
Gisan duduk sembari merenungukan sesuatu dengan selembar kertas di tangannya. Ia terkadang berbaring di kursi kayu itu dengan mata terpejam. Ia juga mengingat sesuatu yang miliknya sendiri.
Berupa ingatan yang masih membekas.
Peperangan yang seharusnya sudah lama usai, terhitung sekitar puluhan tahun lamanya yang di mana perbatasan menjadi perebutan antara dua negara. Gisan di sana sebagai tentara bersenjata yang masih berusia muda, justru harus meninggal dengan mengenaskan ketika hendak keluar dari parit.
Hujan peluru datang dari serangan udara. Sudah jelas siapa yang akan bertahan, semua yang berada di bawah langsung lenyap begitu saja. Mengenang hal yang mengerikan itu, Gisan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
“Bibi, benarkah aku masih hidup?”
Bibi yang kemudian terduduk dengan cemilan dan teh itu pun membalas, “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
“Aku sebenarnya sudah lama mati bukan?” tanya Gisan yang mana ia sudah sangat yakin akan hal tersebut.
“Terserah apa yang kau pikirkan, Gisan.”
“Bibi, aku sedang menanyakan kepastiannya sekarang. Aku yakin bahwa aku sudah lama mati, tapi kemudian aku hidup kembali bukan?”
Bibinya terdiam dengan penuh tanda tanya, meski ia berpikir bahwa hal semacam itu mustahil tapi adanya Gisan yang tidak berubah selama berpuluh-puluh tahun lamanya saja sudah menjadi bukti fisik yang nyata.
“Ha ...,”
Bibi menghela napas panjang, seolah ia masih enggan menjawab pertanyaan Gisan, satu-satunya keluarga yang masih hidup, setidaknya saat ini.
“Ya, benar apa katamu, Gisan. Kau seharusnya sudah lama mati, lalu kau kembali dengan wajah dan tubuh yang sama seperti puluhan tahun itu.” Bibi akhirnya mengatakannya.
“Benar 'kan? Sesuai dugaanku,” ucap Gisan seraya menyimpan kembali selembar kertas itu ke dalam saku celananya.
“Ya, aku sangat terkejut melihatmu masih hidup. Untuk sesaat aku tidak percaya tapi hanya kau lah yang memiliki wajah dan tubuh kekar seperti ini, aku tidak salah mengenali dirimu, Gisan.”
“Sama sepertimu, bi. Aku juga kaget karena melihat bibi yang sudah berubah drastis. Tapi ternyata aku yang hidup kembali dengan perawakan sama bukan?” kata Gisan, mengerutkan kening. Terlihat ia masih kurang mempercayainya.
Bibi mengelus punggung Gisan dengan lembut dan pelan, sembari ia menyunggingkan senyum, berkata, “Memang benar bahwa kamu kembali dengan tidak adanya perubahan sama sekali. Tetapi apakah ini keajaiban? Ataukah kutukan? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
Sejujurnya Gisan sendiri masih bingung bagaimana mengatakannya. Semenjak bertemu dengan Orion, ia tahu dengan jelas bahwa pria itu ada di dalam ingatannya namun ia tidak mengetahui ada di mana itu sebenarnya.
Gisan hanya bisa diam, dan berharap itu hanyalah hayalan namun ketika mendapatkan surat dari Orion yang menceritakan kejelasan tersebut, barulah Gisan mengerti dan kembali memikirkan yang telah terjadi padanya. Termasuk kematiannya sendiri.
“Sebenarnya, bi. Aku bertemu seseorang yang bisa dikatakan sangat aneh. Alasannya mungkin karena dia.”
Gisan yang masih belum bisa menceritakan hal tersebut, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Kau mau ke mana?” tanya bibi dengan ketus. Ia ikut berdiri lalu sengaja menginjak kaki Gisan.
“Aku akan pergi sebentar, bi. Ini tidak akan lama,” jawab Gisan.
“Tunggu, apa kau berniat menemui seseorang yang menjadi alasanmu kembali hidup lagi?” pikir bibi, ia menahan lengan Gisan agar tidak pergi.
“Iya. Hanya sebentar saja. Aku berjanji akan kembali,” ucap Gisan meyakinkan. Ia membujuk bibinya agar dapat ijin untuk segera pergi menemui Orion lebih tepatnya.
“Yakin?”
“Ya, bibi.”
