
Ade merasa diikuti oleh seseorang. Dan itu benar, tidak hanya merasakan ia justru benar-benar dikejar usai Ade berjalan lebih cepat.
“Siapa?!”
Karena Ade panik, sampai ia tak sadar bahwa dirinya berlari ke arah yang salah. Entah berada di jalan yang mana, namun satu hal yang pasti bahwa Ade berada di area konstruksi bangunan.
Tidak ada pekerja yang mengerjakan bangunan itu, sangat sepi sehingga memudahkan bagi orang itu mengejar Ade.
Drap! Drap!
“Bagaimana ini? Bagaimana?”
Ade terus berlari hingga naik ke atas tangga. Kondisinya terlalu panik sampai ia pun tergelincir jatuh setelah menginjak anak tangga paling atas.
“KYAAAA!” Ade menjerit histeris.
Sesaat ia menutup mata, dan merasakan ada seseorang yang menggendongnya. Terkejut, Ade perlahan membuka mata. Berharap itu bukan penguntit sebelumnya.
“Tenang saja. Kamu baik-baik saja.” Seorang pria berbicara dengan wajah gelisah.
“AH! TIDAK! JANGAN!”
Karena tidak tahu juga siapa pria yang menggendongnya, Ade lantas memberontak tuk meminta diturunkan. Beberapa kali ia juga memukul-mukul tubuhnya saking ia takut.
“Tenang, tenanglah. Saya anggota Grup Arutala. Bukan penguntit yang tadi,” ujar pria itu sembari menurunkan Ade.
“Eh? Arutala? Maksudnya temannya kak Gista?” tanya Ade. Agaknya ia mulai lebih tenang meski debaran jantungnya masih terdengar keras.
“Kak? U-uh, ya begitulah. Jadi tenanglah. Saya akan mengantarkan Madeira ke sekolah sekarang,” tuturnya kemudian mengambil ponsel di saku jas untuk menghubungi rekan.
“Mendengarmu tahu namaku, maka itu benar.” Ade mengalihkan pandangan seraya memeluk tubuhnya. Ia masih merinding dan juga tampaknya mata masih mengawasi.
Sembari menarik-narik ujung lengan kemeja pria itu, Ade lantas berkata, “Orang yang mengikutiku. Se-sepertinya ...”
Ade masih ragu untuk mengatakan suatu hal yang menganggunya. Punggung Ade juga terasa dingin menyengat sehingga membuat ia tak sanggup membuka mulut lagi.
Hingga ketika anggota Grup Arutala itu menyadari seseorang yang tengah bersembunyi seraya melihat ke arah mereka. Ia menyadari ketika hendak panggilan dengan rekannya sudah tersambung.
“Tunggu, jangan jemput di sini. Di luar jalan ini saja.” Setelah selesai berbicara, ia memutuskan panggilan.
“Saya akan mengantarkan Madeira. Dan tenang saja, kami akan mengawasi di sekitar sekolah,” ucap pria itu sembari menunggu Ade untuk berjalan ke arah sebaliknya.
Berjalan beberapa langkah ke depan. Barulah sosok yang berada di balik pilar bangunan itu keluar, melesat cepat menuju ke arah mereka.
Srak!
Pria yang menggunakan setelan jas hitam menyeret langkahnya menyamping. Memasang badan, seraya mengeluarkan sebilah pisau di balik jasnya.
“Ada apa?” tanya Ade khawatir. Kecemasannya berujung kenyataan. Lantaran si penguntit itu menatap tajam ke arahnya.
Bruk!
Ade terjatuh, seketika ia tidak bisa bergerak dari sana. Terpaku akan tatapannya yang mengancam.
“Tolong tutup mata. Saya akan segera membereskan hal ini.” Anggota Arutala berbicara.
Penguntit yang berpakaian sederhana dengan jaket berwarna keabu-abuan. Wajahnya tak terlihat karena ia mengenakan tudung di jaketnya. Pergerakannya cukup normal, tidak seperti kebanyakan Pejuang NED.
“Orang biasa.”
Berpikir seperti itu, ia lantas menyimpan kembali pisaunya. Dan melangkah jauh seraya melayangkan tinju.
Tepat sebelum ia berhasil mendaratkan sebuah pukulan ke wajah. Penguntit ini ternyata menyembunyikan sebilah pisau, lantas pria itu pun lebih dulu mengincar tangan yang memegang pisau.
