ORION

ORION
Teknik-Pusaran & Rajam Duri



Api membakar tali yang mengikat tubuh Jhon yang kemudian bangkit dan membuat semua orang terkejut. Tidak hanya itu, usai melepas masker hitam yang selalu Jhon gunakan, gumpalan hitam menjadi satu membentuk beberapa bayangan dengan ujung yang lancip.


“Nona Meera, orang ini sepenuhnya sadar!”


Semua berteriak histeris kepada Meera seorang diri. Meera yang dalam kondisi menghubungi seseorang terpaksa harus ia putuskan lebih dulu.


Hawa mencekam luar biasa, bayangan hitam berwujud padahal ruangan sudah dibuat gelap. Bahkan tirai di setiap jendela juga sudah tertutup. Yang tersisa hanyalah penerangan kecil dan itu pun hanya ada di setiap sudut ruangan yang jauh dari posisi Jhon.


“Semuanya ambil jarak dari orang itu! Jangan sampai kalian menggunakan kekuatan!”


Meera membuat mereka untuk tidak lagi mendekat pada Jhon karena tahu kalau bayangan yang dimilikinya tidak bisa dilawan dengan kekuatan supernatural. Apa pun itu, semua kekuatan akan diserap.


”Jhon, salah satu kunciku tentang tubuh ini. Ataupun agar aku bisa bertemu dengan orang yang pertama kali bangkit dari kematian. Pokoknya aku harus kembali ke wujud asliku,” gumam Orion dengan lirih.


Orion berinisiatif untuk melawan namun tak bisa jika harus menggunakan kekuatan api. Api Orion bisa digunakan walau tidak sampai setengah, tapi kalau Jhon menggunakan kekuatan bayangan ...


“Ini menyulitkan.”


“Kau benar Orion,” sahut Meera menghampiri Orion.


“Kalau dia sekuat ini, apa mungkin dia adalah Chameleon?” pikir Orion.


“Tidak. Chameleon tidaklah selemah ini! Tadinya aku berpikir bahwa dia adalah Chameleon tapi entah kenapa sepertinya bukan,” sangkal Meera sembari bersiap dengan kuda-kudanya.


“Apa?” Saking terkejutnya, Orion masih tak menyangka bahwa orang sekuat ini bukanlah Chameleon. Dan katanya Chameleon tidak selemah ini? Jadi, sekuat apa Chameleon? Benar-benar diluar nalar dan tidak bisa dibayangkan oleh Orion.


Di balik masker hitam terdapat mulut yang terjahit begitu dalam. Mungkin karena inilah ia sulit bicara? Ketika berpikir hal yang tidak ada hubungannya, Orion menggelengkan kepala.


Syat! Jhon melesat ke arahnya, dan Orion melompat mundur seraya membuat perisai api tuk menghadangnya. Itu tidak bertahan cukup lama, hanya dalam beberapa waktu yang singkat, api berubah menjadi uap panas dan menyisakannya sedikit pada setiap percikan yang ada.


“Jangan memperlambat tugasku,” ucap Jhon, seketika semuanya terkejut.


Asisten Meera bergerak dengan knuckle besi, ia hendak meninju wajah Jhon sekali lagi. Tetapi nasibnya sangat malang, karena Jhon menghadangnya hanya dengan sekelebat bayangan. Asisten tersebut pun terdorong mundur, seluruh tubuhnya membujur kaku dengan sakit yang luar biasa.


“Sudah aku bilang, jangan gunakan kekuatan apa pun. Fisik atau bukan, tidak ada bedanya di hadapan orang ini. Sebelum dia begini, kenapa harus menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya?” Meera merasa heran.


Sementara Orion bertarung dengan langkah gesit yang ia miliki, berhadapan dengan Jhon. Sedangkan Meera menggunakan kesempatan ini agar dapat menyerangnya leluasa.


“Teknik Air, berputarlah seperti pusaran air,” sebut Meera.


Air yang muncul terhitung sangat sedikit namun air itu bergerak seolah hidup dan kemudian membentuk untaian yang besar. Berputar dengan cepat dan kemudian melebar ke seluruh ruangan tersebut.


Orion dengan Jhon terjebak dalam pusaran air yang bergerak namun langkah mereka tetap berdiam diri dalam posisi seolah tidak berada dalam pusaran air itu sendiri.