Kruger Gisan, mantan tentara yang sudah gugur kini telah kembali bangkit tuk membayar hutang budi seseorang yang telah menyelamatkannya.
Hidup ini, takkan Gisan sia-siakan. Tak seperti dulu yang hanya berjuang tanpa tahu apa-apa.
“Aku pergi.”
Gisan melangkah pergi meninggalkan rumah sempit yang berada di sudut kota. Teringat akan rumah yang telah lama ia tinggalkan di bagian ujung dalam perbatasan, sempat Gisan berpikir panjang apakah rumah itu masih ada ataukah tidak.
Juga mempertimbangkan keadaan laut, angin lalu tebing yang sudah lama berubah selama puluhan tahun. Gisan memikirkan semua itu selama melakukan perjalanan ke perbatasan.
“Semua rekan-rekanku yang telah gugur, parit dan senjata yang sudah lama tersingkir, darah yang sudah menyatu dengan pasir. Hm, aku masih ingat dengan bayangan ketika anjingku menjilat.”
Guk!
Selama perjalanan, ternyata ia tak sendiri. Ia bersama dengan seekor anjing yang menjadi peliharaannya. Anjing itu pernah sekali bertemu dengan kelompok Orion, tubuhnya yang sudah besar namun dengan sikap yang masih manja, Gisan ingat betul bahwa anjing ini adalah anjing peliharaannya.
“Ayo pergi!”
***
Dini hari, bagian perbatasan. Rumah Gisan yang sudah lama terbengkalai. Kini dihuni oleh dua orang. Orion dan Wama.
“Wama, kau sudah bangun rupanya?”
“Candy.”
“Hm? Kau meminta permen lagi? Tidak bisa. Kemarin kau sudah memakan banyak permen, bahkan sampai dua genggaman tanganku penuh. Nanti aku akan berikan lagi setelah semuanya selesai,” ucap Orion.
“Ho ...” Baru kali pertama ini Orion mendengar ucapan Wama lainnya.
Hanya dengan mendengar itu, Orion langsung terkejut. Kemudian tertawa tanpa sadar.
“Baiklah, kapal sudah ada. Sisanya hanya perlu menunggu dia datang.”
“Terima kasih ya, Tuan! Kau telah membeli kapalku, padahal sudah jarang sekali ada yang menggunakan kapal kecil seperti itu.”
“Sudahlah, pak. Tidak usah memanggilku Tuan segala. Lagi pula kapal ini cukup muat untuk dua orang,” jawab Orion pada seorang kakek yang adalah pembuat kapal.
“Tapi apakah kau yakin? Bersama orang yang besar ini?” ujarnya bertanya, apa yang dikatakan kakek tidaklah salah.
Jika Wama yang besar akan menaiki kapal kecil yang sama seperti Orion, maka kapal itu akan hancur dalam sekejap.
Sebelum menjawab, agaknya Orion menahan tawa.
“Tenang saja, yang aku ajak bukanlah pria besar ini melainkan orang lainnya.”
Menuju akhir dari perjalanan;
Seorang pria datang dengan pakaian serba tertutup, menghampiri Orion yang berada di depan rumahnya.
“Oh, aku sudah menunggumu, Kruger Gisan.”
Orion tersenyum menyambut kedatangannya. Gisan lantas membalas senyumnya dengan ramah.
“Anda memberikan ini dengan sengaja, saya yakin bertemu langsung akan membuat segalanya menjadi jelas,” kata Gisan sambil menyodorkan selembar kertas yang telah terlipat pada Orion.
“Candy?”
Wama yang hendak menyerobot selembar itu lantas dihentikan oleh Orion dengan menghalanginya.
“Wama, ini bukan permen. Jadi jangan menganggu,” kata Orion, lalu ia menerima selembar kertas yang telah disodorkan oleh Gisan.
“Ya, aku memberikan apa yang ingin kau ketahui. Tapi siapa sangka, kita akan bertemu dengan kondisi tubuh yang utuh. Haha!”
“Jika Anda tertawa begitu, justru terlihat mengerikan. Seharusnya Anda mempertimbangkan bagaimana perasaan saya saat melihat ada mayat terbakar sampai tersisa tulang di depan mata,” sindir Gisan.
“Sudahlah, bukti kau hidup kembali saja sudah aneh. Wajar jika kau melihatku terbakar tapi tidak mati. Ini memang melawan hukum alam, ayo masuk.”
