
Seluruh orang-orang yang tinggal di tempat terpencil seperti ini tengah dibantai dalam sekejap oleh tangan Chameleon sendiri. Entah dengan maksud apa ia melakukannya ataukah sekadar hobi?
Orion sama sekali tidak tahu.
Tapi, ketika ia mendongakkan kepala ke atas, menatap langit keruh yang berbeda dari biasanya, ia sedikit mengerti. Terdapat dinding tak kasat mata yang sengaja dibuat agar orang-orang yang berada di wilayah luar dari terpencil tak mendengar jeritan yang ada di daerah ini. Dan, hanya sekali bergerak, Chameleon membantai dengan cara memperluas jangkauan serangnya yang luar biasa.
“Aku membantai mereka semua!” ungkapnya begitu lugas dengan emosi kebahagiaan terpampang jelas di raut wajah Chameleon.
Ia mengangkat kedua tangannya lalu merentangkannya sembari melihat langit keruh ini, seakan menikmati pertunjukan teater dengan penuh kesenangan.
Darah telah membanjiri isi kepala Orion, pandangan Orion memburam seolah akan buta tak lama lagi. Ia tercengang, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
“Chameleon, dia ...!” Orion menoleh ke belakang, geram, ia mengepalkan kedua tangannya kuat.
Niat hati ingin menghentikannya, tapi ini bukan saatnya. Sebelum menghentikan Chameleon, ia harus menghentikan diri sendiri yang ingin mengamuk di daerah terpencil.
“Lalu! Aku akan membangkitkannya!”
Apa?
Untuk sesaat Orion tersentak, ia nyaris tak percaya dengan yang barusan ia dengar. Apakah Orion tuli? Ataukah karena hari ini ia belum membersihkan telinganya?
Chameleon berkata setelah membantai mereka lalu ia ingin membangkitkannya?
“Hah?!”
Tak ada kata-kata lagi yang bisa menyainginya. Ini jelas tak masuk akal namun lihatlah di daerah terpencil ini yang hanya ada puluhan penduduk saja.
“Serius?”
Seolah necromancer, atau mungkin malaikat maut sok berkuasa datang. Orang-orang yang sudah mati kini ajaibnya kembali bangkit dengan kesadaran penuh.
Tak hanya itu, beberapa dari mereka terasa memiliki hawa keberadaan yang sama seperti NED. Kekuatan supernatural mereka bangkit.
“Hah? Aku tidak mengerti! Hei, Chameleon!” teriak Orion berlari menghampirinya.
“Ada apa Orion? Kau suka dengan yang aku tunjukkan? Kalau suka maka tertawalah. Inilah yang ingin aku tunjukkan! Masa di mana dunia hanya akan dipenuhi oleh orang-orang berkekuatan super tak lama lagi akan terwujud!”
Jadi itu rupanya. Rencananya tidak melenceng dari awal, namun kekuatan Chameleon yang semakin lama semakin meningkat. Ya, benar saja. Sudah setengah tahun berlalu semenjak keberadaan Chameleon menghilang hari itu bersama Ade.
Mana mungkin Chameleon masih sama seperti dulu!
“Gila. Dasar tidak waras!”
***
Rasa ingin melawan bangkit tapi ketahuilah tempatnya, Orion takkan bertindak gila sebelum rencana penyerangan yang entah kapan akan dimulai. Barusan, serangan frontal baik secara fisik dan mental benar-benar membangkitkan orang-orang yang telah dibantainya.
Begitu bangkit, mereka mendapatkan kekuatan supernatural itu berasal dari tubuh Chameleon sendiri. Artinya, mereka pun sepenuhnya dikendalikan oleh Chameleon dengan tanpa peduli dengan keberadaan diri mereka sendiri.
Mereka hidup kembali dengan mempertaruhkan nyawa hanya demi orang yang telah membunuh mereka.
“Kalau kekuatan itu digunakan untuk seluruh penduduk di negara asing ini, maka semuanya ...”
Mereka kembali ke gedung kasino yang saat ini pun masih aktif seperti biasa. Tanpa ada yang tahu bahwa pemilik gedung sudah tiada, kecuali bawahannya yang setia.
“Aku akan pergi beristirahat. Kalian semua lebih baik juga melakukan hal yang sama, karena besok kita akan bergerak!”