“Teknik Air, Rajam Duri!” teriak Meera mengibaskan telapak tangan dan seketika pusaran air membentuk benda lain yang membentuk sangat runcing dan tajam.


Bentuknya sangat tajam dan tebal, seketika memenuhi ruang pusaran air di dalamnya. Jhon tertusuk di beberapa bagian tubuh, namun bayangannya masih bergerak menuju Orion dengan cepat.


“Orion, kau bisa melawannya dari sana?!” Meera bertanya dengan suara keras.


“Akan aku usahakan!”


Meski Orion menjawabnya dengan setengah hati, seolah tak berniat melukai lawannya namun sebenarnya Orion memiliki keinginan untuk membunuh Jhon.


“Perasaan ini? Entah kenapa membuatku berpikir bahwa orang ini patut dihabisi. Apa karena darah yang mengalir dalam tubuh ini?” batin Orion seraya meraba tubuh bagian depannya.


Kemudian ia menghela napas panjang, sesaat ambil ancang-ancang dengan membuat lingkaran api mengelilingi tubuhnya sendiri. Ketika ia berpijak pada salah satu air yang dibentuk padat sebagai tombak, ia melirik sinis ke arah Jhon.


Bayangan itu kembali muncul dan bahkan berniat untuk menutup seluruh permukaan air yang terlihat, Jhon mungkin berpikir untuk menghapuskan kekuatannya.


“Jangan berpikir macam-macam Orion. Sesama manusia tidak boleh membunuh.” Begitulah pikirnya seraya menampar wajahnya beberapa kali.


Bayangan itu hampir menutupi seluruh permukaan air di bagian dalam dan luar. Lingkaran api Orion semakin tebal dan membesar seiring berjalannya waktu. Kemudian bergerak seperti ular, Orion mengarahkannya langsung ke arah Jhon.


“Membentuk tali jerat.”


Tubuh Jhon dikelilingi api yang membentuk tali, api itu terus berputar dari bawah ke atas dan menyamping hingga membuat tubuh Jhon terikat hingga meringkuk.


Pusaran air perlahan lenyap, begitu juga dengan duri-duri yang ada di dalamnya. Jhon bergeliat dalam keadaan terluka karena tusukan sebelumnya dan juga karena api yang mengikat tubuhnya membuat ia kepanasan.


“Huh, s*al. Padahal sedikit lagi ...sedikit lagi,” gerutu Jhon menggertakkan gigi.


“Dia ini sekalinya bicara malah bikin kesal orang saja,” gerutu Meera yang sangat kesal.


“Nona Meera sendiri, bukankah kalau dilakukan sendiri juga bisa?” pikir Orion mengenai teknik serangan Meera.


“Oh, itu. Mungkin bisa saja tapi tadi 'kan gelap sudah begitu orang ini pakaiannya juga hitam. Jadi aku cuman mengira-ngira saja,” tutur Meera.


“Yang tadi itu, teknik memperluas jangkauan serang?” tanya Orion.


“Bukan. Memang terlihat sama tapi aku tidak bisa melindungi diriku sendiri di saat mengeluarkan dua teknik seperti itu.”


Apa yang dikatakan benar, melancarkan dua teknik sekaligus bukanlah perkara mudah. Contohnya Orion sendiri, meskipun bisa membagi api di kedua tangannya namun ia tidak bisa membentuknya sekaligus.


Beda dengan para ketua yang kemungkinan besar mereka dapat membentuk wujud kekuatan bermacam-macam dan itu butuh energi yang cukup besar. Kalaupun bisa, pastinya akan luput di bagian pertahanan.


Dan Orion belum mencapai kekuatan yang seperti itu. Ia masih lemah.


“Aku tidak menemukan alasan yang berhubungan dengan tubuhku juga tentang segala teknik atau tipe setiap Pejuang NED. Ternyata masih sulit.”


Tubuh Orion pula masihlah misteri, saat melawan Pahlawan Kota entah kenapa tubuhnya berubah menjadi pria dewasa yang sesuai dengan umurnya. Tapi hanya bersifat sementara.


“Darahmu! Aku ingin darahmu! Darah langkamu itu!” pekik Jhon tiba-tiba.