ORION

ORION
Ingatan Kelam



Darah itu masuk ke kerongkongan yang bahkan sudah terlihat dari luar tulangnya. Tapi darah itu tetap masuk ke dalam membuat seluruh struktur tubuh perempuan itu kembali utuh.


Selama proses itu, Orion terdiam dengan pandangan kosong. Bukan karena melihat kebangkitannya melainkan ingatan milik orang ini mengalir masuk ke dalamnya.


Prang!!


Segala barang-barang di sekitarnya pecah. Lantaran karena semua barang itu dilempar ke arahnya dengan kuat hingga menorehkan luka di atas luka.


Seorang anak perempuan yang tersungkur itu menangis dengan ketakutan hingga tubuhnya gemetaran kuat. Inilah yang dirasakan Orion saat ini. Ia sama sekali tak berkomentar, lantas ia sangat merasakan penderitaan yang dialami oleh anak itu.


Seorang pria yang adalah Ayahnya berteriak keras dengan cercaan kasar. Seorang wanita yakni Ibu dari gadis itu meminta tolong pada suaminya untuk tidak melukai anak mereka.


“Anak hina sepertimu tidak pantas hidup!”


“Tolong jangan sakiti anak kita lagi! Kumohon!”


“Hah!? Anak kita? Jangan bercanda! Lebih baik kalian mati saja! Sudah beruntung aku mau menghidupinya tapi kenapa banyak sekali maunya, hah!”


“Namanya juga anak-anak. Dia juga masih kecil.”


Tak kuasa air mata itu terus mengalir tanpa henti seraya menarik-narik ujung pakaiannya. Ibu itu berharap untuk mau memaafkan anak mereka, namun suaminya itu telah murka.


Karena si gadis selalu banyak permintaan, sang Ayah menjadi marah besar. Akan tetapi, itu bukanlah masalah utamanya.


Suatu ketika. Pada malam hari tanpa rembulan. Si gadis yang masih dalam keadaan terluka, sedang mengintip kamar orang tuanya dari celah pintu.


Prak!


Tampak sang Ayah membanting ponselnya dengan kesal. Ia sangat marah setelah dihubungi oleh seseorang. Kemudian amarahnya semakin memuncak ketika ia memandang istrinya.


Sang ayah meraih tubuh ibunya dengan kasar. Lalu berteriak keras sambil mengoceh panjang lebar yang bahkan tak dimengerti oleh si gadis itu.


“Gara-gara kau aku dipecat! Gara-gara kau melahirkan anak itu aku dipermalukan! Kenapa juga kau harus melahirkan anak sedangkan anak itu bukan darah dagingku!”


“Ma-maaf. Seandai ...”


“Argh! Banyak alasan!”


Brak!


Ia mendorong tubuh istrinya sendiri sampai menjatuhi beberapa tumpuk buku di sana. Terlihat istrinya sedang menahan tangis seraya menundukkan kepala dalam-dalam.


“Boleh saja anakmu adalah penerus keluargaku. Laki-laki! Setidaknya lahirkanlah seorang anak lelaki, maka aku pasti akan memaafkanmu!” teriak pria itu. Jeritannya bahkan sampai terdengar di luar sana.


Si gadis semakin ketakutan. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Padahal niat di hatinya adalah untuk meminta maaf pada sang Ayah dan berjanji takkan lagi meminta apa pun.


Hati yang pedih, kalut dalam perasaan terbelenggu. Ibarat terjebak dalam sangkar luar, serasa bebas namun selalu diperhatikan. Pahitnya keluarga sampah ini, tidak membuat perasaan si gadis kunjung membaik.


“Aku takut ...takut, aku sangat takut.” Gadis itu merengek dalam kesepiannya.


Tatapan sendu mengarah ke bawah. Kamar yang gelap tanpa lampu dan hanya ada beberapa tumpuk boneka di sekitarnya menemani.


“Ingatan ini tampak berbeda dari biasanya. Percakapan di sini juga sangat banyak. Anak ini sangat menderita,” batin Orion merasa simpati.


Jika saja Orion dapat mengendalikan tubuh gadis itu, mungkin saat ini semua masalah sudah beres berkat otak dewasanya. Tapi itu percuma sebab hal yang mengalir dalam kepalanya ini hanyalah sebatas ingatan saja.


Tak ada kuasa yang berhak menghapus apalagi mengubah masa lalu. Itu sudah melebihi kata, "Tidak masuk akal".


