
Emblem Priest. Tempat yang menaungi banyak kriminal, Ken sebagai Saint memanfaatkan mereka demi tujuan tertentu.
Akan tetapi suatu waktu ketika Orion dan Endaru bertamu di Emblen Priest, mereka melihat suatu hal yang membuat mereka curiga. Entah sengaja atau tidak Ken memperlihatkannya, namun yang pasti itu menjadikan mereka berwaspada.
“Kami akan pergi sebentar untuk mengurus suatu masalah. Ini tidak akan lama, jadi bersenang-senanglah di sini.” Ken kemudian berpamitan pergi ke arah berlawanan dengan rekannya itu.
“Endaru, apa kau tahu apa yang aku barusan lihat?”
“Aku tahu. Ini mungkin salah satu jejak Chameleon.”
Mereka berdua saling berbagi tugas. Endaru akan mengikuti Ken sedangkan Orion akan mengikuti orang satunya. Dengan berhati-hati melangkah serta berdalih berkeliling ke dalam Emblen Priest.
“Anda adalah tamu. Perlukah saya mengajak Anda berkeliling?” pria yang diikuti oleh Orion bertanya.
“Saya rasa tidak perlu. Lagipula Emblen Priest memiliki banyak jalan lurus. Sama sekali tidak bercabang dengan tempat tinggal saya yang jauh dari sini,” ucap Orion.
“Baiklah, saya harap Anda tidak membocorkan hal "itu" di tempat lain.”
Ah, rupanya sudah ketahuan sejak awal. Memang pada awalnya mereka sengaja memperlihatkan tapi entah dengan alasan apa sehingga membiarkan orang asing melihatnya.
Ketika pria itu hendak pergi, ia mengatakan sesuatu yang nampaknya sangat penting untuk didengar oleh Orion. Khususnya ketika Orion masih ingin berada di Emblen Priest.
“Perhatikan langkah Anda. Sebelum para kriminal datang.”
Sesaat setelah pria itu pergi dan meninggalkan Orion dalam kebingungan. Dirinya tiba-tiba mundur, seseorang menarik kerah pakaiannya dari belakang.
GEBRAK!
Orion masuk ke salah satu kamar yang ada. Terkejut, panik, takut semuanya campur aduk tak karuan. Kini ia mengerti mengapa pria itu memberinya nasihat dengan baik.
“Kau siapa?” Orion bertanya pada pria yang sepertinya telah membawa Orion masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pria berbadan gempal dengan mata kecil. Tampak ia tidak memiliki rambut sehelai pun. Juga wajah yang mengerut itu membuat hati Orion tidak tenang.
“Anu ...apa kau bisa mendengarku?” tanya Orion sekali lagi.
Berapa kali pun Orion mencoba untuk berbicara dengannya, pria itu hanya selalu menggeram bagai hewan buas.
“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan barusan. Tapi aku akan segera keluar,” ucap Orion seraya memegang gagang pintu.
Klak, klak, klak!
Berkali-kali Orion mencoba untuk membuka pintu tetapi pintunya sama sekali tidak mau terbuka. Padahal sudah jelas pengait bahkan tidak dalam kondisi terkunci.
“Apa? Kenapa ini tidak bisa dibuka? Hei!” panggil Orion sekali lagi.
Bruak!
Namun bukan jawaban dari tutur katanya melainkan sebuah benda melayang ke arah Orion. Orion beruntung dapat mengelak dari benda itu.
“Eh? Tu-tunggu! Aku ke sini bukan ...ah, tidak! Karena kau, aku di sini 'kan? Hei!”
Drap, drap!
Orion berlarian ke arah mana pun ia berada setiap kali pria itu melemparinya barang-barang di sekitar. Orion merasa ngeri sekaligus berhati-hati lantaran benda yang terlibat dari kedua matanya nampak sangat mahal. Kilaunya pun mengalahkan sorot cahaya dari jendela di belakang pria tersebut.
“Hei! Kenapa kau tidak menjawab apa-apa!?”
Bruak! Bruak!
Lemari yang dipenuhi koleksi barang bagus itu dilemparnya begitu mudah hingga mengenai wajah dan tubuh Orion yang tengah berlarian ke sana kemari. Tak habis pikir mengapa pria itu selalu melemparinya barang di saat Orion tidak melakukan apa-apa padanya.
