
Sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengejar Chameleon saja. Dan sekarang ia kembali melarikan diri dengan begitu mudahnya. Meski saat itu, terakhir kali Orion ingat bahwa Chameleon terluka parah di bagian kepala.
Sebulan telah berlalu. Semua yang terluka mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan diri mereka. Begitu pula dengan Orion, namun belum sepenuhnya karena tulang-tulang rusuk yang patah cukup banyak dan membahayakan. Belum lagi yang nyaris menusuk bagian ginjal.
Waktu demi waktu yang terus mereka gunakan tuk masa pemulihan saja sudah cukup banyak. Tak sedikit dari mereka yang membarengi penyembuhan dengan latihan mereka untuk menjadi semakin kuat.
Tugas mereka sebagai Ketua di setiap wilayah atau kota kini pun ditangani oleh asisten mereka untuk sementara. Kecuali mereka yang tidak mengikut dalam pertarungan malam itu.
Juga Ketua Gista Arutala, ia hanya tergores itupun karena pembalikan serangan dari Chameleon. Yang di mana saat serangan mereka pada Chameleon berbalik kepada mereka sendiri.
Pagi hari di hari senin.
Tok, tok!
Seseorang mengetuk pintu ketika Orion tengah terbaring dengan malasnya di ranjang tidur. Sembari menghela napas, ia lantas membukakan pintu itu.
“Siapa?”
Dipikir siapa yang mengganggu ketenangan Orion hari ini. Dan ternyata seorang pria yang memiliki sifat anak kecil. Endaru, si Pahlawan Kota.
“Untuk apa kau datang kemari dengan wajah sumringah begitu?” tanya Orion.
“Kau masih lesu, ya Orion. Padahal aku pikir kau sudah sembuh,” celoteh Endaru yang kemudian masuk ke dalam ruangan begitu saja.
“Jelas, 'kan? Tubuhku selalu dijadikan samsak banting. Kau pikir semudah itu untuk sembuh?”
“Oh, ya. Aku datang kemari untuk bertanya. Apa yang telah terjadi sebulan yang lalu ketika bunglon itu merasuk ke tubuhku?” tanya Endaru tak menggubris perkataan Orion sebelumnya.
“Daripada itu. Apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Orion.
“Ya. Aku sudah baik-baik saja. Lihat? Aku sudah berdiri dengan benar, bukan lesu seperti dirimu saat ini,” ujar Endaru seraya merenggangkan tubuhnya.
“Lalu, kenapa tidak tanyakan Gista saja? Dia yang paling tahu apa yang terjadi padamu. Sedangkan aku sepertinya tertidur lelap saat itu,” kata Orion seraya mengalihkan pandangan ke arah luar dari jendela.
“Yang benar? Tapi masalahnya, semua orang bilang bahwa kau hanya duduk dan melihat pertarungan Chameleon saja,” ungkap Endaru.
“Aku sama sekali tidak mengingat apa pun tentang itu. Tapi, aku mengingat bahwa Chameleon mendatangiku,” ujar Orion. Ia memegangi kepala dan berharap ingat seluruhnya namun tidak bisa.
“Chameleon mendatangimu? Apakah saat itu dia masih mengendalikan tubuhku?” tanya Endaru.
Orion menggelengkan kepala lalu menjawab, “Tidak. Dia berada di wujud lain. Dia muncul dari bayangan dalam keadaan bersimbah darah.”
Seketika Endaru terkejut. Lantas ia sama sekali tidak mengingat kejadian terakhir kali sebelum Chameleon pergi. Kecuali saat menusuk tubuh Chameleon dengan pedang Gista.
“Orion! Chameleon akan mengejarmu lagi. Jadi, pastikan kau tidak bergerak sendiri,” ucap Endaru.
Setelah berlama-lama mereka berdua berusaha saling mengingat, Endaru pun akhirnya pergi dari ruangan Orion.
Orion melihat ke arah luar dari jendela, seseorang yang tidak asing baginya terlihat jelas sedang menyapu halaman rumah.
“Dr. Eka! Benar juga, dia pasti tahu sesuatu!”
Drap! Drap!
Orion berlari menghampiri Dr. Eka di halaman rumah. Ia benar-benar sedang menyapu halaman rumah, bahkan tidak ada sesuatu yang membelenggunya atau apa pun agar Dr. Eka tidak kabur.
