ORION

ORION
Runo si Pengecut



“Tolong aku!”


Setiap pria pasti memiliki sifat yang lebih kuat dari perempuan. Namun, kebanyakan dari mereka bersifat angkuh setelah mengalahkan orang yang dibencinya. Itu menjadikan pria sangat sombong dengan kekuatannya, walau itu benar namun bukan berarti semua pria seperti itu.


Runo adalah pria yang memiliki sifat pengecut. Di halaman kampungnya ia dianggap sebagai sampah masyarakat yang tidak berguna semenjak lahir. Berjalan saja sudah membuat susah, apalagi hidupnya yang merana semakin membuat orang-orang di kampungnya muak.


Jika ditanya seberapa besar pengecutnya itu? Maka jawabannya 0. Tidak ada tapi juga tidak ada artinya. Rasa takut selalu ada di setiap orang begitu pun dengan Runo. Awal yang menjadi ketakutannya semenjak lahir ialah, suara berisik.


Pada saat lahir, kampungnya yang sangat berisik membuat bayi Runo menangis selama berjam-jam. Bahkan hampir seharian penuh dan itu membuat sakit kepala semua orang.


Lalu, tahun ke-6 semenjak Runo lahir ke dunia, hal yang paling ia takuti adalah ular. Tubuhnya yang kecil hampir dimakan hidup-hidup oleh ular, beruntungnya ia dapat melarikan diri sekencang-kencangnya sambil menangis dan berteriak, "Aku takut!"


Semua orang-orang di kampung itu seketika dibuat heboh, dan entah kenapa mayat anak kecil yang ditemukan dalam ular itu membuat Runo yang jadi penyebabnya.


Yang dikatakan orang-orang saat itu adalah, "Karena dia melarikan diri, anakku yang malang jadi terbunuh!"


Semua orang menganggap Runo sebagai pembunuh hanya karena ia melarikan diri dari ular yang sempat membelit tubuhnya itu.


Ia tidak bisa membela dirinya sendiri, dan semua orang pun mengecap dirinya sebagai sampah, pembunuh dan berbagai macam sebutan lainnya yang buruk. Runo tidak bisa marah, ia hanya bisa menangis lalu melarikan diri selayaknya pengecut.


Semua anak-anak yang melihat Runo berlarian dengan jerit tangis itu lantas menertawakannya dengan keras. Sambil menunjuk, mereka mengejeknya habis-habisan.


“Kau itu payah! Mending mati saja sana!”


“Hahaha!”


Pengaruh pada lingkungan yang buruk, orang tua yang sudah kehilangan akal lalu berbagai macam orang datang pada Runo hanya untuk mencaci-maki dirinya saja. Semua hal itu tetap tak membuat sifatnya berubah walau sedikit saja.


“Aku ingin jadi pemberani seperti yang lainnya, aku ingin! Tapi ...mustahil.”


Kepayahannya itulah yang membuat Runo ketakutan hingga berusia remaja. Walau sempat disekolahkan karena dirawat oleh orang yang layak, ia tetap sama saja. Otaknya bertambah pintar, akademis, praktik dan lain-lainnya. Ia unggul dalam semua hal itu, namun sifat pengecutnya tetap tak pernah berubah.


“Dia anak smp! Kecil sekali! Haha!”


Bahkan adik kelasnya saja memaki Runo tanpa ampun. Hanya karena tubuhnya lebih pendek dari adik kelas tersebut, Runo menjadi bulan-bulanan. Tak hanya adik kelas, juga teman sekelasnya pun melakukan hal yang sama.


Melakukan perundungan pada Runo yang mudah menangis, lantas tak membuat pukulan demi pukulan berhenti menyakiti tubuhnya. Sampai akhirnya ia tumbang, karena salah seorang memukul terlalu keras di ulu hatinya. Dan diketahui ia meninggal di tempat.


Kematian yang konyol karena perundungan, dan juga tak bisa melawan. Hanya otaknya saja yang pintar tapi tangan dan kakinya enggan melakukan perintah di otaknya tuk melawan. Pengecut hingga ke akar-akarnya.


Tetapi, setelah beberapa tahun silam, Runo yang pengecut justru mendapatkan kehidupan barunya. Ia kembali terbangun, dan keluar dari liang lahat yang berwarna putih dan lembut.


Salju turun di atas pemakamannya. Siapa pun yang melihat akan terkejut, tak terkecuali dengan orang-orang yang memiliki nasib sama seperti Runo.


