
Kekuatan memiliki batasan. Begitu pun dengan manusia. Setiap manusia yang memiliki kesempatan hidup dua kali adalah sebuah anugerah.
Kekacauan demi kekacauan. Kematian misterius dan lain sebagainya sudah menjadi kehidupan sehari-hari bagi para Pejuang NED.
Seorang pria bernama Orion Sadawira. Enggan bertatap muka dengan mantan istrinya lantaran anak mereka menghilang, diculik oleh Chameleon. Siasat yang licik, Chameleon hendak mempermainkan Orion, itulah yang ditunggu.
Kesal karena tidak bisa apa-apa namun bukan berarti ia dan seluruh Pejuang NED yang ada akan berhenti sampai saat itu saja. Menerima, merasakan atau hal lainnya. Apa pun itu sudah menjadi hal yang biasa. Semua yang mudah melibatkan sebuah perasaan.
“Bagaimana aku bisa menatap wajahnya ketika anaknya saja sudah tidak. Aku kecewa pada diriku sendiri yang lemah. Dan benar apa yang dikatakan oleh Chameleon saat itu.”
"Membunuh sebelum dibunuh." Kata-kata dari Chameleon yang begitu menusuk hati nuraninya. Takkan ia mampu membunuh orang lain dengan tangannya sendiri. Itu sulit.
"Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?" Pernah kalimat ini terlintas dalam benaknya. Yang seolah mengatakan, bunuh diri itu sama saja dengan membunuh orang lain.
Seakan itu darah yang sama. Yang benar saja.
“Manusia itu punya hukum. Tapi bagaimana dengan hukum manusia yang bangkit kembali dengan energi yang jauh lebih besar dari manusia biasa?”
Jika terlalu lama dipikirkan, maka hanya ada jalan buntu di ujung sana. Tanpa cahaya dan akan mundur, lepas tangan dari semua masalah yang ada. Itu sama saja mengulangi kesalahan di masa lalu. Mana mungkin pria tua yang membenci kehidupan ini mau mengulangnya lagi.
Orion jelas tahu bahwa Chameleon sengaja mengambil Ade. Yang entah itu anak kandungnya atau bukan. Tapi perasaan saat kehilangan itu tidak bisa ditipu.
“Aku ikuti permainanmu, Chameleon.”
***
Setengah tahun telah berlalu. Sisa dari semua Pejuang NED yang berada Organisasi utama masih terhitung ratusan. Walau nyawa yang kedua bagi mereka yang telah mati kembali tidak bisa seenaknya menggunakan darah langka untuk kembali dibangkitkan, mereka tetap bekerja keras.
Mencari segala cara untuk menemukan keberadaan Chameleon lagi. Tidak peduli dengan cara apa akan tetapi syarat: untuk tidak membunuh tidak bisa dipatahkan lagi.
"Membunuh maka sama saja, kita dengan mereka." Itulah yang pernah dikatakan oleh Gista Arutala.
Rumah Arutala paling kacau di antara lainnya. Saat itu ruang bawah tanah yang hancur, tapi kini yang berada dalam rumah serta anggota Arutala. Begitu juga dengan kelompok Ketua lainnya.
“Hei, kudengar ada artis yang sedang naik daun. Kira-kira itu Pahlawan Kota atau bukan, ya?”
“Jangan ngaco, deh. Artisnya 'kan wanita. Dan kudengar wanita ini memerankan hantu kuntilanak di negara sana.”
“Itu film populer yang akhir-akhir ini sempat mengguncangkan negara kita sendiri, 'kan?”
“Haha, yah. Setidaknya akan ada banyak orang yang melupakan kekejaman Chameleon.”
Tratak!
Secangkir kopi hangat yang hendak Orion tenggak kini disahut oleh Gista dari belakang. Gista kemudian menatap tajam ke arah Orion.
“Jangan pakai cangkir teh milikku,” pinta Gista dengan mengerutkan keningnya.
“Habisnya cangkirmu pas untuk kopi kesukaanku,” ucap Orion sembari mengulurkan tangan, meminta cangkir berisi kopi itu kembali.
“Ambil cangkir lain sana. Lagipula, apa yang kau lakukan di ruang kerjaku?”
“Tentu saja untuk menyeduh kopi. Dan, bukankah kau sedang bertugas di luar? Maksudku ada yang membutuhkan bantuanmu 'kan?”
“Ya, kau benar. Tapi sekarang sudah selesai.”
“Chameleon.”
“Nihil.” Gista menggelengkan kepala tanda bahwa ia sama sekali tidak menemukan keberadaan ataupun jejak Chameleon tersisa.
