
Sejak tadi, situasi sudah kacau. Tidak, mungkin sudah kacau semenjak masuk ke dalam perangkap Chameleon yang besar. Negara dengan hukum liberal ini juga akan menguntungkannya, menguasainya pun jauh lebih mudah dari negara Id. Tentunya, akan menjadi pertaruhan nyawa apabila Chameleon selalu bersama dengan anak buahnya.
“Betapa menyebalkannya, kenapa harus sekarang? Ah, tidak. Musuh tidak akan menunggu. Tapi, Pahlawan Kota yang paling sulit dikendalikan sekarang.”
Berbagai masalah datang beruntun tak wajar, seakan hakim datang untuk menghukum mereka semua. Bagai kapal karam, ujung masalah jadi sulit diselesaikan.
“Tunggu!”
Pada akhirnya, janji temu pada semua anggota NED di stasiun mungkin akan sedikit terhambat. Khususnya pada 3 laki-laki, Endaru, Mahanta lalu Ketua Irawan. Ya, apa lagi alasan mereka terhambat selain mencoba untuk menghentikan kekacauan yang dibuat oleh Endaru hingga saat ini.
“Hei!”
“Apa, sih? Tidak bisa ya membuatku tenang sejenak?”
“Jangan melarikan diri! Ayo, cepat kembali! Kita harus ke stasiun sekarang!”
“Apa? Kalian saja, aku akan mengurus bagian pria itu!”
Percakapan pun jadi serasa hampa, perkataan Mahanta saja tak didengarkan, apalagi Ketua Irawan yang sama sekali tidak pernah mau adu mulut dengannya.
“Pemain Kecapi itu larinya sangat cepat ya. Kalau tidak salah kekuatannya adalah memainkan musik?” gumam Endaru.
Endaru semakin mempercepat laju larinya agar tak tertinggal jauh oleh Pemain Kecapi yang lebih gesit, juga sempat Endaru berhenti sehingga membuatnya nyaris kehilangan jejak pria tersebut.
Di satu sisi, Pemain Kecapi kewalahan. Ia jadi kesulitan berpikir karena panik dikejar oleh Endaru. Entah bagaimana nasibnya, bahkan mencari jalan keluar saja susahnya minta ampun. Banyak halangan di segala sisi, sehingga membuat Pemain Kecapi sulit mengambil langkahnya.
“Minggir!” pekik Pemain Kecapi yang kemudian bersembunyi di balik gedung besar.
“Aku melihatnya! Kau!”
Pemain Kecapi berdecak kesal, ketika mendengar teriakan Endaru yang tak jauh darinya. Bergegas ia kembali berlari dengan napas yang masih berat rasanya.
Karena mengejarnya terus-menerus tidak akan membuat urusannya cepat selesai, Endaru lantas mengeluarkan senjata api yang ia punyai.
Meski sebenarnya ia ragu untuk menggunakannya, sebab ini pemberian dari musuh, kawan sementara.
“Kalau ini berguna, tapi kalau aku salah tembak bagaimana?” gumam Endaru resah.
Sejenak ia terdiam dalam kebisingan para warga yang sejak tadi sibuk berkomplain hingga melemparkan batu ke arahnya. Walau Endaru dapat menghindari semua bebatuan yang terlempar dari segala arah, tetap saja Endaru masih dalam kebingungannya sendiri.
“Jangan ragu!”
Ia mulai kembali bersemangat. Dengan Mahanta yang sudah kembali mengejar bersama Ketua Irawan. Secepatnya Endaru mengarahkan senjatanya pada target dengan berhenti bergerak di dalam gang.
“Tunggu, kau tidak akan bisa lolos dariku,” ucap Endaru.
Dor!
Satu tembakan melesat cukup jauh, yang seharusnya tidak bisa sejauh itu namun itu bisa dilakukan karena kekuatan Endaru. Mengubah daya gravitasi pada apa yang ia tembak, dan dengan kecepatan yang ia bisa lakukan akhirnya dapat menembus tulang kaki bagian bawah pria itu.
Sontak saja Pemain Kecapi itu terkejut, kakinya terasa berat dan lemas. Lalu ia pun ambruk di tengah jalan yang berada di seberang sana.
“Dapat juga! Beruntung saja aku tak membidik kepalanya langsung,” ucap Endaru merasa senang.
Namun, hanya karena suara melengking itu membuat seluruh penduduk yang berada di sekitar mereka juga sama terkejutnya. Bertanya-tanya apa yang terjadi dalam rasa takut.
