
Bersembunyi dalam diam. Orion setidaknya berharap untuk hari ini saja menjadi hari tenang.
Tapi,
Tok, tok!
Terdengar suara ketukan pintu pada bar ini. Sehingga Orion pun mulai bersembunyi di balik meja bartender. Tidak lama kemudian pintu bar terbuka pelan lalu masuklah dua orang pria yang berpakaian tertutup.
Orion menaruh jari telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan pada bartender untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada mereka yang baru saja masuk.
Situasi yang cukup dingin mereka semua rasakan. Terutama para pelanggan yang dapat dihitung dengan jari, mereka merasakan ancaman yang kuat begitu dua pria itu datang dengan sopan.
“Karura, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu tehadapku? Pandanganku buram. Aku takutnya tidak bisa melihat karena racun ini,” pinta Orion dalam benaknya pada Karura untuk melakukan sesuatu terhadap racunnya.
“Mana mungkin aku bisa, bodoh. Cairan asing itu juga aneh. Bertahanlah dulu,” jawab Karura yang membuat Orion sangat kecewa.
Akhirnya Orion mencoba untuk memofokuskan diri, dengan mendengarkan suara langkah kaki yang kian mendekat.
Selang beberapa saat suara langkah kaki berhenti. Mereka berdua duduk di depan meja bartender itu langsung serta menatap tajam ke arah si bartender.
“Paman! Apakah pernah melihat seseorang yang baru masuk ke sini? Dia pria yang lengan kanannya tertutup jubah hitam.” Salah satu dari mereka bertanya.
Sebelum menjawab, bartender itu melirik ke bawah lalu kembali menatap ke arah dua orang tersebut dengan wajah khawatir.
“Ti-tidak ada.” Gugup seraya menggelengkan kepala.
“Hah!? Yang benar? Aku mencium kebohongan di sini. Katakan saja!”
“Benar. Tidak ada pelanggan yang baru saja datang kecuali Anda berdua,” ucap Bartender dengan tundukkan kepala.
Ada rasa khawatir sekaligus takut ketika menghadapi dua pria misterius. Tentu bagi orang awam takkan bisa menahan tekanan batin seperti ini. Rasanya seperti ingin mencekik leher sendiri, cuaca yang dingin pun seolah-olah membuat tubuh mereka membeku.
“Jangan berbohong, paman!”
“Eh! Tidak! Saya tidak ber-berbohong. Saya sangat jujur!” pekik bartender itu menjadi tambah kalap.
Para pelanggan nampak akan segera angkat kaki dari tempat ini. Diselingi bisik-bisik yang berkomentar pada apa yang mereka lihat sekarang ini. Namun, akan tetapi kaki mereka sulit untuk bergerak. Seakan mereka akan lenyap jika bergerak sedikit saja.
Brak!
Salah satu dari mereka menggebrak meja. Ia bangkit lantas menarik kerah pakaian bartender itu dengan kasar.
“Katakan saja sejujurnya! Di mana dia! Atau kau dan semua orang di sini akan mati!” ancamnya dengan perangai kasar.
Setelah gebrakan darinya, tempat ini menjadi berguncang. Getaran yang kuat bahkan menyebabkan semua botol minuman pecah berjatuhan menumpahkan semua isinya.
Orion tersentak, ia masih berada di posisinya untuk bersembunyi lebih lama. Namun akan tetapi, nyawa semua orang di tempat ini sedang dalam bahaya. Orion tidak bisa kalau terus bersembunyi di belakang meja bartender.
“Ayo! Katakan! Di mana dia!?”
“Hei, tenanglah sedikit. Kekuatanmu bisa merobohkan tempat ini dalam sekejap.” Kemudian temannya menepuk pundak, mencoba untuk menenangkan.
“Argh! Kau yang tidak bekerja dengan keras. Aku tahu ada di sini!” amuknya sembari menggebrak meja sekali lagi.
“Kalau kau mencarinya hanya bertanya pada orang ini, jelas dia tidak tahu. Bisa saja dia bersembunyi di dekat sini.”
Pria yang nampak sangat santai itu menunjukkan jari-jari tangan berkilau. Seperti ada sesuatu yang menempel.
“Tunggu, apa yang kau lakukan?” Pria kasar itu bertanya.
“Apa lagi kalau bukan untuk memancingnya. Kudengar dia itu lebih mementingkan nyawa orang lain daripada dirinya sendiri.”
