
Eka, ia dokter yang sangat cerewet. Jika memungkinkan Orion bisa saja mengorek informasi darinya, pikirnya begitu. Namun justru Eka berpikir bahwa apa yang menjadi pertanyaan Orion sebelumnya adalah hal yang dialami oleh Orion sendiri.
“Saya hanya bercerita tentang teman saya saja. Apakah ada masalah?”
Mengetahui seberapa besarnya mara bahaya di depannya saat ini, Orion dengan tenang mengendalikan ekspresi dan membalas dugaan Eka bukanlah fakta melainkan opini Eka sendiri.
“Kau tahu, meskipun kau berkata tidak dengan ekspresi yang biasa saja. Tapi tidak dengan pupil yang bergetar, bukan?”
Orion terdiam dan tak membalas perkataan Eka lagi. Ia kini mengerti, orang ini, orang yang berhadapan dengannya saat ini adalah orang yang sangat berbahaya untuk didekati. Salah Orion pikir bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah darinya.
“Semua orang yang pandai berbohong memang suka begitu,” imbuh Eka.
Reflek, Orion menghindar darinya. Ia turun dari ranjang dan mengambil sikap waspada.
“Tidak perlu takut begitu, Orion. Karena aku sudah tahu segalanya dari otakmu. Kau pasti tidak tahu, ya? Nah, mari dengarkan, bahwa aku telah membongkar kepalamu, makanya aku tahu semua tentangmu!”
Eka lagi-lagi membuatnya terkejut. Orion tak lagi bisa berkata apa-apa selain menelan ludah. Eka mengatakan hal itu pula dengan ekspresi bahagia sampai rona merah di wajahnya terlihat.
“Orang sinting.” Itulah yang terbesit dalam benak Orion, sesaat melihat Eka yang sangat senang saat menjelaskan hal menjijikan.
Drak! Eka beranjak dari tempat duduknya lantas berdiri dan menatap wajah Orion yang terlihat sangat berwaspada terhadapnya.
“Aku tahu semua tentangmu, tapi ada satu hal yang tidak bisa aku ketahui dari dalam otakmu, Orion. Yah, tapi yang paling menarik adalah cara matimu yang sangat mengenaskan itu,” tutur Eka seraya tersenyum tipis.
“Kenapa pula kau tahu tentangku? Memangnya ada yang penting dengan cara matiku? Seingatku, semuanya hanya sampah. Kegiatanku, pola hidup atau lain-lainnya juga sampah. Tidak ada yang menarik dariku!” balas Orion dengan meninggikan suara.
“Ah, iya? Pria berusia 30 tahun yang mati dimutilasi. Bangkit kembali dengan tubuh menyusut dan memiliki darah langka. Itu tidak menarik?” sahut Eka, mengerutkan kening dengan sudut bibir menurun.
“Ack! Ukh ...” rintih Orion yang tiba-tiba ia merasakan rasa sakit di bagian tubuhnya.
“Harusnya kau istirahat saja, Orion. Takkan aku membiarkan pasien kembali terluka, benar? Padahal aku hanya bertanya, tapi kau dulu yang berniat menyerangku,” ucap Eka sambil mengangkat bahu.
Eka menatap Orion dengan tatapan yang culas, selang beberapa waktu di sekeliling tubuhnya berwarna kehijauan pekat. Semula tidak bergerak dan kemudian berubah menjadi api yang seolah membakar tubuhnya sendiri.
“Takdir yang kau jalani cukup menarik. Harusnya kau merasa beruntung kalau aku tidak memberitahukan rahasiamu ke Tuan Caraka,” ucap Eka dengan senyum menantang.
Hawa yang mencekam, dapat dirasakan begitu jelas hingga membuatnya merinding tak karuan. Tubuhnya hanya berhadapan dan pandangan Orion tetap ke depan, seakan-akan dipaksa untuk menatap sorot mata Eka yang culas.
“Semua.” Eka kemudian mengangkat telapak tangan kanannya. “Akan binasa,” sambungnya seraya mengepalkan tangan.
Orion terkejut lantas tubuhnya bergerak tak sesuai keinginannya. Ia duduk bertekuk lutut dengan memeluk tubuhnya yang terasa sangat sakit.
