
“Ah, gawat. Aku malah ketahuan di saat seperti ini.”
Gisan tak menyangka bahwa dirinya akan ketahuan secepat ini, ia lantas bergegas bersembunyi di mana saja yang memiliki celah sempit. Sembari mencuri dengar dari beberapa suara yang samar-samar semakin mendekat ke arahnya.
“Jangan bilang, Ken?! Saint dari Emblem Priest, ketuanya sendiri?!” Suara Iki yang panik, tak biasa didengar oleh banyak orang.
Gisan yang mendengarnya lantas membuka telinganya lebar-lebar, berharap akan mendengar semua yang dikatakannya seraya menyiapkan ponsel yang sudah dalam keadaan panggilan pada Orion terhubung.
“Gawat!!”
BRAK! BRAK!
Iki membuka setiap pintu kamar mereka lalu membangunkan mereka semuanya secara bersamaan.
“Hei, bangun! Jinan! Lalu Hendrik! Sera!!”
Iki berteriak dalam panik, dan secara tidak sadar sosoknya terlihat di mata Ketua Dharma yang langsung melaporkan situasi singkat itu. Gista yang mendengarnya, entah kenapa tidak merespon sama sekali, yang terdengar hanya sekadar tertawa lirih.
“Tunggu, apa yang Anda tertawakan di saat seperti ini?”
[“Maaf, ini mungkin karena sudah ketahuan.”]
“Haaa?” Sontak saja Ketua Dharma terkejut. Memang ia sempat berpikir begitu, tapi ia sedikit menyangkalnya sebab ini terlalu cepat diketahui.
“Rencana Anda nanti—”
[“Tenanglah. Kami akan sampai ke sana sebelum semuanya terlambat.”] Gista memotong kalimat Ketua Dharma.
Lalu di dalam sana, Gisan masih mencoba untuk keluar tapi ia justru semakin sulit karena sekarang sudah banyak orang yang terbangun karena Iki.
“Oh, sepertinya terjadi sesuatu yang masalah ya?” ujar Chameleon, ia akhirnya terbangun dan turun ke lantai dasar.
“Tuan! Rumah ini sudah bocor, dan penyusup mungkin sudah sampai ke sini. Aku yakin itu!” ungkapnya dengan berteriak.
“Tenanglah, jangan panik. Hoaaam,” ujarnya dengan menguap. Tampaknya selain Iki, yang lainnya masih sangat kelelahan dan membuat mereka hanya bisa berpikir pendek.
“Eh?!” Iki hanya bisa menghela napas pendek sembari menepuk jidatnya.
“Kalau begitu, aku akan turun ke bawah menemui Mirana.”
“Mirana? Oh iya, aku hampir lupa ada dia. Harusnya dia tahu kalau ada penyusup.”
Kelompok Chameleon kini perlahan sepenuhnya terbangun dari mimpi indah mereka. Mendengar ada kata penyusup pun mereka masih bisa santai, dan apabila jika mereka menemukan seseorang asing melintas,
“DI SANA!!” teriak Jinan menggelegar sembari menunjuk sosok berjubah lusuh yang agaknya pergi mengendap-endap.
Maka mereka semua akan kembali bersemangat terutama Jinan. Mereka akan berantusias tuk menangkapnya sebelum semuanya jadi terlambat.
“Gawat!!” Gisan kaget, ia jadi ikut berteriak saking ia terkejut. Kemudian berlari secepat mungkin, menyusuri setiap lorong yang ada di dalam rumah panggung demi menghindari para pengejarnya.
Sementara Chameleon telah berada di ruang bawah tanah, bersama Mirana yang sejak kemarin sangat disibukkan oleh pekerjaan yang diberikan oleh Chameleon sendiri.
“Bagaimana?”
“Harusnya Anda sudah merasakannya. Mau bagaimanapun, bagian dari tubuh NED berkekuatan dapat Anda rampas dengan lebih mudah dari sebelumnya.”
“Ya, aku akan menggunakan bagian tubuh mereka dengan baik ...menggunakannya pada boneka yang bagus.”
Kedua tangan Chameleon menghitam hingga menyentuh lehernya. Ia kini diam berdiri dengan mata terpejam, tengah mempersiapkan serangan jangkauan luas semaksimal mungkin. Ini adalah hal yang paling ditakutkan Gista.
