ORION

ORION
Kesombongan yang Terlahir Sejak Dini



“Aku tidak akan lama. Lagi pula, aku yakin ini cukup penting bagi kalian. Ini tentang Chameleon.”


Semua orang tertuju pada Dr. Eka ketika ia menyebut Chameleon. Pria yang saat ini menjadi target utama mereka, jelas tak akan menyia-nyiakan sedikit sesuatu tentangnya.


“Apa yang akan kau bicarakan, kau memangnya tahu apa?” ketus Endaru.


“Ya, aku memang tidak tahu apa pun, tapi ini aku mendengarnya dari mantan tuanku, Adi Caraka. Kalian pasti mau mendengarkannya.”


“Aku akan mendengarnya,” ucap Gista.


“Baiklah.”


Dr. Eka menceritakan sesuatu tentang Chameleon. Mulai dari kepribadian Chameleon yang memang dari awal sudah sangat aneh bahkan ketika menginjak usia belia. Dr. Eka sendiri yang mendengarnya dari Adi Caraka, yang sekarang adalah rekan Chameleon.


“Pada usia 5 tahun, masih anak-anak. Dia lahir di keluarga yang kaya tujuh turunan. Serba ada dan tidak pernah sekalipun merasa kekurangan, semua orang pasti menginginkannya.”


“Ya, jelas saja. Lalu kenapa dia jadi begitu? Maksudku ambisinya terlalu luar biasa,” sahut Endaru berkomentar ringan.


“Masalahnya, karena dia dimanjakan dengan berbagai cara seperti harta ataupun kasih sayang orang tua. Dia menjadi sangat bosan, dan berpikir apa yang lebih menyenangkan dari itu semua.”


“Apa itu? Dia orang yang tidak mau bersyukur. Dasar!”


Sesuai yang telah diceritakan oleh Dr. Eka. Begitulah kehidupan orang kaya, nama yang sampai saat ini belum diketahui, mari sebut saja seperti biasanya; Chameleon.


Sejak kecil dimanjakan dengan pakaian mewah, harta berlimpah, makanan yang hidangan pun sangat berkelas. Gaya dari sikapnya sudah dari awal tidak seperti anak kecil pada umumnya. Sifat sombong melekat kuat, berbeda drastis dengan kedua orang tuanya yang ramah senyum setiap hari.


Entah mirip siapa, namun anak bernama Chameleon sangatlah berbeda dari orang tuanya itu. Lagaknya yang seperti orang dewasa, pun tak bisa dibantah. Membantu barang sedikit saja ia tidak pernah melakukannya.


Selalu acuh.


“Batu ini membuatku kesal saja,” gerutunya seraya ia melempar baru itu ke sembarang arah sampai mengenai kepala seseorang.


Ironisnya terkena kepala seorang pria dewasa, hendak ia memaki dan akan mengomeli pelakunya tapi begitu tahu siapa yang melempar, ia langsung berbalik badan dengan ketakutan.


Setiap hari ia berjalan di perkotaan bersama beberapa pengawalnya, pagi, sore bahkan malam hari. Walau sering melakukannya, ia tetap bosan. Makan-makanan yang setiap waktunya berbeda menu pun ia tak tahan.


“Hei, kalian! Apa kalian memiliki sesuatu?”


“Kau siapa?” Ketika Chameleon berbicara, tiba-tiba saja datang seorang anak seumurannya yang menghampiri.


Sontak saja Chameleon terkejut, ia bahkan memeloloti anak itu dengan tajam seolah memberi perintah pada pengawalnya untuk segera menyingkirkan anak ini.


“Hei, kau siapa? Aku ingin tahu namamu, jika kau beritahu maka aku akan memberitahukanmu hal menarik.”


Ketika pengawalnya telah menyentuh dua lengan anak itu, Chameleon mengangkat tangannya agar mereka berhenti. Segera dua pengawal tersebut kembali ke posisinya semula.


“Aku akan memberitahumu namaku, tapi kau harus memberitahu hal menarik itu lebih dulu,” ujar Chameleon.


“Ya, baiklah. Ayo kemari.”


Anak itu diketahui bernama Adi Caraka, bertemu lebih awal dengan Chameleon yang adalah anak sombong. Dan sekarang ia berencana untuk menunjukkan sesuatu pada Chameleon yang entah apa itu.


Caraka menunjuk ke sebuah tempat, sebuah rumah kayu yang memiliki papan nama bertuliskan, "Kedai Teh."


