
Semenjak datang ke rumah seorang pejabat, hal-hal aneh dan tentunya di dunia NED sudah wajar ditemukan. Terutama saat ia menghadapi putri Hendrik yang bernama Ayu. Gelagatnya kesurupan tak jelas, sorot mata yang tajam seolah bukan dirinya itu menandakan ia sudah dikendalikan. Dan itu kemungkinan besar disebabkan oleh pria bermasker hitam yang juga mengeluarkan hawa membunuh kepada Orion seorang.
Ia pikir setelah mengejarnya, maka akan mudah mendapatkannya namun sayang tidak semudah yang ia bayangkan. Orion diam sejenak berpikir, kekuatan yang dimiliki mungkin ada dua.
Pertama, api yang sekilas mirip dengan miliknya, hal ini diketahui saat mencabut jarum dari kepala Ayu yang kemudian terbakar. Lalu kedua, bayangan yang membuat pria itu bisa pergi bahkan hingga menembus ke dinding. Juga kekuatan Orion serasa dihapuskan, atau lenyap saat bersentuhan dengan bayangan itu.
“Jika boleh saya tahu, siapa yang terakhir kali datang kemari sebelum saya? Tentunya orang yang berniat menyembuhkan putri Anda.” Orion bertanya.
Sesaat Hendrik terdiam, sedang berpikir siapa orang tersebut.
“Ah! Aku tahu, dia adalah seorang pria yang mengenakan masker hitam. Dia tak pernah bicara dan hanya sekadar memberi isyarat saja. Dia kalau tidak salah mengenalkan dirinya sebagai Jhon, Bagian dari Arutala. Pondasi dari NED.”
Orion kemudian melirik ke arah Ayu yang berwajah bingung.
Hendrik berkata, “Putriku sudah tahu soal ini. Jadi tidak masalah. Kau tidak akan dianggap aneh.” Hendrik kemudian memastikan agar perbincangan ini terus berlanjut dan takkan berhenti hanya karena Ayu ada di sini.
“Jhon? Itu nama orang luar negeri. Dan aku tak pernah mendengar namanya itu di sana. Kalau begini, Anda pun akan mudah tertipu hanya karena orang-orang menyebut nama Arutala, Anda langsung mengijinkan mereka masuk,” sindir Orion.
“Maafkan aku. Aku tahu ini ceroboh, tapi kalau demi keselamatan putriku ...yah, meskipun saat Jhon datang, putriku justru semakin memburuk,” ucap Hendrik merasa bersalah.
“Nama Arutala tidak bisa sembarangan disebutkan, dan juga tidak bisa dibuktikan hanya karena dia memiliki kekuatan supernatural. Beruntung, kali ini saya bukanlah orang semacam itu,” tutur Orion dengan tegas.
Hendrik tak lagi bicara. Sepertinya ia mulai menginstropeksi diri ketika tahu bahwa dirinya telah melakukan suatu kesalahan besar.
“Dia juga datang baru-baru ini, 'kan?” Orion menebak. Hendrik menganggukkan kepala tanda itu adalah benar.
“Kalau begitu, saya pamit. Terima kasih atas jamuannya.”
Orion lantas pergi dari rumah pejabat itu. Ia berniat akan menyelidiki hal ini secara langsung di rumah Arutala. Siapa tahu itu benar atau mungkin salah, karena Jhon telah menipu keluarga pejabat.
Sesampainya di depan pagar rumah, Orion berhenti sejenak karena seorang wanita berpakaian formal dengan tas selempang masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa langkah masuk, wanita itu kemudian kembali keluar dan menyapa Orion.
“Kau pasti anak yang dibicarakan Nona Gista. Namamu Orion, 'kan? Aku juga bagian dari ini, jangan takut.”
Orion pikir wanita itu adalah penyusup atau apa. Tapi di satu sisi juga tidak mungkin karena dia masuk tanpa gelagat mencurigakan. Juga, mana ada penyusup yang berani datang langsung dari depan rumah.
“Aku Fani. Kau habis dari mana?” tanya wanita bernama Fani.
“Adiknya Mahanta memberikan tugas padaku tadi, yang berhubungan dengan putri pejabat. Jadi aku pergi,” jawab Orion lantas masuk ke dalam bersama dengannya.
