ORION

ORION
Belajar Hukum, Rencana Tindak Melemahkan Orang Dewasa



“Soal hukum? Memangnya kau mau apa dengan itu?”


Ternyata ada udang di balik batu. Usai mengajarinya beberapa macam gerakan serta berolahraga bersama, Endaru meminta diajarkan soal hukum.


“Ya benar!” teriak Endaru bersemangat.


“Tidak! Kalau boleh jujur, aku tidak terlalu memahami soal hukum politisi ataupun yang berkaitan dengan itu. Lemah dan kuatnya ditentukan seberapa ilmu serta pengaruh kuat seseorang. Hukum pun begitu,” ujar Orion.


Setelah beberapa saat ia mendengarkan hal tersebut. Sebelum bertanya suatu hal, Endaru mengajak Orion ke suatu tempat yang letaknya ada di sudut ruangan.


“Kita turun ke bawah.”


Lebih tepatnya tangga menuju ke lantai dasar.


“Aku tidak mengira ada ruangan lain? Seberapa kaya dirimu? Dan untuk apa kita ke bawah. Kalau ingin membicarakan sesuatu di sini pun juga bisa,” oceh Orion.


“Tinju samsak seperti saat kau melawanku sebelum ini. Gunakan kekuatan dengan buku-buku setiap jarimu dengan kuat. Ingat, seperti yang aku ajarkan,” tutur Endaru memberi instruksi pada Orion.


“Hei, bukannya kau tadi ingin bertanya soal hukum? Kenapa tiba-tiba aku disuruh memukul samsak itu?” tanyanya protes seraya menunjuk samsak dengan kening berkerut.


“Karena sepertinya kau tidak angkat bicara soal hukum. Makanya aku harus mngajarkanmu hal lebih. Hehe,” jawab Endaru dengan tawa menggelitik.


Seketika Orion paham akan tindakan Endaru saat ini. Endaru hendak menyuapnya.


“Aku tidak akan mengajarimu soal hukum! Karena aku sendiri juga kurang memahami. Kalaupun kau sangat ingin belajar soal hukum, lalu kenapa tidak kuliah saja? Kau 'kan banyak uang!”


Semua perkataan Orion memang ada benarnya tapi raut wajah Endaru yang muram seolah berkata bahwa ia tidak bisa melakukan hal itu karena suatu alasan.


“Hei!” teriak Orion.


“Ugh! Kenapa orang dewasa selalu saja banyak tanya,” gerutu Endaru seraya memalingkan wajah.


“Endaru! Aku tahu kau juga mengincar Chameleon. Tapi Chameleon tidak bisa kita lawan dengan hukum,” sahut Orion menjelaskan.


“Bukan. Aku 'kan sudah bilang kalau urusan Chameleon itu nanti saja,” jawab Endaru menggelengkan kepala.


“Lantas apa?” tanya Orion.


“Orang-orang dewasa selalu sok ikut campur dan berkata ini dan itu lalu mengatakan bahwa ini demi kebaikanku ataupun kebaikan kita bersama. Aku berpendapat saja selalu diremehkan!” pekik Endaru.


“Hah? Jangan bilang kau kalah berdebat dengan para menteri? Tunggu.” Orion memalingkan wajah serta memijat keningnya sebentar.


Kemudian menghela napas panjang lantas berkata, “Kau memang terkenal. Tapi apa mungkin? Ah, jangan bilang dengan Ketua Organisasi NED?”


“Dua-duanya!” Endaru menegaskannya dengan suara meninggi.


“Kuperingatkan satu hal. Berdebat dengan orang yang lebih berkuasa darimu itu mustahil kau menangkan. Aku sarankan kau menyerah,” tukas Orion.


“Menyerah? Aku tidak akan menyerah! Orang-orang dewasa itu licik! Aku tidak suka! Mentang-mentang orang dewasa jadi tidak perlu pendapat dari yang lebih muda?” sahut Endaru mengomel.


“Bukan begitu maksudku. Kalau kau segitunya ingin berpendapat dengan tenang. Harusnya kau pikirkan dulu, apa keuntungan dan ruginya dari pendapatmu,” tutur Orion.


“Jika kerugian besar, maka mereka tentu saja akan menolak. Pikirkan bahwa pendapatmu membuat keuntungan semakin naik dan kerugian bisa dipersempit,” imbuhnya.


“Lalu, kalau permasalahannya begini bagaimana? Orang dewasa melakukan kejahatan. Buktinya ada pada seorang anak kecil tapi pada akhirnya itu tidak dianggap sebagai bukti konkrit.” Endaru kembali bertanya.