***
Air Mancur, dekat Museum. Bagian, halaman depan.
Terdapat banyak orang di hari cerah ini, termasuk Ketua Meera yang baru saja sampai ke kota NY dari kota S-Frans. Dirinya masih berada di sana, karena hanya teringat tempat itu saja. Dan berharap seseorang akan datang, seseorang yang ia kenal.
“Jika dipikir kembali, Orion ...Orion yang dewasa atau yang anak kecil ya? Tapi kalau menyangkut Ade, bukankah itu berarti pria yang besar itu?”
Tak lama ia menunggu di dekat sana, Ramon dan Runo yang hendak pergi ke stasiun pun harus berhenti lantaran mengenali sosok wanita yang tengah duduk di kursi panjang itu.
Ramon dan Runo bergegas menghampirinya walau agaknya mereka ragu.
“Permisi, apakah itu Anda, Ketua Raiya?” tanya Ramon.
“Raiya ...Meera ...ya, itu namaku. Tapi siapa kalian?” Dan inilah yang membuat Ramon dan Runo takut, bahwasanya Ketua yang mereka kenali saat ini masih dalam kondisi lupa ingatan.
“Maafkan saya.”
Ramon dan Runo saling bertukar tatap dengan maksud apa yang harus mereka lakukan mulai sekarang.
“Bagaimana ini?”
“Hubungi Pak Mahanta saja,” kata Runo.
Ketika keduanya saling menganggukkan kepala, bermaksud memberitahukan hal ini pada lainnya, tiba-tiba saja Ketua Meera meraih tangan Ramon.
Dan berkata, “Apa kamu mengenali seorang pria bernama Orion atau Mahanta? Atau Nona Gista Arutala?” tanya Ketua Meera.
“Eh, ya. Kami mengenalinya.”
Ramon dan Runo kembali berpikir bahwa Ketua Meera hanya tak mengenai mereka berdua. Langsung saja dua anak magang itu mengatakan sesuatu padanya guna memastikan hal lebih.
“Ketua Raiya, kami hendak datang ke stasiun—”
“Ya, selain itu. Aku ingin bertemu dengan mereka. Bisakah kalian berdua mengantarkan aku?”
“Permisi, Ketua Raiya. Saya ingin memberitahukan sesuatu, bukankah Anda sebelumnya berada di kota Cal-Forn?”
“Ya, aku berada di sana sebelumnya tapi aku secepatnya berada di sini karena aku harus bertemu dengan Nona dan lainnya, karena ada banyak hal yang harus aku katakan.”
“Anda menggunakan kereta?”
“Ya.”
“Lalu, apakah Anda tidak melihat anak perempuan yang bernama Madeira?” tanya Runo sekali lagi.
Ketua Meera tersentak, ia kemudian berpikir kembali dan mengingatnya apakah ia melewati sesuatu. Memang benar bahwa ia sudah ingat sebagian, terkait bawahan Chameleon dan Ade, anak perempuan yang ia lindungi mati-matian.
“Benar, kalian tahu itu?”
“Sebenarnya, saya mendapat kabar dari Ketua Irawan yang mendapatkannya dari Ketua Arutala, mengenai pesan Pak Orion. Dia sudah berada di markas Chameleon sedangkan putrinya, Ade ada di stasiun sekarang.”
“Apa? Tapi aku tidak melihatnya.”
Ketua Meera jadi bingung, ia sudah terlanjur pergi dari stasiun dan sekarang ia berada di kota NY.
“Ini ...”
“Tunggu, kenapa kalian berdua mengetahui Ade? Jangan bilang!”
Ketua Meera mendadak jadi waspada. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya lantas bergerak menjauh dari mereka berdua.
“Tenang Ketua Raiya, kami berdua adalah anak magang yang berada di bawah Pak Orion juga Ketua Arutala. Saya pikir, Anda mungkin masih tidak bisa mengingat keberadaan kami,” ucap Ramon menjelaskan dengan sedikit panik.
“Kau pikir aku akan percaya?” Nada suaranya berubah, jelas Ketua Meera akan melakukan penyerangan begitu salah satu dari mereka akan bergerak sedikit saja.
“Hei, ingat tugas kita pada Ketua Irawan! Jangan lembek hanya karena berhadapan dengan seorang wanita,” ketus Ramon seraya menepuk punggung Runo.
“Dia ketua, bodoh!” gerutu Runo.
***
“Akhirnya aku berhasil menangkapmu!”