“Jangan bilang, Raka? Anak itu benar-benar tidak bertanggung jawab. Padahal itu tugas yang aku berikan padanya!” amuk Fani tiba-tiba.
“Begitu, ya. Tapi tidak masalah karena tugasnya sudah kuselesaikan. Hanya saja, ada seseorang yang masih membuatku khawatir,” tutur Orion yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
“Seseorang?”
“Aku tidak pernah mendengar nama Jhon di Grup Arutala,” ucap Fani agaknya mulai khawatir dengan masalah tersebut.
Fani yang tiba-tiba mengingat sesuatu, ia pun segera mempercepat langkahnya seraya mengajak Orion ke ruangannya. Fani hendak menunjukkan sesuatu yang mungkin akan membantu.
Di dalam ruangan Fani, terdapat banyak sekali kertas-kertas berhamburan. Meja, kasur ataupun kursi juga di dalam lemari pun banyak sekali kertas-kertas yang nampaknya sangat penting. Karena Fani baru pulang pagi ini setelah banyak lembur bekerja, ruangannya belum sempat dibersihkan dan masih sangat berantakan.
“Maaf karena ruangan ini berantakan. Aku harap kau tidak mempermasalahkannya Orion. Karena di tempat ini mungkin, ada sesuatu yang mungkin tertinggal.”
Fani kemudian mengobrak-ngabrik bagian lemari dan melihat selembar kertas satu persatu lalu kemudian membuangnya begitu saja. Ia terlihat sangat buru-buru. Sehingga tak mungkin jika Orion mengajukan pertanyaan di kala wanita itu sedang sibuk.
Karena itulah, mungkin jika memeriksa sesuatu di atas meja, Orion akan menemukan yang mungkin sedang dicari oleh Fani saat ini. Beberapa tumpukan menggunung layaknya tugas yang belum selesai dikerjakan, satu persatu ia baca dan akhirnya menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik.
“Identitas Nona Gista juga ada di sini. Apakah ini hanya kebetulan menumpuk atau Nona Fani sendiri yang memang menyimpan ini semua? Tapi kupikir, semua informasi ada di gudang,” pikir Orion.
“Hm? Itu ...memang aku menyimpannya sendiri, Nona Gista tidak tersinggung juga. Malah dia membiarkannya begitu saja,” jawab Fani kemudian menghampiri Orion.
“Aku yakin dia tidak pernah mengatakan sesuatu tentangnya sendiri, ya?”
“Iya itu benar. Jadi butuh waktu lama untuk percaya dengannya,” tutur Fani.
“Ngomong-ngomong yang sedang dicari sudah ketemu?” tanya Orion.
Lantas Fani menggelengkan kepala tanda tidak menemukan yang sedang ia cari. Bahkan di sekeliling Orion pula terlihat berantakan lebih parah dari sebelumnya.
“Jhon, orang itu tidak ada dalam daftar anggota Grup Arutala,” jelas Fani dengan yakin. Namun wajahnya masih terlihat sangat cemas.
“Dia laki-laki yang selalu mengenakan masker hitam, aku rasa dia memiliki dua kekuatan. Yang pertama api dan mungkin digunakan untuk mengendalikan seseorang melalui medium lalu kedua, bayangan yang bisa melenyapkan kekuatan kita,” kata Orion.
“Dua kemampuan? Ini menjadi sangat mencurigakan.”
“Ya, tapi aku masih belum yakin apakah itu benar.”
Orion masih meragu, dan identitas Jhon masih mengambang. Tidak jelas asal-usulnya namun Fani meyakinkan bahwa Jhon bukanlah bagian dari Grup Arutala.
“Aku akan membicarakan ini pada Nona Gista,” kata Orion kemudian ia keluar dari ruangan Fani.
Lagi-lagi, Mahanta melakukan hal yang sama. Sudah dua kali Mahanta menunggu Orion di depan pintu seperti ini.
“Apa yang kau lakukan kemari?”
“Nona Gista memanggilmu, Orion.”
Mahanta berwajah sangat serius ketika mengatakannya. Mungkin ada hal penting yang benar-benar ingin dibicarakan.