ORION

ORION
Kafe Untuk Kopi Hitam



Hari sudah berganti, di pagi hari yang cerah ini masih membuatnya mengantuk. Setelah keluar dari kamar mandi seraya menguap, ia kemudian melihat ke sekeliling. Seperti biasa kediaman Arutala selalu sepi, meski anggotanya banyak, mereka bekerja di luar sana.


Entah di darat, udara ataupun laut. Mereka semua berpencar. Kerjaan mereka yang tak berbeda dengan orang biasanya pun menjadi tambahan, sebab pekerjaan mereka yang sebenarnya adalah mengawasi setiap daerah di kota J-Karta untuk memastikan keamanan.


Termasuk, mencari keberadaan Pejuang NED yang ada kemungkinan muncul di sekitar mereka.


“Wanita itu kemarin melakukan apa terhadapku? Dasar, seenaknya saja. Sudah tua renta begitu, masih saja keras kepala,” gerutu Orion seraya melangkah ke suatu tempat.


Dan benar-benar tidak ada seorang pun di rumah yang super besar ini. Yang ada hanyalah pembantu. Keberadaan Gista pun sama sekali tidak terlihat.


“Orion!” panggil Mahanta.


Dan sekarang orang yang paling enggan Orion temui malah datang sekarang. Orion menghela napas panjang, seraya memalingkan wajah lalu berbalik badan.


Berniat untuk pergi, namun Mahanta sudah berada tepat di sebelahnya.


“Orion, hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Mumpung ini hari libur, kau mau 'kan?”


Mahanta mengajak bermain rupanya. Lagi-lagi Orion menghela napas panjang. Berharap tidak akan bisa menjawabnya untuk sementara namun melihat kedua matanya berbinar-binar seperti itu, Orion merasa berhadapan dengan anak kecil.


“Memangnya ke mana?” tanya Orion.


Orion paling tidak bisa menolak ajakan seseorang. Terlalu sungkan, terutama dengan wajah anak muda yang polos itu membuatnya iri.


“Tempat yang menyenangkan,” jawab Mahanta.


Orion lantas kembali berjalan meninggalkan Mahanta. Kejengkelannya semakin tambah saja.


“Ke kafe, Orion. Ah, maksudnya pak?”


“Kenapa juga aku harus ke sana. Dan cukup panggil namaku saja,” ketus Orion yang tetap melangkahkan kedua kakinya.


“Aku berniat untuk mentraktir. Yakin, tidak mau?”


Langkah Orion terhenti saat mendengar bahwa Mahanta akan mentraktir dirinya. Apalagi ia akan mentraktir Orion di kafe, yang sudah pasti ada seduhan kopi hitam yang hangat dan menyegarkan.


Raut wajah Orion menjadi sumringah. Kemudian ia berbalik badan dan menyetujui hal itu.


Ketika dalam perjalanan menuju ke sana dengan berjalan kaki, Mahanta sempat terkikik-kikik karena Orion menerima ajakannya karena ingin ditraktir.


“Kenapa kau mengajakku? Bukankah kau juga punya kesibukan lainnya?” tanya Orion.


“Memang ada tapi aku berniat untuk mengajakmu agar lebih bersantai,” tutur Mahanta sambil tersenyum.


“Lalu, yang kemarin ...”


“Ah, bentar lagi sampai! Bentar lagi sampai!” teriak Mahanta tiba-tiba.


Itu sudah jelas sebagai pengalihan agar Orion tak lagi membicarakan hal yang kemarin telah terjadi. Bahkan Mahanta sampai berteriak dengan kalimat berulang kali seperti itu. Tidak pandai berakting.


Tetapi, sesaat setelah mereka sampai ke kafe yang berjarak cukup dekat dari kediaman Arutala, ponsel Mahanta berdering.


Padahal mereka sudah berada di depan pintu, entah kesibukan apa lagi yang akan dihadapi Mahanta sekarang.


Terlihat dari wajahnya yang penuh kecemasan, sudah pasti ada suatu masalah yang sulit diatasi. Setelah mereka bertukar kata lewat panggilan, Mahanta kemudian menutupnya.


“Orion, aku akan pergi. Salah satu bawahanku membuat masalah di suatu tempat. Tetaplah masuk ke dalam, nanti aku bayarkan kalau sudah kembali, ya?”