Orion mengajak Gisan untuk masuk ke dalam ke rumahnya sendiri, tuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
“Anda hidup di rumah saya tanpa seijin saya? Benar-benar berani,“ kata Gisan.
“Anggap saja bonus yang aku dapatkan setelah membuatmu bangkit dari kematian,” ucap Orion.
“Apa Anda ini sebenarnya malaikat?”
“Mana mungkin, aku ini masih manusia yang bahkan masih membutuhkanmu untuk melakukan misiku,” ungkap Orion.
Gisan memejamkan mata sejenak, lantas kembali menatap serius tuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Orion.
“Lalu, apa yang bisa saya bantu?” tanya Gisan.
***
Pukul 5 pagi. Matahari belum sepenuhnya terbit, langit juga masih menggelap walau sedikit demi sedikit mulai terang. Arus laut dalam keadaan tenang, berlayar sekarang pun tidak jadi masalah.
Tetapi, ada seseorang yang sudah mencuri start lebih awal yakni unit kedua dalam misi pengintaian. Kali ini hanya dua orang, Ketua Dharma serta Lun, bawahannya yang memiliki kekuatan Pemisah Ruang. Suatu saat mungkin kekuatan ini akan berguna tuk memisahkan antara dunia nyata dan replika.
[“Katakan situasinya.”] Suara Gista terdengar dari earphone Ketua Dharma.
Sejenak ia terhenyak, memutar arah pandangannya sebentar dalam waktu sekejap.
“Belum ada pergerakan,” jawab Ketua Dharma, dengan berbisik lirih.
Sudah 30 menit berlalu sejak Ketua Dharma bersama Lun datang kemari dengan senyap. Mereka tidak menggunakan kapal biasa melainkan berenang sejauh ratusan meter, meski memakan waktu, namun Ketua Dharma memanfaatkan tempat yang akan menjadi medan pertemuan nantinya untuk diselidiki lebih dalam.
Sementara Lun, masih dalam posisinya yang membelakangi kediaman Chameleon yang berbentuk rumah panggung ini.
[“Benar-benar tidak ada apa pun?”] tanya Gista sekali lagi. Ia mencoba memastikan bahwa Ketua Dharma tidak melewatkan setitik pun.
Lantas Ketua Dharma mencoba memperluas area pandangnya, sesekali mengontak Lun yang dalam posisi siaga ketat tuk mengetahui segala pergerakan yang memungkinkan ada. Walau hanya seekor hewan atau serangga, Ketua Dharma menyuruh Lun untuk tetap berwaspada.
[“Leader, hutan ini sama sekali tidak ada hewan buasnya. Ya, kecuali serangga.”] Lun mencoba memperhatikan sekeliling, ia mengatakan apa yang sering ia lihat tapi tetap saja tak menemui adanya pergerakan mencurigakan dari rumah itu.
Chameleon, ataupun bawahannya yang lain sama sekali tak terlihat. Bahkan setiap jendela tertutup oleh tirai.
[“Leader, izinkan saya untuk masuk ke dalam.“] Lun meminta izin.
“Tidak. Tunggulah sebentar lagi.”
Mendengar perintah darinya untuk tetap menunggu, maka Lun akan mengingatnya sampai datang perintah selanjutnya nanti. Sementara Ketua Dharma mengintai dari depan rumah, duduk di sebatang pohon besar, bersembunyi di balik rantai dan dedaunan tebal, tampaknya tengah mewaspadai sesuatu.
[“Jangan dekati dia. Mungkin, itu rekanku.”]
“Baik.”
Datang seseorang berjubah lusuh yang berlari kecil-kecil namun langkahnya sama sekali tak terdengar. Dengan kemampuan seperti itu lalu ditambah dengan jubah lusuh membuat sosok misterius itu berkamuflase dengan seisi hutan. Ketua Dharma baru saja menyadarinya setelah ia mendekati kediaman Chameleon.
“Jika benar dia adalah rekan Anda ...Lun, dengar aku?”
[“Ya?”]
“Masuklah ke dalam. Jangan sampai terlibat pertarungan dengan seseorang, ikuti orang yang berjubah,” tutur Ketua Dharma memberi perintah pada Lun.
[“Baik, dimengerti!”]
Gista yang mendengar bahwa Ketua Dharma memberi perintah Lun untuk masuk lantas menyerobot.
