ORION

ORION
Kenangan Buruk



Apa yang terjadi di depannya langsung. Mengingatkan Endaru akan masa lalu kelam. Di mana orang tuanya tertusuk oleh benda tajam. Persis seperti kejadian yang menimpa Orion malam ini.


Secara tak sadar itu membuatnya trauma. Trauma yang sudah lama menghilang kini kembali muncul dalam waktu yang tidak tepat.


Dan kali ini pun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Endaru yang melihatnya, berteriak histeris memanggil nama Orion. Sembari ia memapah tubuh Orion yang tengah terbaring itu, Endaru melepas dua sarung tangannya.


“Gravitasi 20x lipat!”


Begitu Endaru menyebutnya, tubuh musuh itu seketika terbanting ke jalanan dengan keras. Terasa getaran kuat yang tak mampu dihalaunya sehingga musuh itu pun tak sadarkan diri dalam waktu dekat karena kehabisan napas.


“Hei, Orion!”


Buak!


Suara yang berisik masuk ke telinganya dengan nyaring, reflek Orion meninju wajah Endaru. Perlahan ia membuka kedua matanya dengan penglihatan normal kembali.


“Orion?” panggil Endaru dengan terkejut heran seraya memegang wajahnya yang sakit.


“Suaramu terlalu berisik,” keluh Orion dengan dahi berkerut lalu duduk dan menatap seseorang yang tengkurap di depannya.


“Ha-habisnya kau terlihat seperti orang mati, Orion. Maka dari itu aku agak takut,” tutur Endaru gugup seraya memalingkan wajah.


“Aku tidak mati. Justru aku kembali sehat setelah serangannya barusan.”


Yang Orion katakan itu jujur. Lantaran sumber listrik yang menyengat ke sekujur tubuh luar dan dalamnya secara tak langsung membuat saraf Orion kembali berfungsi.


Padahal saat itu racunnya sudah menyebar luas. Menjadikan Orion tidak bergerak dan tidak bisa melawan lagi. Namun berkat kekuatan yang dimiliki oleh musuh mereka, justru membuat sarafnya terhubung kembali.


Meski ada efek kejut di bagian jantung Orion. Namun itu bukanlah masalah. Karena kekuatannya tidak separah yang ia duga.


Saat ini pun detak jantung Orion berdebar kencang.


“Karura, apakah tubuhku tidak ada masalah?” tanya Orion pada Karura dengan suara lirih.


“Sejauh ini tidak masalah,” jawab Karura.


Ia melihat ke sekeliling, tiada kehadiran seorang pun kecuali mereka. Karena satu-satunya musuh ini terlihat lebih sehat dari musuh lain, Orion memutuskan untuk membawanya dengan mengikat tubuhnya menggunakan cincin api.


Api yang membentuk lingkaran. Bisa diibaratkan ganti dari seutas tali.


Lalu Orion beralih pada Endaru yang kini tersungkur lemas dan selalu menundukkan kepala ke bawah.


“Endaru, apa kau kaget karena barusan terjadi sesuatu padaku? Atau karena kejadiannya begitu mirip dengan orang tuamu dulu?” tanya Orion.


“Iya.”


“Seperti yang kau katakan sebelumnya. Kenapa kau selalu mencemaskan orang lain? Beda lagi kalau aku orang tuamu.”


“Tapi kau ini begitu mirip dengan mendiang Ayahku. Mana mungkin aku tidak cemas,” kata Endaru sambil bangkit dari duduknya.


“Hah, sudah kuduga.” Orion menghela napas panjang.


“Apa? Kau menduganya?” tanya Endaru tidak percaya.


“Ya, aku sudah menduganya saat melihat foto keluargamu. Ah, maaf aku melihatnya karena penasaran. Maaf,” ucap Orion merasa bersalah.


Endaru sama sekali tidak menjawab apa-apa. Ia tetap menundukkan kepala dalam-dalam. Endaru terlalu murung, ini tidak seperti biasanya. Orion cukup memahami bahwa Endaru saat ini sedang terngiang-ngiang akan kejadian masa lalu yang kelam.


Menasehatinya juga rasanya percuma saja. Di samping Orion tidak bakat untuk melakukan hal itu, Orion juga tidak pantas. Karena hanya sepotong ingatan Endaru bukan berarti ia memiliki sikap empati untuk ditujukan kepadanya yang seolah-olah Orion memahami perasaannya.


