
Angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur lebih lelap dari sebelumnya. Dan tanpa sadar ia dibawa pergi jauh dari kota B-Karta dan juga kota J-Karta. Setelah berjam-jam ia rasa, truk mini ini pun terhenti di suatu jalan.
“Ahhh! Rasanya sangat lelah sekali, dari pagi sampai siang, aku harus mengambil barang-barangnya sekarang dari gudang.”
Pria yang nampaknya adalah sopir truk, tengah bersendawa lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia kemudian berjalan ke suatu tempat, namun begitu melihat ada sesuatu di belakang, ia pun berhenti melangkah.
“Hah!? Eh? Ada anak kecil!” teriaknya kaget.
Orion masih tertidur begitu pulas dan tak mendengar jeritan dari pria itu.
“Astaga, apa dia terluka? Banyak sekali darahnya!”
Resah, gelisah dan panik, ia pun membawa Orion untuk segera dilarikan ke rumah sakit. Ia membawanya dengan tangan gemetaran karena saking takutnya ia melihat semua luka pada tubuh Orion.
Orion merasakan angin ini lagi, dan membuatnya sangat nyaman seolah tertidur di ranjang yang empuk.
“Hei kau! Tunggu sebentar!”
Seorang pria berjas putih memanggil pria itu lantas menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi pada anak kecil yang dibawa olehnya.
“Ah, ini ...dia sepertinya terluka. Ada banyak darah di pakaiannya. Saya takut dia mati, tapi kok ekspresinya terlihat senang begini, ya?”
“Jangan khawatirkan itu. Mungkin dia berada dalam fase menuju kematian, aku akan membawanya. Kemarikan.”
“Anda akan membawanya ke mana?”
“Tenang saja, aku ini dokter. Dokter yang bekerja di rumah sakit besar itu.”
Pria berjas putih itu pun membawa Orion ke rumah sakit besar yang dimaksudnya.
Kota ini bukanlah kota B-Karta ataupun kota J-Karta. Kota ini asing di mata Orion, kalaupun ia sekarang terbangun tapi nyatanya ia masih tertidur begitu pulas.
***
Kota L-Karta. Seperti biasa yang sering terlihat di setiap kota besar, terdapat banyak gedung tinggi dengan teknologi yang semakin canggih. Kendaraan berlalu-lalang, mereka sibuk bekerja dan lain hal sebagainya.
Kota super sibuk, menyerupai kota J-Karta yang tidak terhitung banyaknya orang bekerja di luar.
Ini adalah kota yang menjadi wilayah Adi Caraka, salah satu ketua yang mendirikan organisasi di bawah organisasi utama NED. Bagian ilmiah, sains atau sejenisnya hingga mendirikan sebuah rumah sakit besar.
Banyak pasien dilarikan ke rumah sakit itu, dan rata-rata semua yang terbilang mempunyai penyakit parah atau luka yang berat sampai dinyatakan sulit untuk bertahan hidup, justru di sini akan kembali pulih total.
Seolah mereka sembuh setelah perawatan lama di sana. Namun mereka tidak membutuhkan banyak waktu, dan paling lamanya hanyalah sekitar 2-3 bulan.
Sekilas terlihat sempurna, tapi tak mungkin itu dilakukan oleh tangan manusia biasa, 'kan?
“Sentuhan Surgawi, penyembuh alami. Fisik dan mental akan pulih kembali setelah beberapa saat nanti.”
Seorang pria berjas putih dengan rambut berwarna pirang, berdiri di samping ranjang tidur seorang pasien dengan wajah bahagia.
“Dok, apakah tidak masalah kalau langsung membawanya ke kamar begitu saja?”
“Ya. Lagipula dua jam yang lalu aku sudah menyelesaikan tugas. Dan dinyatakan dia masih hidup.”
“Kenapa Anda berbicara seolah Anda adalah dukun.”
Dua jam yang lalu, pria itu mengoperasi seorang pasien yang terluka di sekujur tubuh. Setelah selesai, pasien itu dibawa ke salah satu kamar rawat dan ia kembali mengunjunginya.
Dengan sentuhan alami dari salah satu jemari pria tersebut, api berwarna kehijauan muncul di sekitar tubuhnya dan pasien itu.
“Dr. Eka! Pak Kepala Rumah Sakit datang!” Salah seorang suster memanggilnya.