“Duh, bisa-bisanya aku terjebak. Pertama lift, ruang bawah tanah dan sekarang kamarnya kriminal. Kenapa juga Ken membuat mereka tetap di sini, sih? Orang itu juga sangat aneh. Jangan bilang—”
Duak!
Pria itu melempar sebuah kursi kayu, Orion terkena kaki kursinya sehingga ia pun membentur dinding dengan kuat. Setetes darah mengalir dari kepala. Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh hingga ototnya menegang.
Sraaaaa!
Sebilah pedang merah muncul dari lengan kirinya, terdapat api kecil pun muncul di ujung pedang. Orion yang masih dalam kondisi sadar, kemudian bangkit secara perlahan.
“Sepertinya tidak ada cara lain. Aku harus memotong pintu yang kelihatannya mewah ini.”
“JANGAN PERGI!” teriak pria itu sambil mengangkat meja lalu melemparnya ke arah Orion.
Gedubrak!
Meja menghalangi pintunya. Orion berdecak kesal lantas sulit baginya jika terus mengeluarkan kekuatannya di sini. Sebab ada banyak barang mewah yang enggan Orio. hancurkan.
“Ck, ini mengesalkan. Aku juga tidak mau membayar kerugian karena aku memotongnya!”
Orion lantas melompat ke arah tengkuk leher pria itu. Ia mengunci dengan menyilangkan kedua kaki ke depan leher serta salah satu lengan yang mencengkram bagian lehernya.
“Aku bisa membuatnya pingsan dengan ini. Tapi kalau badannya gempal begini, apa mempan? Endaru tidak bilang apa-apa soal ini. Dan juga anak itu ke mana?”
Jduak!
Bahkan sebelum berhasil mencoba, kepala pria itu mendongakkan ke atas sehingga dagu Orion terbentur keras. Lidah Orion sempat tergigit hingga berdarah, otaknya berguncang lantaran benturannya amat keras dan tiba-tiba.
“Kuat, terlalu kuat. Tidak hanya lemak yang mengumpul bahkan tulangnya juga sekuat besi.”
Orion melompat dari sana, dan tetap berada dekat dengan tubuh pria itu seraya memposisikan diri dengan kedua lengan ke depan.
“Membunuhnya maka sama saja cari musuh dengan Ken. Sedangkan aku masih belum tahu apa yang kulihat itu adalah serbuk yang sama atau bukan,” gumam Orion seraya menghindari pukulan besar.
“Candy! Candy! Candy! Candy!”
Setiap kali pria itu menyebut-nyebutnya, ia juga mendaratkan pukulan ke lantai ruangan sehingga ruangan pun berguncang kuat seolah terjadi gempa. Hantamannya tidak main-main sampai Orion yang sudah menghindar dari sana pun masih dibuat kesusahan ketika melangkah saja.
“Tetapi, mau tak mau aku harus membuatnya tertidur dengan tenang,” imbuh Orion seraya mengepalkan kedua tangan lebih kuat.
***
Di saat yang sama. Ken bersama rekannya itu berkumpul di ruang tengah. Tampak dari wajah Ken yang menyeringai tanda bahwa hal yang telah terjadi pada Orion itu disengaja.
“Tidak aku sangka, kita akan kedatangan tamu dari negara seberang. Menurutmu bagaimana? Apa mereka cukup kuat?”
“Saya berpikir mereka mungkin akan kesulitan untuk keluar dari sini hidup-hidup. Tuan Ken,” duga pria itu.
“Hm, ya. Sekalipun seorang Pahlawan pun. Title itu tidak berguna begitu mereka melangkah ke wilayah lain,” tuturnya seraya tertawa kecil.
“Tuan Ken, saya masih bingung. Di manakah keberadaan Pahlawan itu?” tanyanya.
“Entahlah. Mungkin dia tersesat.”
“Tersesat di jalan lurus? Ini cukup lucu didengar.”
Ken sekali lagi tertawa. Dan kemudian berkata, “Daripada Pahlawan itu, entah kenapa aku lebih tertarik dengan pria api itu. Pria yang sekarang terjebak di antara para kriminal.”
Jadi bubur atau debu, itulah istilah kata ketika mereka membicarakan Orion yang kini terjebak di salah satu kamar kriminal yang dikenal bengis.