ORION

ORION
Hilangnya Harga Diri



☠BAB 106 Hilangnya Harga Diri


Chameleon tiba-tiba ada di belakang Orion. Jantung tua Orion yang lemah ini sudah tidak kuat.


“Dasar!”


Marah, Orion lantas menghindar darinya dengan wajah kesal. Jantungnya berdebar kencang karena kaget, namun Chameleon justru tertawa.


“Hahah, benar-benar anak yang lucu!”


“Kenapa jadinya begini? Ini salahku karena terlalu dekat dengan Api Abadi waktu itu,” gerutu Orion sembari mengepalkan tinju.


“Sudah, jangan merajuk seperti itu. Ini juga sudah takdir, lagipula Chameleon ada di depan mata. Ini sebuah kesempatan untuk mengakhiri riwayatnya.”


“Tapi memangnya bisa?” tanya Orion meragu.


“Tentu saja tidak.”


Ketua Irawan merogoh saku celananya. Ia mengambil sebuah ponsel untuk menuliskan pesan pada Gista. Itu ia lakukan karena memang Chameleon sulit dilawan seorang diri.


“Tetaplah di sampingku, Orion. Chameleon mungkin akan mengambil jantungmu dengan paksa,” kata Ketua Irawan dengan serius.


“Apa?”


Orion menelan ludah, lantas menundukkan kepala selama beberapa waktu. Sejenak beban pikirannya semakin menambah. Ditambah lagi, darah langka yang mengalir di tubuh Orion bereaksi agar menjauhi sosok menakutkan di sana.


Berwujud manusia namun di dalamnya adalah iblis.


“Ck, dia sangat terobsesi dengan kekuatan,” gerutu Orion berdecak kesal.


“Kau benar.”


Selain terobsesi dengan kekuatan, Chameleon mempunyai tujuan untuk mengubah dunia menjadi sepenuhnya Dunia NED. Orion mengetahui ini melalui ingatan pria kecapi.


“Yah, yang kau bilang ada benarnya juga bocah!”


Tekanan yang keluar darinya membludak. Kehitaman pekat hingga menutupi langit yang dipandang mereka. Sosok Chameleon tak lagi terlihat ketika kabut memenuhi pandangan lurus mereka.


“Terlalu tebal,” gumam Ketua Irawan.


Srat!


Baru saja kabut sepenuhnya memenuhi taman, berupa sayatan tajam menyerang Orion dari belakang lalu dari depan. Warna kemerahan yang persis seperti milik warna pedang Orion.


“Bahkan dia bisa melakukan hal itu,” gerutu Orion.


“Perhatikan yang kau rasakan. Jangan dilihat dengan mata telanjang,” ujar Ketua Irawan sembari menarik tubuh Orion.


Kemudian bekas sayatan yang Orion terima itu mengeluarkan api. Ketua Irawan semakin terkejut begitu pula dengan Orion.


“Hahaha! Kalian sama sekali tak berguna. Terutama dirimu, bocah!” pekik Chameleon.


Slash!!


Datang lagi sayatan pedang dari arah depan. Berputar hingga membentuk sebuah lingkaran, kilat-kilat kemerahan itu nampak secara sekilas.


Ketua Irawan melihatnya, ia membelakkan kedua mata ke arah depan.


“Pinjam apimu,” bisik Ketua Irawan.


Dap! Ia lantas melesat dan membelah kabut begitu cepat. Jejaknya menghilang.


“Pinjam katamu? Seenaknya saja kau bicara, dasar,” gerutu Orion.


Di samping api masih membakar tubuhnya, ia tampak sangat tenang. Perlahan melangkah ke depan dengan tubuh terbakar secara menyeluruh.


“Sebenarnya Chameleon mempergunakanku untuk apa? Aku bahkan tidak berniat bertarung jika bukan karena terpaksa.”


Angin kembali berembus. Tanda waktu kembali mengalir. Sesaat Orion berhenti bergerak kemudian mendongakkan kepala. Ia merasa bahwa kekuatan Chameleon memiliki batas.


Trang!


Ketika suara senjata saling beradu, angin menghempas kabut serta kegelapan yang di langit. Memperlihatkan dua orang pria yang bertarung dengan sengit. Cahaya dari kilat keduanya terlihat sangat jelas.


“Hm?”


Di tengah pertarungan, bahkan Chameleon masih sempat-sempatnya mengincar Orion. Kedua kakinya terbelit bayangan hitam dan kemudian bergerak hingga menutupi setengah tubuh.