Gista yang sampai saat ini masih belum sampai ke pulau, dan berada di kapal selam bersama lainnya, merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi meski tak bisa melihat keadaan langit di sana.
***
Di dalam kapal selam.
“Bagaimana dengan Orion?” tanya Endaru histeris.
“Kau ini ...dasar tidak sabaran!” pekik Mahanta sembari mendorong tubuh Endaru agar tidak lebih dekat dengan Gista.
“Aku tidak tahu bagaimana dengannya, tapi mungkin saja orang yang menyelinap itu adalah Orion. Sepertinya dia ketahuan,” tutur Gista seraya menggaruk hidungnya.
“Apa-apaan? Informasi tidak jelas begitu!”
“Memangnya kau sendiri tahu? Ketua Dharmawangsa saja tidak tahu itu siapa,” sahut Gista menatap tajam padanya.
“Jika itu Orion, lalu bagaimana dengan rencananya? Jika dia masih ada di sana bukannya gawat?” pikir Ketua Irawan.
“Ya, tapi percayalah. Dia akan baik-baik saja. Buktinya dia bisa mendapatkan informasi tentang pulau ini. Coba pikirkan lebih dalam, jika tidak ada Orion, apakah sekarang kita berada di sini?” ujar Gista dengan wajah datar seraya mengangkat kedua bahunya.
Sejenak, mereka semua diam dengan berpikir panjang. Dan benar jika tidak ada Orion, maka informasi tentang pulau ini tidak akan pernah terungkap. Mereka tanpa Orion, mungkin saja sampai saat ini masih berada di perkotaan tuk mencari keberadaan Chameleon lagi.
“Oh, itu benar.”
“Ya, kupikir itu benar. Tapi bukankah seharusnya dipertimbangkan lebih dulu? Bisa saja itu adalah jebakan,” pikir Ketua Irawan masuk akal.
“Tidak mungkin. Burung itu dibuat dengan Api Abadi, aku sudah mencoba untuk menyiram apinya dengan banyak air, tapi api itu tidaklah padam. Dan jika yang kau maksud lainnya adalah Orion juga tertipu, maka itu salah besar.”
“Benar! Ayah tidak akan mudah tertipu. Dia pasti sudah menyelidikinya sebelum mengirimkan lokasi pulau itu pada kita!” sahut Endaru membela Orion.
“Kenapa kau masih memanggilnya Ayah?” tanya Mahanta.
“Memangnya kenapa? Masalah?” Endaru menjulurkan lidah pada Mahanta.
“Ah, baiklah jika kalian bersikeras mengatakan hal itu. Aku menyerah.” Akhirnya Ketua Irawan memilih untuk diam dan percaya saja.
Walau mungkin ada sedikit kejanggalan dalam hatinya, Ketua Irawan tetap sabar menghadapi mereka. Terlebih fakta mengenai Orion kecil adalah pria api yang belum lama ini mereka saling bertemu adalah Orion yang sama saja masih sulit dipercaya.
'Dugaan tentang Orion kecil dan besar. Tak kusangka ternyata itu betulan,' batin Ketua Irawan.
***
Di ambang tangga menuju bawah tanah. Secara kebetulan Chameleon dan Orion yang baru saja ingin melangkah turun saling bertemu.
'Kenapa timingnya seburuk ini?' batin Orion bertanya-tanya.
“Oh, Orion. Kau sudah pulang?”
“Pulang? Sejak kapan ini jadi rumahku?” balasnya dengan mengerutkan kening, Orion sedikit berkeringat dingin.
Chameleon perlahan mengambil langkah ke depan, menghampiri Orion yang masih terdiam di sana. Seperti pencuri yang sudah ketahuan akan mencuri. Timing buruk didapat oleh Orion karena terlalu tergesa-gesa datang kemari.
“Apakah penyusup yang dibicarakan Iki adalah kau?”
“Entahlah. Aku sendiri baru masuk,” ungkapnya jujur.
“Hm.” Chameleon berdeham panjang, berhenti berjalan lantas menatap Orion sembari menyunggingkan senyum.
Mirana yang saat ini berada di ruang bawah tanah, sedang terduduk diam namun tampaknya ada hal yang menganggu. Sudah seharian ia tidak tidur sampai bawah matanya menghitam seperti mata panda. Mirana terganggu karena langkah kaki Iki yang berat, sejak tadi mondar-mandir tak pernah berhenti.
