
Endaru yang tanpa kekuatan medan gravitasi, sungguh kuat. Orion tidak menyangka bahw Endaru juga melatih fisiknya dengan baik. Bahkan menjadi guru bagi Orion.
“Hei! Aku bilang jangan terlalu banyak berpikir! Dasar orang tua!” pekik Endaru.
“Mana mungkin aku tidak berpikir bagaimana cara menghindari semua pukulanmu! Bisa-bisa aku tumbang lagi!” sahut Orion sembari menjaga jaraknya dan tetap mengangkat lengan kirinya ke depan.
“Cobalah untuk membiarkan instingmu bergerak sendiri! Kau 'kan punya itu!”
“Tidak mau!”
Tentu saja Orion enggan membiarkan insting liar begitu. Lantaran takkan ia dapat mengandalkan hal konyol seperti itu. Karena pertarungan nyata akan berada di depan mata, kesadaran penuh dan hawa sekitar yang mendukung ataupun tidak.
Duakk!!
Walaupun menghindari serangan dengan tangkisan, tak dapat Orion mengelak dari serangan dari arah kanan, yang di mana tangan kanannya tidak bisa digunakan.
Namun Endaru terus menekannya dan membuat Orion terdesak karena kelemahan yang sangat jelas itu. Beberapa kali mengincar sisi kanan, mau tak mau Orion melompat mundur dan terus menjaga jarak.
“Bisanya menghindar! Coba lawan!”
Endaru sangat bersemangat, entah karena memang ada niat membantu atau entah karena suka menindas orang tua yang lemah.
“Baiklah kalau itu maumu, anak muda!”
Orion membalas serangan dari pukulan kiri lalu disusul tendangan lurus dengan memiringkan sedikit tubuhnya. Ujung kaki hendak menyentuh tengkuk kepala, akan tetapi seperti biasa Endaru selalu dapat menebak pola serang Orion.
“Sepertinya gerakannya cukup lemas untuk saat ini,” gumam Endaru seraya ia melangkah maju, mendekati Orion.
Dak! Bruk!
Endaru menjegal kakinya, lantas Orion jatuh tersungkur.
“Lengah,” ucap Endaru sembari mengulurkan tangan tuk membantu Orion beranjak dari sana.
“Aku memang begini. Sulit untuk memfokuskan sesuatu dalam satu titik. Meskipun satu percobaan berhasil, pasti besoknya balik lagi,” tutur Orion mengakui bahwa dirinya lemah dalam hal tersebut.
“Ha! Kau terlihat seperti anak sd yang lupa dasar dalam hitungan. Nah, sekarang aku akan mengajarimu menggunakan alat olahraga.”
Endaru mengajak Orion keluar dari ruangan latihan untuk menggunakan alat olahraga.
“Hei, aku juga bisa. Paling tidak push-up atau sit-up,” kata Orion.
“Aku tahu. Tapi melalui memori yang kau miliki, terlintas kau sering duduk di meja kantor. Jadi kupikir selain yang ku sebutkan, pasti kau tidak tahu alat-alat lainnya.”
“Memangnya aku membutuhkannya?”
Raut wajah Orion setelah menanyakan hal itu, entah kenapa terlihat seperti menyombongkan diri yang seolah-olah ia tidak membutuhkan alat-alat olahraga.
“Kau benar-benar tidak ada waktu, ya. Maaf,” ucap Endaru sembari menepuk pundaknya. Justru merasa simpati.
“Kau bilang apa sih? Hah, ya sudahlah. Ajarkan saja. Lagi pula aku sedang luang,” kata Orion sembari ia menghela napas.
“Bukankah kau berniat mengejar Chameleon?” singgung Endaru.
“Kalau kau sendiri?” Orion membalasnya dengan pertanyaan yang sama.
Yang pada akhirnya mereka terdiam dalam kecanggungan. Endaru tidak begitu menginginkan pembicaraan Chameleon lagi, lantaran itu membuat kenangan buruknya kembali terlintas.
Sebelum menggunakan alat-alat olahraga, Orion pemanasan bersama Endaru di atas matras. Keduanya masih terdiam kecuali Endaru memberikan instruksi pada setiap jengkal Orion.
“Sebetulnya olahraga itu penting untuk kesehatan. Hanya saja para orang dewasa sering mengabaikan karena pekerjaan yang menumpuk.”
Terdapat beberapa macam alat olahraga ringan di tempat ini, semua sudah Orion lalui dengan baik. Namun hasil latihannya masih sangat kaku, bukan karena gerak pada ototnya melainkan karena Orion tidak terbiasa dalam pertarungan.