[“Apa yang kau katakan barusan?”]
“Maafkan saya. Hanya untuk berjaga-jaga dan kami takkan memulai pertarungan, tenanglah.”
Ketua Dharma adalah orang yang paling berhati-hati, ia takkan meloloskan barang setitik pun yang ia rasakan terlalu mencurigakan, meski Gista berkata untuk jangan mendekatinya namun bukan berarti Ketua Dharma akan mengatakan, "ya" semudah itu.
Ia pula harus mewaspadai bahwa sosok tersebut memanglah rekan sebagaimana Gista menyebutnya.
“Maafkan saya yang terlihat tidak mempercayai Anda, tapi ini hanya untuk sekadar berjaga-jaga. Anda mengerti bukan kalau Chameleon bisa meniru wajah siapa pun?”
[“Terserahlah.”]
Pulau ini sepenuhnya terkepung oleh lautan. Seperti pulau terpencil, di sepenjuru hutan yang mengitari setiap sudut pulau dengan indahnya. Berbagai pohon besar tumbuh mengikuti tumbuhan elok nan hijau lainnya.
Air sungai yang mengalir di air laut yang sama pun muncul di tengah pulau-pulau ini, dan lokasinya berdekatan dengan kediaman Chameleon. Kemungkinan besar Chameleon sendiri yang membuat rumah ini. Rumah yang cukup besar ukurannya, dibuat dengan pepohonan.
Lalu langit di atasnya terlihat sangat jelas, jika cuaca berubah maka pulau ini takkan terjadi hal buruk karena posisinya yang cukup tinggi. Benteng alam sempurna yang dibangun oleh Chameleon, sungguh indah namun juga terlihat seperti sangkar mematikan.
“Jika pertarungan dimulai, lainnya akan jatuh ke laut. Berbagai posisi tidak diuntungkan. Sekali terlihat di atas laut maka kalian akan binasa. Bagaimana dengan cucanya?”
Kekurangan Ketua Dharma ialah terlalu mewaspadai segala hal buruk yang ada kemungkinan 'kan terjadi.
[“Tenanglah, Ketua Dharma! Aku sudah mengatur semuanya. Dan kau takkan bertarung langsung dengan kami, tentang cuaca, kami bisa berkata, aman!”] Saat ini Gista dalam perjalanan, ia berbicara pada Ketua Dharma yang selalu terhubung melalui alat komunikasi.
Begitu kelemahan Ketua Dharma muncul karena terlalu parnoan, segera Gista mengatakan bahwa semuanya telah diatur dan akan baik-baik saja. Dengan begitu Ketua Dharma takkan dilanda oleh kecemasan yang berlebihan.
***
Lun telah masuk menyelinap ke dalam, ia pun telah melihat targetnya berupa satu orang berjubah lusuh yang tengah mengendap-endap.
“Aku sama sekali tidak melihat lainnya kecuali dia. Musuh atau teman?” gumam Lun sembari mendekat perlahan.
Bersembunyi di balik dinding setiap kali seseorang itu berhenti bergerak, sesekali Lun melihatnya sedang menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian. Tampak kebingungan melihat gerak-geriknya yang sekarang.
“Sampai sekarang aku masih belum tahu siapakah dia. Haruskah aku mendekat?”
Seseorang itu kemudian berlari kembali setelah menemui persimpangan, dalam sekejap jejaknya menghilang entah ke mana. Lun yang dihadapkan jalan bercabang pun hanya bisa terdiam.
“Ha? Dia menghilang?”
Kehilangan jejaknya dalam sekejap, Lun ceroboh. Ia kemudian memutuskan untuk segera melarikan diri dari sana sebelum ada seseorang yang mungkin akan datang.
“Di sini Lun, Leader. Orang mencurigakan itu pergi dengan cepat.”
[“Begitu? Keluarlah saja.”]
“Ya, tentu sudah saya lakukan!”
Tiada hasil setelah Lun mencoba untuk menyelidiki sosok tersebut. Tapi karena terlalu cepat menghilang, Lun tak sengaja membuatnya meloloskan diri.
Menyelinap masuk tuk menyelidiki keberadaan sosok mencurigakan, sekaligus menelusuri setiap sudut dalam rumah hanya dalam waktu beberapa menit saja sudah sangat beruntung, Lun tidak terlihat oleh musuh.