Meski jarak di antara jalan bawah tanah dengan kamar para bawahan Chameleon terbilang cukup jauh, Mirana di sana masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas.
“Ya ampun, mereka sangat berisik sekali,” gerutu Mirana.
***
Orion berhadapan dengan Chameleon secara langsung, entah dengan rencana apa yang berada dalam genggaman tangannya namun Orion merasa selaput hitam itu berbahaya.
Ia tersenyum karena tahu Orion berada di sini, tentunya bersama orang-orang lainnya yang dianggap rekan seperjuangan.
“Demi apa kau datang kemari, Orion Sadawira?”
Chameleon mengangkat tangan kanannya ke atas, dengan tetap menatap Orion yang sampai saat ini masih berada di ambang anak tangga menuju ruang bawah tanah.
“Apa pun alasanku datang kemari, sepertinya tidak akan pernah aku beritahu karena kau ...tidak layak mendengarnya!”
“Jadi itu jawabanmu? Dari awal aku pun tahu bagaimana rencanamu, alasanmu dan amarahmu yang kau luapkan di gedung kasino,” tutur Chameleon.
Pada saat yang sama, kapal selam Gista dkk sebentar lagi akan sampai ke pulau terpencil itu. Tinggal sebentar lagi.
Ctar!!
Lalu, ketika kapal selam telah sampai dan berenang ke atas, guntur turun dari langit berawan. Tak berselang lama kemudian cahaya besar membumbung ke atas dan menembus langit. Dalam beberapa menit cahaya besar tegak lurus ke atas itu menyala begitu terang sampai pulau tidak terlihat.
“Dia ...ini ulah dia,” ucap Gista dengan raut wajah kusut.
Ketua Dharma dan Lun segera menghampiri Gista yang baru saja mendarat di pulau, lalu melaporkan setiap situasi yang telah terjadi sesaat sebelum Gista sampai.
“Ketua Arutala, ada seorang pria yang berhadapan dengan Chameleon. Bawahannya, Iki, Jinan, Sera dan Hendrik sedang bergerak ke arah mereka,” tutur Ketua Dharma.
“Tidak diketahui keberadaan Adi Caraka, dan mantan Ketua Mirana yang mungkin saja berada di ruang bawah tanah,” lanjut Lun melaporkan.
“Baik. Aku mengerti apa yang terjadi di sini. Unit kedua mundurlah.”
Kali ini, unit pertama, kelompok Gista dan lainnya yang akan bergerak menghadapi kelompok Chameleon. Sesuai rencana yang mereka akan jalankan, prioritas; pertahanan.
“Baiklah, Ketua Arutala dan lain-lainnya!”
Ketua Dharma kemudian beralih pada Lun, lalu melirik Gista.
“Perhatikan setiap celah, jika gagal segera melompat masuk ke dalam kapal selam!”
“Baik!”
Cahaya di atas terlihat seolah menebas langit berawan hitam. Guntur menggelegar mendukung cuaca buruk yang kapan saja akan datang tanpa mengenal waktu. Pulau ini terkepung laut, satu-satunya jalan keluar hanyalah laut itu sendiri. Menerobos hutan akan jadi masalah, karena inilah wilayah Chameleon.
“Apa yang kau lakukan?”
“Cobalah tanya pada dirimu sendiri,” jawab Chameleon, menyeringai sinis.
Merasa ada yang semakin tidak beres, Orion melangkah maju tuk menghajarnya. Daripada memprioritaskan ke ruang bawah tanah, ia lebih memilih berdasarkan instingnya.
Yang seolah mengatakan pada tubuhnya, “Pria ini sedang melakukan hal yang akan membuat semuanya dalam bahaya.” Begitu.
Setengah sayap berapinya mengepak, hawa panas menyeruak hingga ke ruang bawah tanah yang saat ini terbuka. Orion mendekat dengan menyerangnya langsung dengan sayap tersebut.
Sekali Chameleon menghindar dengan melompat mundur, Orion kembali maju dengan tangan kiri yang terdapat sebilah benda tajam berwarna merah gelap.
Namun, karena masih sendirian, Orion harus menyerangnya secara terus-menerus, berniat membuat Chameleon kewalahan, dan ketika celah terbuka walau hanya sedikit, di saat itulah Orion akan kembali menebasnya lebih dalam.
SYAAKK!
“Aku akan mengalahkanmu!”