Untuk sesaat Orion melihatnya dengan heran.
Dr. Eka yang merasa asing itu menoleh ke belakang. Mengentikan tindakannya.
“Ruang bawah tanah sedang hancur. Bukankah Anda tahu itu? Dan saya di sini juga sedang diawasi oleh banyak orang. Jadi ya tidak bisa pergi. Omong-omong siapa dirimu?” Dr. Eka berbalik tanya.
“Tidak penting siapa aku. Tapi apa kau tahu sesuatu tentang Chameleon? Misalnya kekuatannya atau mungkin semua rekan Chameleon?”
Dr. Eka berdeham seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Entah ia akan menjawab dengan benar atau tidak.
“Saya tidak berada di bawah Chameleon langsung. Saya 'kan hanya bawahan Tuan Caraka yang merupakan rekan Chameleon. Jadi yang saya tahu hanyalah Chameleon memiliki kekuatan yang sedikit unik,” tutur Dr. Eka.
“Katakan saja apa pun itu,” sahut Orion yang malas berbasa-basi.
“Meniru dari segala wujud yang ada di dunia. Termasuk suatu kekuatan asing yang ada di tubuh kita ini,” ungkap Dr. Eka seraya menunjuk dirinya sendiri.
“Dan saya pernah melihat sebuah lingkaran dengan bentuk belah ketupat di tengah lingkaran itu. Bisa dibilang, inti dari kekuatannya ada di sana. Dia bisa membuat kekuatan yang ia tiru menjadi berkali-kali lipatnya,” imbuh Dr. Eka.
Setelah mengatakan itu, Dr. Eka kemudian menunjuk kepalanya sembari berkata, “Lingkaran yang bisa meniru segala hal dalam waktu singkat. Serta menyerap energi kehidupan yang ada di sekitarnya.”
“Kudengar sebelum ruang bawah tanah hancur, Gis— Nona Gista sudah menginterogasimu. Tetapi kau tidak memberikan jawabannya,” sindir Orion.
“Tentu saja tidak akan kuberitahu karena yang harusnya pertama kali dengar adalah kau, Orion.” Dr. Eka sedikit berbisik lirih kepadanya.
Mendengar Dr. Eka sudah tahu siapa dirinya sekarang. Tentu Orion tidak akan terkejut.
“Terkejut?”
“Tidak, tuh,” sahut Orion.
“Dan, informasi ini tidak percuma. Jadi harus ada imbalannya. Semisal membedah tubuhmu,” ujar Dr. Eka.
Permintaannya sungguh bukan main-main. Bahkan Dr. Eka sengaja memberitahukan informasi tentang Chameleon terlebih dahulu.
“Aku tidak mau kau membedah tubuhku seenak jidatnya. Kalaupun kau ingin imbalan, minta saja pada Nona Gista,” ucap Orion, membalikkan badan lantas kembali masuk ke dalam.
Mentari pagi yang bersinar terang. Tiada akhir bagi para Pejuang NED. Terutama untuk anggota Arutala. Mereka saat ini berada dekat di sekitar rumah Arutala.
Endaru sebelumnya mengatakan pada Orion untuk tidak bergerak sendirian. Sama hal nya dengan anggota Arutala, mereka akan bergerak begitu pun dengan anggota yang lebih satu tingkat dari mereka akan bergerak jikalau Orion bergerak.
Saat ini Mahanta sedang berkeliling ke daerah. Ia sudah sembuh dari gigitan seorang wanita bertipe monster. Jika kembali diingatnya, luka Mahanta sangat fatal karena gigitannya langsung di urat nadi.
Mahanta akan tewas jika saat itu tidak segera dihentikan pendarahannya. Nampaknya Mahanta akan berumur panjang.
Krek! Krek!
“Kepala masih aman,” gumam Mahanta seraya menggerakkan kepala ke kanan dan kiri sampai berbunyi seperti itu.
Selepas ia berkeliling sembari berlari pagi, Mahanta pulang dengan wajah seperti biasa. Wajah sumringah, berbahagia dan selalu bersemangat.
Orion yang melihatnya dari jendela ketika Mahanta pulang, lantas tersenyum ikut senang.
“Dia masih seperti biasanya ya.”
Srak!
Orion menutup tirainya. Lalu kembali berbaring di atas ranjang sembari menutup mata.