
Kehadiran seorang pria itu membuatnya penasaran. Ketika pria itu membalikkan badan lalu pergi, segera Erik menghampirinya.
“Pak? Maaf, Anda siapa? Jika tiba-tiba menolong begini, saya khawatir.”
Orion tahu kekhawatirannya karena tak mungkin semudah itu memberikan darah langka tanpa imbalan. Lantas, Orion berhenti melangkah lalu menoleh ke belakang.
“Saya hanya membantu. Bagian dari Grup Arutala.”
“Ah ternyata begitu rupanya. Syukurlah. Berkat Anda, Ibu saya hidup kembali.”
Tak hanya merasa senang dan terkejut, begitu pun dengan orang-orang yang ada di saja. Mereka masih memandangi mayat yang telah hidup kembali. Meskipun saat itu masih belum membuka kedua matanya namun napas serta detak jantungnya kembali.
“Kalau begitu, saya ingin menyampaikan pesan tentang Chameleon.”
“Pesan?”
“Organisasi NED membutuhkan info tentang dia, bukan? Karena itu saya—”
“Tidak perlu,” ucap Orion mengangkat telapak tangannya.
Orion menolak apa yang hendak Erik katakan. Karena ia sendiri sudah tahu di mana Chameleon. Dan lagi, Chameleon akan datang. Cepat atau lambat.
Ia kembali melanjutkan langkah perginya. Di sebuah bangunan yang sedang tertutup rapat itu, ia menemukan sebuah pisau berkarat.
“Aku jadi teringat alasanku adalah untuk kembali mati.”
Walau tahu itu berkarat, ia tetap menggunakannya untuk menggores telapak tangannya lagi. Rasa sakitnya tidak sebanding ketika menggunakan bilah yang lebih tajam.
Tak!
Tak sengaja pula, ponselnya terjatuh dari saku celananya. Ponsel itu terjatuh lalu bergetar-getar.
Orion mengambilnya di saat telapak tangannya masih berdarah-darah dan tetap memegang pisau berkarat itu. Seseorang menghubungi nomor miliknya, yang tidak lain adalah Endaru.
“Sejak kapan ada kontak Endaru? Kenapa Mahanta menyimpannya di ponsel ini?” Orion bertanya-tanya, lalu ia mengangkat panggilan itu.
“[Dasar, kau!]” Terdengar suara Endaru yang mengamuk.
Prak!
Tiba-tiba saja pisau yang Orion pegang bersamaan dengan ponsel menjadi hancur berkeping-keping. Nampaknya ini karena pengaruh kekuatan Endaru.
“[Mau apa kau dengan benda tajam itu!?]” teriaknya mengamuk lantas Endaru mengetahui bahwa pisau itu dengan sengaja digunakan untuk melukai Orion sendiri.
“Apa? Kau tahu aku? Tunggu, tunggu!”
Orion memutar badannya, mencari ke sekeliling di mana ia bisa menemukan keberadaan Endaru namun sama sekali tidak ada. Kecuali orang-orang yang sebelumnya tadi bersama dengan Erik.
“Kau tidak ada di sini, 'kan? Lalu kenapa kau tahu aku ...sudah begitu, kau mengunakan kekuatanmu barusan?” tanya Orion yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pisau tersebut.
“[Ya! Aku lah yang menghancurkan pisau yang hampir membuatmu terbunuh!]”
Endaru terdengar sangat marah. Untuk sesaat Orion tidak mengerti ada apa dengan Endaru sampai segitu marahnya. Padahal, terakhir kali mereka bertemu itu cukup damai, tenang-tenang saja tanpa ada masalah.
“Endaru? Kenapa kau marah begitu?” Orion mencoba untuk bertanya.
“[Tentu saja aku marah. Karena kau berniat untuk bunuh diri!]”
“Tapi itu tujuan awalku. Meskipun seharusnya aku melakukan sesuatu dulu terhadap Chameleon. Tapi hanya dengan dirimu dan Gista, bagiku sudah cukup. Sehingga aku tidak diperlukan lagi.”
“[Aku tidak mau kau melakukan tindakan itu lagi! Pasti wanita sinting itu yang menyuruhnya untuk menjadi umpan!]”
“Kita bukan rekan, apalagi kawan. Kenapa marah begitu? Apalagi kau sangat membenci orang dewasa bukan?” pikir Orion.
