
Setelah dipikir panjang, sikap Endaru yang akhir-akhir ini aneh pun mulai mengganggu Orion. Terkadang Endaru hanya bercanda. Namun setelah melihat sebuah foto berbingkai di atas meja sudut ruangan, ia mungkin sedikit mengerti dengan sikap aneh Endaru.
“Dia mengharapkanku sebagai orang tuanya? Atau hanya ini perasaanku saja?”
Ingin bertanya langsung padanya pun, Endaru sedang tidak ada. Endaru pergi entah ke mana dirinya ketika malam semakin larut.
Seraya menghela napas panjang, Orion meletakkan kembali foto tersebut ke tempatnya. Lalu mengambil kunci dan pergi dari sana.
“Apa Endaru pergi mengejar mereka lagi? Tidak, ini sudah terlalu malam untuknya pergi. Memangnya dia sudah istirahat? Ah, aku jadi mencemaskan anak itu.”
Sisi lain Orion muncul. Mencemaskan seseorang yang baru-baru ini dekat dengannya. Meski sering saling mengolok satu sama lain, tetap saja mereka mempunyai rasa simpati, empati dan sisi positif serta hangatnya mereka masing-masing.
“Di mana ponselku?” Orion bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Seraya ia merogoh saku celana, lalu masuk kembali ke dalam untuk mencarinya.
“Tidak ada!”
Di seluruh sudut ruangan ini, Orion sama sekali tidak menemukan ponselnya. Sempat berpikir bahwa ada kemungkinan ia menjatuhkannya saat di luar.
“Ya, sudahlah. Aku akan cari taksi untuk pulang saja. Tunggu sebentar, aku 'kan sedang tidak memegang uang.”
***
Sedangkan di sisi lain. Grup Arutala masih terguncang akibat Orion yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Mereka bersusah payah untuk mencarinya namun tiada hasil. Menghubunginya juga tidak pernah mendapat jawaban.
Bahkan mencari di sekitar area perumahan dan sekolah sebelumnya pun sama sekali tidak ada jejak Orion. Raka juga dibuat kebingungan olehnya.
“Ke mana sih, anak itu?” gerutunya.
Saat itu, Raka masih belum tahu bahwa Orion sudah kembali ke wujud seorang pria dewasa. Dan tak seorang pun yang memberitahukannya tentang hal itu.
Raka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah Arutala. Mengunjungi kakaknya yang tengah terbaring dalam kondisi pemulihan.
“Raka! Apa kau menemukannya?”
“Tidak, sama sekali.”
“Aku akan mencarinya sendiri,” kata Mahanta lantas beranjak dari sana.
“Tidak boleh! Kakak terluka dan belum sepenuhnya pulih!” pekik Raka menghalanginya.
“Sudah, sudah. Jangan ribut melulu. Yang akan mencari itu cukup kami berdua saja,” ucap Ketua Janu Irawan yang tiba-tiba masuk ke dalam. Lalu merangkul pundak Raka.
“Jangan lupakan aku,” sahut Ketua Meera yang menyusul masuk ke dalam. Seketika mereka terkejut akan kedatangannya.
“Bagaimana dengan Nona Gista?” tanya Mahanta.
“Ketua Arutala akan tetap di sini. Memantau keadaan di sekitar.”
Ketua Irawan, Meera lalu Raka. Mereka bertiga mencarinya kembali bersamaan. Juga mereka belum tahu sesuatu hal baru tentang Orion saat ini.
Malam yang dingin, tanpa bulan dan hanya ratusan bintang di langit terlihat berkedip-kedip.
“Raka, apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ketua Irawan.
“Saya mendengar bahwa Orion diculik oleh Chameleon. Tubuhnya seperti ditarik mundur lalu menghilang dalam sekejap. Lainnya berusaha untuk menahan Orion sebelum itu tapi usaha mereka sia-sia,” jelas Raka.
“Ditarik mundur?”
“Ya, ada beberapa anggota yang bilang kalau ada benang memanjang di belakang punggungnya.”
“Sepertinya aku tahu siapa dia. Tapi kenapa Orion tidak membakarnya saja, ya? Padahal dengan Api Abadi, apa pun bisa dia hanguskan.”
“Siapakah yang Ketua Irawan maksud?” tanya Ketua Meera.
