
Salah satu anggota membawa murid itu untuk segera ditangani luka-lukanya. Di samping kehadiran Chameleon lenyap. Ada seorang wanita yang merupakan rekannya, ia sedang tak sadarkan diri karena Orion mencekik lehernya barusan.
Beruntungnya Orion tidak membunuh seseorang karena cekikannya itu.
“Sepertinya dia benar-benar tak sadarkan diri, ya?” tanya Mahanta, agaknya ia masih mencurigai.
“Ya, benar. Tapi tetaplah berwaspada karena dia adalah Pejuang NED dengan tipe monster. Kalian tahu seberapa mengerikannya itu,” tutur Gista memperingatinya.
“Ya, saya mengerti. Nona Gista.”
Tak ada seorang pun yang berniat untuk mengangkat tubuh wanita tersebut. Lantaran mereka cukup tahu, seberapa berbahayanya tipe monster. Mereka jauh berbeda dengan Pejuang NED dengan tipe lainnya.
Layaknya seekor monster, dirinya yang dalam kondisi tak sadar. Suara berisik atau bahkan disentuh sedikit saja, pastinya akan terbangun.
“Ah! Astaga!”
Krrttkk!
Dan benar saja. Wanita itu terbangun sembari menggertakkan gigi, lalu ia melayangkan cakarannya namun berhasil ditahan oleh Mahanta.
“Mahanta lepas dia!” teriak Gista yang hendak melakukan gerakan untuk teknik serangannya.
Namun terlambat, wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengigit leher Mahanta yang juga lengah.
“Nona Gista!” panggil salah seorang anggota lalu diikuti suara anggota lainnya.
Mereka mengepung ke sekitar dan akan membuat jaring penangkapan. Salah satu anggota memiliki teknik serangan dari kekuatannya lalu menggabungkannya dengan yang lain.
“Ergh! Dasar! Wanita ini!” Mahanta mengerang kesakitan seraya ia berusaha untuk melepaskan gigitan itu darinya namun taring-taringnya semakin menusuk ke dalam.
“Hei! Kau tidak bisa lakukan sesuatu?” tanya Orion lantas bingung menghadapi situasi ini.
Begitu pun dengan Gista. Ia tak mungkin menyerang wanita itu yang berada dekat dengan bawahannya. Karena ini akan berakibat fatal.
Gista menggelengkan kepala lantas berkata, “Tidak. Tidak bisa. Menarik tubuhnya pun akan sulit.”
Di samping mereka berdua kesulitan. Apa daya bagi Mahanta yang sama-sama kesulitannya. Ia harus menahan rasa sakit, dan ia pun berusaha untuk menggunakan akal agar dapat menghentikan wanita itu.
Crak!
Belum sempat Mahanta berusaha. Setidaknya untuk memetahkan taringnya. Justru wanita itu sendiri yang melepas gigitannya lalu bergegas melarikan diri dengan cepat hingga menerobos jaring penangkapan.
Darah mengalir dengan deras tanpa henti. Segera Mahanta menekannya agar pendarahan tak lagi berlanjut, akan tetapi terlalu sulit untuk dilakukan sendiri.
Daripada mengejar musuh yang tak berguna baginya, Gista lebih memilih untuk menyelamatkan nyawa Mahanta yang berada di ambang batas. Membekukan kulit luarnya dengan es, pendarahan pun terhenti sepenuhnya.
Pelarian wanita itu juga sangat cepat. Mustahil bagi mereka apalagi para anggotanya untuk mengejar. Yang pada akhirnya mereka berfokus untuk menyelamatkan Mahanta.
“Anda tidak perlu memperdulikan saya. Seharusnya Anda memiliki kesempatan untuk menangkap wanita itu,” ujar Mahanta.
“Aku tahu, menangkapnya dalam kondisi sadar akan membuat kita cukup tenang ke depannya. Daripada dalam kondisi tidak sadar, kita tidak tahu apa saja yang dilakukannya secara diam-diam. Namun kau lebih penting,” sahut Gista.
Gista kemudian beralih pandang ke Orion.
“Orion, berhati-hatilah. Karena 4 teratas rekan Chamelon itu kuat. Wanita itu salah satunya,” jelas Gista.
Srek!
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyangkut di pakaian milik Orion dari belakang. Beberapa orang mungkin tak menyadarinya namun sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Tunggu! Apa ini?”