Tetapi, Lun sendiri tidak menyangka bahwa rumah itu sama sekali tak terlihat adanya kamera keamanan. Bisa dibilang kelompok Chameleon termasuk Chameleon yang mendirikan rumah ini sama sekali tidak mempertimbangkan jika adanya musuh menyelinap masuk.
Yang itu berarti lokasi yang didapatkan oleh Orion benar-benar sangat rahasia, namun entah mengapa bisa bocor ke tangan Wama saat itu.
Lalu sosok yang mencurigakan itu ialah, Gisan.
[“Bagaimana denganmu?”] Orion bertanya melalui ponsel.
“Situasinya sangat aman. Hanya saja saya sempat dicurigai oleh rekan-rekan Anda, maka dari itu saya mencari celah agar dapat melarikan diri.”
[“Begitu. Baiklah, aku mengerti. Lanjutkan pencarianmu, berhati-hatilah dalam jebakan yang mungkin saja ada.”]
Panggilan langsung terputus begitu Gisan kembali bergerak dengan langkah senyapnya. Ia cukup diuntungkan karena tidak adanya kamera keamanan, bahkan bawahan Chameleon sama sekali tak terlihat di pagi-pagi buta seperti ini.
Orion menduga bahwa mereka semua tertidur pulas, dan itu terbukti dengan Gisan yang menemukan lokasi kamar mereka.
Gisan mengetik pesan, [1 wanita di kamar yang ada di sudut paling kanan lantai pertama. 2 pria yang kamarnya berdekatan berada di seberang kamar wanita lantai satu. 1 pria yang memiliki banyak senjata di dalam kamar ada di ruangan kosong bagian gudang lantai dua.]
Setelah menerima pesan dari Gisan, Orion yang diam memantau dari kejauhan dalam hutan tersebut sejenak berpikir tentang siapa saja yang berada di ruangan-ruangan tersebut.
“Yang wanita sudah pasti Sera. Lalu dua lainnya mungkin anggota yang sudah pernah aku lihat, seperti Jinan atau pejabat bernama Hendrik itu 'kah?” pikir Orion.
Namun karena tidak bisa memastikannya sendiri, terlebih menggunakan kekuatan pembentukan api juga akan merugikan dirinya sendiri maka ia hanya bisa menerka-nerka sesuai dengan isi pesan dari Gisan.
[Lalu di sebelah gudang, ada sebuah kamar yang berukuran cukup besar. Chameleon ada di sini, kapan saja saya bisa membunuhnya.] Gisan kembali mengetik pesan panjang pada Orion.
Sontak saja Orion terkejut melihat pesan yang mengatakan Gisan akan melenyapkan Chameleon kapan saja. Terdengar seperti pembunuh profesional saja.
Segera Orion mengirimkan pesan pada Gisan, menyuruhnya untuk segera keluar dari sana secepatnya.
“Aku tidak yakin dia seceroboh itu, Kruger Gisan. Apa kau yakin dia tertidur lelap dan tidak melihatmu?” tanya Orion yang menghubunginya langsung.
[“Ya, tidak ada tanda-tanda dia membuka mata. Gerakannya terbatas hanya saja ...ada selaput hitam yang membungkus setengah tubuhnya.”]
“Dia benar-benar tidak sadar ada Gisan? Apakah karena selaput yang kau bicarakan itu? Ada sesuatu ...,” guman Orion.
Nampaknya Orion mulai mencurigai ada sesuatu hal yang lain. Seperti Mirana yang diketahui sebagai pengkhianat lain, kekuatan bak dewa yang mengambil alih nyawa setiap manusia. Lantas Orion berpikir bahwa selaput hitam itu mungkin saja ada hubungannya, namun ada sesuatu yang lain sehingga Chameleon saat itu benar-benar tak sadarkan diri.
“Setahuku dia orang yang selalu terjaga. Jika dia benar-benar tertidur pulas, memang bisa saja membunuhnya tapi itu terlalu beresiko jika anak itu yang melakukannya.”
Dengan memikirkan banyak kemungkinan, Orion beranggapan bahwa selaput hitam adalah bagian dari kekuatannya. Semacam sesuatu tindakan yang diperlukan tuk menguasai kekuatan evolusinya lebih dalam. Serta menggunakan kekuatan yang tak bisa ia serap dengan bantuan Mirana, entah dengan cara apa.
