ORION

ORION
Museum



Masuk ke suatu tempat, yakni sebuah museum. Awalnya tempat ini sangat sepi karena mungkin di hari kerja. Akan tetapi, Orion dan Ketua Meera yang masuk ke sana pun hanya menemukan Mahanta seorang.


“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Ketua Meera pada Mahanta.


“Sebelumnya maafkan saya karena telah menyerang Anda. Karena saya berpikir bahwa yang datang tadi adalah musuh. Karena sebelumnya saya juga menemukan jarum, dan itu nyaris menusuk saya,” ungkap Mahanta.


Meskipun Mahanta bercakap pada Ketua Meera, lirikan Mahanta mengarah pada Orion. Seakan ia hendak bertanya mengenai jarum yang ditemukan. Orion yang mengerti maksud pandangannya itu pun, segera melangkah dan mendekati Mahanta.


Berbisik, “Jarum yang sama?”


Di saat yang sama pula Ketua Meera bertanya, “Jadi maksudmu kau tidak bertemu dengan musuh kecuali jarum yang terus menyerangmu?”


“Iya. Jarumnya ada di belakang saya sekarang,” jawab Mahanta.


Orion pun bergegas menuju ke arah belakang Mahanta. Dan benar saja, jarum yang dimaksud Mahanta itu benar adanya. Sangat mirip, yang membedakan hanyalah ukurannya saja.


Sekilas mungkin terlihat seperti jarum biasa, jarum jahit. Namun ini tampak sedikit berbeda. Jarum ini memiliki lubang tak tertutup di bagian pangkalnya. Jelas, kalaupun ini benang jahit maka sudah tak layak digunakan karena lubang yang biasanya digunakan untuk memasukkan benang saja sudah tidak bisa.


Lebih tepatnya seperti pengait? Orion berpikir seperti itu setelah melihatnya kembali dengan jelas.


“Saat itu, aku pikir ini karena kekuatan Jhon. Tapi tak kusangka ini benda milik orang lain. Tapi siapa? Dan kenapa?” batin Orion.


Berpikir bahwa hal ini tak mungkin dilakukan Jhon, membuat pikiran di antara mereka berdua yakni Orion dan Mahanta menjadi buntu.


“Bagaimana dengan Phantom Gank?” pikir Ketua Meera.


“Ketua Meera, saya tidak tahu itu siapa?” Mahanta belum mengetahui soal keberadaan Phantom Gank.


“Phantom Gank, kelompok mereka selalu mengenakan topeng menyeramkan. Jadi aku pikir begitu,” ujar Ketua Meera.


“Saya pikir tidaklah mungkin. Karena Phantom Gank sebelumnya juga telah muncul di pelelangan Undergrown, dan mereka hanya mengincar benda berharga atau bisa dibilang mereka itu perampok,” sahut Orion.


“Benar juga. Phantom Gank tidak mengincar orang secara langsung, ya? Kalau begitu, mungkin mereka mengincar Mahanta karena Mahanta pernah berbuat sesuatu pada mereka?” pikir Ketua Meera sekali lagi.


“Kalau itu saya tidak begitu paham. Karena sebelumnya pun saya pernah diserang oleh dua orang Phantom Gank di ruang bawah tanah, dalam hotel yang berbeda dari tempat yang kita tinggali.”


Kembali ke jelan buntu. Jarum, adalah petunjuk yang tersisa. Entah siapa pemiliknya tapi yang pasti kalau Jhon tidaklah mungkin. Phantom Gank juga banyak celahnya, tidak akan meninggalkan jejak berupa senjata mereka sendiri.


Lalu perilaku mereka yang seperti perampok adalah kebiasaan Phantom Gank. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa jarum yang menyerang Mahanta bukanlah berasal dari senjata mereka.


“Putriku ...ataupun bukan. Semoga dirimu selamat. Setidaknya hingga aku sampai ke tempatmu. Dan kuharap ini tidak berhubungan dengan Chameleon?” batin Orion mengerutkan kening seraya menundukkan kepala dalam-dalam.


“Chameleon! Pasti salah satu rekannya. Dan dapat dipastikan bahwa dia kemari hanya dengan beberapa rekannya saja!” ucap Mahanta, serius dengan perkataannya.


“Chameleon lagi, sudah kuduga tidak mungkin ini adalah ulah orang lain, ya.” Orion menghela napas. Ia tahu betul, bahwa jika berkaitan dengan Chameleon maka nasibnya tidak seberuntung yang lalu.