Salju yang beku entah sampai kapan salju itu mencair. Hal itu diibaratkan dengan sifatnya yang lemah seperti perempuan. Lembut di luar dan dalam namun juga bisa keras jika ia tak peduli dengan apa pun yang menghadangnya suatu saat nanti.


Dan ini kali pertama ia menghadapi sifat pengecutnya, hari setelah kebangkitannya. Ia memilih tak peduli dengan hidup barunya, acuh tak acuh bahkan lupa dengan perundungan yang telah lama ia alami di masa lalu.


Lalu sekarang, kembali Runo yang sudah menjadi anggota NED di bawah Ketua Arutala. Dirinya memang masih sama seperti saat ini, terdapat salju beku yang muncul di bawah jembatan, sehingga membuat jalan jembatas atas itu dingin. Semua orang yang melewatinya sebentar, langsung menyingkir karena dinginnya jembatan itu.


“Dia ada di sini!”


Runo yang pernah berkeinginan untuk bunuh diri kini harus menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan.


“Maaf semua! Aku takut! Karena itu aku melarikan diri! Tapi, kalau terus begini ...situasi takkan berubah. Setidaknya ...”


Drap! Drap!!


Para bawahan Chameleon yang berjalan menginjak salju tebal, dengan melihat adanya salju di sini, tentu saja mereka akan tahu bahwa Runo ada di sekitar sini.


“Cepat cari!” teriak Hendrik.


“Setidaknya, aku ...akan melakukan sesuatu! Untuk menahannya!” teriak Runo dengan wajah takut, ia berusaha menekan rasa takut yang ada pada dirinya sendiri lantas menunjukkan diri tepat di hadapan mereka semua.


Berdiri di atas salju yang tebal, membuat para bawahan Chameleon kesulitan bergerak namun bukan berarti mereka lemah.


Maka dengan menggunakan otaknya, Runo yang langsung berpikir cepat lantas menyilangkan kedua lengannya ke depan tubuh dengan mata terpejam.


“Salju! Tertutuplah!”


Dengan posisi kedua lengannya, maka akan membuat salju-salju di sana mengikuti gerakannya persis seperti itu. Menutup dari segala arah, berniat mengurung mereka hidup-hidup. Ketika sudah tertutup rapat hingga membentuk sebuah bola salju besar, salju akan mengeras tak berselang lama kemudian.


“Hah ...hah ...bagaimana ini? Lalu setelah ini? Aku takut ...tapi, mereka sungguh kuat, aku sendiri tak yakin apa ini saja cukup—”


Duk! Duk! Duk!


Runo terkejut, ia bergidik merinding ketika bola saljunya dipukul-pukul keras dari dalam. Walau mengalami kerusakan tapi saljunya akan menutup dan membeku lagi setelah itu.


Terlihat caranya berhasil, tapi karena tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu seperti ini, Runo memutuskan untuk lari!


“Yang terpenting menyelamatkan lainnya. Benar, aku harus menyelamatkan mereka lebih dulu! Karena itu ...karena itu ...!”


SRUAAAKK!!


Salju terhempas ke arahnya dengan cepat, seakan salju-salju itu dilempar, Runo yang terkejut dan reflek berhenti berlari lantas menoleh ke belakang guna mengamati keadaan bola salju itu.


“Eh, tidak ada? Dihancurkan!”


Betapa ia sangat terkejutnya melihat bola salju telah jatuh berhamburan bahkan sebagiannya yang barusan terlempar ke arahnya. Dan sekarang, semua bawahan Chameleon kembali mengejar Runo.


“Hah?! Kenapa bisa?!”


Runo semakin takut begitu mereka mengejar dengan kecepatan yang sama sepertinya. Atau bahkan salah satu dari mereka mengejar lebih cepat hingga mendahului Runo sendiri.


“Gawat, mereka akan mengepungku!”


Langkahnya tersendat oleh tumpukan salju yang tebal, Runo berhenti dengan mereka semua menerjang ke arahnya secara bersamaan.


Tetapi, dalam sekejap Runo menghilang tepat di depan mata mereka. Hal itu disebabkan karena Runo tak sengaja menginjak lubang di pinggir jalan dekat jembatan, yang membuatnya terjatuh ke dalam.


“AAAAAAAA!!”