Chameleon akhirnya berpisah dengan para bawahannya. Sebentar lagi pun kasino akan ditutup oleh Ripia dengan sendirinya.
Usai pintu ruangan yang sejak tadi mereka gunakan tuk mendiskusikan sesuatu, tampak bawahan para Chameleon selain Iki yang sudah keluar, tetap berdiri di dalam ruangan ini.
“Ini waktu yang pas untuk membunuhnya. Aku sendiri pun bisa melakukan ini sendirian,” cerocos Jinan, ia sedikit berbisik pada Orion.
“Malam adalah petaka bagi orang-orang biasa yang beristirahat. Tapi berbeda dengan Tuan Chameleon bukan?” sahut Sera yang tak menggampangkan membunuh Chameleon.
“Hei, Orion. Aku punya dendam karena kau telah menghancurkan karirku,” ucap Caraka seraya melingkarkan tangannya ke pundak Orion.
“Andai saja Api Abadi tidak ada. Maka pengkhianat itu tidak akan pernah ada. Ah, maksudku, sejak awal kita ini musuh bukan?”
“Hentikan, kalian semua! Sejak tadi kalian melakukan hal yang sia-sia!” ucap seorang pria tua yang memiliki tubuh kecil, ia keluar dari balik kursi sofa yang tinggi.
“Ha, kalian semua tidak ada bedanya. Jadi, apa yang ingin kalian perbuat setelah musuh kalian ini melihat kekuatan tuan kalian langsung?” tanggap Orion tanpa peduli resiko apa di depannya kelak.
“Aku tahu ini akan terjadi. Karena bisa saja aku membocorkan informasi pada rekanku di luar sana,” imbuhnya.
“Heh, rupanya kau tahu bahwa kami berniat melakukan sesuatu. Toh, kau tak bisa melakukan apa pun sekarang. Jadi hentikanlah angan-anganmu yang berpikir dapat membunuh Tuan Chameleon,” tukas Jinan.
“Ya, tuan kalian yang bodoh!” teriak Orion tersenyum tidak waras.
Buakk!
Tinju melayang dengan ringan, mendaratkan pukulan yang begitu mantap hingga Orion limbung ke belakang. Lalu menabrak dinding.
“Hahaha!”
Jinan, Sera, Caraka dan sisanya lantas tertawa seolah yang barusan adalah pertunjukan yang menyenangkan. Mereka menindas Orion seakan Orion hanyalah pria yang memiliki hutang namun tak bisa membayar.
“Ha, apa ini? Kalian merundungku? Dasar, kalian semua persis anak kecil yang kurang kasih sayang orang tua,” ledek Orion meringis.
“Apa katamu? Kami melakukan ini juga hanya sebatas pelajaran saja. Toh pukulan takkan membunuhmu,” ujar Jinan berkacak pinggang dengan sombong.
“Kau memang yang paling cerewet di sini, Jinan si Tangan Buntung.”
Tinju kedua telah melayang, seolah mengancam tapi ingatlah bahwa Orion takkan mudah goyah hanya karena hal sepele seperti ini.
“Tangan buntung? Hei, coba lihat ini.”
Jinan melemparkan suatu benda yang terbungkus sehelai kain putih, terdapat bercak merah yang nampak dengan jelas itu apa. Sementara pria tua yang sejak tadi hanya melihat dan meringis kini pergi, tak berniat untuk mengikuti perundungan bersama anak-anak muda seperti mereka.
“Lakukan sesuka kalian sajalah, aku bosan menanggapi kalian.”
Dan kain yang membungkus sesuatu itu kemudian menggelinding, terbuka dengan sendirinya. Menunjukan benda yang ada di dalamnya. Lantas, Orion diam dengan mata terbelalak kaget.
“Bagaimana? Kau ingat 'kan? Ini milik siapa?” Jinan terkekeh seraya menunjuk-nunjuk hal itu.
Potongan tangan seseorang lah yang berada dalam bungkusan kain tersebut. Siapa yang akan menyangka bahwa tangan itu adalah tangan seseorang yang ia kenali.
“Yah, dia bodoh sekali. Katanya, dia trauma dengan ruangan yang gelap, begitu dihadapkan dengan hal semacam itu pasti dia akan berteriak keras seperti orang gila,” ujar Jinan.
“Aku merasa kasihan sekali dengannya. Tapi dia berhasil lolos 'kan?” tanya Sera.
