ORION

ORION
Barista, Erik. Informasi Darah Langka yang Bocor



Barista yang adalah Pejuang NED dengan seekor harimau. Karena keberadaan mereka sudah ketahuan, harimau itu perlahan berubah menjadi kucing kecil.


Meskipun di sini ada banyak Pejuang NED, Orion merasa pembicaraan harus di tempat yang sepi.


Bruk! Endaru membuat kepala semua orang kecuali mereka menghantam meja. Setidaknya dengan begitu, mereka semua akan bungkam.


“Itu tindakan yang terlalu sadis,” celetuk Orion.


“Ini lebih baik dari yang sebelumnya,” ujar Endaru menganggap ini semua mudah.


Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari kafe. Sesaat ia hendak melarikan diri namun tidak bisa karena Pahlawan Kota mengawasinya dari belakang.


Sesampainya di suatu tempat, lapangan yang sepi. Mereka singgah di pinggir lapangan.


“Katakan, siapa namamu?” tanya Orion.


“Namaku Erik,” jawabnya seraya menghindar dari tatapan mereka.


“Lalu, yang kau lakukan tadi itu apa maksudnya? Apa kau sedang mengincar kami? Padahal kau tahu ada Pahlawan Kota di sini, sudah begitu langganan kafe-mu, 'kan?”


“Hah, ya aku tahu. Aku 'kan ada di depan kalian. Biar aku peringatkan satu hal padamu, aku hanya mengincar dirimu yang berdarah langka,” ujar Erik dengan meninggikan suara.


Sorot mata Erik yang tajam mengarah pada Orion, namun saat Endaru menatap Erik dengan sinis, seketika Erik menurunkan pandangannya.


“Tentangku bisa diketahui oleh seseorang asing sepertimu? Padahal aku sama sekali tak mengenalmu.” Orion semakin menggerutu kesal.


Erik yang masih menurunkan pandangannya itu kemudian berkata, “Tentu saja aku tahu. Lagi pula, informasi darah langka itu dijual. Semua orang yang tergiur pun akan menghamburkan banyak uang untuk itu.”


Informasi Orion yang berdarah langka itu dijual di suatu tempat. Sejujurnya Orion sama sekali tidak menyangka akan hal itu, namun kenapa bisa itu diketahui oleh informan?


“Tidak mungkin itu ulah Arutala, yang membuatmu diburu banyak Pejuang NED,” sahut Endaru.


“A-ah, itu ...sepertinya aku melihat orang yang memberikan informasi itu pada informan. Dia berniat mengambil keuntungan yang banyak dari itu,” jawab Erik dengan sedikit terbata-bata.


“Jika kau tahu siapa dia, tolong katakan?” Orion menanyakannya.


“Aku tidak mengenalnya. Tapi mungkin dia itu semacam preman,” pikir Erik sedikit meragu.


“Bicara yang benar,” ucap Endaru mengancam.


“Uh, sudah aku bilang aku tidak mengenalnya. Jadi kenapa kalian tidak ke tempat informan itu saja? Lagi pula rumahnya tidak jauh dari sini,” ujar Erik agaknya takut dengan ancaman Endaru.


“Jangan sinis begitu, Endaru. Kalau dia ketakutan sampai terkencing-kencing bagaimana?” sahut Orion, cemas karena Erik yang saat ini terduduk menghadapnya.


Ada satu kelompok yang Orion tahu. Mereka mungkin bukan mengetahui melainkan baru dugaan saja. Sebab, kali pertama ia bangkit, sekelompok preman mengejarnya habis-habisan.


Dan mereka sama sekali belum membuktikan apakah darah Orion benar-benar langka atau tidak. Bahkan Orion sendiri baru mengetahui sifat darahnya ketika ia masuk ke lingkup Organisasi utama NED.


“Sepertinya dia sangat antusias sekali. Sama seperti bapak, dia pun ingin memburu saya rupanya,” ucap Orion sambil menatap ramah pada Erik.


“Apa-apaan ekspresimu itu?” sindir Endaru merasa asing melihat Orion berwajah seperti itu.


“Aku sudah bosan marah,” ucap Orion sambil menatapnya namun terlihat jelas bahwa ia sedang kesal.


Sama sekali tidak dapat dibayangkan apa yang terjadi setelah itu. Orion pun hanya menghela napas seraya memijat keningnya.


