ORION

ORION
Mimpi Buruk



Mata tertuju pada kobaran api. Yang membakar hingga menjulang tinggi darinya. Seolah ia berada di suatu tempat asing, dan terdengar suara jerit dan tangis memekakkan telinganya.


“Arghh!!”


Terdiam memejamkan kedua mata. Berteriak lantas ketakutan. Rasa takut hingga membuatnya gemetaran hebat. Api itu kini menyambarnya, dan memperlihatkan banyak orang yang terbakar.


Sosok semua orang yang berbeda. Makian terjadapnya pun tak pernah lepas dari ungkapan mereka yanh pedas. Rasanya seperti hadir di neraka.


“Andai saja aku tidak dilahirkan.” Itulah kalimat pertamanya saat berhadapan dengan siksaan berat.


Ia menutup kedua telinga dan matanya. Berharap tak ada lagi yang menganggu namun, orang-orang yang terbakar itu terus membisikinya dengan suara tawa, ejekan. Berbeda dengan jerit tangis sebelumnya, yang saat itu membuatnya sangat histeris.


Tapi ketika, ia tak lagi mendengar suara. Orion lantas membuka kedua matanya secara perlahan.


“Ah! Hu ...hah, apa itu?”


Dalam mimpi ia barusan melihat tengkorak kepala bergelimpangan. Disertai genangan darah dan sepercik api yang sepintas terlihat.


Kini Orion telah terbangun. Memiliki kesadaran penuh. Mendapati dirinya di suatu tempat yang asing dengan kasur yang empuk, tirai jendela yang besar serta lampu yang unik di atas meja kecil.


Cklak!


Seseorang membuka pintu ruangan. Terlihat Endaru masuk ke dalam. Untuk sesaat Orion terdiam.


“Kau sudah bangun? Ini di hotel yang dulu kita pernah menghancurkannya.”


“Ha?”


Orion tercengang. Ia kemudian memegang kepalanya sambil mengingat-ingat sesuatu yang penting. Terakhir kali yang ia ingat, sesuatu yang buruk. Sebuah ledakan.


“Jangan khawatir. Aku tidak merasakan keberadaan Chameleon ataupun rekannya lagi. Tadinya sih, aku sudah mengejar mereka. Tapi lari mereka cepat sekali.”


Orion masih saja terdiam dengan memegang kepalanya. Sesekali ia juga memperhatikan tangan kanan yang dibungkus dengan kain hitam miliknya. Lalu beralih, menatap Endaru sekali lagi.


“Kau ini kenapa sih?” tanya Endaru yang kemudian ia menyodorkan segelas air putih.


“Ah, terima kasih. Aku hanya tidak percaya dengan apa yang barusan aku lihat,” kata Orion sambil menenggak minumannya lalu setelah itu ia menaruh gelas di samping meja kecil.


“Melihat apa?”


“Mimpi buruk. Aku terlihat seperti membakar orang-orang yang membenciku dengan kekuatan api. Aku bahkan sempat mengira bahwa aku tak lagi bisa terbangun.”


“Kupikir itu hal wajar. Terutama setelah melihat kematian seseorang di depan mata dengan tragis.”


“Mereka mati terbakar. Lalu ada salah satu petugas. Dia, jantungnya diambil oleh rekan Chameleon. Aku melihatnya,” tutur Orion.


“Jantungnya diambil? Apa karena itu, kau meminta tolong padaku untuk menolong mereka? Karena kejadian itu bisa menjadi kasus panjang?” pikir Endaru.


“Iya. Tapi karena saat itu aku sedang kacau, aku jadi tidak bisa mengatakannya dengan jelas. Apalagi, aku juga menyinggungmu, ya?”


“Tidak juga. Aku tahu kalau ini akan terjadi. Dan biarkan aku mengatakan satu hal penting padamu. Bahwa aku menolongmu bukan karena ada maksud tertentu,” kata Endaru dengan wajah serius.


“Oh, ya? Lalu kenapa?” tanya Orion yang sebenarnya merasa tak peduli.


“Tentu saja karena aku adalah pahlawan!” Endaru mengatakannya dengan bangga.


“Ha, sudah kuduga.” Orion menghela napas.


“Aku hanya bercanda. Alasannya, ya? Lebih dari kenalan, aku menganggapmu sebagai rekan atau ...lebih tepatnya teman?” celetuk Endaru seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Harusnya kau biarkan saja aku. Aku ini orang dewasa yang kau benci,” ucap Orion dengan dingin.


