ORION

ORION
Barang Yang Dilelang, Darah Langka



Pelelangan Undergrown. Saat ini juga, mereka melelang barang terakhir yakni segenang darah yang tersimpan dalam wadah kaca. Darah kental, padat dan berwarna lebih cerah. Sungguh benar-benar tidak dapat beralih, mereka sangat berfokus pada apa yang dilelang sekarang.


“Perkenalkan! Ini adalah darah penghubung jiwa dan raga! Darah yang mengental merah bagai madu mengalir ini sangat enak dipandang!”


Mc saja sangat terkagum-kagum, ia menjelaskannya begitu detail. Namun satu hal pasti, darah itu adalah darah langka. Awalnya Orion tidak menyangka, dan berpikir bahwa itu hanyalah darah palsu. Akan tetapi, itu tidaklah mungkin. Karena kalau itu palsu, bisa saja mereka dituntut ke depannya.


Hal yang ditakutkan oleh Orion justru telah terjadi. Firasat buruk berubah menjadi kenyataan, dan inilah kenyataan itu. Darah langka yang entah milik siapa itu kini telah dilelang.


“Gawat, kalau darah itu jatuh ke tangan yang salah maka sesuatu yang lebih buruk dari Phantom Gank akan terjadi,” gerutu Orion seraya menyipitkan kedua mata.


Ia mencuri-curi pandang ke arah belakang, memastikan tak ada yang melihat, lalu membuka sedikit tirainya untuk melihat apa yang terjadi. Orion tengah melihat ekspresi para hadirin, ketika benda itu dilelang.


“Mereka semua terdiam, ya.”


Srak!


Orion kembali menutup tirainya lantas duduk di sekitar kotak kayu untuk menenangkan diri serta berpikir apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.


“Silahkan pasang harga! Dimulai dari 10 juta!”


Mulai dari harga murah. Mereka tampak sangat antusias terhadap barang lelang itu. Bertaruh dengan menambahkan satu demi satu angka, namun saingannya terlalu ketat.


“Jangan bilang semuanya adalah Pejuang NED? Makanya mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya sekarang,” pikir Orion. Ia masih mengawasi hingga detik ini.


Sampai-sampai kedua kakinya kesemutan. Tak sanggup untuk terus menunggu lebih lama lagi, namun kalau muncul sekarang itu terlalu gegabah namanya. Orion pun bangkit dan berputar-putar seraya memikirkan suatu cara agar darah itu tidak dilelangkan.


“Ah, lama-kelamaan membuatku kesal saja. Kenapa darah itu bisa dilelangkan? Apa yang mempunyai darah itu juga butuh uang? Tetapi, kalau identitasnya bocor maka dia akan dijadikan sasaran. Cepat atau lambat itu akan terjadi.”


Otaknya terus berputar seiring waktu. Memikirkan banyak cara tuk menggagalkan benda itu dilelang. Berharap ada yang lebih aman, namun tiada hasil kecuali ia menyamar sebagai perampok atau sejenisnya.


Sembari memijat keningnya, Orion terus berputar ke sana dan kemari lalu memperhatikan di balik tirai. Berulang-ulang Orion melakukan hal itu.


“Darah itu akan menghidupkan anakku satu-satunya. Ah! Aku sudah tidak sabar untuk itu!”


“Kau tidak punya kekayaan yang cukup. Aku lah yang akan memenangkannya!”


“Tidak! Aku bertaruh 50! 50!”


“Ck! Aku akan mengeluarkan harta tersisaku sekarang!”


Beberapa dari mereka bergulat tanpa bergerak sedikitpun. Lantaran mereka bersaing, saling bersinggungan satu sama lain ketika nilai darah itu semakin meninggi dari waktu ke waktu.


“55!”


“57!”


“Aku tidak akan kalah! 70!”


Mereka tampak seperti prajurit di baris depan yang akan mengalahkan semua musuh yang dilihatnya. Terlihat sangat jelas, semula ruangan ini terlihat elegan dan dingin. Namun sekarang justru berubah menjadi semakin memanas. Setiap waktu terlewati, mereka mengucurkan keringat dan jeritan penambah semangat.