Ketua Irawan berhenti melangkah. Lalu melirik ke sekitar, ia merasakan kehadiran beberapa orang yang seperti sedang membuntutinya.
Beberapa kali Ketua Irawan mengedipkan kedua matanya lalu membuat pupil itu berubah warna dengan sedikit lebih terang dengan beberapa pola garis.
Dalam pandangannya yang semula hanya gelap dan sepi, menjadikan ia dapat melihat semua hal sekalipun membuat beberapa bangunan tembus pandang.
“Ada apa? Berhenti di sana?” tanya Ketua Meera yang sudah berada jauh di depan.
“Saya hanya merasa ada orang yang mengikuti kita. Tapi di sini tidak ada seorang pun kecuali orang yang berada dalam bangunan rumah.”
“Saya pikir ada apa,” ucap Ketua Meera lantas kembali berlari menuju ke satu tempat ke tempat lain.
***
Suatu ketika Orion kehilangan ponsel. Tapi dicari ke manapun juga tidak menemukannya sehingga ia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ponsel tidak ada, uang pun juga tidak ada. Nasibnya memang selalu tidak beruntung.
“Chameleon, jika saja kau tidak ada di muka bumi ini. Maka hidupku pun akan tenang-tenang saja. Argh! Tidak, tidak.”
Orion yang terus menggerutu seraya menggelengkan kepalanya selama beberapa kali lantas bergumam, “Dari awal pun aku memang selalu mendapat nasib buruk begini. Tapi rasanya yang ini lebih parah.”
“Hei, kau! Tunggu!” panggil seseorang dari belakang.
Orion menghentikan langkahnya menuju keluar lalu membalikkan badan dengan wajah terkejut begitu melihat siapa yang memanggil.
“Ketua Dharmawangsa!”
Pria yang suka sekali marah-marah. Ternyata ia berada di hotel ini. Ketua Dharmawangsa.
“Kau siapa? Aku baru pertama kali melihatmu.”
“Aku saja tiba-tiba ada di sini karena Endaru. Kenapa tanya aku?” gumam Orion lirih dengan memalingkan wajah darinya.
“Hei! Jawab!” pekik Ketua Dharma. Sorot matanya yang tajam hanya tertuju pada Orion seorang.
Karena suara Ketua Dharma yang begitu keras, sampai-sampai semua orang yang berada di lobby hotel memperhatikan mereka berdua dengan berbisik tanya perihal masalah apa lagi yang akan terjadi hari ini.
“Aku, ah maksud saya. Saya adalah teman Endaru,” jawab Orion sedikit gugup. Sesekali ia melirik ke sekitar agar tak bertukar tatap dengannya lagi.
“Teman? Endaru si Pahlawan Kota itu, ya? Tak kusangka dia punya teman. Padahal anak itu cukup sombong.”
Nampaknya Ketua Dharma percaya.
“Tidak mungkin!”
Hanya untuk sementara. Ketua Dharmawangsa hanya percaya untuk sebentar saja, entah bagaimana Orion akan beralasan saat ini.
“Dia itu sama sekali tidak punya teman. Paling kamu ini cuman fans fanatik! Ya, pahlawan sepertinya banyak digemari terutama oleh pria itu sendiri. Seolah-olah menjadikan Endaru sebagai motivasi agar jadi lebih kuat!”
Ketua Dharma terus mengoceh sepanjang waktu. Dari setiap kalimat yang diucapkan pun selalu berisi cercaan pada Endaru.
“Segitunya dia tidak suka dengan Endaru?” batin Orion yang masih bingung akan bagaimana menyahut semua perkataan Ketua Dharma.
“Dengar, ya! Jangan pernah menipuku atau kau—”
Saking sibuknya berkomentar hal buruk tentang Endaru si Pahlawan Kota, Ketua Dharma sampai tak sadar kalau Orion sudah tak lagi berada di hadapannya.
“Huh, dia jauh lebih buruk dariku. Pantas saja dia tidak begitu menyukai orang-orang dewasa. Akan tetapi, Ketua Dharmawangsa masih jauh lebih baik daripada rekan kerjaku dulu.”
Orion melipir kabur dari hotel berkelas dengan banyak orang elit bertebaran bak telur emas dalam sarang yang sama emasnya.