“Dasar, dia lagi.” Bahkan Ketua Meera saja sampai menggerutu.


Beberapa orang berkerumunan di luar. Beberapa suara terdengar seperti jeritan kesakitan. Mendadak Orion dkk terkejut, lalu begitu menoleh. Mereka memanfaatkan kelengahannya, dan menyerang dengan cara pengecut.


Dar! Dar!


Tembakan suar, serta ledakan terjadi di dalam museum. Orion dkk lantas bergegas keluar dari sana.


“Ayo keluar! Di sini tidak aman!” Mahanta memperingatkan mereka kembali atas serangan yanh terakhir kali dibicarakan.


“Tapi Mahanta! Tunggu!”


“Phantom Gank, lagi?!”


“Uh, mau menghindar pun sepertinya percuma.” Orion makan menggerutu lagi.


“Lempar itu!” teriak salah seorang dari mereka yang berada jauh dari sekelompoknya.


Lantas, beberapa orang di hadapan Orion dkk mulai melemparkan sebuah benda ke tanah yang kemudian mengeluarkan asap putih. Mereka tidak bisa mendekat, bahkan ketika berjalan satu langkah pun rasanya akan terjadi sesuatu buruk nantinya.


“Ini karena bom asap! Berhati-hatilah! Jangan sampai kita terpisah!” teriak Mahanta, yang dapat didengar oleh rekannya dan juga musuh mereka pada saat yang bersamaan.


DUUUM!


Entah suara apa lagi itu. Di saat bersamaan, mereka merasakan getaran kuat di bawah kedua kaki mereka. Dan kemudian, serangan dari segala arah tertuju pada mereka. Secara serentak, tak kenal waktu dan segala hal.


Selain asap ataupun kabut putih ini terus mengepul tanpa henti, membutakan penglihatan mereka, sehingga tak dapat membalas serangan mereka.


Drap! Drap!


Satu persatu, Orion dipisahkan oleh rekannya. Mahanta dan bahkan Ketua Meera pun sudah tidak ada di sampingnya.


“Kenapa mereka mengincar kami?” gumam Orion seraya berwaspada kembali dengan pedang merahnya.


Trang!


Orion bertahan dengan mudah, ia mengandalkan insting tajamnya di saat-saat genting seperti ini. Orion menahan bilah senjata yang berada di balik asap putih, yang kemudian seseorang itu mundur dan kembali bersembunyi.


Ketika berpisah, Mahanta dan Ketua Meera seakan digiring ke sisi lain. Mereka yang berada di titik berjauhan dari sebelumnya pun selalu diserang dari belakang. Tampaknya Phantom Gank memanfaatkan bom asap ini agar mendapatkan keuntungan lebih ketika bertarung melawan Pejuang NED asing.


Suara-suara acak terdengar di sekeliling. Kepakan sayap berasal dari para merpati, senjata yang beradu. Angin berembus pelan, lalu gemericik air.


“Apa-apaan ini? Suaranya seperti menggaung di mana-mana. Aku jadi tidak bisa membedakan. Sulit untuk menerka jikalau aku tak dapat melihat seperti ini,” keluh Orion seraya memijat keningnya. Ia mencoba untuk fokus tapi fokusnya selalu terpecah oleh lawannya.


SYUUT!


“Bodoh! Menyerah sajalah!” pekik seorang bertopeng kulit yang mengayunkan senjata.


Orion menundukkan tubuh ke bawah, lantas senjata itu hanya melewati dirinya saja. Segera Orion bangkit dan kemudian menyerangnya kembali dengan sabit menembus asap putih dalam hitungan detik, seakan asap putih itu terbagi menjadi dua.


Zrasssh!


“Air! Apakah itu Ketua Meera?!” pikirnya lalu ia membalikkan badan, dan berlari menuju ke asal suara air yang terdengar paling keras.


“Ketua Mee—”


ZRASSHHH!


Tiba-tiba hujan deras membasahi tubuh Orion. Ia dihujani sehingga ia kehilangan pandangannya lagi. Setelah beberapa saat, asap putih menghilang.


“Eh?”


Rintik hujan semakin berhenti dengan pelan.


“Di mana?” Orion melirik ke sekelilingnya, karena tak mendapati seorang pun di sini. Sekarang, saat ini juga.