Endaru tersenyum menatap Pemain Kecapi yang telah berada dalam genggamannya. Ia kesulitan bergerak karena lubang di kakinya, serta pecahan timah yang masih menancap di otot-ototnya membuat ia sangat kesakitan.
“Maaf aku harus menembakmu, tapi tak apa. Kau tidak akan mati,” kata Endaru.
Berhubung di tengah jalan raya akan menyebabkan kemacetan serta kericuhan yang dipicu olehnya sendiri, Endaru segera berpindah tempat ke gang kecil seraya membopong Pemain Kecapi.
“Hei, turunkan aku!”
“Ya, ini aku turunkan,” kata Endaru sambil menyandarkannya ke dinding.
“Apa tujuanmu? Kenapa kau tidak bunuh saja aku?” tanya Pemain Kecapi dengan bengis.
“Intinya aku menangkapmu agar dapat menemui Orion.”
Pemikiran Endaru, Orion yang berada di sisi musuh sekarang, bukan berarti keberadaannya akan sulit ditemukan. Berbagai Saint atau Pejuang NED yang berada negeri GL ini tidak dapat sepenuhnya ia percaya, karena itulah mengapa ia menangkap Pemain Kecapi yang diinginkan oleh Gerhana Bulan yang mungkin saja mereka sejak awal sudah berkomplot dengan Chameleon.
“Apa maksudmu? Itu tidak masuk akal. Dan Orion? Ternyata dia benar-benar berada di sini ya. Tapi apa urusannya denganku? Aku sama sekali tidak tahu keberadaannya.”
Apa yang dikatakan oleh Pemain Kecapi itu benar.
Sembari merogoh isi saku celananya guna mengambil ponsel miliknya, ia berkata, “Memang tidak ada hubungannya denganmu. Tapi seseorang yang menginginkanmu pasti tahu tentang dia.”
“Maksudmu aku dijadikan barang yang akan ditukar? Hei, bocah! Jaga bicaramu ya! Aku bisa saja menyerangmu sekarang!” ketus Pemain Kecapi.
“Ya, ya. Serang saja aku! Kau yakin kau bisa? Aku sendiri tidak yakin,” ucap Endaru mengejek.
“Persetan ...,”
Tak ada untungnya memaki bagi pria yang telah terluka. Nyatanya ia memang sulit bergerak, bahkan menggunakan kekuatannya saja kesulitan. Meski mudah untuk kabur pun, Pemain Kecapi yang pintar pasti tahu bahwa Endaru akan mudah menangkapnya dalam keadaan pincang seperti ini.
“Cih, terserah kau saja!”
“Tapi, berhati-hatilah. Nanti kau akan berhadapan dengan si bunglon psikopat itu,” kata Endaru seraya mendekatkan layar ponselnya ke dekat daun telinga.
“Apa?!”
“Halo?”
Endaru menghubungi kontak Gerhana Bulan, dan itu diangkat dalam waktu singkat. Kemudian Endaru menyeringai, ia merasa waktunya dihargai karena panggilannya diangkat begitu mudah dan cepat oleh si Tuan Gerhana Bulan langsung.
[“Ada apa?”]
“Kalian, maksudku kau ingin Pemain Kecapi bukan? Aku menangkapnya di sini, kota NY.”
[“Kerja bagus. Tapi, aku ingin kau pergi bersamanya ke dekat Air Mancur Museum. Di sana ada Saint bernama Ken yang akan memandu jalanmu ke sini.”] Gerhana Bulan menjelaskan.
“Heh, sudah kuduga kau tidak akan lama-lama menyembunyikan tentang fakta bahwa kau dan Ken itu bekerja sama,” sindir Endaru mentah-mentah.
[“Karena aku sudah tahu bahwa kau bukan tipikal orang yang mudah percaya.”]
“Seharusnya aku berterima kasih pada Orion, tapi sayangnya dia ditangkap. Aku harap tentang kesepakatan di antara kita bisa diubah sedikit,” ucap Endaru.
[“Kemarilah lebih dulu, Tuan Sombong.”]
Percakapan di antara Tuan Gerhana Bulan dengan Endaru cukup berjalan lancar meski rasanya Endaru sedikit terganggu. Bila ini adalah jebakan, Endaru tentu tahu apa yang harus ia lakukan ke depannya.
“Tunggu saja kau, bunglon psikopat,” maki Endaru sesaat setelah ia menutup teleponnya.
Seseorang datang dan merebut ponsel Endaru tepat setelah percakapan telepon berakhir.
“Hei, apa yang kau lakukan?!” amuk Endaru.