Ucapan Endaru sangat serius. Orion terkejut, bahkan sampai mengira bahwa dirinya mungkin salah dengar. Tapi begitu Endaru bilang sekali lagi, ia akhirnya percaya.
“[Dengar, ya! Orang tua! Aku akan melindungimu dari siapa pun termasuk dari wanita sinting itu! Jadi, jangan harap kau bunuh diri lagi!]” teriak Endaru semakin keras.
“Ha? Eh, hei! Endaru? Kau salah makan, ya? Aku bunuh diri pun juga bukan urusanmu, tahu. Kenapa pula kau jadi begini.”
Meski percaya dirinya tak salah dengar, tapi ia tetap percaya bahwa Endaru mengatakannya dengan tulus. Orion merasa aneh saja ketika Endaru tiba-tiba mengatakan hal itu.
Orion juga sempat teringat sesuatu, ketika Endaru meminta bantuan padanya yang adalah orang dewasa. Dikatakan Endaru sangat membenci orang dewasa, tapi Endaru justru meminta bantuan pada orang dewasa itu sendiri yakni Orion.
Makanya Orion jadi bingung. Ada apa dengan Endaru sebenarnya.
“Sudah, ya. Aku matikan.”
Orion mematikan panggilan tersebut sebelum Endaru kembali mengoceh. Sesaat sebelum ia pergi, ia sempat menoleh ke belakang dan memastikan orang-orang yang ada di sana cukup aman.
Khususnya untuk orang yang barusan ia bangkitkan dari darahnya.
“Aku harap dia bisa menjalani hidupnya lebih baik lagi. Termasuk Erik.”
Melihat kumpulan orang yang berwajah bahagia itu, cukup membuat Orion sangat puas dan merasa sangat senang.
“Hei, kau!” teriak seseorang dari arah belakang. Orion mendengarnya setelah ia kembali berjalan pergi.
“Suara ini, jangan bilang orang itu lagi!”
Raut wajah yang semula bahagia pun berubah menjadi kusut. Tatkala ia kembali didatangi oleh orang yang sangat ia tidak sukai. Rekan Chameleon dengan senjata alat pancingnya.
“Mau apa lagi dia ke sini? Rupanya banyak orang yang lebih kolot dari Chameleon ya?”
Ia membelakkan kedua mata, kembali menoleh ke belakang. Mendapati seorang pria dengan alat pancing yang siap digunakan. Pria itu tercengir, dirinya berada dekat dengan posisi orang-orang yang menggotong Ibu Erik.
“Tunggu, kenapa dia ada di sana? Dan berhenti.”
Drap! Drap!
Orion berlari mengejar kumpulan orang beserta Erik yang sedang menggotong Ibunya ke suatu tempat. Sembari ia berteriak memanggil nama Erik.
“Erik! Pergi! Menjauhlah dari orang itu!” teriak Orion sembari mempercepat larinya.
“Ternyata mudah, ya. Mengalahkan sifat lemah seperti itu.”
Pria itu mulai mengayunkan pancingannya, dengan sebuah umpan asing di pengait, ia mengarahkannya ke sekumpulan orang.
“Apa itu? Hei! Erik! Kau mendengarku!?”
Berusaha keras ia memanggil Erik namun sepertinya Erik tidak mendengar, apalagi di sini banyak sekali orang beramai-ramai.
Umpan di pengaitnya merupakan sesuatu benda yang amat berbahaya. Ketika langkah Orion telah berada dekat dengan mereka dan hanya berjarak beberapa langkah saja, Orion bisa menggapai mereka.
Duaaar!!
Tetapi, umpan aneh itu takkan menunggu. Nyatanya, umpan tersebut adalah sebuah peledak. Ledakannya mungkin tak seberapa, sehingga Orion hanya terdorong mundur saja.
Akan tetapi semua orang yang berada dekat, terutama kumpulan Orang yang bersama dengan Erik, tidak selamat. Semuanya binasa. Hancur, habis tak tersisa. Hangus menjadi abu. Sisa ledakan pun memecahkan kaca setiap bangunan di dekat mereka.
“A-apa?”
Mata Orion terbelalak memandang seorang pria yang sekilas terlihat. Seperti ia berada dalam kobaran api namun sama sekali tidak merasa sakit atau bahkan ikut terbakar.
Pria itu menyeringai tipis seraya memandang Orion dengan puas.