
“Bahkan menggoresmu sedikit saja itu terlalu sulit. Untung saja aku tidak pernah menahan diri di hadapanmu,” kata Caraka menatap kedua mata Gista.
Es lalu api, sama-sama sulit dilawan sekaligus mudah ditangkis. Dua kekuatan yang bentrok dalam satu waktu pun membuat alur pertarungan kian memanjang.
Wajah Caraka terbakar selama beberapa waktu, lalu kemudian padam dan menunjukkan sosok yang berbeda dengan sedikit berbulu warna kecoklatan. Gigi taring yang tajam, dan sedikit rambutnya mengandung api yang panas.
“Bahkan menggoresmu sedikit saja itu terlalu sulit. Untung saja aku tidak pernah menahan diri di hadapanmu,” kata Caraka menatap kedua mata Gista, tajam..
Caraka menerjang ke arahnya dengan kuku yang tajam memanjang, namun pedang itu sama sekali tidak terlepas dari genggamannya. Mengayunkan senjata dengan kuat, cekatan dan dampak serangan pun lebih dari sebelumnya.
Prang! Bahkan pertahanan kristal es milik Gista dengan mudah dihancurkan oleh pedangnya yang menguat seiring waktu. Ruangan itu pun bergetar kuat, sesaat Orion merasa merinding menatapnya.
“Ini mulai tidak aman. Apakah dia akan baik-baik saja?” Orion merasa cemas.
“Wanita itu kuat. Jangan bandingkan dengan Pejuang NED yang lain,” sahut Endaru dingin.
Gista mengambil beberapa langkah mundur tuk menjaga jarak darinya. Ia lantas mengubah pedang menjadi kristal-kristal tajam yang kemudian menghujam tubuh Caraka dari dekat.
Meskipun serangan Gista tidak ada satu pun yang meleset namun Caraka tidak bergeming sekalipun. Ia tetap bergerak seraya mengayunkan pedang berapinya ke depan. Memutar pergelangan tangan, semburat api pada wajahnya kembali membara.
“Jangan anggap aku lemah seperti saat kita pertama kali bertemu, Nona Arutala!”
Syat! Serangan Caraka cukup dangkal namun api itu membuatnya seakan memanjang, sehingga menggores wajah Gista.
Gista merasa terdesak, ia pun membuat dinding es meninggi di antara mereka. Hawa dingin menyeruak ke seluruh ruangan, begitu Gista kembali menggunakan teknik memperluas jangkauan serang.
Kedua kaki Caraka membeku, tanpa mengulur waktu, Gista kembali menyerangnya dengan beberapa kristal es. Menghujam Caraka dari segala arah.
“Tambah lagi. Ribuan kristal es,” gumam Gista seraya mengulurkan tangan ke depan.
Kristal yang tak lagi terjumlah, seberapa banyaknya itu tetap menghujam Caraka tanpa henti sampai uap dingin mengepul membuatnya tak terlihat. Hawa di ruangan ini semakin dingin, hingga rasanya tubuh mereka akan beku suatu waktu.
“Fuh ...Caraka, apa itu artinya kau sudah mengakui hubunganmu dengan Chameleon? Kau bilang kita pernah ...bertemu, ya?”
Napas Gista terasa berat, ia terengah-engah dengan hembusan napas yang dingin. Terlihat sekilas wajahnya sedikit membeku, Orion mengerutkan kening tanda heran karena Gista yang mengalami hal itu.
“Dia terlalu lama menggunakan kekuatannya. Atau mungkin dia melemah?” pikir Endaru.
Orion tersentak, ternyata Endaru juga sepemikiran dengannya.
“Kurasa dia terlalu menghabiskan sisa kekuatannya. Itu ...berasal dari energinya, benar?”
“Ya. Tapi aku merasa dia melemah,” ujar Endaru yang berubah pikiran saat melihatnya.
“Kau tidak akan membantu?” tanya Orion.
“Heh, aku tak sudi,” ketus Endaru memalingkan wajah seraya melipat kedua lengan ke depan dada.
Srakkk!!
Dari ujung kaki Gista, tumpukan es menggunung semakin tinggi menuju ke arah Caraka seorang. Tubuh Caraka kembali terjebak karena itu, namun tak lama kemudian ia dapat melepaskan diri dengan membakar tubuhnya sendiri.