Blar! Orion membakar bayangan itu lantas menjauh beberapa langkah. Setelah beberapa saat memperhatikan mereka dari jarak jauh, sesuatu sosok muncul dari belakang Orion.


“Jika kau tidak bisa menguasainya. Maka jangan harap kau bisa hidup dengan tenang.”


Sosok itu berbisik. Makhluk bersayap bernama Karura. Ia hidup dalam tubuh Orion atau lebih tepatnya berada di Inti Api Abadi.


Setelah mendengar kalimat itu, Orion menjadi kesal.


Drap! Drap!


“Apa dia mempunyai kelemahan?” gumam Orion sembari menatap Chameleon. Kemudian berlari ke arahnya.


Beberapa detik berlalu setelah Orion mencoba mendekatinya namun Chameleon menyadari Orion, ia melirik sinis dan menyeringai tipis.


“Ketua Irawan sudah sangat serius menghadapinya tapi Chameleon masih santai?” celetuk Orion dalam benaknya.


Insting Orion berlawanan dengan isi hatinya. Ia tetap menerjang di antara mereka. Berusaha memisahkan keduanya, karena sempat Orion melihat bahwa Ketua Irawan sudah tak sanggup menghadapi serangan Chameleon.


Tepat setelah Orion menengahi mereka, ia membentuk semburan api keluar secara tipis dan lurus menjulang ke atas.


Jrash!!


Hingga membekas pada tanah. Sontak kedua di antara mereka melompat ke belakang.


“Sayang sekali aku belum melihat seluruh wujudmu. Apalagi bertarung denganmu dengan serius,” tutur Chameleon yang kecewa.


Wujud Orion tak sepenuhnya berubah. Seperti biasa ia selalu mengerutkan kening ketika berhadapan dengan lawan tangguh.


Sebilah pedang kemerahan melekat di kulit lengannya. Kobaran api sepintas terlihat di bagian punggung serta bagian matanya. Wujud inilah yang dimaksud Chameleon.


Tampak, ia mengerti akan kekuatan Api Abadi tersebut. Namun sayang ia telah pergi.


“Lain kali kita akan bertemu lagi,” lirih Chameleon.


Menghilang dalam pusaran angin berwarna hitam. Lenyap seolah ditelan bumi hidup-hidup. Waktu kembali mengalir seutuhnya akan tetapi setiap jejak serangan masih membekas di area taman.


Cukup jelas hingga membuat orang sekitar jadi merinding. Seketika bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


“Ketua Irawan, Anda terlihat lelah. Mari saya antarkan menuju ruang peristirahatan di tempat kami,” ajak Orion padanya.


***


Sudah sejak tadi Ketua Irawan menghubungi Gista tapi sama sekali tak ada jawaban. Ketua Irawan pun akhirnya memberikan istirahat pada tubuhnya sebentar.


“Aku sama sekali bukan lawannya meski sudah mencuri kekuatannya,” gumam Ketua Irawan dalam hampa.


“Maafkan saya Ketua Irawan, saya tidak cukup membantu,” ucap Orion.


“Tidak, ini salahku,” sahut Mahanta.


“Sudah cukup saling menyalahkan. Aku pun akan kesulitan melawannya. Kau tahu itu, Ketua Irawan,” ucap Gista.


Lantas, ketiga orang selain Gista pun menghela napas.


Tak lama setelah itu, Orion kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kemudian ia pergi menuju ke suatu tempat.


“Mau ke mana Orion?” tanya Mahanta.


“Ke ruang bawah tanah. Saya rasa ada informasi penting dari orang-orang itu.”


Namun Orion tak hanya pergi sendiri melainkan bersama dengan Mahanta, Ketua Irawan juga Gista. Orion hanya bisa diam menurut, ia cukup mengerti kenapa mereka semua ikut dengannya.


Sampai di ruang bawah tanah. Terlihat mereka semua tampak lemas. Sesaat setelah Orion dkk menunjukkan diri, mereka semua berubah sikap menjadi sangat gelisah.


“Tolong! Tolong aku! Jika tidak aku akan mati!”


“Tolong sekali ini saja, maka kami akan mengabdi!”


Orang-orang yang dulu sangat antusias menyerang Orion kini justru memohon atas nyawa mereka.


“Kalian ini ...”


“Tolong kami jika tidak kami akan—!”


Sebelum selesai bicara. Satu persatu perut mereka mengembung. Berubah menjadi besar lalu meledak!