
Situasi dalam kafe kembali seperti semula. Seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kegaduhan dan barang-barang yang sebelumnya rusak juga telah kembali. Mereka jadi semakin yakin bahwa orang ini adalah tipe ilusi.
“Tapi tekniknya mengerikan. Kalau aku fobia gelap, bisa-bisa aku mati,” gumam Orion sambil menatap dengan mata lebar ke arah cangkirnya.
Kopi hitam pun ujung-ujungnya tidak bisa ia pesan, barista menggantinya dengan minuman lain yang hangat. Susu tanpa campuran apa-apa.
“Bersikaplah sewajarnya. Agar nanti tidak dicurigai,” ucap Endaru kemudian ia menenggak minumannya.
“Kau bisa saja bersikap tenang karena kau adalah Pahlawan Kota. Tapi aku baru-baru ini bangkit dan hal-hal buruk selalu terjadi, kau pikir itu bisa membuatku tenang?” gerutu Orion.
Ia tetap menatap susu itu tanpa diminum. Jantungnya berdebar kencang, peluhnya bercucuran dan bahkan napas Orion sesekali terasa berat. Seakan-akan ia tengah berlarian sepanjang hari.
“Bagaimana bisa aku minum ini kalau ada orang yang sedang mengincar nyawaku,” gumam lirih Orion.
Endaru kemudian mendekat dan membisikkan beberapa kata langsung dari telinga Orion.
Berkata, “Katanya kau ingin cepat mati.”
“Daripada mati tiba-tiba, aku lebih suka merencanakan kematianku sendiri,” jawab Orion.
“Dan lagi, sebelum mati aku harus kembali ke wujud asliku,” imbuhnya.
“Kau ini aneh sekali,” celetuk Endaru, kemudian ia kembali menenggak minumannya dengan santai.
Mungkin bagi Endaru kejadian ini bukanlah apa-apa karena memang Endaru sudah lama merasakan ketegangan seperti ini. Bagaimana rasanya saat sedang diawasi oleh musuh, tapi apa pun itu Endaru selalu dapat mengontrol sikapnya.
Karena jika orang itu sendiri tak bergerak, maka Endaru pula takkan bisa melakukan apa-apa. Karena itulah Endaru menunggunya.
Sedangkan Orion yang sama sekali tak berpengalaman justru hanya terdiam ketakutan. Mengingat bagaimana ia selalu menghadapi setiap musuh, bahkan untuk bernapas saja sudah susahnya minta ampun.
Orion masihlah belum ahli mengendalikan diri ataupun ketakutannya saat ini. Ia masih harus banyak belajar, di sela-sela ketegangan ini, Orion justru teringat cerita sejarah.
Yang di mana, masa sebelum negara ini merdeka. Para Pejuang yang bertahan hidup, selalu dihantui oleh musuh kapan pun dan di mana pun.
Mengerikan sekali.
“Kira-kira apa tujuannya, ya?”
Klap! Ruangan kembali menggelap dalam sekejap. Suara-suara dari para pelanggan yang keras hingga berteriak pun mulai terdengar lagi.
“Apa-apaan ini? Dia berulah lagi, apa dia berniat mengulangi alur kejadiannya, hah?” tukas Endaru semakin kesal.
Endaru dan Orion turun dari kursi dan mulai mewaspadai kembali akan sesuatu yang mulai mendekati mereka secara perlahan.
Namun sepertinya ada satu suara yang tidak didengar oleh Orion saat ini. Ia mengingat semua suara para pelanggan juga beberapa barista yang ada di kafe ini.
“Mungkin, barista yang tadi mengajakmu bicara, Endaru. Dialah orang yang mengendalikan ini semua,” pikir Orion.
“Kalau begitu aku takkan sungkan lagi. Mengingat semuanya adalah Pejuang NED,“ sahut Endaru.
Sejak tadi, kedua sarung tangannya belum sempat ia pakai kembali. Karena itu, kekuatannya pun tak berhenti mengalir keluar. Daya gravitasi meningkat puluhan kali hingga membuat ruangan ini kembali bergetar.