Tubuh Caraka pun mengalami dampak dari serangannya sendiri, ia terbakar namun juga memanfaatkan pembakaran itu sebagai bahan bakar dari kekuatannya.
Pembentukan setengah sayap yang seharusnya sulit untuk dibentuk kembali lantaran Orion telah memotongnya, justru sekarang kembali muncul.
“Pembentukan api, apalagi dengan bentuk sayap yang harusnya rumit, dia bisa membentuknya kembali bahkan belum ada satu jam?” Endaru tercengang.
“Tipe monster itu mengerikan. Masih tidak ingat dengan Dr. Eka?” sindirnya.
Sayap itu mengeluarkan serangan demi serangan kemudian Caraka menerjang Gista kembali dengan mengayunkan senjata dari atas turun ke bawah. Sayatan yang cukup dalam dan cepat itu berhasil menembus pertahanan Gista lagi.
“Ilmuwan g*la,” gerutu Gista sembari menggertakkan giginya.
Tap! Satu langkah ke belakang, Gista mengayunkan lengan dan membentuk pedang sekali lagi. Begitu celah terlihat, ia menusuk tubuh Caraka saat itu juga.
Tidak terluka melainkan membuatnya terdiam dan larut akan masa lalu Caraka. Hal itu membuat akalnya sedikit terganggu, Gista kemudian kembali melangkah ke belakang seraya melepas pedang dari tubuhnya.
“Arggh!!!” Jeritan Caraka terdengar menggema, sesaat telinganya berdenging hingga kepalanya sakit.
Syut! Gista mengayunkan tangan dari atas ke bawah, hembusan angin dingin menerpa Caraka dengan kuat dan membuatnya beku hingga setengah badan. Caraka pula masih berteriak keras saat itu.
“K*parat! Kau ...s*al!”
Tak habis-habisnya Caraka memaki dengan kata-kata kotor itu kepada Gista. Gista hanya terdiam dengan raut wajah datar.
Apa yang barusan ia lakukan adalah bagian dari kekuatannya. Tipe ilusi. Mengirim gambar ilusi langsung dari darah yang kemudian mengalir ke otak.
Namun tak sepenuhnya ilusi, karena saat ini Gista memaksa ingatan terburuk Caraka kembali diingatnya. Dan Gista pun mengetahui hal tersebut.
“Hah ...kekuatan itu cukup mengerikan. Aku berharap aku tidak akan mendapatkan tanda lagi darinya,” tutur Orion menghela napas panjang.
"Tanda", adalah suatu kekuatan yang masih tersambung dengan target. Tidak selamanya melekat namun terlalu membahayakan. Itu membuat Gista dapat mengendalikannya seutuhnya.
Blar!! Ledakan api menghancurkan batu es yang membuat tubuh Caraka terjebak. Suatu tanda, berubah keping es yang sebelumnya ada di bagian luka pun lenyap dalam sekejap.
Itu mengartikan, tanda yang sudah terpasang telah hilang. Karena kekuatan Caraka yang mampu menghapusnya.
“Dasar wanita rendahan. Berani-beraninya kau mengintip ingatanku lagi!!” pekik Caraka yang telah hilang akal.
Caraka kembali melesat dengan cepat seraya menyerang dengan setiap bulu serta pedang di tangan kanannya.
“Cukup. Pengakuanmu sebagai rekan musuh sudah terbukti,” tutur Gista seraya menyentuh Caraka di bagian lukanya.
Srakkk!!
Caraka terdiam mematung. Tampak bola mata putihnya melotot tak lagi bergerak. Seluruh gerakannya terhenti sebab Gista membekukan beberapa organ dalamnya agar tidak berfungsi untuk sementara.
Pedang yang hampir membelah kepala Gista pun terjatuh ke samping. Kemudian disusul ambruknya Caraka.
“Nona Gista! Apakah terjadi sesuatu dengannya?” tanya Orion.
“Orion, kemarilah. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu,” kata Gista.
Kemudian Orion menghampiri Gista yang tengah duduk sembari menatap tubuh Caraka.
“Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?” Gista bertanya.
“Maaf. Tapi sepertinya tidak. Selain tujuan Api Abadi dan kenyataan bahwa dia adalah rekan Chameleon,” jawab Orion.