“Hah, terserah.” Seraya menghela napas pendek, ia kemudian memalingkan wajah dari hadapannya.


“Baiklah. Hati-hati, ya!” Mahanta pergi seraya melambaikan tangan.


Di pintu tempat itu tertulis, "Ucapkan Selamat Pagi", dan begitu ia membuka pintu seraya mengucapkan salam, seseorang pun juga mengucapkan itu secara bersamaan dengannya.


“Selamat Pagi!”


Sontak terkejut, ia kemudian menoleh ke samping. Mendapati seorang kenalan pria, Endaru.


Keduanya sama-sama terkejut. Dan pada akhirnya mereka duduk bersebelahan di sana.


“Kenapa kau ada di sini? Bukankah hotelmu jauh dari sini?” tanya Orion.


“Ini kafe langgananku. Memangnya aku tidak boleh kemari? Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa anak kecil sepertimu datang ke tempat ini?” Endaru berbalik tanya.


“Harusnya aku lah yang berkata seperti itu. Memangnya aku tidak boleh kemari?” sahut Orion.


Barista yang ada di hadapan mereka agaknya terganggu, namun tak bisa berbuat apa-apa selain memaklumi dan berharap mereka tak lagi bertengkar.


“Hei, bukunya masih ada padaku. Kemarin aku lupa,” ucap Endaru.


“Itu bagus. Untuk saat ini aku titipkan padamu dulu, ya. Bukunya penting, jadi jangan sampai basah, kotor ataupun sobek. Awas saja nanti kalau jadi begitu,” ancam Orion seraya mengangkat sebelah alisnya.


“Ck, ya, ya. Dasar bocah tua,” gerutu Endaru seraya berdecak kesal.


Suasana di kafe ini cukup ramai. Dan tenang dengan semilir angin yang melewati celah jendela, terasa sejuk. Padahal di luar sana sangat panas meski belum terlalu siang.


Kota J-Karta dipenuhi kesibukan setiap orang. Namun ada kalanya mereka ketika waktu istirahat dipergunakan untuk mampir ke tempat ini. Begitu juga orang-orang yang bekerja di rumah, mereka memanfaatkan tempat ini sebagai sensasi agar tidak mudah suntuk.


“Bukankah kau cukup sibuk juga? Pahlawan Kota, Endaru.”


“Aku tidak sesibuk para artis dengan manajer di samping. Aku hanyalah pahlawan yang kerap kali berkeliling di seluruh negara ini dan kemudian menuntaskan penjahat yang aku lihat,” ujarnya dengan sombong.


“Ha, penjahat katanya. Padahal kau sendiri sudah terlihat seperti kriminal,” sindir Orion kepadanya.


“Hei, aku tidak pernah melakukan hal buruk selain memberantas kejahatan, kok.”


“Terserah apa katamu.”


“Wah, Anda ternyata benar-benar Pahlawan Kota Y-Karta. Tak kusangka akan bertemu denganmu, bolehkah kita berfoto sebentar?”


Salah satu barista perempuan mengajak Endaru berbicara sekaligus berfoto. Meski ada banyak orang yang mengenali namun wajah Endaru sejujurnya sulit untuk diingat.


Yang paling diingat oleh fans Pahlawan Kota hanyalah pakaiannya serba hitam. Itu saja.


“Anda berdua ingin memesan apa?” Kemudian salah satu barista kembali bertanya mengenai pesanan mereka.


“Aku kopi susu, seperti biasa,” ucap Endaru dengan wajah dan suara datar.


“Kopi hitam,” ucap Orion.


“Eh?”


Semua orang tak terkecuali dengan para barista terkejut. Sesaat mereka berhenti bergerak lantas menatap wajah Orion dengan penuh tanda tanya.


“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Orion tak mengerti.


“Ya, ada yang salah. Mana ada anak kecil memesan kopi hitam,” bisik Endaru.


Akan tetapi, beberapa pandangan para pelanggan terhadap mereka ada yang berbeda. Orion melirik ke sekeliling ruangan, dan memastikan siapa yang menatapnya berbeda.


Hawa membunuh. Itulah yang mereka rasakan, di tengah pandangan pelanggan tertuju pada Orion karena terkejut heran mendengar pesanannya.