“Baik, keluarlah dari sana. Aku berterima kasih atas bantuanmu. Kruger Gisan.”
[“Ya.”]
Setelah Gisan keluar dari ruangan Chameleon, Iki terbangun karena menyadari suara langkah kaki. Padahal saat itu Bisa tidak menciptakan langkah suara yang biasa, Gisan berjalan cepat namun tanpa suara seakan tengah berjinjit. Tetapi insting Iki saja yang terlalu kuat, karena menyadarinya ada seseorang melintas.
“Siapa yang barusan lewat?” Iki membuka pintu gudang, tempat di mana ia beristirahat. Wajahnya sedikit pucat, kedua lututnya masih dalam kondisi pemulihan, cedera yang cukup fatal itu merugikannya sehingga untuk berjalan saja membutuhkan tenaga ekstra.
“Aku tidak melihat adanya jejak. Mungkinkah Tuan Chameleon?” Berpikir begitu, lantas Iki mengintip dari balik jendela, memastikan keadaan tuannya.
“Tidak. Dia masih tertidur pulas dengan memaksimalkan energinya. Fokusnya takkan mudah pecah, bahkan menyadari keberadaanku saja tidak,” ucap Iki yang kemudian pergi dari sana.
Tap, tap!
Iki mengambil langkah tetap dengan kecurigaan, setiap kali ia melirik ke arah yang sepi di setiap pintu yang terlihat, Iki merasa ada sesuatu yang aneh.
“Apa sebenarnya aku melewatkan sesuatu? Gawat, kalau rumah ini ketahuan maka ...tamatlah riwayat kita.”
Sesuai dugaan Iki terkait seseorang yang mungkin menyelinap masuk, bukanlah sembarang orang melainkan Orion beserta rekan-rekannya.
Rumah itu telah bocor. Sementara yang mengetahui keberadaan rumah ini hanyalah Chameleon dan teman-temannya serta Tuan Gerhana Bulan. Jika mempertimbangkan Gerhana Bulan sudah mati, maka seharusnya yang dicurigai adalah rekan Chameleon sendiri tetapi Iki sendiri tidak percaya.
“Bawahan Chameleon itu rata-rata dipenuhi oleh orang yang berambisi kuat. Tak jarang menemui pengkhianat bekas kelompok lain. Tapi lihatlah kejadian nantinya, akankah sesuatu yang buruk terjadi pada mereka?” gumam Ken.
Salah satu orang yang berkaitan dengan Gerhana Bulan, Emblem Priest yang dipimpin oleh Saint bernama Ken. Hanya orang inilah yang bisa menjadi penyebab kemungkinan informasi pulau bocor ke pihak musuh.
Alasan Ken melakukannya? Tidak ada yang tahu.
“Aku memberikannya pada Wama, dengan begitu Wama akan memberikannya pada musuh Chameleon. Ah, skenario yang cukup bagus.”
***
Ketika Iki menyadari bahwa Ken yang mungkin menjadi penyebab informasi pulau bocor, ia lantas bergegas menuju ke kamar setiap rekan-rekannya yang lain.
“Hei, bangunlah!! Bodoh! Jinan!”
Ia membuka pintu setiap ruangan, Jinan, Hendrik lalu Sera. Iki berteriak namun sebisa mungkin tak membuat kegaduhan heboh.
Ketua Dharma yang sejak tadi mengintai dari depan rumah pun kemudian dikejutkan oleh sesosok pria berpostur tinggi berlari menaiki tangga setelah tadi turun ke lantai dasar. Sekilas terlihat wajahnya yang cemas serta panik.
“Jangan-jangan ketahuan? Hei, Lun!”
“Ya? Saya telah kembali,” jawab Lun yang mendadak muncul di bawahnya.
“Apa ulahmu?” tanya Ketua Dharma sembari menunjuk rumah Chameleon.
“Tidak. Saya bersumpah itu bukan saya. Mungkin saja orang itu,” pikir Lun.
“Aku bersyukur itu bukan karena kau,” ucap Ketua Dharma menghela napas lega.
Segera Ketua Dharma melaporkan situasi yang saat ini terjadi. Berniat untuk masuk namun Gista memberinya perintah untuk tetap diam tanpa mengatakan alasannya. Di samping itu, Gista dkk sebentar lagi akan sampai ke pulau tersebut.