Darah yang bercecer, bergerak abnormal mengikuti aliran pedang Orion. Daging yang tersayat, tulang yang ternoda, benda tersebut nyatanya benar-benar telah melukai Chameleon.
“Aku memberimu ucapan selamat karena sudah dapat melukaiku lagi. Tapi apa kau yakin hanya dengan ini cukup?”
Tebasan kembali dilancarkan secara vertikal, membelah tubuh Chameleon menjadi dua namun tubuhnya sudah melebur bagai lava sehingga bisa dikatakan tidak melukainya lagi.
“Benar, aku yakin hanya dengan ini saja tidak cukup.”
Orion melesat ke arahnya lagi, sembari memanjangkan bilah senjatanya.
“Tuan Chameleon!!”
Tapi, di saat yang sama para bawahannya sudah menyusul kemari sehingga secara tak sadar membuat Orion kehilangan fokus, lalu diserang Chameleon dengan lututnya.
Orion menyilangkan kedua lengan ke depan wajah guna menahan kaki yang dilayangkan ke arahnya, tapi percuma saja. Orion tetap terdorong mundur sampai terjatuh berguling ke arah anak tangga menuju bawah tanah.
“Ck!” Menyesali dirinya sendiri sebab lengah walau hanya sekejap saja, kembali Orion bangkit setelah berada di antara pertengahan anak tangga.
“Bawah tanah, Mirana ada di sini bukan?” guman Orion menoleh ke belakang.
Sesaat teringat tujuan pertamanya mencari Mirana, namun dalam kondisi gelap begini mana mungkin Orion bisa melihatnya.
Ketika Orion mencoba untuk melangkah turun ke bawah, hanya dalam sedetik angin berhembus ke arahnya. Seseorang melewatinya barusan.
“Mirana, apa kau berniat untuk tidur selamanya?” tanya Chameleon.
“Maafkan aku, tapi setidaknya beri aku waktu tidur, Tuan.”
Benar, suara itu tidak lagi asing didengarnya. Yang barusan lewat tadi adalah Chameleon.
“Kenapa aku tidak sadar ketika dia hendak melewati ku?” gerutu Orion seraya mendecakkan lidahnya.
Indranya jadi tumpul, ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Bahkan rasa sakit yang ia rasakan seolah bertambah jadi berkali-kali lipat. Ia bingung dalam situasi begini.
“Sepertinya ini akibat karena kau terlalu sering memakai darah langka, Orion Sadawira,” ucap Chameleon yang ditandai dengan api kecil di sudut bagian dalam bawah tanah.
“Apa maksudmu?”
“Kruger Gisan, dia adalah pria terakhir yang diberikan jiwa olehmu. Bisa dikatakan begitu?”
Api di sana menghilang, dan dalam sekejap Chameleon muncul dari dalam bayangannya. Terkejut, Orion reflek memundurkan langkahnya.
“Membagi darahmu sama seperti membagi jiwanya. Dan kebetulan yang terakhir adalah dia, maka indramu akan terbagi bersamanya.”
“Aku tidak begitu mengerti dengan maksudmu.”
“Ya, kau takkan mengerti maksudku apa. Tapi sebentar lagi mungkin kau akan merasakannya.”
“Tunggu, kau berniat akan ke mana? Kau akan menggunakan kekuatan gilamu itu pada orang-orang tak bersalah?”
“Tidak sopan sekali, aku membuat mereka hidup kembali dengan kekuatan yang sudah lama dan banyak aku kumpulkan loh? Bukankah mereka akan berterima kasih padaku dibanding mencerca diriku ini?” ujarnya.
Di bagian luar, Gista membentuk dinding es tuk memblokir jalan terutama langit yang kini terdapat cakrawala indah. Lalu digabungkan dengan teknik kekuatan pertahanan milik Runo, salju beku yang akan mengeras dan melekat pada dinding es milik Gista akan membuat pertahanan itu tak mudah dihancurkan.
Cahaya yang berasal dari dalam kediaman Chameleon saat itu telah menghilang, dengan adanya cakrawala hari itu, Gista memutuskan untuk secepatnya menjalankan rencana mereka.
“Bergegaslah! Tidak ada waktu untuk berpikir, lakukan sesuai rencana!” teriak Gista.