Padahal kalau hanya menekan tombol di gagang kursi, maka nominal itu akan tersimpan. Tapi mereka, para hadirin yang setelah menekan tombolnya, maka mereka terus berteriak jumlah nominal yang digunakan pertaruhan itu.


“Hei! Apa yang kau lakukan?! Kau menaikkan angkanya!”


“Ha! Biar saja! Kau bangkrut sana!”


“Enak saja kau! Aku masih punya segunung emas. Lihat saja!”


Sebagian orang yang tak lagi mampu pun hanya mempersibuk lainnya yang sedang berlomba-lomba memperebutkan darah. Tangan mereka yang jail digunakan untuk menekan tombol milik orang lain tanpa disadari maupun disadari.


Topeng mereka yang bergerak ke sana kemari justru membuat Orion semakin kalut saja. Lantaran, ini terlihat seperti panggung opera atau sejenisnya. Membuat firasat Orion semakin tidak enak.


Mc di sana pun hanya terdiam dengan senyum sembari menerima pesan bahwa jumlah nilai dari sekian banyaknya para hadirin semakin bertambah. Menjulang tinggi lebih pesat, sehingga tak mampu berkomentar apa-apa.


“Tuan, apakah ini tidak masalah? Sebagian dari mereka terus membuat keributan di sana.” Wanita kelinci yang masih ada di sana bertanya.


“Iya tidak masalah. Asalkan mereka mampu membayar benda mahal ini,” jawabnya tanpa menatap wajah wanita itu.


“Baik. Saya mengerti. Lagipula darah ini adalah darah penghubung jiwa dan raga, yang ada di negara Ind.”


“Kau benar. Darah ini ada karena waktu kebangkitan Saint itu masih muda. Hanya berselang beberapa bulan. Ditambah dengan mengawetkannya di wadah ini, sudah pasti sangat mahal.”


Mereka yang berbicara. Namun sayang sekali karena Orion sama sekali tidak mendengar hal ini. Ia terus-menerus melihat dari balik tirai. Hanya satu matanya saja yang terlihat, walaupun tidak ada seorang pun yang menyadari.


“Ugh! Telingaku rasanya sakit sekali,” keluh Orion terhadap mereka yang terus saja meninggikan suara. Sehingga membuat telinga Orion satu-satunya merasa nyeri.


Nilai semakin lama semakin tinggi. Berkali lipat dari nilai awalnya. Hingga banyak orang memperebutkan nilai di antara angka 50-70. Para hadirin berkelas dengan pakaian formal tidak hanya menunjukkan segelintir dari harta mereka, sebab sekarang pun mulai mengeluarkan harta dari gudang mereka tanpa ragu.


Orang-orang bodoh. Padahal itu belum tentu adalah darah langka tapi mereka tetap ngotot. Dan tidak akan membiarkan saingan mereka mendapatkannya.


“90!” Angka terakhir yang paling tinggi dari para hadirin di sana.


Klotak, klotak!


Suara langkah sepatu hak tinggi. Suaranya yang nyaring namun tidak dapat didengar oleh seorang pun termasuk Orion yang hendak melangkahkan kaki ke atas sana.


Demi menghentikan pelelangan tersebut, Orion sudah memantapkan hati untuk naik. Membuat kekacauan agar semuanya menjadi hancur termasuk membuat darah langka itu tidak lagi dilelang. Itulah awal rencana Orion yang terlintas dalam benaknya.


“Karena tidak mungkin aku akan menyamar sebagai penanggung jawab lalu menghentikan ini. Jadi mau tak mau aku harus melakukannya!” ucap Orion seraya melangkahkan kaki.


Tap!


“Permisi.”


Sontak Orion amat terkejut, karena pundaknya disentuh oleh seseorang dari belakang. Saking terkejutnya, jantung tua Orion pun berdetak lebih kencang. Ia pun tak mampu untuk menoleh ke belakang, walau hanya sedikit saja.


“Siapa?! Apa aku ketahuan?! Padahal barang lelangnya hanya tersisa darah langka itu? Apa ada lagi? Yang akan menyusul?” Saat ini Orion berpikir keras mengenai situasi yang memungkinkan. Dirinya hampir terjatuh dari tebing, berarti pikiran kacau dan akan hancur.


Apa yang akan dia lakukan ketika itu terjadi?