“Aku mengambilnya karena takut akan disadap oleh seseorang, Endaru. Aku cukup yakin kau sedang berbicara dengan orang penting,” tukas Mahanta.
“Jika benar kenapa? Aku sudah selesai, tidak ada gunanya mengambil ponselku, kembalikan!” teriak Endaru seraya ia berusaha untuk merebut kembali ponsel dari tangan Mahanta.
Namun, Mahanta tidak mengijinkannya, bahkan ia juga mematikan ponsel milik Endaru guna mencegah hal-hal buruk terjadi.
“Hei, kau. Pemain Kecapi! Kau itu mantan anggota dari kelompok Chameleon bukan?” tanya Mahanta memastikan.
“Kalian sudah tahu, tapi kenapa masih bertanya?” sahutnya jengkel.
“Ada seseorang yang mencari-carimu di kota ini, lebih tepatnya aku menemukan orang itu saat berada di luar museum. Dia mengenalmu sebagai Antonio,” kata Mahanta.
“Apa? Antonio? Itu namanya?” tanya Endaru terkejut.
“Oh, ada yang mencariku selain Chameleon?” Bukannya merasa gelisah ia justru tersenyum.
Pemain Kecapi itu kemudian kembali bertutur kata, “Hei, anak muda! Bocah bau susu ini membuatku harus berhadapan dengan Chameleon lagi. Jika kau ingin aku mengatakan sesuatu tentang identitasku, maka kau harus menjauhkanku dari Chameleon.”
“Intinya kau ingin lepas dari dia. Tapi sayangnya itu mustahil. Teleponnya sudah terputus, mustahil jika kami berkata bahwa kau telah lolos dari kami. Itu tidak masuk akal dan sulit dipercaya,” ujar Mahanta.
Kata-kata Mahanta ada benarnya, Endaru menganggukkan kepala selama beberapa kali lalu ia menatap Pemain Kecapi dengan tatapan sinis.
“Aku juga tidak peduli siapa dirimu, yang terpenting aku ingin mendapatkan informasi tentang Chameleon juga Orion,” kata Endaru.
“Tunggu sebentar, Endaru. Aku tadi memang berpikir bahwa kau mengobrol dengan orang penting lewat ponsel, tapi siapa?”
“Aku menghubunginya agar dapat bertukar dengan menggunakan dia,” kata Endaru sambil menunjuk Pemain Kecapi.
“Apa? Tu-tunggu sebentar! Aku ...,” Kalimatnya terjeda lantas ia jadi banyak pikiran dan sulit untuk mengaturnya dalam waktu singkat.
“Jangan bilang padaku bahwa kau akan menemui dia dengan membawanya. Dan dia tahu bahwa kau sebenarnya juga mengincar Chameleon?”
“Aku tidak mengerti kalau kau yang bicara, Mahanta. Intinya, orang yang bernama Gerhana Bulan telah bersepakat denganku dan Orion ...”
Mula-mula Endaru menceritakan kejadiannya. Semua itu berawal dari Saint bernama Ken, yang kemudian Endaru dan Orion digiring masuk ke Gerhana Bulan, organisasi lain, Saint lainnya. Di sana mereka bersepakat, jika Endaru dan Orion menemukan Pemain Kecapi maka Gerhana Bulan akan memberikan informasi tentang Chameleon.
Namun, berhubung Orion sudah jatuh dalam genggaman Chameleon dengan sendirinya. Dari situ Endaru mulai berpikir, Gerhana Bulan atau bahkan Ken sudah pasti berkomplot dengan kelompok Chameleon.
“Karena itu, aku tetap akan membawa Pemain Kecapi ke sana lalu menemukan Orion darinya,” kata Endaru sekali lagi memperjelas semuanya.
“Karena itu?! Hei, Pahlawan Kota! Apa kau tidak waras? Jika benar asumsimu itu, maka si Gerhana Bulan itu pasti akan memberitahukan kedatanganmu pada Chameleon,” pekik Mahanta. Ia ingin membuat Endaru berpikir dua kali sebelum bertindak.
Tapi Endaru justru hanya menganggukkan kepalanya lantas berkata, “Ya, aku tahu.”
“Tahu apanya?” Mahanta mengguncangkan tubuhnya dengan kedua tangan, kesal karena Endaru selalu bertindak impulsif meski akalnya kerap kali digunakan dengan baik.
“Kau bisa tamat, kau mengerti?!” amuk Mahanta.
Endaru menghela napas sebelum akhirnya ia bicara, “Itu sih urusan belakangan.” Dengan mudahnya ia berkata begitu.