Tangan anak muda, milik salah satu anggota NED yang bergabung secara tidak resmi. Dianggap sebagai Pahlawan Kota, NED terkuat sebelum Gista, Endaru.
Potongan tangan seseorang lah yang berada dalam bungkusan kain tersebut. Siapa yang akan menyangka bahwa tangan itu adalah tangan seseorang yang ia kenali.
Tangan anak muda, milik salah satu anggota NED yang bergabung secara tidak resmi. Dianggap sebagai Pahlawan Kota, NED terkuat sebelum Gista, Endaru.
“Endaru?”
Mata Orion terbelalak kaget tak percaya. Potongan tangan itu benar nyata dan ada di depan mata. Persis di dekatnya dan dapat ia lihat dengan jelas.
“Hei, kau mengenali tangan itu 'kan? Dia bodoh sekali. Padahal sudah ditolong olehmu tapi siapa sangka dia akan balik untuk melawan kami lagi. Dan lihatlah sekarang,” ucap Jinan seraya menggelindingkan tangannya lebih mendekat pada Orion.
“Oh, iya. Aku lupa mengatakan satu hal padamu. Gelang yang mengikat pergelangan tanganmu, bukankah rasanya sakit? Ya, jelas saja! Karena gelang akan bereaksi ketika kau mendekati mantan temanmu, tak terkecuali dengan potongan tubuhnya!”
Jinan mengeraskan suaranya dengan sengaja, membuat amarah Orion semakin meningkat. Sesuai perkataan Jinan, kini pergelangan tangan Orion tertekan karena gelang yang mengikatnya hingga membuat ia terluka. Rasanya tangan Orion akan lepas.
“Jangan sampai mati,” ucap Sera memperingati Jinan.
“Ya, ya. Aku sudah tahu. Iki juga memberiku pesan seperti itu,” ujar Jinan.
“Argh! Kurang ajar! Berani-beraninya kalian ...!”
Tangannya gemetar dan terus memeras darah serta tenaganya. Kerutan di dahinya semakin bertambah, begitu pula rasa amarah yang menggelegak. Ia terus mengerang kesakitan serta mengertakkan gigi-gigi gerahamnya.
Orion sudah habis kesabaran namun dirinya tetap mengingat demi apa dan merelakan apa agar dirinya tetap diam dan tak termakan emosi. Juga, jika Oriok bertindak dengan menyerang Jinan terutama maka masalahnya akan jadi semakin rumit. Orion tidak mau, jika usahanya akan hancur hanya karena hal ini, dalam sekejap.
“Ayo! Marahlah! Marah 'kan? Kau pasti sangat marah, melihat bocah yang sudah menganggapmu sebagai Ayah? He! Ayah? Ayah? Begitu 'kan dia menyebutmu! Orion!”
“Brengs*k! Anak-anak muda seperti kalian memang menyebalkan. Kalian berniat membuatku marah? Ha?” sahutnya dengan alis berkedut seraya ia tersenyum.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada kesabaran.
Tidak ada hanya untuk bertahan saja. Semua, sudah lepas kendali.
BLARR!
Darah yang menetes berubah menjadi api, mula-mula dari sebelah tangannya hingga menyambar ke wajahnya. Setengah wujud manusia berkulit seperti orang normal sementara setengah wujudnya yang terbakar oleh api hanya terlihat kerangka tulangnya saja.
“Ho, apa dia akan melawan kita? Kalau begitu–”
Jinan tak ada habisnya mengejek, hal itu sungguh membuatnya kesal sehingga Orion tak dapat menahan dirinya lagi. Sebelum Jinan mengatakan ejekan lainnya lagi, Orion membungkamnya serta membakar wajah Jinan tanpa peduli apa yang akan terjadi.
Menurutnya apa yang terjadi?
“Hei, hentikan dia!” seru Sera.
“Maksudmu aku?” tanya Caraka yang enggan mendekat karena tahu betul seberapa bahayanya Api Abadi tersebut.
Jinan pasti akan mati, kembali ke liang lahatnya. Tapi, Orion takkan membuat seseorang yang sudah berani melukai rekan atau seseorang yang dianggap sebagai anak sendiri, mati dengan mudah.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu, Jinan? Kau boleh mencaci-maki diriku, bahkan jika kau ingin tangan kananku, maka ambilah. Tapi kenapa kau malah menyentuh anakku!”