“Ehhh?” Pria itu pun sontak terkejut, menoleh ke belakang dan melihat tatapan serius dari suster itu.
Ia pun buru-buru pergi dan meninggalkan seorang pasien dengan suster yang lain untuk mengawasinya setiap waktu.
“Panggil aku jika sesuatu yang buruk terjadi padanya nanti, ya!” pinta pria berambut pirang, Dr. Eka pada suster di sana.
Dr. Eka, sebenarnya pria ini sedang menikmati waktu istirahat sesaat sebelum bertemu dengan pasien yang tadi. Namun karena kejadiannya tiba-tiba sehingga ia merelakan waktu istirahatnya untuk merawat kondisi anak tersebut.
Dan anak itu tak lain adalah Orion Sadawira. Dipantau secara berkala, terlihat semua luka Orion pulih dan napas yang diburu dari waktu ke waktu pun sudah tak lagi terjadi. Hal ini dikarenakan karena mental Orion yang sempat terganggu pasca trauma berkepanjangan.
Yang di mana Orion selalu berhadapan dengan mara berbahaya dan tak sempat ambil napas sejenak. Menjadikan kejadian yang baru-baru ini menimpanya terus menumpuk dan membuatnya kepikiran terus-menerus.
“Anda sampai datang berkunjung kemari. Saya jadi sangat khawatir,” ucap Eka dengan wajah gelisah.
“Aku dengar ada anak tanpa identitas terluka. Bagaimana keadaannya?” Wajah Kepala Rumah Sakit terlihat sangat cemas saat menunggu jawaban darinya.
“Anda tidak perlu cemas. Berkat kekuatan yang Anda berikan, anak itu pasti sudah pulih. Dan ia sedang tertidur di kamar rawat inap,” jelasnya dengan hati yang tenang.
“Benarkah? Aku sangat khawatir kalau dia anak yang kabur dari penculik. Dia benar-benar baik saja, bukan?”
Peluh pria itu bercucuran deras. Ia bahkan mengguncang-guncang kedua pundak Eka karena masih cemas akan keadaan anak yang dimaksud. Sesaat Eka terdiam dengan senyum namun raut wajahnya menandakan kebingungan terhadap sikap beliau.
“Aku buru-buru kemari setelah menghadiri pemakaman. Ah, aku sangat khawatir,” katanya seraya memijat kening.
“Eh, itu ...Anda tidak perlu se-khawatir itu.”
“Apanya yang tidak perlu? Ayo cepat antar aku!”
“Beberapa tulang rusuknya sudah lebih dulu terluka, dan mungkin karena dia berlari, tulang itu kembali patah. Dan ada beberapa luka sayatan tertimpa dengan luka bakar dan itu hampir membuat organ dalam meleleh. Tapi tenanglah Tuan, dia sudah kembali normal.”
Eka menjelaskannya dengan suara yang lembut. Melihat wajah yang begitu tulus setelah menyelamatkan nyawa seorang anak, secara tak sadar Kepala Rumah sakit itu pun ikut merasa lega sesaat.
“Itu terlalu parah untuk luka anak kecil.”
“Anda benar, Tuan. Tapi lukanya pulih juga berkat Anda sendiri.”
Setelahnya, Eka mengantar beliau ke tempat di mana Orion berada. Tentunya setelah perasaan beliau sudah lebih tenang dan tak lagi heboh seperti sebelumnya.
“Anak ini, adalah Pejuang NED.”
Reaksinya cukup tenang setelah Eka memberitahukan bahwa anak ini adalah Pejuang NED.
“Tuan?”
Dipanggil berkali-kali pun, ia tak menjawab. Pria yang mengenakan pakaian serba putih itu hanya tertunduk dan melihat wajah pasien.
“Apakah Anda akan membantunya mencarikan keluarga? Ataukah Anda mengenalnya?” tanya Eka.
Pria itu kemudian menyunggingkan senyum yang lebar seraya menatap wajah anak itu dengan sudut mata yang menurun.
Lantas berkata, “Ya, aku sangat mengenalnya. Tidak salah lagi. Dia adalah anak api, Orion Sadawira.”
“Tuan Caraka? Anda ternyata mengenal anak ini!” ucapnya bernada tinggi, Eka terkejut.