Sesaat sebelum dinding es itu terbuat, dan sebelum Chameleon bergerak dan Orion melakukan perlawanan. Pria yang bernama Lun, telah membuat pemisah ruang di seluruh pulau ini namun dengan cahaya yang masih jelas terlihat itu membuat kekuatannya hancur hanya dalam waktu sedetik.
Karena kekuatan Lun jadi tidak berguna, maka Gista akan melakukannya sesuai rencana. Membuat dinding.
***
Sekitar 3 jam sebelum pukul 1 dini hari.
Gista dan lainnya sudah terbangun, hanya saja mereka terbangun bukan untuk menyambut kedatangan Ketua Dharma dan lainnya melainkan menyusun rencana setelah tahu mereka sudah datang.
“Seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Tapi kali ini ada Lun, dia adalah rekan Ketua Dharma, dia akan berguna untuk membuat ruang di dunia nyata dan replika terpisah.”
“Itu kekuatan yang cukup berguna, dengan begitu Chameleon takkan bisa menyerang sisi luar dunia nyata bukan?” pikir Mahanta.
“Jika saja bisa begitu, Mahanta. Tetapi lawan kita adalah Chameleon yang sudah berevolusi. Misal ruang itu hancur, kita akan menggunakan perlindungan lainnya bukan?” sahut Ketua Irawan.
“Ya, itu benar. Aku dan Runo yang akan melakukannya. Lalu aku ingin Mahanta, Ketua Irawan dan Endaru bergerak secara diam-diam masuk ke dalam rumahnya. Bagaimana?”
“Kupikir tidak masalah. Lagi pula ini pertarungan habis-habisan.”
“Aku setuju dengan Endaru.”
“Baiklah. Tapi aku ingin kalian harus secepatnya menumbangkan bawahan Chameleon, jika perlu memakai trik licik, silahkan. Main belakang pun tak jadi masalah,” tutur Gista yang tak mengenal ampun musuhnya.
Karena memang tidak bisa diremehkan, sisi tersembunyi Gista yang jarang sekali terlihat ini tampaknya membuat mereka semua sedikit ketakutan.
“Wanita yang jahat.”
“Lawan kita adalah yang terjahat,” sahut Mahanta, yang kesal pada ungkapan Endaru.
“Dengar, aku ingin kalian secepatnya menumbangkan mereka karena aku ingin kalian fokus pada villain utama kita, Chameleon!”
“Baik.”
“Tentu saja aku tahu itu.”
“Jika menilik lebih dalam kekuatannya, aku rasa itu ada batasnya. Dan karena tujuan Chameleon adalah merombak seisi dunia itu, maka bisa dipastikan dia akan menggunakan seluruh kekuatannya.”
Sejenak Gista terdiam sebentar tuk mengatur napasnya. Lalu ia kembali berkata, “Jangkauan serang luas. Dia pasti akan menggunakan ini meski harus mempertaruhkan hidupnya itu!”
Dan prediksi ditambah keyakinan Gista, menjadi kenyataan. Semua yang telah dikatakan oleh Gista benar-benar menjadi fakta di depan mata mereka semua. Usai ruangan yang dibuat Lun pecah tak berselang lama kemudian dinding es terbuat bersamaan dengan dinding bersalju tebal dan kuat.
Ketika pengurungan pulau sudah terjadi, Endaru, Mahanta dan Ketua Irawan segera bergerak menyusup ke dalam dengan jalan terpisah.
Mahanta menemukan Sera, sesuai permintaan Gista yang ingin mereka segera mengalahkannya bawahannya, maka Mahanta akan melakukannya sekuat tenaga, sayatan angin yang dalam dan dengan cepat berhasil menebas Sera tanpa disadari oleh Sera sendiri.
Disusul Endaru yang menjatuhkan Hendrik dan Jinan dalam sekejap. Kemudian Ketua Irawan yang masih berada di luar, ia memejamkan mata sembari merasakan pergerakan semua orang yang ada di dalam rumah itu. Ia merasakannya melalui tanah yang menjadi kekuatan utamanya.
“Caraka ada di atas loteng, dia ada di dekat Endaru. Lalu Iki bersama Chameleon dan dua lainnya berada di ruang bawah tanah?”
Sekilas tak percaya karena ruang bawah tanah yang dibentuk di rumah panggung sedikit mustahil dilakukan, namun mengingat ini rumah siapa, lantas Ketua Irawan kembali berpikir bahwa itu mungkin saja terjadi.