Runo secara tidak sengaja melarikan diri dengan cara tidak biasa. Dengan itu, ia bisa menghindari serangan dari segala arah. Tubuhnya terjerobos masuk ke dalam lubang di balik salju yang tebal. Karena berada di sisi luar dekat dengan jembatan, lubang itu membuatnya terperosok kembali ke bawah jembatan.


Pada akhirnya, ia tidak sadarkan diri di tempat karena kepalanya tak sengaja terbentur dinding bagian dalam, bawah jembatan.


“Dia bodoh, ceroboh dan cengeng ya? Kekuatannya tidak buruk juga. Tapi sayang sekali harus digunakan orang lemah seperti dirinya,” tukas Jinan.


“Jangan meledek orang yang hampir membunuhmu,” ucap Iki lantas bergerak ke bawah, lalu membopong tubuh Runo dan kembali ke atas.


“Ayo pergi!”


***


Pertarungan satu demi satu, Mahanta dengan Sera yang seri namun karena tipe monster memiliki pemulihan cepat, maka Sera jauh lebih unggul. Ia nyaris membuat Mahanta tewas karena serangan fisiknya.


Tetapi, berkat kecerdikan Mahanta sendiri, ia dapat menghalau serangan fisik dengan menggunakan tipu muslihat, lebih tepatnya menggunakan angin tuk menciptakan kabut ilusi.


Bayangan cerminannya akan memproyeksikan keseluruhan pergerakan Mahanta sebagaimana itu adalah Mahanta sendiri. Karena akal Sera terbilang tidak cukup bagus, sehingga Mahanta dapat menyeimbangi pergerakannya. Pertarungan ini, sepenuhnya seri. Mereka sepadan dalam penyerangan.


Lalu, pertarungan kedua ada di barat daya. Berdekatan dengan posisi Mahanta dan Sera, di sana terdapat Ketua Meera yang melawan Adi Caraka, mantan ketua organisasi NED.


Ketua Meera melawan orang yang tersulit baginya, belum lagi kondisinya melemah dengan pikiran atau mental yang belum stabil akibat benturan kepala yang ia terima karena Mr. Iki Gentle, orang nomor dua dari kelompok Chameleon.


Tetapi, meski melemah, ia sama sekali tak ragu untuk menyerang pengkhianat tersebut. Ia melakukannya, semua demi misi. Menjatuhkan Chameleon di saat bawahannya masih berkumpul adalah tindakan ceroboh, itulah mengapa satu per satu dari anggota NED langsung memisahkan mereka ke satu tempat ke tempat lainnya.


Kemudian, pertarungan ketiga. Ramon dan Ketua Irawan, melawan Mr. Iki Gentle dan Hendrik yang adalah pejabat, pernah sekali bertemu dengan Orion kecil di negara Id. Seolah sepadan namun sejujurnya ini juga termasuk berat.


Ia harus menghadapi orang tertinggi serta kekuatan yang merepotkannya. Jika dipikir Ketua Irawan akan kalah, itu pasti. Tapi, setidaknya ada anak magang bernama Runo yang dapat membantunya mengalihkan pandangan sebentar agar Ketua Irawan dapat menyerang Pemanah yang berada di atas gedung. Saat itu Pemanah hendak membidik semua orang dari ketinggian, lagi-lagi kekuatan yang merepotkan, bahkan panahnya akan selalu mengikuti sampai mengenai targetnya.


Terakhir, ketika Gista membelah mobil dengan kekuatan es miliknya yang tipis, Ketua Irawan kembali datang dengan menyeret pergi Pemain Kecapi. Ia menyeretnya pergi agar tak menganggu penyerangan Gista yang akan berfokus pada Chameleon seorang.


Di samping itu, mereka berdua dikejutkan dengan adanya sosok musuh lain serta rekan mereka, Orion. Di dalam kendaraan yang sudah terbagi menjadi dua, beruntung Orion tidak ikut terbelah tapi ia kemudian pergi bersama Jinan.


Pertarungan yang tersebar di titik-titik arah mata angin akhirnya mencapai puncak, tapi menuju kekalahan bukan kemenangan bagi pihak Organisasi NED. Mereka kalah, dikalahkan kelompok Chameleon. Tapi, di samping kekalahan mereka, tampaknya Gista menyadari tujuan Chameleon yang lain.