“Apa-apaan ini? Kau mengajakku minum teh?”


“Ada hal menarik di sini. Semua orang akan memainkan permainan yang menarik, dan jenisnya ada banyak pula!”


Sesuai dengan yang dikatakan oleh Caraka, Kedai Teh itu benar-benar menarik. Tetapi menurut Chameleon itu terlalu membosankan. Anak-anak, orang dewasa baik laki maupun perempuan, mereka semua bermain permainan yang menggabungkan dunia virtual dengan gerakan mereka di dunia nyata.


Permainan perang, adu fisik dan berbagai macam lainnya. Entah bagaimana bisa dikatakan sebagai Kedai Teh karena isinya hanya permainan di segala sisi. Tetapi, setelah beberapa saat Chameleon duduk dengan sikap rasa kebosanannya.


Brak!


Tiba-tiba datang beberapa orang pria yang mendobrak pintu lalu masuk dengan perangai mereka yang kasar. Lalu memeras pada setiap orang yang terlihat kaya di sini, termasuk ke Chameleon sendiri.


“Hei, bocah! Sepertinya kau anak orang kaya, kau mau 'kan memberikan semua uangmu pada paman ini?”


Tetapi, tetap saja pria itu bukanlah apa-apa. Ia sama sekali bukan tandingan para pengawalnya yang mudah diurus hanya dalam sekejap mata. Setelah itu kemudian, rekan-rekannya datang dan berniat memeras Chameleon lagi.


“Ha, kalian semua tidak ada bosannya ya. Terserah lah, kasih saja beberapa untuk mereka. Aku kasihan,” ujarnya dengan menatap sinis para pria tersebut.


“Cih! Bocah ini!” Yang kemudian mereka merasa marah karena Chameleon serasa menginjak harga diri mereka, salah satu dari mereka melawan namun berujung satu lengan dipatahkan.


Setelah melihat kekerasan di depan mata hari itu. Chameleon setidaknya merasa ada sedikit perubahan dalam hidupnya. Karena selama ia keluar dari rumah, tak ada seorang pun yang berani melawan tapi lihatlah sekarang, ada beberapa yang melawan padahal sudah tahu mereka akan kalah.


Namun, bagi Chameleon ...


“Menyenangkan sekali ya, paman-paman sekalian. Kalian berjuang keras karena teman paman dipukuli, kalian berniat membalas dendam tanpa tahu bahwa hasilnya akan sama saja.”


Mulai saat itu, Caraka melihat kepribadian Chameleon yang sebenarnya. Sudah lama terpendam begitu dalam, dan begitu dikeluarkan, ekspresi, tindak-tanduknya jadi berubah drastis.


“Cobalah kalian berjuang lebih keras lagi. Atau, perlu aku menambah beberapa uang untuk kalian lagi? Haha!!”


Hal yang menyenangkan baginya ialah melihat pertengkaran itu, hingga babak belur bahkan mengeluarkan darah dari kulit atau daging mereka.


***


“Sekarang kalian semua jadi mengerti bukan? Kalau pria itu sekarang jadi ...tambah menggila?”


“Bahkan dengan kedua orang tuanya saja tanpa ampun. Hanya demi memenuhi hasratnya, ia sengaja membuat kedua orang tuanya saling bertengkar sampai keduanya terbunuh dengan tragis,” tutup Dr. Eka.


“APA?!” Endaru, Mahanta, Ramon, Runo lalu Ketua Irawan berteriak secara bersamaan. Saking tidak percaya dengan omongan Dr. Eka yang agaknya terdengar mustahil.


“Itu—”


“Ya, aku tahu kalau kalian menyangkalnya tapi ini kenyataan. Dari kecil dia sudah begitu, jadi bukankah wajar saja dia memiliki ambisi yang begitu besar? Mengubah dunia ini sepenuhnya dipenuhi oleh NED dan berkekuatan super,” ucap Dr. Eka.


“Ya,” jawab Gista sembari memakan cemilan kue keranjang dengan nikmat. Tampaknya hanya Gista yang bisa bersikap santai setelah diceritakan hal mengerikan seperti itu.


“Hei, wanita! Kenapa kau terlihat santai sekali!?” amuk Endaru.


“Dari awal aku sudah bisa menebaknya. Jadi aku tidak begitu kaget,” kata Gista.


“Ya, saya tahu Anda akan berkata begitu. Terutama karena melihat sikapnya saat itu saat di kota Y-Karta.” Ketua Irawan menanggapi.