“Bahkan dengan identitas Dicky yang kau ceritakan juga tidak ada. Seolah dirinya itu sudah lama menghilang atau mati,” imbuh Gista.
Pintu ruang kerja Gista terbuka. Mendapati Mahanta dengan sosok lain di belakangnya. Yang kemudian masuk ke dalam untuk memberitahukan sesuatu.
“Mahanta, apa yang terjadi?”
“Maaf saya menganggu di waktu anda yang sibuk sekarang. Tetapi ada informasi lain tentang Chameleon.”
Mahanta mempersilahkan sosok tersebut. Ialah Ketua Nina Mirana, ketua yang berada di posisi terakhir. Seorang wanita berpostur tinggi.
“Mulai sekarang saya akan menjelaskannya, Nona Arutala. Ah, sebelumnya ...selamat pagi Nona Gista Arutala. Bagaimana dengan kabar Anda?” sapa Ketua Mirana.
“Selamat pagi juga untuk Anda, Nona Nina Mirana. Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?”
“Saya pun sama. Kalau begitu, saya akan persingkat ini saja. Saya menemukan Chameleon, tapi sayangnya dia sudah lepas landas menuju ke negara dengan hukum liberal.”
Ketua Mirana menunjukkan sebuah boneka tanpa pakaian dengan banyak paku di kepala bonekanya. Sesaat ekspresi dari boneka yang semula berwajah datar berubah menjadi sumringah. Namun boneka yang menyeringai itu nampak mengerikan.
“Negara dengan hukum liberal? Maksud Anda yang hukum bebas itu?” tanya Orion dengan terkejut.
“Bisa dikatakan begitu. Bebas tapi tidak sepenuhnya. Ngomong-ngomong hari ini saya tidak bertemu dengan Anda ya, Pak Orion? Biasanya 'kan Anda jogging di setiap pagi bersama Pahlawan Kota.”
“Ah, itu. Iya benar.” Orion tersenyum masam. Lantas ia sebenarnya saat itu sedang berlatih bersama Endaru. Lebih tepatnya, belajar dengan Endaru.
Tetapi tidak mungkin Orion akan mengatakan hal tersebut.
“Harga diriku sebagai orang dewasa bisa hancur,” batin Orion sembari memalingkan wajah.
“Ketua Mirana, jelaskan hal yang lebih mendetail lagi pada kami. Maka kami segera mempersiapkan anggota yang akan berangkat ke sana,” ucap Gista.
“Baik, Ketua Arutala.”
Boneka kutukan yang dimiliki Ketua Mirana adalah kekuatannya sendiri. Santet, itu adalah istilah lainnya. Yang dapat menyakiti seseorang dari jauh tapi Ketua Mirana juga memiliki kekuatan spesial yang lebih dari itu, yakni ganti dari alat pelacak yang tidak akan bisa ditemukan bahkan oleh Pejuang NED terkuat sekalipun.
***
Di suatu tempat berada dekat dengan rumah Arutala. Terdapat beberapa orang yang bekerja di bengkel, bersama melakukan reparasi kendaraan pelanggan.
Salah satu dari mereka, kehadirannya tidak begitu mencolok. Pria dengan rambut kecoklatan matang yang juga menyerupai kulitnya. Tampak ia juga murung sembari membenahi roda dengan kunci miliknya.
“Hei anak baru! Kudengar kau ditempatkan di Grup Arutala, ya? Semangat ya!” ucap salah seorang dengan meninggikan suara sembari menepuk punggungnya beberapa kali.
“Aduh, senior! Saya sedang sibuk. Bisakah tidak menganggu lebih dulu?” Pria itu memprotesnya.
“Sudah, sudah. Jangan murung begitu. Dan kau, bukannya ikut bekerja malah asih nge-klub malam yang tidak berguna itu. Awas kalau sampai digebrek!” celoteh salah seorang pria lainnya.
“Jangan berkata begitu dengan keras dong! Di sini 'kan umum.”
“Kau juga sama saja. Malah asal menyebut nama Grup kita.”
Pria murung itu kembali melakukan pekerjaan namun ia tidak fokus lantaran para senior berbicara keras di sekelilingnya. Ingin sekali memaki tapi tidak mungkin ia lakukan.
“Ru, kudengar kamu memiliki kekuatan es yang sama seperti Nona Gista, benar?” tanya pria yang sebelumnya bertengkar dengan temannya.
“Iya, senior,” jawabnya lemas.
“Kalau begitu, besok ikut denganku ke rumah Arutala. Kebetulan Nona Gista juga ingin kau datang!”
Seketika pria murung itu mendadak merinding. Firasat buruknya muncul.