“Untuk akhir-akhir ini maafkan aku, Orion. Aku sudah bersikap kasar, semena-mena terhadapmu. Lalu begitu aku teringat sikap Ayahku yang mirip denganmu, aku tiba-tiba menyuruhmu untuk ini dan itu,” celoteh Endaru dengan sedikit tawa hambar.


“Dan terima kasih karena kau sudah mau mengerti aku,” imbuhnya.


Namun dalam benaknya Orion berpikir, “Harusnya aku yang berterima kasih. Berkatmu aku jadi ragu apakah bunuh diri lagi itu tindakan yang tepat buatku atau tidak.”


Tentu saja, keyakinan Orion dalam hal bunuh diri seperti yang biasa ia lakukan di kehidupan sebelumnya mulai berkurang seiring waktu. Apalagi setelah bertemu dengan Endaru, yang terkadang menjengkelkan dan juga suka mencandai orang tua.


Memang sikap Endaru begitu mengesalkan. Tapi Orion sangat menghargai waktunya ketika bersama dengan Endaru. Saat-saat yang menyenangkan, jarang sekali Orion memiliki kebahagiaan jadi membuatnya rindu.


“Hei, apa kau akan murung terus? Itu tidak baik. Ayo cepat pergi sebelum seseorang datang lagi. Di sekitar sini banyak musuh, 'kan?”


Orion mengangkat tubuh pria yang sudah terikat dengan cincin api yang tidak akan membuat tubuhnya terbakar.


“Mau ke mana?”


“Tentu saja untuk ke bar itu lagi. Maksudku, aku sempat ke sana karena dikejar dua orang. Tapi tenang saja, mereka sudah tidak sadarkan diri. Mungkin mereka sudah dibawa oleh mobil ambulan sekarang.”


Sesampainya di bar 24 jam. Kursi dan meja yang berantakan, tak ada satu pun pelanggan di sana. Sangat sepi kecuali seorang bartender yang tengah duduk meringkuk sembari menggigil ketakutan di balik meja.


Sisa-sisa benang masih melekat. Namun cahayanya makin meredup.


“Harusnya kekuatan itu terhubung dari energi dia sendiri. Jangan bilang dia melepaskan sisa energinya keluar makanya benang ini masih melekat pada dinding.”


“Apa yang kau bicarakan Orion?” tanya Endaru.


“Berhati-hatilah. Jangan pegang sisa benangnya karena itu beracun.”


“Apa? Uh, untung saja aku tidak jadi memegangnya!” Endaru terkejut.


“Iya, ini sangat beracun. Tapi hanya melumpuhkan syaraf saja,” kata Orion sembari menyentuh helai benang dengan jari tangan kanannya.


Srkk, srkk!


Api kecil membakar setiap helai benang yang tersisa dengan rapi. Sampai menyisakan sedikit abu berjatuhan ke lantai.


“Huh, Api Abadi ini cukup berguna juga.”


Orion menghampiri bartender itu lantas memberitahukan bahwa keadaan sudah aman. Namun nampaknya bartender sangat syok. Sampai ia tidak bisa bergerak dari tempat persembunyiannya.


“Anda tidak apa-apa?”


Berulang kali Orion mencoba untuk mengajaknya berbicara.


“Ini sudah aman. Untuk sekarang tidak akan ada orang yang datang membuat kekacaun,” imbuh Orion.


Dan tidak satu pun jawaban terdengar. Orion menghela napas panjang, merasa lelah dengan ini semua.


Ia kemudian mengambil jubah anti api miliknya lalu memakainya kembali untuk menutupi lengan kanan.


“Ini jam berapa, ya?”


“Sudah jam 2 dini hari. Hari sudah berganti, Orion.” Endaru menjawab.


“Ternyata sudah pagi?” Orion merasa tak percaya bahwa hari sudah terganti. Malam penuh berbintang kini digantikan oleh pagi-pagi buta.


“Orion, tadi apa kau tahu kalau terjadi kecelakaan di dekat jalan hotel?” tanya Endaru mengganti topik pembicaraan.


“Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kecelakaan beruntun yang tidak wajar telah terjadi di larut malam.”


Seketika Orion terkejut setelah menjelaskan situasi yang ia lihat sebelumnya. Orion teringat satu hal aneh di malam yang larut, saat itu.


Ada lelaki bersepeda.


“Tidak mungkin kalau dia sedang berjalan-jalan di tengah malam.”