ORION

ORION
Kekalahan Telak Caraka?



Beberapa kali senjata mereka beradu dalam pegangan kuat. Sampai Orion terdesak mundur dibuatnya, sesekali ia melirik ke belakang dan benar-benar tidak ada jalan untuk mundur lagi.


“Memangnya Anda ingin membawa saya ke mana?” Orion bertanya dengan kening yang berkerut.


“Chameleon. Tapi, aku harus memastikan dulu apakah kau benar-benar punya Api Abadi atau tidak,” kata Caraka.


Sedikit demi sedikit, kedua bilah itu mengeluarkan percikan api dengan suara berdecit nyaring. Pendengaran Orion merasa terganggu akan hal itu, dan karena tidak cukup kuat karena melawan tubuh orang dewasa, kedua kaki Orion melemas dan kemudian terjatuh.


Bruk! Namun, kedua tangan dengan bilah itu masih dapat menahan pedang Caraka. Sampai gemetaran.


Terlalu lama mengulur waktu hingga akhirnya Orion menyerah. Ia memiringkan tubuhnya sendiri, dan ketika mulai meleburkan kedua bilahnya, Caraka pun menggores wajah dan menembus dinding.


Hampir saja itu menusuk wajah Orion. Tak lama ia bangkit lalu menjauh darinya dan kembali mendekat ke ruangan bawah tanah.


“Kau tidak mau menunjukkan apimu?”


Pertanyaan Caraka tidak dijawab.


Ia kemudian kembali bertanya, “Kau sudah tahu sampai mana?”


Lagi-lagi Orion enggan menjawab pertanyaan darinya. Ia hanya terdiam serta menahan rasa sakit dari kedua lengannya yang panas. Karena kekuatannya sendiri dan juga karena serangan Caraka.


“Masih tidak mau menjawab rupanya,” ucap Caraka kembali melangkah menghampiri diri Orion.


Pedang yang ia genggam dengan kedua tangan terlihat lebih memanjang dari sebelumnya. Api yang berkobar di pedang itu pun sangat besar. Semilir angin menghembusnya dan api itu membesar.


“Mengatakan Api Abadi pun sepertinya percuma saja. Aku harus bagaimana setelah ini? Tak mungkin aku akan meminta bantuan pada anak muda itu.” Orion membatin.


Endaru saat ini masih berada di bawah, sebisa mungkin Orion takkan melibatkannya dalam pertarungan yang bahkan Endaru sendiri tidak berurusan dengan Caraka.


Sebelum Caraka lebih dekat dengannya, Orion lantas berlari ke arahnya dengan kedua bilah pedang di kedua lengan. Ujung yang tajam menunjukkan kilaunya, sebagian dari kekuatannya menetes seperti darah.


Batasan kekuatan Orion muncul lagi. Sembari menggigit bibir bawah, ia berlari seraya mengayunkan kedua senjata secara meyilang dari atas ke bawah.


Caraka mundur dan kemudian kembali menggenggam pedang, semburan api itu meluncur keluar dan mengelilingi tubuh Orion.


Srat! Orion menebas api itu hingga membuat jejak di lantai. Tebasannya cukup dalam dan besar, Orion merasa kewalahan saat itu.


“Bertahanlah! Tubuhku!” Orion berteriak dalam hati.


Menggertakkan gigi dengan wajah penuh emosi, ia mengayunkan kedua senjata itu secara bersamaan lagi. Dan Caraka menahannya begitu mudah, tubuh pedang milik Caraka juga tampak melebar dari biasanya.


“Orion, janganlah melawanku dan cukup ikuti apa perkataanku,” ucap Caraka seraya menarik kerah pakaian Orion dan menatapnya lebih dekat.


Sekilas kedua mata Caraka terlihat bersinar keterangan, Orion melihat ada bunga yang berwarna jingga dan kemudian mekar begitu indah. Sesaat Orion terdiam.


Tiba-tiba saja tubuh Orion terdorong mundur ke belakang. Ia merasakan sakit di perutnya, dan yang ia lihat sekarang hanyalah Caraka dengan kaki kanan ke depan.


“Apa barusan dia menendangku?”


Bruakk!! Orion menghantam dinding dengan kuat, tulang punggungnya pun terasa begitu nyeri.


