
Kejadian itu sudah pasti akan diliput berita.
“Huh, ini terlalu sakit.”
Orion memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan yang tersembunyi. Takkan ada seorang pun yang akan datang jika ia berada di sana, itulah yang Orion inginkan.
“Aku bisa menyembuhkanmu tapi hanya sementara,” ucap Karura.
“Tubuh ini juga aneh karena Api Abadi. Aku jadi bingung, sebetulnya aku ini manusia hidup atau mati.”
“Manusia memang lemah sehingga terkadang pikiran pun berjalan lambat. Masih untung kau selamat,” sindir Karura.
Kalau tidak ada Karura ataupun Api Abadi dalam tubuhnya, maka mungkin Orion akan mati karena pendarahan. Hidup saja sudah susah, apalagi jika ia mati nanti.
Terkubur dalam keadaan gelap itu membuatnya sesak. Namun jika diingat kembali, tak seorang pun menguburkan mayat Orion dulu. Ia ditelantarkan begitu saja, sampai akhirnya bangkit kembali dan meratapi nasib yang sama.
Takdir yang cukup buruk.
“Aku akan berjalan lagi. Ah iya, ponselnya.”
Sembari melanjutkan perjalanan, Orion mencoba untuk menghubungi seseorang akan tetapi ia sudah lebih dulu dihubungi. Tertera nama kontak Endaru yang menunggu panggilannya diangkat.
Setelah berjalan beberapa langkah, baru saja Orion mengangkatnya namun Endaru sudah berada di depan mata.
“Akhirnya ketemu juga!”
Raut wajah yang gelisah, peluh bercucuran deras, napas yang berat dan rasa khawatir pada Orion ditunjukkan lebih jelas sekarang. Endaru bersimpati akan keadaan Orion.
“Ledakan terjadi setelah kau menutup panggilannya. Aku melacakmu tadi,” tutur Endaru seraya menuntun Orion.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Orion. Setelah menemukan Endaru yang dalam keadaan cemas, mengkhawatirkan seseorang, Orion lantas tumbang tak sadsekan diri di tempat dalam posisi berdiri.
“Orion? Astaga, lukamu sampai separah ini!?”
Rasa cemas pun semakin meningkat begitu Endaru melihat semua luka yang tertimbun di satu tempat. Ada kemungkinan organ dalamnya terkoyak namun Endaru sama sekali tak merasakannya.
Hanya darah yang sedikit demi sedikit berhenti mengalir seiring waktu.
Endaru membawanya ke salah satu tempat kosong. Orion dengannya duduk untuk sementara waktu di sana.
“Pasti Chameleon lagi. Kenapa dia selalu mengincar beberapa orang, tapi dia justru menghindariku! Aku tak tahu apakah itu salah satu obsesinya atau apa, tapi yang jelas dia berbahaya.”
Endaru menggerutu seraya mengigit jari jemarinya dengan perasaan gelisah. Cuaca yang panas, banyak orang beramai-ramai ke sana dan kemari. Sebagian pun hanya berniat melihat insiden ledakan itu.
Tak!
Tangan Orion menyingkirkan jari Endaru yang digigit-gigitnya. Ia kemudian menatap Endaru dengan wajah lesu.
“Jangan mengigit jari seperti itu,” ucapnya.
“Orion! Kau sudah sadar? Ah, tunggu, tapi aku tidak menghubungi siapa pun karena tahu di sekitar sini ada banyak orang. Salah-salah kau bisa jadi pusat perhatian.”
“Ya, itu justru bagus. Aku juga membaik seiring waktu berkat Api Abadi. Jangan cemaskan aku. Tapi cemaskan orang-orang yang ada di sana.” Orion menunjuk ke depan.
“Orion, untuk saat ini jangan terlalu banyak bergerak. Aku cukup yakin ada banyak mata di sini.”
“Maksudmu orang-orang di sekitar sini?”
“Bukan. Tapi Chameleon dan rekannya.”
“Kalau begitu. Tolonglah mereka, tolong hentikan api yang sulit dipadamkan saat ini.”
“Endaru! Meski kau bukan orang yang melakukannya, jika kau melihat mereka yang mati terbakar, lalu bagaimana perasaanmu? Bukankah rasanya seperti kau seolah menanggung beban?” celetuk Orion menegas, ia menyahut perkataannya.
