
Berkeliaran di kota J-Karta, yang pada akhirnya Orion selalu mendapatkan nasib buruk. Setiap kali ia mendapatkan masalah terutama ketika ia dikejar oleh orang-orang yang dulu juga sempat mengejarnya.
Entah bagaimana identitas mereka dulu tapi yang pasti mereka itu dikenal sebagai preman kelas kakap. Mengincar darah langka, adalah kegiatannya selama hidup kembali.
Perut Orion sudah mengamuk sejak tadi, maka dari itu ia menuju ke salah satu warung terdekat. Berdiri di daun pintu, ia merogoh sesuatu di dalam saku celananya.
“Aku masih menyimpan sisa uang. Yah, setidaknya aku juga masih punya anting-anting itu,” gumam Orion yang menemukan beberapa lembar uang di saku celananya.
Ia kemudian duduk dan memesan makan siang.
“Jarang sekali ada anak-anak mampir kemari. Ada apa ini? Jangan bilang kamu pengemis,” cerocos pemilik warung itu.
“Bukan. Aku bukan pengemis!” sangkal Orion dengan tegas.
“Hahaha, bercanda, bercanda. Baiklah, aku pesankan yang cocok untuk anak sepertimu ya.”
Seenaknya saja bicara. Orion menggelengkan kepala dan mengerutkan kening, berharap hal-hal seperti ini tidak lagi terjadi.
Setelah pesanannya sudah siap dalam beberapa waktu. Orion segera menyeruputnya dengan nikmat. Rasanya sedap.
“Melihatmu begitu lahap, apakah itu artinya makanan di sini sangat enak, ya?”
“Tentu saja. Ini 'kan warung langgananku. Kenapa juga harus dipikir panjang? Sebab aku sudah tahu sejak awal kalau makanan di sini enak,” tutur Orion.
“Apa? Kamu pernah kemari?”
Bibi itu terkejut saat mendengar bahwa Orion mengaku pernah makan di warung tersebut. Seketika Orion tersadar, bahwa dirinya masih berada di wujud seorang anak. Bukan ketika ia berusia 30 tahun.
“Uhuk! Uhuk!”
Sampai ia terbatuk-batuk dan membuat semua pelanggan di sana terkejut. Mereka memperhatikan Orion dengan heran sekaligus merasa kasihan.
Tapi tidak ada yang membantu kecuali bibi pemilik warung.
“Astaga! Ini, ini, minumlah airnya dulu.”
Buru-buru Orion menenggak air putih itu. Dengan begitu ia merasa lega, kerongkongannya tak lagi tersendat sisa makanan.
“Ha, aku lupa aku bukan Orion yang dulu. Bisa gawat kalau bibi ini tahu kalau aku hidup kembali,” batin Orion sembari mengalihkan pandangannya.
Sesaat setelah Orion berhenti memakannya. Datang seorang pria bertubuh kekar, yang familiar di mata Orion.
“Mahanta?” lirih Orion terkejut.
Orion lantas beranjak dari tempat duduknya seraya menyodorkan selembar uang sebagai bayaran atas makanannya.
“Loh, sudah mau pergi?” Bibi itu bertanya dan Orion hanya mengangguk lalu pergi lewat pintu satunya.
“Orion!!”
Mahanta yang mengenal punggung kecil itu, ia pun memanggilnya dengan suara keras. Orion terkejut, seketika ia berlari keluar tanpa menoleh ke belakang.
“Hei, kalian! Kejar Orion!” teriak Mahanta memberi perintah pada anggotanya.
“Baik!” ucap mereka serentak lalu bergegas mengejar Orion.
Drap! Drap!
Orion berlari sekuat tenaga, sesekali ia melirik sedikit ke belakang. Terlihat ada sekitar 7 orang tengah mengejarnya dengan ganas. Mereka bahkan menatap serius ke depan, dan tentu saja mereka berfokus pada Orion di depan.
“Aku merasa seperti buron penjahat saja!”
Berpikir bahwa mereka hanya ada di belakang, namun tiba-tiba saja ada beberapa orang di depan Orion. Berkerumun di tengah jalan, lalu setelah beberapa saat mereka menoleh ke arah Orion.
“Itu dia!” teriak salah satu pria berjas hitam sembari menunjuk Orion.
Tap! Orion berhenti berlari. Ia kemudian melirik ke sekitar dan beruapaya menemukan jalan lain.