“Ya, dia orang gila.”


**


“Tunggu sebentar, jika benar hal yang membuat Chameleon menggila adalah pertarungan. Lalu jika ambisinya adalah membuat dunia ini menjadi dunia NED, apakah itu berarti dia ingin menciptakan pertarungan yang lebih mengerikan?” pikir Ketua Irawan.


“Ya, Nona Gista.” Mahanta menjawab, begitu juga dengan yang lainnya mengikuti dengan menganggukkan kepala.


“Tapi kita tidak boleh terburu-buru. Tenanglah, dan lewati hari ini seperti biasa.”


“Ngomong-ngomong burung ini membawakan pesan Orion ya? Kenapa hanya untuk kau saja dan bukannya aku?” ujar Endaru yang merajuk.


“Kau seperti anak kecil saja. Ini pesan penting dari Orion, aku akan membacanya.”


Bertuliskan, "Aku menemukan markas barunya Chameleon. Ada di pulau terpencil yang letaknya cukup jauh dan melewati perbatasan negara."


“Hanya itu?” tanya Mahanta bingung.


“Oh, aku mengerti. Maksudnya perbatasan itu. Kita akan menemukan padang pasir yang luas sebelum menjumpai laut terbentang. Di sana cuacanya seringkali buruk. Kau pasti ingat,” kata Endaru pada Mahanta.


“Jadi tempat itu maksudnya? Ah, tunggu sebentar. Kalau melewati perbatasan, bukankah seharusnya kita semua harus menaiki kapal?”


“Sepertinya begitu.”


***


Siang hari yang panas berganti menjadi senja hari dengan awan yang masih sangat panas. Lalu malam pun tiba dengan dingin yang mematikan. Setiap daerah di kota S-Frans masih saja dihebohkan oleh insiden pagi hari itu, mereka masih membicarakannya dengan rasa semangat terutama para wartawan yang hendak menguak apa yang sebenarnya terjadi.


Kameramen telah siap pada posisinya tuk memotret serta merekam tempat ini dengan baik, lalu beberapa korban yang diyakini terlibat semua masih hidup dan terus saja diwawancarai, namun itu semua percuma saja karena mereka tidak akan ingat apa yang telah dilakukan oleh Chameleon kepadanya.


Hingga menjadi kasus misteri yang dihujani oleh sisa dari dinding es maupun salju serta kerusakan yang tak wajar lainnya.


Di sisi lain, bandara pusat. Penerbangan yang dijadwalkan terakhir telah tiba di malam ini. Yang di mana terdapat beberapa anggota NED sebagai penumpang di sana.


Cuaca yang sangat dingin di malam hari ini, entah mengapa membuat mereka semua merasa bergidik.


“Semuanya sudah berkumpul?”


“Sudah, Pak!”


Ketua Dharmawangsa sebagai kelas pemimpin di unit kedua ini, membawa 5 orang. Salah satunya adalah bawahan Dharmawangsa sendiri yang memiliki kekuatan pemisah ruang. Lalu bawahan Ketua Meera yang memiliki kekuatan dapat melihat jelas dalam kegelapan. Lalu 3 orang tersisa ialah Ketua Eka Radhika, Ketua Ganendra, dan sosok pria bernama Notosuma. Awalnya Dharmawangsa tak berniat membawanya namun karena memaksa, maka terjadilah seperti ini.


Notosuma adalah rekan Gista. Ia jarang sekali muncul karena memang tugasnya bukanlah di tempat terbuka tuk bertarung melainkan menelaah setiap informasi dan mengumpulkannya. Bagian operator yang seharusnya tetap berada di negara Id.


Namun, entah apa yang membawanya kemari.


“Hei, kau yang di sana. Apa tujuanmu hanya ingin bertemu Ketua Arutala saja?” tanya Ketua Dharma.


“Tidak. Saya ingin bertemu satu orang lagi selain dia. Tapi entah terwujud atau tidak,” jawabnya tanpa menghadap Ketua Dharma.


“Terserah kau saja. Kami ditugaskan untuk mengintai, dan jangan sampai kau menjadi beban kami,” tegas Ketua Dharma.


“Ya, dimengerti, leader!” Hanya sesaat ia menunjukkan senyumnya yang kemudian pergi ke arah lain yang berbeda dari mereka.


Kedatangan unit kedua ini masih belum diketahui oleh Gista dkk, karena memulai pergerakannya adalah esok hari maka unit kedua yang baru saja datang akan beristirahat sejenak.