Ruangan bawah tanah bergetar kuat, Endaru merasa sangat cemas akan hal yang terjadi di luar sana. Beberapa kali ia mondar-mandir seraya mengigit jari lalu sesekali ia melirik buku kuno yang dipegangnya.


Kemudian beralih pandangan ke seluruh ruangan bawah tanah. Sesaat ia berpikir, apakah ada sesuatu sehingga Orion menyuruhnya untuk tetap di sini?


“Tidak tahu! Aku harus ke atas. Orion sedang bahaya, karena Caraka sama sekali bukan tandingannya. Terlebih kalau dia betulan rekan Chameleon, maka itu jauh lebih berbahaya!”


Drap! Drap!


Tanpa penerangan sama sekali, ia menduga-duga anak tangga ada di sekitar sana, setelah menemukannya dengan meraba-raba, ia lantas berlari menuju ke atas.


Getarannya semakin kuat begitu Endaru melangkah lebih cepat. Keadaan di ruangan sana mungkin jauh lebih mengerikan dari yang diduga.


“Hei! Aku ingin hidup tenang dan kau ataupun orang lain selalu mengangguku setiap saat! Dan aku sangat tidak suka itu!”


Orion berteriak, mengomel-ngomel layaknya kakek tua berceramah. Mendengar itu, Endaru sedikit lega karena Orion masih baik-baik saja.


Setelah keluar, ia pun hanya melihat Orion yang bergerak mundur menjauhi Caraka sambil berteriak marah sekali lagi.


“Dasar orang tua,” gumam Endaru dengan lirih.


Dap! Dengan sengaja Endaru melangkahkan kaki hingga membuat ruangan itu bergetar, kekuatan daya gravitasinya membuat mereka berdua bergidik sesaat.


“Kenapa kau malah muncul?” ketus Orion menatap kesal kepadanya.


“Katanya ingin hidup tenang, makanya diam saja di sana!” sahut Endaru dengan tatapan tajam.


Ruangan kembali bergetar seiring Endaru menggunakan kekuatannya. Caraka sigap menghindar dengan mengeluarkan setengah sayap berapinya.


“Hm, sayap itu harus dipotong,” gumam Endaru melirik tajam ke arah sayap Caraka.


“Kalau begitu biarkan aku yang melakukannya,” sahut Orion.


Drap! Drap!


Langkah kaki Orion semakin dirasa semakin berat, ia berlari dengan fokus ke target depannya. Sembari mengayunkan satu lengan dengan bilah yang sedikit memanjang.


Ketika Caraka hendak mengayunkan pedang, namun seluruh gerakannya terkunci karena daya gravitasi meningkat 5x lipatnya. Membuat tulang tangan Caraka sangat lemas tak bertenaga begitu juga dengan kedua kakinya.


Syat!! Orion pun mudah menebas setengah sayap Caraka dari depan tanpa sedikitpun menggores lengannya. Sayap berapi itu terpotong, bentuknya yang memadat pun seketika melebur bagai magma api.


Setelah menyerang sayapnya, Orion sekali lagi menyerang Caraka, mengincar pergelangan tangan lalu kemudian ia menjauh.


“Aku tidak bisa terlalu dekat dengannya lagi. Dia akan menyerangku baik dari jarak dekat maupun jarak jauh,” ucap Orion.


Endaru menganggukkan kepala lantas berkata, “Aku menekannya lalu kita pergi.” Kemudian melepas kedua sarung tangannya.


Tubuh Caraka bergetar kuat, hingga membuat lantai yang ia pijak menjadi hancur. Ia semakin kesulitan untuk menghalau serangan ini, tubuhnya sulit bergerak bahkan api yang dikeluarkannya selalu padam.


JRASHHH!!!


Sesuatu menembus dinding hingga tubuh Caraka dari belakang. Sesuatu yang cukup besar dan berkilau, bentuknya seperti tombak yang tebal dengan ujung yang runcing. Warna kebiruan nampak familiar.


Klak! Pintu di dekat Caraka terbuka, seseorang datang dan masuk ke dalam ruangan.


“Adi Caraka, Anda sepertinya berencana untuk melakukan sesuatu terhadap Orion, ya?”


“Nona Gista!”


Ternyata yang datang adalah Gista. Timing yang pas sehingga Caraka akan semakin kesulitan.