ORION

ORION
Berlatih Bersama Endaru



Setelah mengantarkan anak itu kembali ke rumah dengan selamat. Orion dan Endaru pergi namun entah ke mana.


“Sepertinya tujuanmu sudah tercapai ...satu?” ujar Endaru.


“Aku kembali berkat Api Abadi. Sebelumnya penguasaanku terhadap Api Abadi masih sangat kurang tapi ketika aku berhadapan dengan maut, barulah Api Abadi sepenuhnya dapat ku gunakan, aku kuasai ataupun aku kendalikan,” jelas Orion.


“Oh, itu sepertinya sulit. Kau juga ingin mati,” sindir Endaru.


“Hei, Endaru! Menurutmu aku ini seperti apa?”


Tiba-tiba Orion menanyakan hal ambigu seperti itu. Endaru terkejut lantas ia terdiam, berhenti melangkahkan kaki lalu menoleh dan menatap Orion dengan wajah bingung.


“Apa?”


“Maksudku, menurutmu aku sekuat apa di matamu?”


“Sepertinya kepalamu terbentur cukup keras,” ujar Endaru seraya melihat kepala Orion lebih dekat.


“Hei! Aku sedang bicara serius!” pekik Orion sembari menghindar darinya. Keningnya lagi-lagi berkerut.


“Yah, menurutku kau cukup kuat. Apalagi saat kau berada dalam wujud seorang dewasa. Kekuatanmu bukan main, api-mu juga berwarna merah dan itu terlihat seperti api neraka,” tukas Endaru sejujur-jujurnya.


Mengingat terakhir kali mereka bertarung, Endaru mengakui bahwa melawan Orion dalan wujud dewasa itu sungguh merepotkan. Baginya, tidak hanya wujudnya yang berubah melainkan seluruh kekuatannya.


“Jika dinilai, itu sangat kuat. Aku bahkan sampai harus melepas jas panjang ini agar kelipatan gravitasi dapat memadamkan api mu,” imbuh Endaru.


“Tapi aku tetap bisa melawan Chameleon. Seimbang saja tidak, malah aku terlihat seperti serangga,” kata Orion merendahkan diri.


Orion merasa dan sesuatu yang kurang. Menilik dari raut wajah Orion saat ini, tampak Endaru mengerti permasalahannya.


“Aku tahu. Sepertinya itu karena kau terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuatanmu. Alhasil kekuatanmu jadi menyebar ke mana-mana,” sahut Endaru.


Orion kembali teringat, ketika ia tak sengaja melukai seseorang sebelum ini. Ia yakin bahwa tenaga fisiknya pun jauh lebih kuat dari sebelum ia mengalami kebangkitan.


“Tapi kalau seharusnya begitu. Seberapa kuat Chameleon?” tanya Orion dengan wajah panik.


“Chameleon memang kuat. Tidak seharusnya kau melawan dia. Lalu, ada satu hal yang menjadi kekurangan dalam kekuatanmu. Selain mengeluarkan api berlimpah sehingga menyulitkanmu mengendalikannya,” tutur Endaru.


Ia kemudian menatap Orion dengan sebelas alis yang terangkat. Orion terdiam lantas bertanya-tanya apa yang menjadi kekurangannya selama ini.


“Kau ceroboh dan juga terlalu tergesa-gesa juga terlalu banyak berpikir.”


“Eh?”


Orion sama sekali tidak memperhatikan hal itu. Ia tertegun dan ia kembali memikirkan sesuatu yang rasanya tidak perlu dipikir panjang.


“Kau pasti bertanya-tanya, "Apakah itu kekuranganku karena itulah aku merasa lemah dari yang lain?", hm, aku cukup tahu apa yang kau pikirkan saat ini.”


Perkataan Endaru tepat sasaran. Orion tersentak karena pola pikirnya mudah ditebak.


“Banyak orang berpikir, cukup dengan kekuatan ini maka semua musuhku akan kalah.”


Maksud dari perkataan Endaru diibaratkan sebagai dialog, "Aku kuat, jadi tidak perlu berlatih!"


Kalimat itu cukup sombong dan semena-mena karena mereka memiliki kekuatan. Nyatanya ada banyak Pejuang NED yang berpikir congkak seperti ini.


“Perlu aku ingatkan sekali lagi padamu, Orion. Selain kekuatan yang kita dapatkan setelah masa kebangkitan. Kau juga perlu meningkatkan kekuatan fisik, tubuhmu!” tegas Endaru.


“Tapi aku barusan menghancurkan tulang seseorang tanpa sengaja. Jadi kupikir aku tidak perlu melatih ototku,” pikir Orion yang sederhana.


