
Kenyataan bahwa ia tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk mati pun terhalang oleh anak perempuan yang kini diculik Chameleon. Dengan alasan yang berat seperti itu, Orion mengharuskan dirinya untuk menahan keinginan untuk mati. Serta mengindahkan apa yang barusan Dr. Eka katakan.
“Jangan berkata seperti itu lagi, Orion! Kau tak perlu mati. Kau hidup kembali karena inilah takdirnya, jadi terima saja!” pekik Endaru yang tak terima bahwa Orion menganggap mudah tentang kematiannya sendiri.
Drrrtt!
Ponsel Orion tiba-tiba saja berdering. Segera Orion keluar dari penginapan, ia mengangkat panggilan dari Mahanta yang bahkan hampir tengah malam ini.
“Apa yang terjadi? Kau di mana? Biarkan aku menjemputmu, kirimkan lokasinya.”
Suaranya tidak jelas, terkadang gemerisik entah suara apa sebenarnya. Namun setelah beberapa saat akhirnya Mahanta bicara.
“[Orion, aku menemukan tempat yang kau maksud.]”
“Mahanta? Tempat? Apa aku barusan mengirimkan sesuatu padamu?” Bingung yang dimaksud oleh Mahanta, tanpa menutup panggilan yang masih tersambung itu, Orion membuka pesan terakhir.
Pesan dari Orion sendiri terkirim pada Mahanta, bertuliskan lokasi di mana pemain kecapi muncul 3 bulan yang lalu.
“Ah, aku mengerti. Coba jelaskan. Tunggu! Kau ada di sana?!” jerit Orion seketika terkejut.
“[Tentu saja aku ada di tempat yang kau maksud itu. Kebetulan aku berada dekat di perbatasan karena banyak hal. Dan apa benar di sana ada rekan Chameleon?]” Mahanta bertanya.
“Itu 3 bulan yang lalu. Dan dia sudah berkhianat, Mahanta.”
“[Ya, apa pun itu. Aku sekarang berada di tanah yang kering, di sini banyak mayat.]”
“Siapa suruh kau pergi di malam begini. Lebih baik cepatlah pergi dari sana.”
Orion meminta Mahanta untuk segera pergi lantaran ini sudah larut malam. Jarum jam hampir menyentuh angka 12 sekarang, tengah malam akan datang.
Namun, Mahanta yang sudah terlanjur justru berkata, “[Sudah terlambat menyuruhku pergi. Lagipula aku sedang menelusuri jejaknya kalau bisa?]”
“Mana mungkin bisa. Ini sudah malam.”
“[Di ponsel juga ada senter.]”
“Maksudku bukan itu, Mahanta.” Orion kemudian menghela napas panjang, rasanya pikiran Orion makin hari makin berat saja.
Hanya memikirkan Mahanta pergi sendiri ke sana membuat Orion sakit kepala. Berkali-kali Orion memperingatinya karena cemas jika terjadi sesuatu maka Mahanta akan sulit saat meminta bantuan di sana.
“[Tenang saja.]” Tapi jawaban Mahanta pun tetap sama.
“Mahanta, kau masih berada di sana?”
Ketika Orion mengajaknya bicara lagi, tak terdengar jawaban Mahanta kali ini. Sunyi yang kadang terdengar suara mahkluk malam dalam beberapa waktu.
“Mahanta?”
“[Orion, bzzt! Ki—]”
Sebentar-sebentar suara Mahanta muncul dan juga suara seperti barang rusak terdengar secara bergantian. Orion merasa aneh dengan hal itu, sampai panggilan di antara mereka pun terputus.
“Sinyal lagi?”
Tanda sinyal di ponsel Orion setengah hilang lalu hilang seutuhnya. Semula Orion berpikir bahwa suara itu karena sinyalnya tetapi begitu Orion kembali menghubungi setelah sinyal muncul,
Ctak!
Tak ada suara Mahanta sama sekali, yang ada hanya suara seperti barang terlempar jauh lalu terputuslah panggilan itu lagi.
“Kenapa dengan Mahanta?”
“Tidak ada. Hanya saja, barusan aku dihubungi Mahanta karena dia menemukan tempat itu. Tapi entah kenapa sepertinya ada yang aneh,” jelas Orion.
Orion masih meragukan apa yang sebenarnya terjadi pada Mahanta saat ini. Ia tetap berpikir dengan tenang, bahwa hal ini terjadi hanya karena sinyal dan kondisi yang berada jauh dari tempat Orion sekarang.