“A-apa? Kalau begitu kenapa dia justru lari masuk ke dalam tempat yang ada banyak orangnya?”
“Karena pandangannya berkurang, kau pikir dia akan tahu dia akan bersembunyi di mana?”
Sontak pria kasar itu terkejut. Dan ketika temannya mengangkat dagu ke depan, ia pun mengerti bahwa orang yang sedang dicari mereka ada di depan mata.
“Tunggu, aku yang diincar, 'kan?”
Orion muncul tanpa memperdulikan apa-apa lagi. Lantaran ia sudah lebih dulu ketahuan oleh mereka bahkan sebelum masuk ke tempat ini.
“Wah, dia betulan muncul.”
“Sepertinya kalian tidak mahir dalam pertarungan jarak dekat?” celetuk Orion.
Dak!
Orion menghentakkan kaki dengan kuat ke lantai. Ia menyibak jubah dan sengaja memperlihatkan lengan kanannya yang berapi.
Semua orang sangat terkejut begitu melihatnya. Mereka terpaku akan percikan api serta lava yang mengalir di lengan kanan Orion.
“Dia pergi!?”
Orion berjalan ke sisi kanan, meninggalkan jubah itu. Lalu bergerak memutar ke arah mereka berdua.
Mereka terlambat bereaksi terhadap kecepatan gerak Orion. Mereka hanya bisa menghindari belati yang terus mengarah pada mereka berdua.
Crik!
Salah satu dari mereka yang memiliki raut wajah datar itu menyilangkan kedua lengan ke depan dada. Membuka semua jari jemarinya dengan beberapa benang yang muncul.
“Apa itu?”
Terkejut, reflek Orion melangkah mundur ke bekakang. Mewaspadai serangan yang akan datang.
“Jangan terlalu kaget. Ini tidak mematikan untuk kita.”
Sraaaaakkk!!!
Kumpulan benang memanjang dari segala sisi yang melekat pada setiap sudut tempat ini. Terlihat warna yang bercahaya keunguan berkilau, dan terdapat sesuatu cairan yang lengket pada benang-benang itu.
“Jangan bilang racun?” pikirnya seraya mengarahkan belati ke benang itu.
“Jangan sentuh, Orion!” Tiba-tiba suara Karura menggaung dalam kepalanya. Orion lantas menghentikan gerakannya karena terkejut.
“Itu cairan yang sama. Meskipun kau menyentuhnya dengan senjata, cairan itu juga tetap akan masuk lagi ke dalam tubuhmu.”
“Tapi efek racunnya sangat lambat,” gumam Orion seraya melambaikan tangan ke depan matanya. Memastikan ia masih bisa melihat sisa gerakan walaupun buram.
“Wah, dia masih jago walaupun kena racunmu. Pantas saja dia sulit ditangkap.”
Duak!
Pria berperangai kasar menghentakkan salah satu kaki. Dan membuat tempat ini berguncang kuat sekali lagi. Terasa getaran yang amat kuat dirasakan oleh mereka semua.
“Ada apa ini?”
“Kumpulan penjahat? Perampok?”
“Menunduk!”
“Gempa?”
Semua pelanggan itu terjatuh dari bangku mereka. Duduk meringkuk seraya memegangi kepala dengan ketakutan yang semakin menjadi.
“Aku akan menjadi matamu, Orion. Sekarang, serang mereka dari arah lurus. Ingat, gunakan ujung senjatamu saja!” Karura memberi instruksi pada Orion secara langsung.
Segera Orion menggerakkan kedua kaki. Melesat lurus dengan cepat seraya memotong semua benang yang menghalang dengan ujung belati yang berkobar api.
“Benar-benar sulit dilawan!” pekiknya seraya mengguncangkan tempat ini lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Namun Orion tak gentar terhadap mereka. Yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan rekan atau Chameleon sendiri.
Slash!
Satu sayatan yang cukup panjang dari lantai hingga menyentuh langit-langit. Pedang merahnya membara dengan api merah dengan sedikit kekuatan Api Abadi.
Menyayat tubuh kedua pria yang tak bisa berkutik. Sayatan pedang Orion menghanguskan sedikit kulit luar mereka.
“Argh! Panas sekali!”
Keduanya terus mengerang kesakitan namun mereka terus saja mengeluarkan serangan dan bahkan menghindar dari Orion.