
Sempurna, kata yang mudah diucapkan namun sulit diartikan. Ada berbagai macam tentang hal "sempurna", namun sulit diwujudkan sekalipun dengan pengorbanan. Catatan: Perjalanan Kematian-
Pelelangan Undergrown berakhir! Menyisakan informan yang masih setengah sadarkan diri. Ketua Irawan merasa bahwa pria itu harus memiliki kesadaran penuh, sehingga ia pun mengeluarkan sebatang kayu yang memukul wajah Informan.
“Ohok! Argh ...gigiku,” keluhnya seraya memegang pipi, lantas beberapa buah gigi itu langsung rontok berjatuhan.
“Hei katakan kenapa kau melelang darah itu? Dan siapa pemilik darah itu?” tanya Ketua Irawan menatapnya tajam.
Tak hanya Ketua Irawan seorang bahkan Pejuang NED, rekan Orion kecuali Runo yang sedang tak sadarkan diri di atas pula menatapnya begitu tajam.
“Itu hanya darah biasa. Sedangkan darah ...langka sudah kupakai untuk menghidupkan pria di sana,” jawabnya seraya menunjuk ke belakang. Mengarah ke seorang pria sebagai mc.
“Darah biasa? Aku tidak percaya,” kata Ketua Irawan.
“Terserah! Kau mau percaya atau tidak!” teriaknya.
“Yang dia katakan mungkin saja benar. Karena pemilik darah itu adalah Orion, tapi Orion tidak pernah memberinya sebanyak itu,” sahut Orion. Menggunakan dalih sosok Orion yang lain agar yang lain percaya.
“Apa? Anak kecil itu memberikan darahnya? Untuk apa? Dan di mana dia?” tanya Ketua Irawan histeris.
“Entahlah. Aku tidak tahu untuk apa dan juga keberadaannya sekarang,” ucap Orion sekali lagi berbohong.
“Kau pasti Ayah dari anak itu, ya? Kalian sangat mirip sekali!” sahut Informan itu kembali.
“Apa? Jadi benar ...bahwa Nona Arutala memiliki kekasih gelap bahkan anak gelap juga,” ucap Ketua Irawan menatap Orion dengan keheranan.
“Sudahlah! Jangan bahas hal yang tidak penting. Hei Endaru, kau juga! Kalau kau ingin tertawa maka tertawa saja!” Orion merasa tersinggung terutama ketika Endaru tengah menahan tawanya seraya membalikkan badan.
Kemudian Orion duduk dan kembali menginterogasi Informan itu.
“Pak, aku harap kau kau menjawab beberapa pertanyaan lagi. Apa yang kau lakukan dengan menipu semua orang bahwa darah itu bukanlah darah yang asli? Aku tahu bahwa kau sengaja melakukannya.”
“Kalau kau tahu, kenapa aku harus menjawab?” sahutnya seraya memalingkan wajah.
“Oh, begitu, ya. Kau menolak untuk menjawab padahal kau tahu maksudku adalah hal yang lain,” ujar Orion seraya mendekatkan diri padanya.
“Ba-baiklah. Kalau maksudmu adalah Chame—”
“Ah! Ternyata benar! Kau rekan Chameleon rupanya. Dasar, tidak akan kusangka kau betulan rekan, ah ...bukan, kau hanya bawahannya saja. Padahal aku sempat mengira bahwa kau itu netral,” sahut Orion dengan sengaja memotong kalimat informan itu.
Sekali lagi Informan membuang muka seraya berdecak kesal. Ia tampak sangat kesal, apalagi setelah ditatap oleh seorang pria dengan pandangan mati yang tidak mengenakkan.
“Lalu, bagaimana dengan Chameleon? Apa kau tahu keberadaannya,” tanya Orion.
Duak!
Sekali lagi batang kayu dari dalam kurungan mendarat ke wajah bagian satunya. Sehingga Informan secara tak langsung kembali menatap wajah Orion lagi.
“Jawablah!” teriak Ketua Irawan yang tetap berada di posisi berdiri seraya menyilangkan kedua lengan ke depan dada.
“Itu ...aku tidak tahu. Lagipula kalaupun aku memang bawahan Chameleon, akan tetapi aku datang kemari karena keinginanku sendiri,” ucap Informan itu yang sedikit tak jelas lantas karena kedua pipinya sudah membengkak.