“Ck, dasar pria tua! Kau—”
Sekali lagi api itu menyambar ke wajahnya, Jinan kesulitan bernapas sementara Sera kesulitan untuk menghentikan Orion apalagi Caraka yang sifat pengecutnya sudah ada sejak lahir.
“Ingatlah ini, Jinan. Meski kau membalas perbuatanku dengan cara menyakiti orang lain, aku akan tetap memburumu sampai kau kembali ke liang lahatmu.”
Kecaman terasa menjadi ancaman terkuat darinya. Jinan gemetaran, ia sangat ketakutan apabila jika Orion akan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar membakar wajahnya sekarang.
Sera yang panik lantas menyeret tangan Orion yang saat ini tengah mencengkram wajah Jinan justru tidak lagi berani menentang Orion lagi, sebab tangannya mudah panas dan ia akan terbakar apabila masih nekat untuk menyelamatkan Jinan.
“Dasar sinting! Hei, lepaskan tanganmu! Kau ingin mati ya hah?!”
“Itu salahmu sendiri bukan? Kalian mengusik sesuatu yang seharusnya kalian tidak usik. Masih beruntung jika kalian masih hidup, tapi dengarkan, aku sendiri tak keberatan jika mati. Dan alasanku bertahan saat ini adalah untuk sesuatu ...,”
Perlahan Orion melepaskan cengkramannya pada wajah Jinan yang kini benar-benar telah terbakar setengah pada bagian mulut serta hidungnya.
“Peranku cukup besar tapi amarahku sulit ditahan meski hanya sebentar saja. Jangan lupa, kalian lah yang membuatku seperti ini,” lanjut Orion.
“Persetan dengan itu! Kau pikir kenapa kami menyerang Pahlawan Kota? Sudah pasti dia musuh bukan?”
“Musuh? Yang sudah kabur dari medan pertempuran, masih kau sebut musuh? Jadi itulah mengapa kau memotong tangannya sama seperti orang buntung di sana?” tukas Orion sembari menunjuk Jinan yang tak bisa bersuara sekarang dan hanya menatap tajam ke arahnya saja.
“Cih, pria tua s*alan.”
Tak ada gunanya memaki.
Serangan Orion yang meledak-ledak akan segera menghancurkan lantai tinggi ini. Sisanya tergantung mereka yang berniat memadamkan amarahnya atau tidak.
Tapi, sepertinya tidak ada.
Waktu yang bergulir cepat seolah melambat, detik pada jarum bergerak sesuai irama namun rasanya seperti tertahan oleh kabut di malam hari.
Bara api kian merajalela mengitari tubuhnya yang tengah terduduk di sudut ruangan. Punggung yang sama membaranya kini mulai melelehkan dinding tebal seakan hanya sehelai kertas saja.
Darah terus mengucur keluar tanpa henti di area kedua pergelangan tangannya. Rintihan sakit takkan pernah didengar karena telah tertelan oleh api amarah.
“Jangan memaksakan keberuntunganmu! Tanpa Chameleon atau Api Abadi, kau sudah mati!!”
Cruakk!
Cakar Sera menyayat sadis bagian depan tubuh Orion, ia mempertaruhkan cakarnya agar dapat melukai. Lalu disusul serangan oleh Caraka dengan senjata fisik mengenai perut bagian bawah sebelah kirinya, hal itu membuat Orion memuntahkan darah segar.
Termasuk titik vital yang berharga, jika pendarahan tak segera dihentikan maka dirinya akan mati. Namun pergerakannya terkunci oleh benang baja yang seharusnya sudah meleleh karena bara api, tapi seakan benang milik Jinan ini barusan ditempa jadi semakin kuat saja.
“Argh!”
Erangan kesakitan lolos dari mulutnya. Rasa sakit yang bertumpuk, bertubi-tubi membuat bara apinya menjadi tak terkendali hingga akhirnya meledak.
Dar!
Bagai hembusan napas api seekor naga, ledakan api memecahkan ruangan yang rapi menjadi berantakan dengan sisa-sisa yang sudah tak terbentuk lagi.
***
Di jalanan yang masih gelap, Endaru saat ini tengah berusaha untuk berjalan dengan cepat. Matanya terbelalak, terlihat ia masih syok karena kejadian sebelumnya. Ia pula mungkin melupakan apa yang telah terjadi pada tangannya saat ini.