“Ahaha, itu benar. Dia pasti sudah g*la. Masa' perut berlubang masih hidup?” gerutu Orion.


“Ya, jelas. Chameleon memiliki kekuatan yang tidak masuk akal. Ditambah lagi dia jarang menggunakan kekuatannya dan kebanyakan dia mengalahkan lawan hanya dengan kekuatan fisik.”


Plak!


Endaru memukul punggung Orion lalu berkata, “Selain strategi, kekuatan asing yang kita miliki semenjak kebangkitan, kau juga harus meningkatkan kekuatan. Seolah-olah kau harus berlatih untuk ikut turnamen bertarung semisal tinju.”


“Aku harus berolahraga, ya?” celetuk Orion.


“Tenang saja. 'Kan ada pakarnya di sini! Aku akan membantumu berlatih. Begini-begini aku ini sering ikut turnamen pertandingan gulat loh,” ujar Endaru menyombongkan diri.


***


Sesuai yang Endaru katakan, Orion dibawa ke suatu tempat. Di mana banyak alat-alat olahraga serta ruangan yang digunakan berlatih. Tempat itu bahkan tidak ada seorang pun di sana, sangat sepi.


“Ini tempat pribadiku! Nah, sebelum itu, aku akan memastikan seberapa kuat sampai kau bisa menghancurkan tulang orang.”


Terang-terangan sekali. Sejujurnya Orion sangat malu, enggan ia berlatih dengan Endaru yang lebih muda darinya. Dari segi pandang orang dewasa, ini sudah seperti menginjak harga dirinya.


“Oh, iya. Aku tadi sempat melihat ada api yang keluar dari balik pakaianmu. Apa yang terjadi?” tanya Endaru sambil menunjuk tangan kanannya yang tertutup.


“Ah, ini. Tangan kananku permanen menjadi bara api. Kau akan terkejut jika melihatnya. Jadi tidak kusarankan.”


“Oh ya sudah. Aku mungkin akan jijik jika melihatnya,” ucap Endaru yang secara tak langsung menyinggung perasaan Orion.


Klak! Endaru membuka pintu ruangan. Memperlihatkan luasnya ruangan tanpa ada apa-apa. Kosong seperti ruangan tak pernah dihuni.


“Endaru. Tangan kananku tidak bisa aku gunakan. Jadi aku hanya bisa berlatih denganmu dengan memakai satu tangan kiriku. Tidak masalah?”


“Hm, aku sih tidak masalah. Tapi itu merugikan dirimu. Kenapa tidak gunakan keduanya saja? Aku tidak akan melihatnya.”


“Tangan kanan ini tidak hanya berubah melainkan kekuatannya juga diluar nalar. Sekali sentuh akan menjadi abu,” jelas Orion.


“Astaga. Itu mengerikan,” lirih Endaru dengan mata terbelalak.


“Selain tangan. Kau juga bisa menggunakan kaki. Ayo cepat,” imbuh Endaru yang tiba-tiba melupakan topik mengerikan sebelumnya.


Mereka berlatih tanding dalam ruangan. Melatih kecepatan, ketangkasan dan berpikir lebih cepat.


Endaru yang hanya menggunakan saja tangan saja sudah sekuat ini, bisa membuat Orion tak berkutik. Kecepatan serta kekuatannya dalam menyerang, seperti ketika Orion sedang melawan batu yang bergerak.


Beberapa kali mereka saling menyerang dan menangkis secara bersamaan. Orion sedikit menemukan celah namun memutuskan untuk melangkah mundur seraya menggunakan tendangan mengarah bagian kepala Endaru.


Dap!


Orion kembali menyeret langkahnya mundur setelah Endaru menahan kakinya dengan lengan namun pandangannya tetap tertuju pada Orion.


“Kenapa tidak memanfaatkan celahku?” tanya Endaru.


“Kau pikir aku bisa? Aku juga tahu kalau kau sedang sengaja memancingku dalam pertarungan ini.”


“Secara insting dan refleksmu memang bagus. Tapi celah di setiap bagian tubuhmu terbuka,” ucap Endaru lantas melesat dan mengincar beberapa titik celah Orion.


Perut, pinggang dan pundak kanan. Orion tersentak dan sulit mengelak. Ia nyaris terjatuh karena tak seimbang.


“Sudah kuduga. Kau terlalu banyak berpikir. Dan, kau menggunakan semua ototmu. Padahal kau hanya perlu menguatkan bagian tubuh bawah dan kepalan tinju.”