“Maksudmu dia pergi sendiri?” tanya Endaru, ia kemudian keluar melompati jendela.
“Jangan asal lompat dari jendela, itu berbahaya Endaru.” Orion memperingati, memberi nasihat layaknya orang tua.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengulanginya,” kata Endaru.
“Kau masih ingat, tempat yang diceritakan si Gerhana itu? Tempat di mana dia menemukan rekan Chameleon 3 bulan lalu. Tempat itu katanya banyak mayat, Mahanta yang memberitahuku.”
“Eh? Maksudmu di sana ada pembantaian atau sejenisnya?” tanya Endaru lantas terkejut.
“Aku juga tidak tahu. Tapi firasatku buruk tentang ini,” kata Orion, ia menengadah ke langit.
“Firasat itu lagi? Sepertinya darah itu berguna sekali, ya.” Endaru menyindir.
“Ya, berguna sekali. Saking bergunanya banyak orang mengincar. Dan lagi mengingat ada sebagian orang di pelelangan Undergrown mengetahui tentangku. Entah mereka ingat atau tidak,” celetuk Orion menatap ke bawah.
“Kita bukan bagian dari negara ini. Bisa dipastikan mereka akan terus mengejar sama seperti Phantom Gank itu. Yah, kalau mereka ingat sih.”
“Kau, masuklah ke dalam, Endaru.”
Orion kemudian berjalan pergi dari sana. Endaru bergegas menyusul lantas bertanya, “Memangnya kau mau pergi ke mana?”
“Jangan pergi di malam hari, Orion!” pekik Dr. Eka dari jendela.
Langkah Orion terhenti karenanya, ia pun kemudian menoleh ke belakang dan menatap Dr. Eka dengan tajam.
“Kau mau menceramahiku lagi? Yang bahkan aku sendiri sudah paham?” tukas Orion dengan ketus, tampaknya ia sangat marah dengan Dr. Eka karena telah menyinggung anaknya sebelum ini.
“Jangan galak begitu. Aku hanya menyarankanmu untuk tidak pergi. Kau ...pasti ingin menjumpai Tuan Mahanta yang kekar itu 'kan?”
“Apa? Kau ingin pergi?” Begitu mendengar pernyataan Dr. Eka, sontak Endaru berwajah gelisah lalu bertanya pada Orion.
“Aku mengkhawatirkan Mahanta. Kau, masuklah Endaru.” Lantas, Orion membalikkan badan dan pergi.
Sekali lagi Dr. Eka yang masih berada di jendela itu mengingatkannya kembali akan kekuatan Orion.
“Baiklah. Terserah saja kalau kau ingin pergi, asalkan kau tidak melupakan saranku jangan sampai menggunakan kekuatan. Ingat, ini saran dari dokter pribadimu! Tubuhmu itu berharga, jadi jangan sampai mati!”
“Dasar, dokter itu merawatku hanya karena ada maunya,” gerutu Orion seraya mempercepat langkahnya pergi.
Orion memutuskan untuk pergi, meski saat ini sudah tengah malam. Malam yang sunyi dengan kesepian di sepanjang jalan. Tentunya akan sulit untuk menemui taksi bahkan bus yang jam operasional ditentukan.
“Paling-paling hanya ada bus pulang kampung dan belum tentu juga betulan ada di negara ini. Mungkin pilihan terakhirnya, menaiki kereta api ya?”
Tap, tap!
Orion berjalan di tengah perkotaan, sendiri di malam yang sangat sunyi. Ia berhenti ketika ia menemukan peta di madding besar. Beberapa letak kota dan perbatasan terlihat di peta tersebut, sehingga Orion pun mengerti arah jalannya.
“Sudah kuduga. Yang namanya perbatasan pasti letaknya jauh. Tapi kenapa Mahanta bisa sampai di dekat sana?” gumam Orion.
Perbatasan wilayah negara, lautan yang berubah menjadi daratan kering. Menurut apa yang dikatakan Mahanta, petunjuknya juga mengarah hal yang sama.
“Sebelum itu, aku harus cari kereta yang ke arah sana dulu.”
Setelah itu, Orion pun bergegas menuju stasiun. Lambat laut Orion merasa hawa semakin dingin, angin menerpanya sedikit lebih kuat dari yang biasanya. Kali pertama Orion merasakan hawa berbeda adalah hari ini, namun dirinya tidak begitu peduli asalkan ia dapat menjumpai Mahanta secepatnya.