“Jadi kau datang ke negara ini semata-mata hanya untuk melelang darah palsu. Lalu begitu kau mendapat masalah, kau menggunakanku agar harga darah itu dan aku sendiri pun melonjak tinggi. Begitu?” Orion kembali bertanya, kali ini menggenggam kuat kurungannya sebagaimana ia sangat marah.
“Ya,” singkatnya.
Sepertinya tidak ada jalan lain selain pergi ke suatu tempat yang berkaitan dengan Air Mancur. Namun ada beberapa hal yang harus Orion tanyakan lagi.
“Saya pernah mendengar ini dari Ketua Arutala. Tidak perlu menjelaskannya lagi, karena saya sudah memikirkan bahwa ini karena Chameleon,” ucap Ketua Irawan.
“Baguslah kalau begitu, Ketua Irawan. Saya juga memikirkan hal yang sama.” Orion menganggukkan kepala.
“Hei! Itu bukan ulah Tuan Chameleon!” sangkal Informan, menegaskan bahwa serbuk yang dibawa oleh Orion itu bukan dari Chameleon.
“Apa? Kenapa bisa begitu? Akui saja, pak! Sebab aku sendiri sudah pernah mengetahui bahwa serbuk ini ada bahkan sebelum Chameleon pergi,” tukas Orion yang menyanggah kalimat Informan tersebut.
“Itu tidak mungkin karena Tuan Chameleon hanya memperbudak Pejuang NED saja!” sangkal ia sekali lagi.
“Hah? Jadi maksudmu, si bunglon psikopat itu cuman mengedarkannya ya? Jadi ...dia mendapatkannya dari negara ini begitu?” celetuk Endaru.
“Iya, itu benar!” Informan menganggukkan kepala beberapa kali dengan peluh bercucuran.
“Aku tidak akan menjamin kehidupanmu kalau kau bohong,” ancam Endaru. Lantas Informan menggelengkan kepala.
Informan bersumpah bahwa Chameleon bukanlah pemasok benda berbahaya itu sendiri. Sebab,
“Tuan Chameleon bahkan menyicipnya. Kalau kata pria yang berada di posisi ke-2, Tuan Chameleon sudah berubah semenjak mengonsumsi itu,” tuturnya dengan tundukkan kepala.
Chameleon bahkan mengonsumsi benda seperti itu? Terdengar mustahil namun jika dilihat dari cara bicara, sikap atau bahkan tindak-tanduknya maka itu bisa saja adalah fakta yang sebenar-benarnya.
Tidak ada kerugian jelas di sini, setelah mereka mengetahui sesuatu hal lebih tentang diri Chameleon. Namun keberadaannya yang masih samar-samar masih membuat mereka kebingungan.
Jadi, satu-satunya harapan adalah pergi ke petunjuk Ken. Air Mancur, entah itu adalah sebuah tempat atau hanya dekorasi dalam atau luar ruangan saja, mereka tidak akan mengerti jika belum mencarinya.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih karena telah bekerja sama dengan kami. Informan tukang tipu,” sindir Orion seraya membalikkan badan.
Ketua Irawan bergegas mengikuti Orion. Ada hal yang ingin ia tanyakan.
“Di mana Orion? Apakah dia sekarang sedang bersekolah dengan aman? Dia tidak akan lagi terlibat dengan kekacauan kita lagi, bukan?”
Namun Orion hanya menjawab dengan dalih, “Pertanyaanmu terlalu banyak.”
***
Di suatu tempat yang lain. Dengan penuh segala barang mewah, glamor, berkilau dan lain katanya lagi adalah tempat milik orang kaya. Entah siapa pemilik tempat tersebut, tapi yang pasti termasuk ke dalam orang yang penting.
Mendapat panggilan dari telepon nirkabel, seorang pria yang bernama Ken. Saint dengan kekuatan rantai yang sekilas mirip dengan kekuatan Ketua Dharmawangsa.
“Maaf menganggu, ada hal yang ingin saya sampaikan. Seorang pria yang memiliki kekuatan seperti kita telah menyusup. Mungkin kepalanya akan berharga karena dia cukup unik.”
“[Begitu. Tapi, Tuan Tidak sedang berada di rumah sekarang. Katanya ingin pergi ke pelelangan.]”
“Ya sudah kalau begitu. Tapi apakah ini akan berguna?”
“[Maksudnya?]”
“Pria itu memiliki mata mati. Seolah-olah tidak hidup.”
Klak!
Seseorang yang barusan dihubungi itu pun langsung menutup sambungan teleponnya. Ken menghela napas pendek seraya menaruh gagang telepon itu kembali ke tempatnya.