Hari demi hari sudah seperti berada dalam jurang neraka. Tak ada hal yang membuat mereka membaik, seharian terus menggigit jari jemari.


Dan lagi, sepertinya sang Ayah kembali berulah. Ia datang dalam kondisi bermabuk-mabukan. Kondisi tak stabil bahkan emosi pun meledak-ledak.


Gebrak! Sang Ayah datang dengan membanting pintu lalu terjatuh kemudian. Ia melindur, bergumam sesuatu yang tak lain keresahannya sendiri. Makian pun sulit dilepas dari mulutnya yang kotor.


“Ayah, tidak apa-apa?”


“Berisik! Sana pergi!” teriak sang Ayah dengan kencang.


Teriakannya itu mengagetkan anak serta istrinya. Buru-buru anak gadis itu bangkit lantas pergi meninggalkannya.


Tak hanya sampai situ ia berbuat ulah di rumahnya sendiri. Ketika istrinya datang, pria itu bangkit dan menjambak rambutnya dengan perasaan amarah.


“Akh! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!”


Tak terima, si istri memberontak tapi ia tak bertenaga apalagi lawannya adalah seorang pria dewasa. Ia dibawa masuk ke dalam kamar dan kemudian menghajarnya habis-habisan.


Buak!


Satu demi satu pukulan ataupun tendangan dilayangkan tanpa henti. Gadis itu hanya terdiam meringkuk dalam kamar, serta bersusah payah menutup telinga yang terus mendengar suara gebukan, teriakan dan barang-barang berjatuhan.


Setelah beberapa saat, suara itu berhenti. Menghening dalam waktu beberapa jam. Lalu, Ibunya datang ke kamar si gadis sambil tersenyum.


“Ibu, sakit?”


“Ya. Tapi tidak apa-apa, Ade. Anakku,” jawabnya seraya memeluk anak itu.


Kaget karena Ibunya memeluk, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya cemas, dan ketika itu kecemasannya berwujud kekerasan fisik tiba-tiba.


Jduak!


Wanita itu menatap benci pada si gadis. Ia mendorong tubuhnya hingga terbentur dinding kamar dengan keras. Rasa sakit hingga membuat kepalanya pusing, sesaat ia kehilangan kesadaran.


“Ergh! Ibu!”


Namun ia disadarkan kembali secara paksa, dengan membuat si gadis meminum banyak air. Menenggelamkan wajahnya lalu didorongnya keluar.


Bruk!


Si gadis itu terbaring lemas. Ia terus-menerus terbatuk-batuk tanpa henti. Tapi siksaan dari si Ibu tak kunjung berhenti.


Dan lagi, sebuah batu bata yang entah di mana ia mendapatkannya. Langsung digunakan oleh wanita itu untuk memukuli wajah sampai kepala si gadis.


Di ambang kesadaran si gadis, wanita itu kini terdiam dengan melihat ke arah pintu. Melihat sang Ayah yang semakin murka. Dalam keadaan mabuk, ia melukai istrinya sendiri.


“Kau malah membunuhnya!? Bagaimana nasib keluarga kita nanti!?”


Ia berteriak seraya menendang perutnya. Terjatuh hingga bagian belakang kepalanya terbentur lantai dengan keras.


***


Orion kemudian kembali memperhatikan wajah dari perempuan ini. Sesaat ia kembali ke kenyataan.


“Orion, kau barusan kenapa? Kenapa memberikan darahmu begitu saja?!” Mahanta berteriak keras, sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya.


Saat itu, samar-samar potongan ingatan kembali mengalir dalam waktu beberapa detik. Memperlihatkan kondisi si gadis yang menggantung di langit-langit rumah.


“Aku melihat ingatannya. Tapi kenapa Endaru tidak? Saat darahku masuk tubuhnya, ingatan tentang Endaru sama sekali tak masuk dalam kepalaku. Tapi kali ini dengan orang lain justru mengalir dengan cepat, dan jelas.”


“Hei, Orion!” panggil Mahanta sekali lagi dengan raut wajah cemas.


“Dan terakhir kali, sepertinya gadis itu sudah tumbuh besar. Tapi kenapa bunuh diri? Dasar,” gerutu Orion.


“Orion!” Lagi-lagi Mahanta berteriak memanggil namanya.


Sontak terkejut, akhirnya Orion sadar selama ini Mahanta memanggilnya.


“Mahanta? Ada apa?”