ORION

ORION
Tubuh yang Masih Lemah



Di rumah sakit ini ada banyak pasien, tentu saja. Namun apa mungkin bertarung tanpa kegaduhan?


Syat! Syat!


Bayangan-bayangan kembali melesat dengan setiap ujung yang runcing mengarah padanya. Orion sedikit berlari kecil dan melompat ke atas ranjang. Berada persis di belakangnya, ia menyiapkan bilah yang tajam.


Syut!


Sekali tebas, tajam nan tipis dan sebisa mungkin ia menahan kekuatannya. Jhon yang tak sempat bereaksi pun, bagian punggungnya tersayat. Tak terbayang bagaimana rasa sakitnya ketika bilah menyerupai darah itu melukai Jhon.


“Urgh! Kau! Menyembunyikan kekuatanmu yang lain?”


“Tidak, ini baru ku pelajari karena situasi terdesak.”


Jhon melangkah mundur menjauhi Orion, seraya ia menekan bagian pundak dan menahan sakitnya, ia mengulurkan tangan. Membuat bayangan menjadi satu, merayap dari lantai menuju Orion dari bawah ke atas.


Tap! Orion tersadar, turun dari ranjang dan seketika ranjang itu berlubang dengan bayangan yang kembali menyusut.


“Kalau aku yang kena, bisa mati,” gumam Orion terkejut sekaligus menatap heran ke arah Jhon.


“Tentu saja, heh!”


Masih seperti biasanya, Jhon cukup sombong mengenai kekuatannya sendiri. Ia masuk ke dalam bayangannya sendiri dan bergerak cepat ke sudut ruangan.


“Apa yang dia lakukan?” Orion bertanya-tanya dengan heran.


Orion sigap dengan kedua bilah tajam melekat di kedua lengannya, Jhon membuat semua bayangan yang ia punya dan kumpulkan, melesat cepat menuju Orion.


Sebelum semua bayangan tajam itu menghujam tubuhnya, Orion memotong mereka semua dalam sekali gerak dan serang dengan sayatan dari bilah yang tajam.


“Ini benar-benar tajam. Tapi harus dikontrol dengan baik. Aku pun kagum dengan pengendalian kekuatan Jhon,” gumam Orion lirih.


“Dari tadi aku melihatmu terus menggumamkan sesuatu, entah apa itu. Tapi yang pasti, kau ini cerewet, ya!” pekik Jhon.


Sraaaakk!! Bayangan menukik tajam, menjulang ke atas hingga menyentuh dan sekilas terlihat membelah langit-langit kamar.


“Tidak ada waktu. Aku harus membunuhmu!” pekik Jhon dengan raut wajah yang tak terbaca. Terkesan marah, benci atau mungkin dalam keraguan.


Bayangan yang hitam dan pekat, semula terdiam dengan menyentuh langit-langit kamar, kemudian jatuh di setengah jalan dan kembali menjulang sedikit demi sedikit menuju posisi Orion saat ini juga.


“Dia terburu-buru,” ucap Orion padanya sendiri seraya mengamati pergerakan Jhon yang tengah berdecak kesal.


Wrrrr!! Membentuk pusaran api yang cukup besar, ia melesat maju dan membuat bayangan itu dengan sengaja menggores sebagian tubuhnya. Rasanya seperti terkikis karena gerigi besi yang berputar cepat.


Orion mendorong tubuh Jhon menggunakan pusaran api miliknya. Seakan-akan menggunakan bor listrik di tangan, itu berputar lebih cepat dan melubangi tubuh Jhon.


“Ukh!” rintih Orion, mengerang kesakitan dengan pandangan yang memburam serta luka di pundaknya kembali berdarah.


Membuat serangan Orion lenyap, ia kembali mengerang seraya memegang kepalanya yang sakit. Dampak dari penggunaan kekuatannya berlebih, sehingga mengakibatkan Orion merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Jhon mendapatkan kesempatan, ia meleburkan dirinya dan menyatu di bayangan Orion.


Brak! Seseorang mendobrak pintu kamar, ia melirik ke kanan dan kirinya dan kemudian mendapati Orion tengah meringkuk, ia pun menghampiri dan membuatnya tenang.


“Orion, kau baik-baik saja?” tanya Eka dengan wajah cemas.


Dr. Eka menggunakan kekuatan api hijaunya untuk menghilangkan segala rasa sakit pada Orion sehingga ia menjadi lebih tenang kemudian.


