ORION

ORION
Pesan Chameleon



“Memangnya apa yang ingin kau lakukan dengan kekuatan itu selain untuk membuat tubuhmu kembali semula?”


Orion berdeham lantas menjawab, “Mungkin untuk menghajar orang yang sok berkuasa.”


Dalam perjalanan untuk menenangkan hati dan pikiran sejenak. Dengan tubuh yang terselubungi oleh kobaran api. Energinya bercampur dan membuat kekuatan fisiknya kian bertambah.


Sesekali ia melompat-lompat dan kembali berjalan lalu berlari. Ia sering melakukan hal ini, agar ototnya tidak akan kaku jika suatu saat tubuhnya akan kembali. Serta agar stres tidak menumpuk.


Karura masih menunjukkan wujudnya pada Orion seorang. Kala itu, ia tengah menceramahi Orion. Dengan kata lain sedang membimbingnya untuk mengendalikan kekuatan Api Abadi.


Perkotaan yang super sibuk ini pun jarang sekali memperhatikan orang gila seperti Orion. Karena mereka sangat sibuk, sehingga terkadang pun banyak orang mereka lupakan hanya demi segelintir uang yang dicari.


“Lari! Lari!”


Drap! Drap!


Bagi Orion yang sedang berlari setelah diperintahnya. Ia merasa sedikit terganggu dengan teriakan Karura. Rasanya seperti mendengar seekor burung marah karena anaknya jatuh ke bawah atau dimakan dengan spesies lain.


“Ugh, menjengkelkan!”


Waktu demi waktu Orion habiskan dengan menggerutu. Sedikit demi sedikit kekuatan itu seolah semakin lama semakin bertambah. Aliran darahnya lebih lancar meski sebelumnya sudah lancar.


Orion merasa, bahwa tenaga Orion semakin lama semakin kuat. Detak jantung yang berdebar kencang, napas berat hingga membuat peluhnya bercucuran.


Tap!


Ia berhenti berlari dan kemudian menatap orang-orang yang berada di pinggir jalan sedang menunggu lampu kuning. Berhenti di zebra cross, Orion sesaat merasa lupa akan sesuatu.


“Karura, katakan apa aku berada di surga?”


“Bodoh!” teriak Karura memekikkan telinga Orion sampai berdenging sakit.


“Kau masih untung diberi kesempatan hidup kedua! Dan sekarang malah bertanya apakah kau berada di surga!? Cari mati ya!?” teriak Karura sekali lagi.


Sembari menutup kedua telinganya dengan erat, Orion menyahut, “Diam! Aku hanya tidak percaya bahwa aku hidup kembali dengan menderita begini!”


Sampai semua orang di sekitarnya terkejut dan mengira Orion kabur dari rumah sakit jiwa.


Lampu berubah warna kuning lalu ke warna merah setelahnya. Tepat setelah Orion melangkah keluar dari pembatas jalan, tampak beberapa orang mengejar sambil berteriak memanggil sebutan.


Orion menoleh ke asal suara dan mendapati banyak orang yang familiar. Matanya tertuju, membelalakkan kedua mata sampai tidak percaya ia bahkan mengusap-ngusap wajah.


“Kau! Akhirnya datang juga! Darah langka!”


“Cepat kejar sebelum menyebrang jalan!”


Teriakan mereka juga sama nyaringnya dengan Karura. Orion lantas berlari menyeberangi jalan secepatnya.


“Ah! Cepat! Cepat! Kejar sampai mati!”


Kata-kata mereka berlebihan sekali. Orion sampai tak bisa berbuat apa-apa di depan banyak orang seperti ini. Ia segera menyembunyikan diri di suatu gang kecil.


Tapi kemudian ia merasa tak nyaman. Hal itu mengingatkannya akan beberapa bulan lalu, yang di mana pertama kalinya Orion bangkit.


“Kenapa preman itu mengejarku lagi!? Astaga, mereka keras kepala!”


“Makanya aku bilang cepatlah kuasai kekuatan itu! Akan jadi tak berguna kalau aku hanya jadi pajangan seperti ini!” pekik Karura.


“Sudah, ah diam! Aku juga bisa melawan mereka tanpa kekuatan Api Abadi!” tuturnya dengan serius.


Tap, tap!


Dua langkah ke belakang seraya ia memastikan keadaan sekitar. Di gang kecil ini takkan ada lagi orang yang akan datang kecuali mereka.