“Jadi, bapak sendiri ingin memburuku karena darah langka. Tapi untuk apa? Ataukah kau bekerja di bawah seseorang berpengaruh?” tanya Orion.


Erik menjawab, “Aku menginginkan darah langka itu untuk seseorang yang penting bagiku. Darah langka bisa membuat orang hidup kembali, benar? Makanya aku ingin mencoba.”


Tatapan Erik menjadi sendu. Ia sangat merenung dan kecemasan meliputi sekitarnya. Sesaat Orion merasa simpati dengan keadaan Erik saat ini.


Dari perkataannya saja sudah jelas, bahwa ia ingin seseorang yang berharga baginya itu kembali hidup sedia kala. Akan tetapi, tak ada jaminan bahwa itu akan bisa dan efek timbal baliknya pasti ada.


Meski Orion tidak tahu apa yang terjadi ketika itu.


“Aku sarankan, jangan asal memutuskan untuk menghidupkan orang itu. Dunia NED tak sesempit yang kau kira. Kau tahu betul, bagaimana rasanya diserang dengan kekuatan aneh,” ujar Orion.


“Apa urusanmu,” ketus Erik memalingkan wajah. Keningnya berkerut.


“Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi kau masih ingat apa yang kau lakukan di dalam kafe tadi? Kau 'kan yang melakukan semuanya,” tegas Orion.


“Itu hanya ilusi. Harimau tadi pun hanyalah kucing kecil ini saja,” kata Erik seraya mengelus tubuh kucing yang ada di sampingnya.


“Tapi terakhir kali, mereka semua tetap berada di posisinya. Apa yang sebenarnya kau lakukan? Bukankah bahaya, dan kenapa ada banyak Pejuang NED di dalam kafe?”


Berbagai pertanyaan Orion kepada Erik terus dilontarkan tanpa henti. Namun berulang kali Erik hanya menjawab bahwa itu hanyalah ilusi.


Sebab Erik adalah Pejuang NED dengan tipe ilusi. Maka semua hal yang Orion dan Endaru lihat sebelumnya hanyalah bayangan semu.


“Itu karena mereka selesai bersandiwara. Ah, bukan, maksudku. Mereka semua juga mengincar darah langka, jadi aku memancing mereka untuk datang ke tempatku,” ujar Erik lalu menyeringai tipis.


“Jadi kau tahu kedatanganku?”


“Tentu saja. Pria yang selalu berdiri di samping Nona Arutala, Mahanta menghubungi kafe milikku dan bilang dia akan membawa seorang anak kecil. Tentu aku tahu siapa anak kecil itu,” jelas Erik.


Meskipun Orion sudah berada di lingkup Organisasi utama NED, terutama di bagian Grup Arutala, mereka masih berniat untuk mengincar Orion.


“Ah, ini menyebalkan. Hei, kemarikan itu,” pinta Orion seraya mengulurkan tangan.


Orion meminta buku kuno yang saat ini masih ada pada Endaru. Endaru pun segera membalikkan badan dan kemudian menyerahkan buku tersebut.


Orion buru-buru membuka setiap halaman pada buku kuno, ia mencari-cari halaman yang berisikan informasi berupa darah langka.


Tak!


Ketika ia membuka serta membaca halaman itu, tiba-tiba tubuhnya terbakar. Api hijau yang warnanya sangat mencolok. Terkejut, ia menjatuhkan bukunya.


Seseorang yang mungkin melakukan hal ini, tidak lain adalah Dr. Eka. Kini, pria itu sedang mendekam di balik jeruji besi di ruang bawah tanah Arutala.


Seraya mengeratkan kepalan tangannya, Dr. Eka terkikik kegirangan karena benar-benar telah menggenggam erat Orion. Meski dari jauh sekalipun.


“Apa yang sebenarnya dia lakukan di sana? Api ini membuatku teringat kenangan buruk kemarin. Tak kusangka pria itu benar-benar keras kepala, padahal sudah dibuang oleh majikan. Dasar g*la.”


Tak habis kata-kata berupa makian sepihak Orion pada Dr. Eka. Tubuh Orion gemetar kuat lantas api hijau itu menggerogoti dirinya bak serangga melata membelit tubuhnya begitu erat.