfaatkan hal tersebut dengan menekan bagian pundak lalu menjatuhkan tubuh pria itu ke jalanan.


“Jangan sekali-kali kau membunuh orang lagi! Apalagi jika harus dihadapanku!”


“He! Apa untungnya aku menurutimu. Dan sepertinya yang dikatakan Tuan Chameleon ada benarnya, ya? Kau lemah terhadap orang lain.”


Semakin kencang lah Orion menekan bagian pundaknya. Raut wajah Orion semakin gelap, amarah menggelegak dalam hatinya. Tak cukup api membara di bagian tangan kanannya, api dalam tubuhnya pun membawa cukup panas hingga mengeluarkan uap begitu banyak.


“Orang kuat seperti kita tidaklah cocok di antara para serangga. Kau dan aku lalu Tuan Chameleon, adalah salah satu pondasi di dunia yang terpenting!”


Blar!


Api membakar, menggerus tubuh si pemancing itu yang kemudian bergeliat kesakitan.


Jduak!


Pertahanan Orion melemah saking amarah terus meledak keluar. Sehingga bagian perutnya pun mudah menjadi sasaran, pria itu menendang menggunakan lututnya.


“Argh!” Orion mengerang kesakitan. Ia tertatih-tatih dengan tubuh gemetaran hebat.


Sama halnya dengan pria itu. Mungkin ia hanya mendapatkan luka gores, namun itu tetap membuatnya sedikit melemah. Ia lantas kembali berdiri dengan makian dari setiap baris kalimat yang ia ucapkan.


“Sudah kubilang. Akan lebih baik kau ikut dengan kami saja! Daripada menjadi anjing pemerintah, bukankah lebih baik kau menjadi anjing penjaga yang setia?”


“Anjing apa? Bahkan anjing yang lucu saja enggan menggonggong pada majikan yang g*la! Dasar kau c*ng*ng*k tukang pancing! Kalian semua memang tidak ada yang waras!”


Bahkan Orion yang kelewat kesal pun akhirnya mengeluarkan makian. Setelah ia meredakan sakit di bagian perut karena tendangan lututnya, ia kembali menatap pria itu dengan tatapan jengkel.


Orion melangkah lebih lebar, mempercepat gerakannya dalam waktu singkat, seraya ia melayangkan serangan dari sebilah pedangnya.


“Pria yang emosian,” gumam si pemancing.


Namun lagi-lagi petugas itu menarik pelatuknya. Melewati sela tubuh pria itu, lantas peluru melesat tepat ke arah wajah Orion. Akan tetapi, salah satu sayap keluar dan menghadang pelurunya.


“Karura!”


Karura lah yang melindunginya dengan sayap berapi, peluru itu pun meleleh dengan cepat. Tak bersisa kecuali lelehan panasnya sebagai ampas.


“Hei, kau! Aku bilang padamu untuk pergi! Kenapa kau masih ada di sini!?” pekik Orion pada petugas itu. Ia berkali-kali memperingatinya namun tak sekalipun perkataan Orion diindahkan.


Barang sekali saja, ada kemungkinan ia akan selamat.


“Ya, ampun. Ternyata belatung itu masih mengganggu saja!” gerutunya seraya mengayunkan kail pancing.


Srkkk!!


Kailnya mencapai tubuh si petugas, dan itu mengait di bagian dada kirinya. Tempat di mana jantung manusia berada.


“Belatung yang bahkan tidak ada gunanya bagi tanah,” gumam pria itu dengan tatapan merendahkan.


Ia kembali menarik kail pancingnya dan mengangkut organ dalam yang paling penting. Ia mengambilnya dengan mudah, membuat tubuh orang itu menyemburkan banyak darah lalu terjatuh tanpa meninggalkan kesadaran sedikitpun.


“Mau sampai kapan kau terus melakukan hal itu?!”


Senja yang memanas. Jingga memenuhi langit. Kekacauan yang mengakibatkan banjir darah. Di sela-sela ketika pria itu menarik kembali kail pancingnya, Orion mencekik lehernya.


“Ka-kau! Betulan ingin ...membunuh, membunuhku?” tukasnya.


Tak hanya mencekik dengan tangan kirinya, Orion mendekatkan diri dan tangan kanan yang berapi itu seakan-akan melahap jiwanya.


Mata pria, si pemancing itu tertuju pada tangan kanan Orion saja. Takut sekaligus ia merasa bersemangat karenanya.


“A-aku, Jinan! Posisi ke-3, dan aku ini ...lebih kuat dan pintar darimu! Jadi kau tak bisa membunuhku!” tukas ia kembali dengan terbata-bata.


Tanpa sadar ujung dari alat pancingnya menembus pundak kanan Orion. Akan tetapi Orion tetap mencengkeram lehernya dengan kuat, agar tak dapat lagi bergerak sesuka hati.


“Siapa yang peduli dengan namamu?”


Orion pula mengepalkan tangan kanan, api yang mengalir bagai lava itu terlihat seperti akan membunuhnya.