Di satu sisi, sesaat sebelum pertarungan itu usai. Orion yang tenggelam di balik bayangan milik Chameleon. Seolah akan dibuat setengah mati, Orion bertahan hidup dengan sisa tenaganya yang bahkan menguras stamina habis-habisan. Di dalam sana ia terus berharap agar rekan-rekannya tidak berjuang lebih dari ini sebelum dirinya memberitahukan hal-hal yang penting.


Apalah daya Orion yang tak bisa melarikan diri sendirian, terlebih ada benda yang menganggu fungsi tubuhnya. Hal itu membuatnya sangat kerepotan, setiap detik is terus berharap karena hanya itulah yang bisa ia lakukan.


Tapi, seseorang muncul. Dan keberadaan serta kekuatannya yang kuat setara atau bahkan lebih dari Gista, dapat menyerang semua bawahan Chameleon sekaligus. Termasuk Chameleon itu sendiri.


Walau hanya singkat, secara kebetulan Orion keluar dari dalam bayangan. Lalu begitu sadar ia telah berada di luar, bergegas Orion melarikan diri menuju ke tempat yang aman.


Dan pada saat itulah ia bertemu Wama. Ia sendiri tak menyangka bahwa selama ini Wama mencarinya, begitu mereka saling bertukar pandang, tiba-tiba saja Wama menggendong lalu membawanya pergi dengan tubuh besar itu.


***


“Memanggil Ketua Mirana?”


“Ya. Kita harus memanggilnya untuk datang ke rumah kita.”


Mirana, nama yang terdengar tidak asing terutama bagi Endaru maupun Gista. Seperti nama yang akrab, nama yang dikenali oleh mereka. Setelah Gista berpikir-pikir itu siapa, namun nyatanya nama itu adalah pengkhianat yang lain.


“Aneh. Entah kenapa kedengarannya terlalu konyol untuk menjadi nyata?”


Ketika bawahan Chameleon yang saat ini berjalan dengan membawa Runo, mereka berhenti sejenak karena mendengar perkataan seseorang.


Padahal di jalanan yang sudah tidak bersalju ini sudah sangat sepi akibat pertarungan bising yang membuat semua penduduknya dengan kabur.


Terlebih ini jalanan yang berisi perkotaan. Bukan jalanan besar yang kini telah kembali dipadati oleh banyak kendaraan beroda empat maupun dua.


“Siapa di sana?”


Menyadari kedatangan seseorang yang memiliki aura aneh, bawahan Chameleon kembali mewaspadai sesuatu. Semuanya telah menunjukkan taring, dan akan menyerang begitu orang itu muncul tepat di depan mata.


Sosok pria yang tengah bersembunyi di balik dinding rumah besar, hanya tersenyum melihat ekspresi mereka semua.


“Kalian benar-benar meremehkan aku ya?”


Pria itu adalah Pahlawan Kota, Endaru. Tapi, ia telah kehilangan tangan berharganya. Walau terlihat lemah dari segala fisik, namun kekuatannya tidak pernah mengurang barang sedikitpun.


“Kau muncul lagi? Persetan! Kau muncul beberapa kali dan menghalangi kami, apa maksudmu?!” pekik Jinan.


“Apa maksudmu? Bukankah sudah jelas kita musuh. Oh, atau jangan katakan padaku bahwa kalian menganggap aku sudah mati?”


Endaru perlahan melangkah menghampiri mereka yang tampaknya enggan menyerang. Mendekat saja tidak, apalagi Jinan yang setengah-setengah menghina namun langkahnya bergerak mundur.


Jinan adalah pria yang keras kepala dan selalu maju paling terdepan. Tapi apa yang terjadi padanya ketika berhadapan dengan Endaru? Ia justru bergerak mundur secara perlahan tanpa ia sadari sendiri.


“Hoi! Aku datang untuk mengambil anak itu!” ujar Endaru sembari menunjuk Runo.


“Tidak bisa. Kami akan membawanya karena ini adalah permintaan dari Tuan Chameleon,” tolak Iki.


“Ya, aku tahu. Entah untuk apa tapi sepertinya untuk wanita yang bernama Mirana itu bukan? Tapi, itu anak magang loh. Gista akan marah kalau tahu dia diambil,” tutur Endaru.


“Karena itulah, kembalikan!!”


DRAAKKK!!!


Muncul retak-retak yang menyusuri jalanan di area perumahan, dalam sekejap mereka semua menghantam jalanan dengan kepala mereka yang terbentur lebih dulu. Terkecuali dengan Iki yang masih bertahan dengan lututnya.