“Tapi kau bukan orang dewasa kurang ajar melainkan orang dewasa yang penuh perhatian pada orang sekitar. Itulah yang aku tahu!” sahut Endaru menegas.


Tiba-tiba Endaru memuji. Namun Orion hanya menganggap itu angin lalu.


“Kau akan menarik kata-katamu lagi ketika tahu seberapa buruknya diriku.”


Orion lantas beranjak dari sana. Nampaknya ia akan pergi namun Endaru menghalanginya lagi.


Terkejut, ia lantas melihat tubuhnya. Baru sadar ternyata ia tak memakai atasan. Juga bau karena sudah seharian ini ia berada di luar. Seketika Orion merasa malu sendiri.


“Pergilah membersihkan diri. Nanti aku akan bawakan pakaian gantinya,” kata Endaru dengan raut wajah tenang.


“Kenapa tidak bilang saja dari tadi, sih.” Orion mengerutu lalu melangkah menuju ke kamar mandi.


“Karena kau tadi terlihat sangat gelisah. Aku juga lupa untuk bilang kalau badanmu bau.”


“Lupakan itu! Oh, ya. Apa kau benar-benar mengejar mereka?”


“Kalau maksudmu rekan Chameleon, ya. Kau benar, aku mengejarnya tapi mereka lebih cepat kaburnya.”


Mendengar Orion tak lagi bicara. Endaru justru bingung. Dalam benak Endaru, ia tengah berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh Orion? Dan apakah Orion masih teringat akan kejadian lalu?


Berkali-kali ia memeriksa keadaannya, dan memastikan suara apa pun terutama air di dalam. Yang menandakan Orion masih berada di sana.


“Dia tidak akan pingsan lagi, 'kan?” gumam Endaru.


Merasa tak puas, Endaru mengetuk pintunya selama beberapa kali.


“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Endaru.


“Apa yang salah denganmu? Kau terlalu mencemaskan orang dewasa, Endaru.” Orion membuka pintunya dan menatap kesal pada Endaru.


“Maafkan aku. Tapi orang dewasa sepertimu tidak bisa merawat diri dengan benar. Bahkan membiarkan dirimu berjalan di saat kondisi kurang sehat, apa aku tidak perlu mencemaskan hal itu?” sindir Endaru.


“Hah, ya sudahlah. Aku juga sangat berterima kasih padamu. Lalu apa yang kau butuhkan?”


“Hanya ingin bilang, pakaiannya sudah aku taruh di dekat sini. Dan aku akan pergi sebentar, aku juga akan meninggalkan kunci cadangan.”


Tanpa menjawabnya, Orion kembali masuk ke dalam. Akan tetapi ketika ia hendak menutup pintu, lagi-lagi Endaru menghalanginya.


“Ada apa denganmu sebenarnya?” tanya Orion dengan jengkel.


“Tentang "Tidak bisa dibandingkan" dariku. Apa sebenarnya yang kau maksud, Orion?”


“Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Kesepakatanmu terhadap Gista.”


Seketika Orion mengerti maksud Endaru. Hal itu berkaitan dengan hubungan timbal balik yang diperlukan. Kesepakatan tercapai karena sesuatu yang mereka inginkan terhadap satu sama lain.


“Aku menggunakan nama besarnya untuk apa saja, maka dia akan menggunakan aku sesuka hatinya,” jelas Orion.


“Kau sudi diperalat olehnya?”


“Tidak, ini hanya kesepakatan yang menurutku setimpal. Aku mengejar dan berusaha menangkap Chameleon pun karena permintaannya.”


Klap!


Orion menutup pintu.


***


Setelah perbincangan di antara mereka. Malam yang semakin larut semakin dirasa semakin dingin meski jendela tertutup rapat.


Setelah ia membersihkan tubuhnya, Orion keluar dan tanpa sengaja ia melihat sebuah foto dalam bingkai kecil yang terpajang di sudut ruangan.


Sebuah foto keluarga yang lengkap. Terlihat wajah mereka yang sama-sama bahagia, seolah tiada beban. Entah mengapa Orion merasa iri akan hal tersebut.


“Fotonya Endaru? Hm, jadi begini ya rupa kedua orang tuanya.”


Ketika menatapnya lebih lama. Perkataan Endaru sebelumnya pun terlintas dalam benaknya kembali.


“Dia bilang aku tidak seperti orang dewasa yang dia pikirkan. Apa itu artinya dia benar-benar percaya padaku? Dan menganggap diriku seperti orang tua sendiri?”