Api berwarna kehijauan pekat tersebut muncul di sekitar tubuh Orion. Tapi anehnya, tidak terasa bahwa api ini membara ataupun sedang membakar tubuhnya. Melainkan hanya, membuat kulit Orion mati rasa.
Seperti dikuliti. Perih, tapi tak satupun darah menetes. Rasanya seperti menyerang sesuatu di dalam Orion.
“Lihat? Ini terjadi karena kau tidak mau mendengarkan nasihat dari seorang dokter. Kalau disuruh istirahat ya istirahat saja. Kenapa malah turun dari ranjangmu? Hei, Orion.”
“Kenapa kau melakukan ini? Apa rencanamu? Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Orion dengan menatap tajam ke arahnya.
“Jika aku bilang seorang dokter. Tentu kau sendiri juga tahu, 'kan?” jawab Eka sembari berdecak.
“Maksudku bukanlah itu! Tapi kau ...kau, apakah kau mengenal Chame— ergh!”
Sedikit demi sedikit rasa sakit mengikis mentalnya. Dari dalam tubuhnya terasa dibakar hidup-hidup, namun ia tak hanya berdiam diri di sana, ia berusaha keras mengeluarkan kekuatannya sekuat tenaga.
“Chame? Apa maksudmu adalah Chameleon? Ah, kalau itu aku tahu tapi aku tak pernah terlibat dengannya.”
“Lalu, ceritamu tentang Pejuang NED saat itu? Apa maksudnya?” Suara Orion terdengar berat, tekanan itu masih dapat ia rasakan seiring berjalannya waktu.
Ketika Eka membuka telapak tangannya, api pada tubuh Orion seketika lenyap dalam sekejap. Serta semua rasa sakit tak kasat mata pun hilang seolah memang pada dasarnya ia tidak terluka.
“Aku bisa menyembuhkan sekaligus menyerang dari dalam. Pasti rasanya sakit kalau terus dipermainkan seperti ini, ya. Ini adalah berkat dari Tuan Caraka,” tutur Eka dengan bangga menyebut nama tuannya.
“Caraka? Salah satu ketua, tapi apa maksudnya? Kekuatanmu dibuat dan bukan murni?” tanya Orion yang merasa sangat penasaran.
“Ya, begitulah. Kekuatan ini ada karena Tuan Caraka. Kami tegolong cukup kuat, dan kupikir tak seorang pun bisa membunuh kami!” tukasnya semakin sombong.
“Dan ...dan, bagaimana dengan darah itu? Hei, katakan sesuatu! Apa itu juga ada hubungannya dengan darah langka?” Sekali lagi Orion bertanya, ia kemudian bangkit dan berjalan menghampiri Eka.
Sraaa! Api hijau kembali membuat Orion kesakitan. Kali ini rasanya seperti dipatah-patahkan layaknya lidi.
“ARGGHHH!!”
Jeritan Orion terdengar sampai luar, namun tak seorang pun yang berani datang ke kamarnya. Sedangkan di dalam saat ini, Eka menggenggam tangan sekuat tenaga dan membuat Orion sangat kesakitan.
“Ergh ...sinting, kau ini!” cerca Orion menatap benci.
Eka menjambak rambutnya ke belakang dan membuat Orion menatap mata Eka yang nampak seperti bukan mata manusia yang biasanya. Terlihat seperti mata kucing, atau mungkin mahluk buas. Sinar hijau dari kedua matanya memancarkan aura kegelapan.
“Kalau menurutmu, bagaimana Orion? Apakah darah langka itu di dalam tubuh kami?” ujarnya meringis.
Tap! Dengan tangan gemetar, Orion menyentuh pergelangan tangan Eka yang menjambak rambutnya.
“Apa yang ingin kau lakukan? Dengan kondisi tubuhmu seperti itu?”
Orion menyeringai lantas berkata, “Tentu saja ingin membakarmu.”
Orion jelas tahu kalau ia akan membakarnya maka kepalanya juga menjadi taruhan di akhir. Tapi tidak ada yang tahu, siapa yang bisa bertahan sampai itu terjadi.
“Penasaran? Tanganmu atau kepalaku dulu yang lebih dulu tumbang?”
Eka membalas seringainya dengan sudut mata menurun dan rona merah di wajahnya menandakan ia betul-betul gila.