Kaca yang pecah karena itu, lalu beberapa benda termasuk kursi maupun meja pun mengalami dampaknya. Hancur berantakan, dengan beberapa orang yang menjerit kesakitan.
Klang!
Para Pejuang NED yang terlibat saling beradu senjata tanpa henti. Berbagai kekuatan yang bercampur aduk kian merajalela hingga tak memperhatikan Endaru yang membuat mereka tertekan seiring waktu.
Tangan kiri Orion berapi, kali ini kekuatannya tak lagi membuat ia sakit. Api membara dan membuat ruangan ini menyeruak panas.
“Ada apa ini?”
“Kacau sudah!”
Sebagian mencaci maki, sebagian tak ada habisnya mengoceh-ngoceh. Suatu waktu, Orion mendengar suara gemerisik di sekitar mereka. Orion jadi ragu apakah Endaru pun mendengarnya.
Namun, suara gemerisik itu terus terdengar di telinganya. Mendengarnya membuat ia sangat risih.
“Endaru, apa kau mendengar sesuatu?” tanya Orion.
“Kalau jeritan mereka sih, iya.”
“Berarti kau tak mendengarnya, ya. Ada yang berbisik di antara mereka.”
Seraya Orion melangkahkan kaki ke depan dan membuat api itu menerangi keadaan para Pejuang NED yang tengah tengkurap itu.
“Apa boleh buat. Aku sama sekali tak melihat dan juga tidak mendengarnya, jadi sulit untuk menggunakan kekuatan pada orang yang kau maksud,” ujar Endaru.
Meski Orion sudah menerangi mereka semua namun tak ada satu pun orang yang tengah berdiri saat ini. Orion masih meyakini bahwa suara gemerisik yang terus-menerus terdengar bukan hanya sekadar suara biasa.
Begitu, suaranya semakin terdengar ketika ia mendekat. Barulah Orion berhenti selama beberapa waktu dengan mengubah wujud apinya menjadi sebilah pedang yang melekat pada sebelah tangannya.
Cruak! Sekali ayunan, suara gemerisik itu berhenti. Dan kemudian berubah menjadi geraman seperti seekor hewan buas.
Serangan dari bilah pedang Orion membekas pada sesuatu, dan itu terlihat jelas dengan sedikit cahaya kemerahan.
“Nah, sekarang, apakah kau melihat posisinya dari bekas serangan dariku?” tanya Orion kepada Endaru.
“Ya, aku melihatnya. Tapi kenapa kau tak urus sendiri? Aku sedang sibuk menahan mereka, nih,” kata Endaru.
“Aku bisa saja. Tapi resikonya cukup tinggi karena dia sama sekali tak terlihat,” sahut Orion berdalih.
“Kau sengaja melimpahkan segala urusan padaku, ya.”
Bekas sayatan pedang itu samar-samar terlihat. Endaru memfokuskan titik terberat pada area di sana, sehingga dampak kekuatannya akan memengaruhi sesuatu atau seseorang yang tengah mengincar mereka.
Kegelapan kembali lenyap. Namun semua orang masih berada di posisi yang seperti sebelumnya. Tidak sedang bersantai atau apa, mereka sesama Pejuang NED masih tersungkur di lantai.
Namun, salah satu barista menghilang dari posisi saat ruangan menjadi gelap. Sebab orangnya sendiri sedang berada di hadapan mereka dengan seekor harimau.
“Perkiraanmu tepat sekali, Orion,” ucap Endaru sedikit terkejut karena perkiraan Orion mengenai identitas musuh itu sesuai dugaannya.
“Tentu saja,” ucap Orion bernada sombong.
“Sudah kuduga intuisimu berguna,” imbuh Endaru memuji.
Endaru melepaskan daya gravitasi kepada semua Pejuang NED, kecuali barista yang ada di sana. Ia tengah bertekuk lutut bersama hewan peliharaannya.
“Hanya dengan tingkatan puluhan saja mereka sudah tidak kuat. Khu khu, lawan yang lemah.”
Endaru seolah tertawa jahat. Melihatnya, seketika Orion menjadi ragu apakah pria yang ada di sampingnya saat ini adalah Pahlawan Kota?
“Anak muda zaman sekarang sudah berubah,” sindir Orion nampak kecewa.