“Hm, kalau begitu masalahnya ...tentu akan sulit. Anak kecil selalu membicarakan hal-hal yang terkadang di luar nalar dan sulit dipercaya,” jawab Orion.


“Nah itu! Tanggapan mereka semua sama seperti dirimu!” amuk Endaru.


“Kau tahu aku lebih tua darimu. Lalu kenapa masih menanyakan soal hukum atau sejenisnya padaku?”


Orion tertegun mendengarnya. Tak menyangka kata, "Percaya", akan keluar dari mulut si anak sombong itu.


Buk!


Orion sama sekali tidak menjawabnya, lantaran ia meninju samsak dengan posisi tangan dan kedua kaki yang seperti diajarkan oleh Endaru sebelum ini.


“Orion, tolong. Aku tak mau anak-anak jadi tidak berdaya karena kuasa orang dewasa,” ucap Endaru.


“Orang dewasa itu justru terlihat seperti anak-anak. Baiklah aku akan mengajarimu sesuatu tapi tidak berkaitan dengan hukum yang kau tanyakan,” kata Orion.


“Terserah padamu.”


“Tipikal orang dewasa, setiap melakukan kesalahan pasti mereka akan mengelak dari kesalahan itu sendiri. Meskipun ada bukti, selama punya kekuasaan, bukti itu akan hancur tanpa sisa.”


“Orang dewasa yang tidak mau mengaku salah. Ck, aku jadi mengerti kenapa kau berpikir mereka seperti anak kecil.”


“Perlu kau tahu. Mengancam dengan bukti pun bisa kau lakukan. Tapi akan lebih baik kau langsung menyebarluaskan bukti itu ke jaringan sosial, barulah dia akan berlutut di hadapanmu. Itu jawaban yang ingin kau dengan bukan?”


Endaru sesaat terdiam tanpa kata. Hendak ia menyangkal namun pemikiran Orion terhadap antusiasmenya sendiri itu mungkin saja benar.


Tidak, itu sudah pasti benar.


“Kau benar. Tapi ...” Terlihat Endaru ragu mengatakan sesuatu.


“Dengar Endaru. Tak hanya orang dewasa, anak kecil pun sama. Tapi memang, tabiat buruk orang dewasa itu sulit dirubah. Tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali mereka sendiri,” tutur Orion.


“Kau juga?”


“Kau pikir aku sempurna. Tapi nyatanya kita semua manusia yang hanya memiliki kelebihan sedikit dari manusia lainnya,” jawab Orion.


Kala itu, situasi di antara mereka sedikit berubah. Hawa yang suram karena ketegangan pun mencair seiring waktu dengan obrolan ringan mereka.


Sembari memperhatikan Orion yang sibuk memukul samsak selama beberapa waktu. Endaru berpikir bahwa Orion sangat menekuni apa yang ia pelajari saat ini.


“Segitunya ingin mengalahkan Chameleon?” sindir Endaru padanya.


“Jangan katakan itu padaku. Kalau kau pun juga memiliki niat yang sama.”


Detik demi detik, peluh bercucuran seiring pukulan mengenai samsak hingga terpelanting.


“Berhubung kita memiliki kelebihan itu. Kenapa tidak kau gunakan saja? Hanya sedikit energi yang kita punya, kau mungkin bisa saja menghancurkan samsak itu.”


Endaru yang mengatakan itu. Dan membuat Orion tertantang. Ia menyeringai lantas mempersiapkan diri ketika samsak hendak mengenai wajah, Orion lantas meninju samsak dengan sekuat tenaga.


Duash!


Tali yang membuat samsak tergantung itu putus dan seketika samsak terpelanting jauh hingga ke menabrak dinding di depan. Samsak pun hancur menjadi beberapa bagian.


“Wah, sampai melampaui batas seperti itu. Aku terkesan,” ucap Endaru.


“Semua orang bisa melakukannya. Tapi ini berkat dirimu. Dan apakah kau memang pada dasarnya mahir dalam ahli bela diri saja?”


“Iya. Karena itulah aku berniat belajar hukum darimu. Yah, walaupun pada akhirnya kau tak mau karena memang tidak mendalami. Tapi aku sangat berterima kasih padamu yang telah mengajarkanku sesuatu yang lebih penting.”


“Harusnya aku yang berterima kasih.”


Drrrttt!!


Samar-samar terdengar suara ponsel bergetar. Orang yang menghubungi, Mahanta.