Negara GL. Kota NY, bagian selatan.


“Untuk saat ini kita beristirahat. Tidurlah walau hanya 5 menit, selama itu kita bisa memulihkan tenaga yang terkuras.”


Ketua Dharmawangsa melintas di hadapan Ketua Radhika yang tiba-tiba berbalik badan, seolah enggan melihat Ketua Dharmawangsa.


“Terutama yang barusan mabuk,” sindir Ketua Dharma.


“Sepertinya Ketua Radhika yang akan memuntahkan semua yang baru saja dia makan,” kata Ketua Ganendra.


“Ha, ya ampun. Apa yang sebenarnya diharapkan oleh Ketua Arutala yang membentuk kita untuk misi pengintaian?” gerutunya yang merasa tidak percaya diri.


“Percaya dirilah, Ketua Dharma. Anda yang terbaik nomor dua di organisasi. Semangat!” seru Ketua Ganendra dengan wajah cerianya.


Hanya Ketua Ganendra saja yang nampak semangat, bahkan ia memilih berjaga daripada tidur, ia sendiri mengaku bahwa selama perjalanan dirinya selalu tertidur dengan pulas berbeda dengan Ketua Radhika yang memang sejak awal tak bisa bertahan dalam perjalanan jauh terutama saat menaiki kendaraan berupa pesawat terbang.


“Ngomong-ngomong, ada di mana wanita itu?” tanya Lun. Rekan Ketua Dharmawangsa.


“Dia sepertinya sudah masuk ke kamarnya lebih awal. Mungkin dia sedang gelisah atau sesuatu.”


“Saya dengar, Ketua Raiya mengalami masalah yang cukup serius. Mungkinkah karena itu?”


“Ya. Ayo, masuklah. 10 menit lagi akan aku bangunkan.”


“Eh?!”


Misi unit kedua terbilang cukup berat, meski tidak akan bertarung langsung dengan kelompok Chameleon, mereka memiliki peran penting dalam misi ini. Pengintaian, ataupun penyergapan. Walau sejujurnya Ketua Dharma merasa sedikit tidak percaya, apakah Chameleon saat ini sedang melihatnya atau tidak.


Di dalam kamar, Ketua Dharma agaknya tidak menggunakan waktu dalam 10 menit untuk tidur sebentar, ia justru menggunakannya untuk melihat data-data yang dikirimkan pada Gista beberapa jam sebelumnya.


“Ini ...sungguh tak disangka. Ternyata batasan yang dia miliki belum terlihat?”


“Ada apa?” tanya Lun.


“Tidak. Tidurlah, Lun.”


“Anda juga. Karena Ketua Ganendra sedang berjaga, setidaknya manfaatkan waktu untukmu beristirahat,” ujar Lun.


“Ya, aku mengerti. Aku hanya sedikit khawatir saja,” ucap Ketua Dharma lantas menutup ponselnya.


***


Pergantian hari akan dimulai beberapa saat lagi. Sementara itu Orion, sesaat setelah mengirimkan pesan pada Gista. Ia bersama Wama berada di dalam rumah, diketahui itu adalah rumah milik Gisan yang telah dilupakan. Rumah itu berada di area perbatasan, letaknya memang aneh namun ini nyata.


“Wama, aku lupa memberikanmu ini,” kata Orion sembari menyodorkan permen untuknya.


Wama dengan senang hati menerimanya lalu memakan permen itu sambil duduk.


“Wama, kau anak yang baik ya? Siapa yang akan menyangka aku akan menjadi temanmu, padahal sebelumnya kita musuh. Ngomong-ngomong apakah kau tidak berniat untuk kembali pada teman-temanmu?” tanya Orion.


Wama menggelengkan kepala, lalu ia menggenggam tangan Orion yang terlihat seperti batang permen saja.


Perawakan Wama saja yang besar, namun tidak dengan mentalnya yang masih anak-anak. Bagi Orion, Wama adalah anak kecil yang hanya menyukai permen saja.


“Oh, jadi kau lebih memilihku daripada teman-teman lamamu? Tidak boleh begitu loh, karena temanmu mungkin sedang mengkhawatirkan dirimu.”


“Candy ...,” Mendadak raut wajah Wama berubah, terlihat merenungkan sesuatu seakan menyangkal perkataan Orion sebelumnya.


“Ya sudahlah, tidurlah Wama. Besok kita akan pergi ke pulau itu,” ucap Orion.