“Jalan ke kiri,” gumam Orion setelah menemukannya ia kemudian berlari menghindari mereka semua.
“Hei, apa yang kalian lakukan?! Cepat bawa anak itu!”
Raut wajahnya kesal ketika ia melihat Orion terus berlari. Namun dirinya tidak mengejar melainkan anggota yang lain.
“Huh, dasar. Anak itu selalu saja membuat masalah,” gerutu Raka.
“Masalah? Bukankah ini awalnya karena kau!” sahut Mahanta dari kejauhan. Ia menghampiri Raka.
“Ah, kakak! Ma-maaf, habisnya karena ...” Raka menjadi gagap dalam sekejap.
“Kau lah yang pertama kalinya memberi tugas tanpa sepengetahuan kami. Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kau perbuat, camkan baik-baik!” tegas Mahanta menatapnya tajam.
“Lagipula siapa suruh anak sekecil dia harus diterima di Organisasi Utama? Bukankah biasanya Nona Gista selalu membuat anak-anak seumuran atau di bawahnya akan tetap hidup normal tanpa tahu dunia NED?”
Raka menyahutnya tanpa menatap Mahanta.
“Andai aku tahu, aku juga pasti akan memberitahukannya padamu. Masalahnya Orion juga bukan orang yang sembarangan mulai sekarang,” batin Mahanta.
***
Berlari dan bersembunyi sepanjang waktu. Orion yang kelelahan itu tetap memaksakan diri agar tidak ditemukan oleh mereka terutama Mahanta. Keringatnya bercucuran deras, ia terengah-engah di suatu jalan yang sepi.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali muncul lagi. Orion pun bergegas dan mempercepat larinya. Stamina yang seharusnya sudah terkuras cepat dan membuatnya tak bisa berlari, namun ketika ia memaksa justru tenaganya bertambah.
“Bagus! Lari terus!”
Bahkan ada orang-orang sekitar kurang ajar yang menyoraki Orion di tengah pelarian.
“Mereka pikir ini lomba lari ya?” celetuk Orion kalang kabut.
Sampai di halte busway, entah berapa meter ia berlari sampai ke sana. Beruntung ada bus yang baru saja sampai, tanpa tahu tujuan bus itu, Orion lantas masuk begitu saja.
Klap! Pintu bus tertutup lantas berjalan dan meninggalkan orang-orang berjas itu.
“Huh, aku sungguh beruntung.”
Akhirnya Orion dapat bernapas lega sebentar. Lama-kelamaan ia tertidur pulas tanpa tahu bus itu pergi ke mana.
“Dek, bangun dek! Kamu ngapain masuk ke bus ini? Kamu sampai keluar kota J-Karta lho. Hei!”
Plak! Plak!
Sopir bos membangunkan Orion dengan menampar wajahnya beberapa kali. Saking pulasnya Orion jadi sulit untuk dibangunkan.
“Dek!”
Plak!
Tamparan kali ini cukup keras. Teriakan sopir bus pun akhirnya membangunkan Orion dengan terkejut. Kedua matanya terbelalak, ia kemudian menoleh ke sisi kanan dan kirinya.
“Ya ampun!”
“Kamu bangun juga. Dek, ini sudah dini hari. Kamu sampai ke kota Y-Karta. Aduh, kamu ini gimana sih. Main nyelonong aja,” ketus Pak Sopir.
“Maafkan aku. Aku tidak sengaja, pak.”
Orion jelas panik karena saat terbangun ia sudah sampai ke kota lain. Bukan ke daerah lain. Ia syok namun tak tahu lagi harus apa selain meminta maaf pada sopir tersebut lalu turun dari bus-nya.
“Tapi aku juga berniat untuk pergi ke kota ini, sih. Karena katanya Api Abadi itu hilang, aku jadi ragu dan ingin memastikan apa itu benar.”
Bus itu kemudian pergi meninggalkan Orion di suatu jalan dengan lampu penerang. Sebenarnya sopir itu sangat merasa tidak enak meninggalkannya namun pekerjaannya adalah prioritas.
“Baiklah, ini aku ada di mana sekarang? Aku tidak punya ponsel jadi aku tidak tahu. Hah.”
Lagi-lagi Orion menghela napas. Suatu ketika ia berjalan tanpa arah di malam berbintang, terdengar suara petikan dengan tempo sedang dari arah kiri.
“Kau lagi?”
Dan ternyata itu suara dari pemain kecapi lagi.