“Sering-seringlah mampir kemari, Orion. Tenang saja, tubuhmu akan ku bentuk dengan mudah dan kau bisa mengimbangi Chameleon,” ujar Endaru.
“Ya, terima kasih. Ngomong-ngomong tentang Chameleon, aku berpikir bahwa dia adalah orang tuamu?” celetuk Orion tiba-tiba. Membuat Endaru tersentak.
“Tidak! Kau salah mengartikan apa yang kau dapat dari ingatanku.”
“Lalu siapa dia? Bisa kau jelaskan?” tanya Orion menatapnya serius.
“Chameleon, entah memakai cara apa dia merasuk ke tubuh Ayahku. Arutala berniat menghabisi Chameleon tapi justru membunuh Ayah. Begitu pun dengan Ibuku.”
Alasannya kini diketahui oleh Orion. Mengapa Endaru menyebut bahwa Gista Arutala lah yang membunuh kedua orang tuanya. Bukan Chameleon.
“Karena kau tahu. Maka aku boleh bertanya sesuatu tentang pria yang membunuhmu?” ujar Endaru bertanya seraya menyentuh kepalanya dengan jari telunjuk.
Berisyarat bahwa Endaru memiliki ingatan itu. Ingatan di mana ia melihat pembunuh yang membunuh Orion.
“Dia bukan siapa-siapa. Bukan kenalan dan hanya pembunuh bayaran. Puas?” jawab Orion agaknya sedikit ketus.
“Hm, begitu. Aku merasakan perasaan aneh saat melihatnya karena baru terlintas beberapa hari yang lalu,” ucap Endaru sembari berdeham.
“Aku cukup yakin kau sangat penasaran dengan kehidupanku begitu juga denganku yang sangat penasaran. Insiden di kota Y-Karta lebih tepatnya,” sindir Orion seraya duduk dan meluruskan kedua kakinya.
Sesekali ia merenggangkan kedua kaki dan tangannya. Di bagian mana ia merasa kaku pun, ia benahi sendiri.
Tangan kanan Orion pun sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Tetap berapi dengan kerak hitam yang mengerikan. Orion yang melihatnya saja sudah merasa jijik, lantas bagaimana jika dilihat oleh orang lain? Terkadang ia berpikir seperti itu.
“Orion! Lupakan masa lalu kita berdua! Kau fokuslah untuk meningkatkan kekuatan fisikmu,” kata Endaru. Seketika membuyarkan lamunan Orion.
“Tujuanku begini karena Chameleon. Memangnya kau sendiri tidak ada niat seperti itu? Setelah apa yang dilakukannya membuat orang tuamu terbunuh?” sahut Orion.
“Sudah kulakukan,” singkat Endaru.
“Apa?”
“Iya. Sudah aku lakukan tapi aku selalu tidak mendapatkan kesempatan. Bahkan dia selalu kabur dariku,” imbuh Endaru.
“Itu artinya kau tahu kalau dia terlihat seperti kebal?” tanya Orion.
“Daripada kebal, kata yang lebih tepat itu, "Monster yang tidak tahu rasa sakit", tahu.”
Sorot mata Endaru yang tajam, mengacu pada apa yang sebelum ini mereka bicarakan. Chameleon, musuh utama Organisasi utama NED.
Chameleon yang sering hilang jejak. Begitu juga dengan jejak kriminalnya. Dan bukti yang terlihat selain membuat manusia sebagai budaknya, yakni serbuk putih yang baru-baru ini ditemukan di markas Chameleon.
Endaru pun memiliki tujuan yang sama. Namun karena ia tidak bergabung dengan Grup manapun, menjadikannya bebas namun sulit untuk mencari jejak Chameleon sendiri.
“Orion! Sebelum kita menemukan Chameleon. Sepertinya aku harus belajar sesuatu darimu.”
Tiba-tiba Endaru bicara apa. Orion lantas bangkit dari lantai matras. Menatap wajah Endaru dengan wajah kebingungan.
“Ada apa dengan tatapan yang sok serius itu?”
“Aku 'kan sudah mengajarimu tentang dasar pertarungan, dan olahraga yang kau butuhkan. Jadi seharusnya aku mendapatkan imbalan, benar?” ujarnya seraya mengulurkan tangan ke depan.
“Ternyata ada maksudnya, ya.”
“Ajari aku soal hukum!” pinta Endaru dengan membara. Sontak Orion terkejut.