Menangkis ayunan lengan dengan pisaunya ke samping, kemudian ia mendaratkan pukulan ke wajah.
BUAK!
“Lebih baik, cepat pergi saja!”
Segera pria itu membantu Ade untuk berdiri. Kemudian memutuskan untuk berlari sebelum keadaan jauh lebih buruk. Ada satu hal yang membuat anggota satu ini khawatir sehingga memutuskan untuk berlari menjauh secepat mungkin.
Yakni, kehadiran seseorang yang jauh lebih mencekam.
Tak!
Batu kerikil menggelinding setelah seseorang tidak sengaja menendangnya. Suara yang terdengar cukup menggaung di area kontruksi bangunan sehingga membuat anggota Grup Arutala terhenti saat itu juga.
Ia menoleh ke belakang dengan melirik ke segala arah tuk menemukan seseorang yang tengah ia cari.
“AAA! DIA MENDEKAT! PAK!” teriak Ade ketakutan, seketika ia melangkah mundur.
“KYAAA! AKU TIDAK MAU MATI LAGI!” teriaknya sekali lagi.
SLASH!
Ternyata orang yang dicari sudah berada di depan jalan mereka. Celah kecil dimanfaatkan begitu pria itu menoleh ke belakang, dan nyaris menyayat bagian lehernya.
“Ugh! Ternyata mereka ada di sini? Atau sudah mengikuti kami?!”
Geram, ia kemudian menarik tubuh Ade untuk lebih mendekat padanya. Dengan napas tak teratur akibat syok karena serangan dadakan, ia tetap mengambil sikap waspada tingkat tinggi seraya mengeluarkan sebilah belati.
“Apa? Orang itu tidak ada lagi?” Ia juga terkejut karena hilangnya penguntit secara misterius.
“Hah, hah ...takkan aku biarkan mereka. Tapi kenapa mengincar anak ini?” gumamnya.
“Pak, bapak terluka. A-ah, gi-gimana ini ...ma-maaf.” Ucapan Ade terbata-bata. Ia takut sekaligus khawatir pada orang yang telah melindunginya.
Namun sebatas ucapan pun takkan membuat luka menjadi ringan. Pria itu mengabaikan segala perkataan Ade. Dan ia hanya sepenuhnya fokus pada keberadaan seseorang yang mengancam nyawa mereka.
“Ke mana juga dia? Setelah menyerangku, dia pergi?”
Mereka kemudian berjalan dengan sangat hati-hati. Seraya menoleh ke sisi kanan, kiri, belakang dan juga atasnya. Setidaknya berharap mereka dapat keluar dari jalan tikus atau hanya sekadar di dalam bangunan ini pun, sudah cukup membuatnya lega.
“Pak,” panggil Ade dengan tubuh gemetar.
“Jangan lepaskan tanganku. Dan tolong untuk tetap diam saja,” ucap pria itu dengan telunjuk di depan bibir. Menyuruh Ade untuk diam, lantas Ade pun hanya menganggukkan kepala.
Pria itu juga tahu bahwa Ade sungguh mencemaskan keadaannya. Apalagi sampai terluka seperti ini.
“Bagus. Keberadaannya sudah tidak dapat saya rasakan. Mari pergi,” lirihnya sembari berjalan sedikit cepat.
Tap, tap!
Sedikit-sedikit gelisah, sedikit-sedikit khawatir, sedikit-sedikit ketakutan. Semua perasaan negatif ini benar-benar menyelimuti diri mereka semua.
Ade melangkah dengan sangat pelan sembari menggenggam tangan pria itu. Agar mereka tidak terpisah, atau pun dibuat terpisah nantinya. Berjaga dengan menoleh ke belakang lalu ke depan secara berulang kali terus dilakukan oleh pria itu demi keamanan Ade seorang.
“Eh?”
Namun, suatu waktu, langkah Ade terhenti. Begitu Ade melihat ke bawah, ia mendapati sebuah genangan hitam. Ade kemudian melangkah mundur, sempat mengira itu adalah bayangannya tapi ternyata salah.
“Apa ini?” tanya Ade seraya menginjak genangan hitam yang bahkan tidak bisa disebut genangan juga.
“Hei, kenapa berhenti?”
“Oh, ini—”
SRAAA!!
Muncul selaput-selaput kehitaman mengelilingi tubuh Ade. Dalam hitungan detik, Ade langsung ditarik masuk ke dalam hitam di bawahnya.
“KYAAA! TOLONG AKU!”