“Di gang ini! Cepat tangkap!”


“Ha, aku jadi ingat masa lalu! Terakhir kali kau menghilang dan meninggalkan barang-barangmu di gang kecil. Bahkan gangnya juga sama persis.”


Ketua mereka yang gempal itu tak kenal takut meski sebelumnya mereka juga kena hajar.


“Nah, sekarang! Kau ingin menggunakan kakimu yang berapi itu!? Kalau benar begitu maka aku punya cara untuk menangkisnya bahkan menghindar sebelum diserang—”


SRAT!


Kalimat pria bertubuh gempal itu terpotong. Lidahnya nyaris tergigit begitu ayunan lengan Orion membuat jalanan dalam gang kecil itu sedikit terbelah menjadi dua.


Persis seperti yang dikatakan Orion, ia takkan menggunakan Api Abadi hanya untuk melawan keroco sepertinya. Kendalinya pada sedikit api sudah melampaui mereka yang tak pernah berlatih.


Salah satu lengannya terlihat berkilau, lantaran sebilah pedang berwarna kemerahan itu melekat di kulitnya.


“Apa kalian berniat mengincarku sekarang? Katakan!” pekik Orion.


Sekelompok bak preman gagak perkasa itu menciut. Nyali mereka secuil plankton, takut hingga tubuh mereka bergidik merinding.


“A-Anu ..A ...”


“Anu, anu, apa? Katakan yang jelas!”


Saking takutnya mereka bahkan tak bisa bicara. Pandangan mereka pun menurun, mereka hanya bisa menatap semut yang berbaris melewati tubuhnya.


Termasuk si gempal itu.


“Pesan ...pesan dari Tuan Chameleon,” ucapnya dengan suara lirih.


“Hei! Punya mulut 'kan? Bicara yang keras!”


“Pesan dari Tuan Chameleon!” pekik mereka bersamaan.


Sontak Orion terkejut. Ia kemudian menghampiri mereka yang tengah berwajah gelisah. Lalu menanyakan sekali lagi apakah yang barusan dikatakan itu adalah benar.


“Pesan dari Chameleon? Aku barusan mendapatkannya. Lalu kenapa lagi? Jangan bilang kalian membohongiku,” pikir Orion menggerutu.


“Tidak, tidak! Saya berkata dengan jujur. Chameleon memberikan pesan agar Anak Api segera menuju ke tempat yang telah disampaikan,” tuturnya sambil menggelengkan kepala.


“Hanya itu?” Orion memiringkan sedikit kepala, urat kemarahannya masih saja muncul.


“Tambahannya, jika Anak Api tidak segera ke sana dalam waktu dua hari dari sekarang maka orang terdekatnya akan terkena imbas,” imbuh pria berbadan gempal tersebut.


Kerutan di dahinya kian menebal. Orion jelas marah kalau urusannya dengan Chameleon sampai dikait-kaitkan oleh orang lain.


“Dia mencariku karena Api Abadi. Bisa-bisanya menerorku seperti ini,” gumam Orion.


Ia lantas membalikkan badan. Kembali mengatakan suatu hal pada mereka, “Omong kosong! Aku sama sekali tidak punya orang yang sedang aku lindungi.”


Chameleon di suatu tempat sedang tertawa bahak-bahak, ia mendengar serta melihat reaksi Orion dari orang-orang itu. Mendengarnya saja membuat ia harus menghabiskan banyak tisu karena ludah yang muncrat.


“Lihat saja nanti. Orang biadab yang seenaknya jadi raja itu akan lenyap dengan tanganku sendiri,” imbuh Orion menggumamkan dengan kesal.


Kembali pergi dengan raut wajah kesal. Ia pun melangkahkan kaki menuju ke halte busway namun perutnya tidak bisa diajak kerja sama lantaran keroncongan karena kelaparan.


“Aku lupa belum makan siang,” ucap Orion.


“Hei, kenapa kau tidak membunuhnya?” Karura bertanya dengan penasaran.


“Kenapa harus?”


“Manusia dulu suka sekali saling membunuh untuk mendapatkan sesuatu.”


“Jangan samakan yang dulu. Karena hukum dan aturan di dunia modern itu lebih keji. Kau bisa mati kelaparan di balik jeruji atau bahkan sampai stres,” sahut Orion dengan berpikir bahwa hal yang ia katakan itu sudah sewajarnya.