
Masalah sepele yang bahkan tidak akan disepelekan itu telah terjadi, nyawanya harus dilindungi karena ia memiliki seseorang yang menunggu untuk diselamatkan. Mereka berdebat sebentar dan kemudian berakhir karena panggilan Mahanta dari ponselnya.
Selang beberapa saat mereka berbicara lewat ponsel, Mahanta yang telah menemukan perbatasan itu, kini entah mengapa panggilannya terputus tiba-tiba. Sempat terdengar gemuruh, suara serangga dan suara benda jatuh ke tanah dengan keras.
“Mahanta, jangan lakukan hal yang tidak bisa kau lakukan. Aku akan segera ke sana.”
Perasaan cemas Orion membuatnya melangkah pergi tuk menemui Mahanta yang berada di perbatasan. Serta hilang kontak sekarang.
***
Dini hari, dekat perbatasan. Pukul 3.
Angin dingin semakin kencang, setitik air hujan turun secara tak sadar. Orion berhenti melangkah begitu merasakan ada yang salah di depan sana. Saat itu malam tidak ada bintang maupun bulan, melainkan hanya awan hitam yang bahkan warnanya sepadan dengan langit malam.
Cuaca yang tidak mendukung, hari ini sangat meresahkan baginya. Orion lantas menghela napas panjang lalu mengambil langkah ke suatu tempat yang dapat digunakan untuk meneduh sementara waktu.
“Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di sini. Dan Mahanta tidak terlihat, apakah itu artinya dia sudah berada jauh, masuk ke perbatasan itu?” gumam Orion.
Kadangkala Orion merasa hangat namun untuk sementara waktu lantaran Api Abadinya hanya berada pada lengan kanannya. Semenjak ia mendengar pernyataan dari Dr. Eka mengenai yang terjadi jika Orion menggunakan kekuatannya sekali lagi, Orion tidak berani untuk menggunakan kekuatannya.
Karena itulah, meski meneduh agar tidak dihujani lagi, ia tetap menggigil kedinginan.
Drap! Drap!
Seorang pria berpakaian jas hujan melintas. Sekilas memandanginya, sontak Orion sangat terkejut. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan memanggil nama pria itu.
“Runo!”
Pria itu pun menoleh ke asal suara yang barusan menyebut namanya.
“Pak Orion? Sedang apa kemari?” tanya Runo mengerutkan kening.
“Kau tidak suka aku datang kemari?” sindirnya.
“Ma-maaf. Bukan maksudku begitu,” ucap Runo terbata-bata seraya melambaikan kedua tangan ke depan.
”Apa kau ada di sini karena Mahanta?” tanya Orion.
Runo menggangguk. “Ya. Saya mengikuti jejaknya. Karena saat itu entah kenapa, terakhir kali di dekat museum itu.”
Runo menjelaskan bahwa ia bertemu dengan Mahanta berada dekat di museum. Awalnya mereka berdua bersama dan kemudian sesuai yang telah diceritakan Mahanta sebelumnya, mereka bertemu dengan seseorang mencari rekan Chameleon yang adalah pemain kecapi itu.
Namun setelah itu, Mahanta berpisah dengan Runo secara mendadak. Mungkin karena Mahanta telah menemukan tempat yang dimaksudkan Orion, ia pun terus berjalan masuk ke area perbatasan.
“Dia sangat ceroboh. Runo, kau jangan ikut denganku. Atau nanti akan terjadi sesuatu yang buruk,” ucap Orion.
“Tidak bisa. Aku datang bersama kalian karena ingin menyelesaikan tugas kita bersama. Aku akui aku ini lemah, pak. Tapi aku tetap rekan seperjuangan,” ucap Runo kukuh atas pendiriannya.
Angin bertiup lebih kencang, air hujan dari depan membasahi pakaian mereka begitu cepat. Tak ada waktu untuk bergerak saat ini jika terus berjalan ke depan tanpa tahu ada apa di depan sana. Karena itulah, mereka memutuskan untuk meneduh sementara di tempat yang telah ditemukan Orion.
“Biar aku katakan sekali lagi, pak. Aku tidak akan kabur seperti sebelumnya,” kata Runo.
“Soal itu, aku tidak tahu. Tapi mungkin kau akan berguna daripada mencari Mahanta,” pikir Orion.