“Baiklah, saatnya memberitahu Endaru dari jarak jauh!”
Khawatir loteng memiliki lubang mata-mata tersembunyi, sengaja ia melempari kerikil pada Endaru begitu bertemu.
“Siapa?!” teriak Endaru. Sudah menjadi kebiasannya ia selalu mengamuk di awal.
Ketua Irawan mengacungkan jari telunjuknya lalu berdesis pelan agar Endaru dapat menyadari keberadaannya.
“Ha? Kau ...”
Ketika Ketua Irawan mengarahkan jari telunjuk ke depan bibir, Endaru barulah diam. Ia mengerti bahwa yang barusan itu adalah ulah Ketua Irawan, lantas mencoba memahami bahaha isyaratnya yang kedua kalinya.
“Atas,” lirih Ketua Irawan sambil menunjuk ke atas. Endaru pun mengikuti gerakan jari telunjuknya.
“Oh, begitu.” Meski berkata begitu yang seakan Endaru sadar, namun sebetulnya ia tidak begitu memahami bahwa di atas loteng kini ada musuh. Karena memang pada dasarnya Endaru sulit berpikir panjang, ia akhirnya merobohkan langit-langit plafon sekaligus.
Bruakk!!
“Aduh!! Siapa, kau ya?!” Caraka pun ikut dijatuhkan, dan berada di posisi yang tidak menguntungkan.
“Ha? Ternyata ada orang?” ujar Endaru tercengang.
“Kau baru sadar!?” pekik Ketua Irawan kebablasan.
Caraka telah dijatuhkan dari loteng, namun tentunya akan jadi sangat sulit bila berhadapan langsung. Andai Endaru mengetahui keberadaannya, maka takkan mengerahkan sebagian dari kekuatannya sendiri.
Brak! Brak! Brak!
Berulang kali Caraka menghindar dari serangan Endaru yang mengendalikan gravitasi. Langkahnya semakin lama semakin gesit saja, dan Endaru pun semakin dipersulit karena kobaran api yang menyerang dari segala arah.
“Api ini memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan api milik Orion. Tetapi, apakah menjalankan rencana ini tidak terlalu memberikan celah Chameleon?” gumam Endaru.
“Daritadi apa yang kau ocehkan, hah?!” Caraka berteriak, ia menyerangnya dengan menggunakan api yang kini mengitari sekeliling Endaru.
Bentuk dari pergerakan api ke atas itu seolah membuat angin topan. Hawa yang panas membuat luka Endaru di lengannya sedikit terbuka.
Tetapi, hanya seukuran angin kecil ini saja takkan cukup untuk menumbangkan Endaru. Ia secepatnya menembus dinding api bergerak lantas menembaknya dengan senjata api.
“Dia masih menyimpan benda dari orang itu?!”
Karena terlalu lambat menyadari, sehingga Caraka pun ditumbangkan saat itu juga.
***
Perkotaan menjadi gaduh, banyak orang melihat ke langit dengan ketakutan serta banyak pertanyaan di benak mereka.
Cuaca yang cerah tiba-tiba saja berubah, siapa pun orangnya pasti akan panik. Awan hitam bergumul pekat, sesekali guntur kembali menggelegar dan menyambar tiap gedung, rumah maupun manusia sendiri.
“Jawab aku! Apa yang kau lakukan?! Kembalikan! Semuanya!” teriak Orion.
Api Abadi yang ia kerahkan perlahan menimbulkan kerusakan di sekitarnya tanpa menyentuh Chameleon sendiri. Musuh yang harus dilawan sekuat tenaga, kini Orion justru terlahap oleh emosi. Tidak biasanya ia seperti ini, dan kemudian ia mulai terpikirkan hal lain yang sebelumnya diutarakan oleh Chameleon.
“Sudah kuduga itu resikonya. Tetapi, seharusnya tak secepat itu. Masih ada batas yang mampu kau tampung dan hidupkan, Orion Sadawira!”
Chameleon mengubah dirinya menjadi asap hitam, sengaja membuat pandangan Orion mengabur dan sulit bergerak. Beberapa perkataan yang merasuk dalam pikirannya seolah tertanam begitu dalam.
“Hei, kenapa tidak bergabung denganku saja? Dunia NED yang aku impikan pasti cukup menyenangkan untukmu yang telah lama hidup di bawah perintah seseorang bukan?”