“Aku pikir hanya orang terluka? Tapi ternyata sudah mati,” batin Endaru.
“Kenapa kau selalu peduli pada orang lain sedangkan pada dirimu sendiri saja tidak?” ketus Endaru.
“Ha! Lihat sekarang, bukankah kau juga melakukan hal yang sama sepertiku? Kau mengkhawatirkan aku, apakah karena aku kenalanmu? Sedangkan mereka bukan!” balas Orion menatapnya jengkel.
“Hei! Mereka sudah mati. Dan api itu juga sudah diurus oleh mereka. Jadi aku tak perlu melakukannya lagi. Kenapa juga kau membandingkannya dengan aku yang mencemaskan dirimu?”
“Aku mencemaskan mereka. Karena aku merasa tersiksa akan kematian mereka. Apa kau mengerti itu?”
“Ya, aku mengerti! Aku pernah merasakannya. Dan Orion, kau janganlah berpikir berat lagi. Lukamu akan memburuk karena hal itu!” tegas Endaru sembari mencengkram kedua pundak Orion.
“Aku jadi merasa aneh sendiri. Karena selama ini, orang yang mencemaskanku itu selalu ada maksudnya,” singgung Orion.
“Tunggu, apa maksudmu? Aku menolongmu bukan karena ada maksud. Lagi pula daripada aku, bukankah Gista memanfaatkan dirimu? Harusnya kau marah padanya, bukan padaku.”
“Aku sudah bersepakat dengannya. Jadi hal itu tidak bisa dibandingkan. Yang aku tanyakan adalah kau, kau datang dan berlari mengejarku. Bahkan menghalangiku untuk bunuh diri.”
Plak!
Orion menepis tangan Endaru yang hendak meraihnya lagi. Dalam kondisi yang tak stabil, Orion lantas pergi meninggalkannya begitu saja.
“Ya, ampun. Sifatnya yang kadangkala suka marah masih belum berubah.”
Endaru tahu kalau Orion sedang mengalami syok karena melihat kematian seseorang.
“Padahal dia tahu, kalau mereka sudah mati. Dan tidak ada yang perlu kubantu lagi di sana,” gumam Endaru.
Dan lalu, ia juga mengetahui alasan mengapa Orion bingung padanya. Sebab, Orion tak pernah sekalipun dibantu oleh orang-orang sekitar dengan ikhlas.
“Bagus sekali kau Chameleon. Kau mungkin bisa membuat pikiran Orion kacau. Tapi tidak denganku. Awas saja, aku tidak akan membiarkanmu semena-mena lagi,” gerutu Endaru. Kemudian menghampiri Orion.
Hari sudah gelap. Sudah berlama-lama Orion berjalan dengan lambat entah menuju ke mana. Endaru yang terus mengikutinya diam-diam pun merasa khawatir akan Orion.
Bruk!
Dan kekhawatirannya menjadi kenyataan. Orion terjatuh. Ia tak sadarkan diri kembali. Sebelumnya, ia juga pernah mengatakan beberapa baris kalimat dan makian. Mungkin karena pikirannya masih berada di lokasi ledakan, maka dari itu Orion cepat merasa lelah lalu pingsan.
“Ini hal yang wajar. Ketika melihat seseorang terbunuh, maka kita akan ketakutan dan di satu sisi ingin melakukan sesuatu. Sama sepertiku dulu.”
Trak! Tak!
Suara atap yang berisik saat rintik hujan datang. Orion dan Endaru duduk bersebelahan di tempat angkringan yang sepi. Pemilik tempat itu lah yang menawari mereka untuk duduk di sana.
“Kalian tidak mau makan apa-apa? Dan bagaimana keadaan pria itu? Dia sampai berkeringat dingin di hujan seperti ini. Apa tidak lebih baik dibawa ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Dia sudah sembuh. Mungkin.”
Semua luka Orion mungkin sudah diperban dengan baik oleh Endaru. Namun bukan berarti selain luka fisik, Orion dikatakan sudah pulih.
“Lagian kenapa bisa dia terluka begitu parah.”
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
Endaru tetap membuka mata lebar-lebar. Berjaga-jaga akan sekitar karena ia masih khawatir dengan keberadaan Chameleon yang dirasa ada di sini.
Tanpa menghubungi siapa pun lagi. Endaru berniat akan membawa Orion pergi ke suatu tempat yang lebih aman menurutnya.