“Tolong jangan menahanku seperti itu. Aku juga berhak untuk ikut denganmu.” Runo sangat kukuh.
Sebelum Orion menjawab, ia menghela napas seraya memalingkan wajah. Sebentar-sebentar ia menatap ke arah perbatasan dengan merasakan getaran dingin di tubuhnya.
“Itu Pak Orion,” jawab Runo seraya merundukkan kepala.
Kemudian Orion kembali beranjak dari sana seraya menepuk pundak Runo ia berkata, “Aku membutuhkanmu untuk berjaga di luar perbatasan. Kabari anak yang bernama Endaru dengan ponsel ini jika lebih dari 2-3 jam aku tak kembali.”
Orion kemudian memberikan ponsel miliknya pada Runo. Juga untuk berjaga-jaga Runo diperintah untuk menghubungi siapa pun yang bisa ia hubungi tentang masalah ini.
“Baiklah, Pak Orion. Berhati-hatilah saat melangkah.”
***
Waktu semakin berlalu cepat. Orion menerjang badai angin dan hujan itu, sedikit demi sedikit melangkah dan semakin melangkah jauh hingga menyentuh area perbatasan.
Sraaaaaa!
Hujan semakin deras begitu menyentuh area perbatasan. Tak hanya itu, di bagian tengah daratan kering yang berubah menjadi lembab ini terdapat beberapa mayat bergelimpangan sudah tak berbentuk lagi.
“Tak heran saat aku datang kemari, kota di dekat perbatasan tidak ada yang menempati. Apalagi yang berada dekat dengan perbatasan itu.”
Sebagian menjadi tulang-belulang, sebagian darah dan daging masih melekat walau sudah merembes masuk ke dalam tanah. Sebagian mayat pula Orion temukan di parit.
“Perang?” pikir Orion terkejut, ia berhenti melangkah dan seketika terdiam membisu setelah menoleh ke sisi yang berada dekat dengan parit.
Mayatnya jauh lebih banyak dan berjejeran. Satu hal yang mengejutkan Orion saat itu adalah kabut yang muncul tidak masuk akal.
“Apa?!”
Terkejut, Orion melangkah mundur. Ada perasaan takut, ngeri hingga membuatnya bergidik merinding. Orion merasakan mara bahaya di kabut tersebut.
“Ini apa sebenarnya? Mahanta! Apa kau berada di sana?! Hoi! Jawablah!”
Orion memastikan keberadaan Mahanta, tapi sepertinya Mahanta tidak berada di balik kabut itu. Sebagian daratan mungkin tidak ada kabut aneh itu tetapi entah kenapa Orion merasa harus melewati kabut ini agar dapat menemukan Mahanta.
“Kabutnya aneh, warnanya juga. Bau pun.”
Perlahan kabut tak berwarna itu mulai berubah warna menjadi kehijauan, bau dari kabut itu seperti mesin berkarat atau sejenisnya yang membuat perasaan Orion tak enak.
“Racun?” Kata itu terlintas begitu saja. Seraya menutup hidung dan bergerak sedikit menjauh dari kabut, ia berpikir bahwa kabut itu adalah kabut beracun.
Hawanya terasa pekat. Dan akan berbahaya jika ia nekat menerjang kabut itu juga, Orion lantas berjalan ke sisi yang tidak ada kabutnya.
Drap! Drap!
Hujan semakin deras membasahi pakaian serta tubuh Orion yang terus berlari seraya menatap ke arah kabut yang tidak pernah hilang meski diguyur hujan sekalipun. Merasa itu aneh, mengapa kabut itu tidak kunjung hilang namun hanya memikirkannya saja pun tidak akan ketemu jawabannya.
Bergegas Orion menuju lebih jauh, masuk ke perbatasan. Daratan yang begitu luas, tanah yang lembab karena hujan dari langit pun terus menghadang langkah Orion.
Dang! Dang!
Beberapa tetes hujan membuat suara aneh di suatu titik di depan Orion. Penasaran, Orion lantas pergi ke arah suara itu.
“Ternyata besi? Tidak, jalan.”
Besi menyerupai pintu itu Orion buka secara perlahan, menunjukkan sebuah lubang besar yang adalah jalan bawah tanah. Saat itu Orion tidak tahu menahu apa yang ada di sana. Bahwa jalan itu pasti akan mempertemukannya dengan seseorang.