“Hei, Barok! Cepat keluar dari bayangannya!” teriak Eka seraya menatap ke bawah dengan sorot mata yang tajam.


“Kenapa menghalangiku? Dia milikku,” kata Jhon.


“Siapa peduli? Lagipula kau ingin membawanya untuk Tuan Caraka, 'kan? Tidak akan aku biarkan,” balas Eka dengan ketus.


“Dulu iya tapi sekarang tidak. Karena aku ingin membunuhnya saja, dia itu menjengkelkan,” sahut Jhon kembali memakai maskernya.


“Meski begitu, dia sudah jadi milikku. Akulah yang berhak melakukan apa pun padanya. Bukan dirimu!”


“Akulah yang pertama kali menemukannya, Eka. Kau bisa ku laporkan pada Tuan Caraka. Memangnya kau mau?” ujar Jhon mengancam.


Eka pun balik mengancam dengan berkata, “Mau aku beritahu tentang kelakuanmu pada Tuan Caraka?”


Keduanya kemudian terdiam dan kembali saling bertukar tatap. Sedangkan Orion saat ini, telinganya berdenging nyaring namun samar-samar mendengar perbincangan mereka yang berada dekat dengannya.


“Orion, kau istirahatlah sejenak.”


Kemudian Dr. Eka beralih pada Orion. Ia membaringkan tubuh Orion ke ranjang namun satu hal mengejutkan dirinya.


“Kenapa kasurnya berlubang?” tanya Eka kembali menatap sinis pada Jhon.


“Aku pergi,” kata Jhon kemudian meninggalkan kamar. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan Eka dan pergi begitu saja.


“Sudah kuduga ini membuatku tak nyaman juga kesakitan. Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku? Menggunakan kekuatan sedikit lebih banyak saja sudah membuatku begini.” Orion membatin seraya berdecak kesal.


***


Di luar kamar, Eka menghampiri Jhon yang jelas sedang menghindar. Eka yang masih kesal pun semakin mempercepat langkahnya.


“Kembali, ke sini!” amuk Eka seraya menarik tubuh Jhon.


Jhon tak bisa berkutik lagi. Ia terdiam dan tidak menatap Eka, mungkin sedang menahan diri agar kata-kata kotornya tidak keluar.


“Kita ke gudang untuk bicara,” bisik Eka pada Jhon.


Tak lama, Eka pergi ke gedung kemudian disusul oleh Jhon. Di sana baunya pun sama, penuh dengan semerbak antiseptik. Situasi di antara mereka tidak berubah sejak saat sebelumnya.


Namun, saat ini, situasi di antara mereka terlihat sedikit merenggang.


Jhon dan Eka adalah bawahan Adi Caraka. Mereka yang saling berhubungan akan tetapi tidak seakrab anggota yang berada di bawah ketua yang lainnya. Hal itu dikarenakan, semua bawahan Adi Caraka adalah orang-orang yang gila akan ambisi.


Ambisi membutakan mereka. Bahkan sudah biasanya mereka selalu menyembunyikan sesuatu pada tuan mereka dengan sengaja.


“Jangan sentuh dia lagi. Biarkan dia pergi begitu Ketua Grup Arutala atau bagian dari sana datang menjemputnya. Kau mengerti?“ ujar Eka menegaskan.


“Memangnya ini tidak akan ketahuan oleh Tuan Caraka?” tanya Jhon.


“Tidak akan tahu. Selama orang-orangnya akan datang menjemput. Lagipula Tuan Caraka membiarkan anak itu pulang, 'kan?”


“Ya. Tapi kenapa Tuan Caraka tidak bersikap biasanya. Bukankah dia selalu mengambil anak-anak yang kembali bangkit untuk menemukan darah langka itu?” pikir Jhon.


“Soal itu aku tidak tahu. Tapi kalau niatnya berubah, pasti pagi-pagi buta dia akan melakukan sesuatu pada anak itu,” ucap Eka seraya tersenyum tipis.


“Tuan Caraka bersikap terlalu santai. Dasar,” gerutu Jhon.


“Tapi tenang saja, karena aku sudah menandainya. Maka dia akan selalu bermain di tanganku, kalau Tuan Caraka membutuhkannya maka aku tinggal menarik benangnya,” tutur Eka.


Mendengar itu, seketika Jhon bergidik namun dengan perasaan senang. Begitu juga Eka, ia sangat senang hingga kesulitan mengontrol ekspresi gilanya.