Sontak ia dibuat terkejut, karena tarikan membuat tubuhnya terus terseret mundur. Berusaha Orion menahannya dengan kedua kaki tapi sesuatu yang menariknya dari belakang itu lebih kuat dari tenaganya.
Tarikan demi tarikan terus membuatnya terseret mundur. Tak ada celah untuk itu, apalagi kail yang sebelumnya mengait di pakaian berpindah ke kulit Orion secara langsung.
Beberapa anggota, bawahan Mahanta dan Gista berupaya untuk melepasnya namun terlalu sulit karena kailnya terhubung erat ke bagian tulang.
Dan juga benang transparan itu terbuat dari baja. Bahkan mereka sulit untuk memotongnya. Yang ada mereka justru ikut terseret bersama Orion.
“Hei, jangan dekati saya! Ini sudah di luar batas kalian semua!” teriak Orion.
“Orion, apa yang terjadi padanya Nona Gista?” tanya Mahanta dengan tundukkan kepala.
Sedangkan Gista tengah menuntun Mahanta, langkahnya sempat terhenti karena tubuh Orion yang terus menjauhinya.
“Di saat seperti ini, aku jadi teringat semua kesalahan yang telah kuperbuat. Benar katamu Mahanta, aku egois, aku memanfaatkan semuanya bahkan mengorbankan mereka. Termasuk Orion.”
“Nona Gista?”
Srkkkk!
Percikan-percikan es muncul, menjalar ke posisi Orion dengan cepat hingga menyentuh ujung kakinya.
“Rekan Chameleon yang datang tak hanya satu. Melainkan dua atau tiga orang.”
Gista menggeram kesal, ia selalu membenci kecerobohannya sendiri. Termasuk membiarkan Chameleon kabur begitu juga dengan rekan wanitanya. Dan sekarang Orion terjerat.
Srak!
Dinding es muncul tepat di belakang punggung Orion. Sehingga menahan gerakannya, namun itu hanya bersifat sementara.
“Orion! Ada benang di belakangmu! Bakar menggunakan Api Abadi!” pekik Gista.
Sudah berusaha Orion melakukan itu, tapi bukan benang bajanya yang terbakar, melainkan dinding es milik Gista.
Sehingga tubuh Orion pun terseret ke jalanan. Terus-menerus, tanpa henti hingga kedua kakinya menghasilkan panas akibat gesekan antara sepatu dan jalanan.
“Dapat ikan besar, Tuan Chameleon!” ucap seorang pria bersemangat dengan menarik kail pancingnya dari atap gedung apartemen.
Pria yang juga rekan Chameleon inilah yang telah membuat Orion terus ditarik mundur seperti ikan. Bahkan nyaris saja Orion tertabrak kendaraan karena melintas di jalan raya.
Pria itu menarik kail pancingnya dengan santai seraya ia bersenandung irama. Sampai ketika Orion berhasil ditarik olehnya sampai ke atas gedung.
Orion tampak syok serta tak menyangka bahwa ia akan ke atap gedung apartemen dengan cara aneh seperti itu.
“Akhirnya kita bertemu, Pak Orion ya? Padahal kupikir kau itu anak kecil. Apa aku salah dengar ya?” tukas pria tersebut.
Orion dibawa ke atap, lantas kail pancingnya tercabut begitu pria itu menariknya lagi. Orion kini hanya terdiam sembari mawas diri akan sekitar.
“Hm, tidak mau menjawab? Kalau begitu, ingin ikut bersamaku? Kita akan ke tempat Chameleon.” Pria itu kemudian mengulurkan tangan.
“Aku tidak sudi ikut bersamamu apalagi Chameleon,” jawabnya sedikit ketus.
Melihat kemampuannya hanya dengan pancingan. Sekilas saja Orion tahu, bahwa orang ini akan mudah menarik apa pun.
Sembari berpikir macam-macam hal dalam benaknya, Orion meraba bagian dada kirinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya pria itu.
“Mudah untukmu menarik tubuhku dari kejauhan sana. Hei, aku punya permintaan terhadapmu. Apa boleh aku katakan sekarang?”
Pria itu memiringkan kepala tanda tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Orion sebenarnya.
“Tolong aku. Maksudku, bunuhlah aku!”