ORION

ORION
Pasar Berubah Menjadi Medan Perang



Keesokan harinya. Diawali pagi yang cerah, Orion berniat untuk menghirup udara segar seraya berjalan-jalan sebentar namun akan tetapi, banyak orang menitipkan sesuatu untuk kebutuhan mereka. Dan barang itu ada di pasar.


“Ramai sekali.”


Pasarnya cukup ramai hingga banyak orang berlalu-lalang. Banyak sayuran, buah-buahan terpajang di sana. Beberapa pedagang pula juga menjual daging-dagingan.


Orion kemudian merogoh saku celananya. Secarik kertas yang terlipat ia bawa, begitu dibuka, lembaran kertas menjadi sangat panjang. Banyak pesanan yang mereka pesan. Orion hanya menghela napas panjang kemudian mencari satu-persatu pesanannya.


“Wah, wah, tumben sekali ada anak kecil yang belanja. Apa kamu sendiri, nak?” tanya salah seorang pedagang.


“Berikan saja dagingnya, bi. Saya masih harus mencari barang lainnya,” ucap Orion dengan dingin.


Tidak marah, justru pedagang wanita itu terkikik melihat ekspresi wajah Orion yang sedang kesal. Segera ia menyiapkan daging yang dipesan kemudian memberikannya pada Orion.


Setelah selesai Orion menundukkan kepala lantss pergi.


Jduak!


Tetapi perjalanannya tak semulus itu. Baru saja ia menyelesaikan beberapa pesanan. Kini ia menabrak seseorang dari depan sehingga ditatap tajam oleh seseorang yang barusan ditabraknya.


“Maafkan saya, pak. Saya akan lebih berhati-hati.”


Masalahnya, tak hanya satu orang saja yang menatapnya. Bahkan beberapa orang di sekitar Orion mulai memperhatikan dirinya dengan sinis. Padahal ditabrak juga tidak.


“Kenapa ini?” Orion membatin, bertanya-tanya ada apa dengan mereka sebenarnya.


“Kalau begitu, saya permisi.”


Tap!


Orion melangkah maju ke depan, namun setelah itu langkahnya tertahan karena lengannya ditarik oleh seseorang itu.


Seorang pria dengan jenggot yang tebal. Pakaiannya yang tergolong biasa saja dengan serba pendek itulah yang menahan langkah Orion. Sembari menatapnya dengan tajam.


“Ya? Ada masalah apa, pak?” Di luar ia bertanya baik-baik.


Namun dalam hatinya ia berkata, “Seseorang, tolonglah aku!”


“Kau pasti Orion Sadawira.” Pria berjenggot itu mendekat dan berbisik langsung padanya.


Pak! Orion tepis tangan itu, kemudian menjauh sedikit darinya. Ekspresi Orion yang panik dan gelisah itu sedang memikirkan sesuatu.


“Siapa?” Orion bertanya.


Namun pria itu terkekeh-kekeh dengan lirih lalu disusul oleh orang-orang yang disekitar mereka yang ikut terkekeh. Ini sudah jelas bahwa mereka bukanlah penduduk biasa.


Drap! Drap!


Merasa tidak aman. Instingnya bergerak, melarikan diri dari maut di depannya. Dan tentu saja orang-orang itu akan mengejarnya.


Masih berada di dalam gedung pasar, tak menyangka mereka akan berlari mengejar Orion. Padahal mereka cukup menganggu bagi orang-orang yang sedang berbelanja.


Sesekali ia menoleh ke belakang, dan melihat mereka dari waktu ke waktu semakin bertambah yang mengejarnya.


“Apa karena informasiku lagi? Padahal itu mahal, bisa-bisanya ada orang yang mau membayarkan uangnya. Belum lagi, Mahanta dan Gista sama sekali tidak tahu!” gerutunya dalam pelarian pendek.


Di bawah lantai menuju ke lantai atas terdapat papan peringatan yang menunjukkan bahwa lantai sedang basah atau baru saja dibersihkan. Namun Orion tak peduli, ia melangkahi papan peringatan dan kemudian naik ke lantai atas.


Beruntungnya lantai atas belum ada satu pun pedagang yang membuka tempatnya. Karena apalagi kalau bukan karena pembersihan.


“Hei kau! Kemari kau, Anak Api!”


“Br*ngs*k! Jangan main-main, sini kau bocah api!”


“Tangkap dia!”


Grak! Grak!


Berjumlah hampir 10 orang datang mengejar. Salah satu dari mereka mengeluarkan kekuatan berupa gundukan tanah. Muncul dari lantai dan menunjang ke atas menghampiri Orion.


“Akh! Mereka menyerangku di saat aku masih membawa sayuran!” amuk Orion dengan jengkel. Dahinya berkernyit.


Tak lama, gundukan tanah itu semakin cepat menghampiri Orion yang berlari. Stamina Orion juga kalah saing dengan mereka yang terlatih.


“Kita kehilangan jejak!?”


“Tidak becus!”


“Kau yang tidak becus! Masa' kekuatanmu nggak bisa buat nangkep dia!”


“Bukannya itu salah kalian semua yang tidak bisa membantuku!”


Mereka jadi bertengkar karena kehilangan Orion dalam sekejap. Sedangkan di sisi lain, Orion berusaha menahan napas. Tengah bersembunyi di dalam kotak kardus, berharap takkan ditemukan.


“S*al!”


“Bagaimana ini?”


“Ya, kita cari saja! Pasti dia tidak jauh dari sini!”


Drap! Drap!


Mereka semua berpencar untuk mencari Orion. Sepertinya sudah pergi semua, dan inilah saatnya untuk segera pergi dari pasar.


Srak! Ia membuka tutup kardus, berdiri dengan semangatnya dan sumringah.


“Hehe! Sudah kuduga, mana ada anak sepertimu bisa berlari secepat orang dewasa!” pekik salah seorang pria yang berada di dekatnya.


Hari itu, ia pikir bahwa persembunyian sangat sempurna. Semula sumringah berubah menjadi raut wajah kaget sekaligus panik.


Gusrakk!!


“Uakh!!”


Datang dari gundukan tanah di bawahnya. Menghantam hingga membuat Orion terlempar jauh.


Dagunya menjadi sasaran empuk, beberapa giginya patah dan tercabut dengan mudah. Orion mengerang kesakitan, segera ia bangkit dari sana.


“Siapa kau sebenarnya?” Orion bertanya identitasnya.


Pria berjanggut itu meludah sembarangan lalu tersenyum tipis kemudian berkata, “Siapa aku? Fevi, bawahan salah satu rekan Chameleon. Ah, itu, siapa ya namanya?”


Pria itu kemudian mengelus jenggotnya. Berdeham seraya melirik ke sembarang arah.


“Nama atasanku adalah Tuan Gunawan!” imbuhnya dengan sombong.


“Aku sama sekali tak mengenalmu. Tapi aku mengerti siapa Chameleon itu! Dan dia kuat, tapi aku sangat membencinya.”


“Tentu saja!” Fevi mengangkat dua bahu seraya menyeringai.


“Fevi, ya? Namamu tidak cocok dengan penampilanmu yang penuh jenggot itu!” pekik Orion seraya menunjuk Fevi berjenggot.


“Apa!?”


Drap! Drap!


Orion lantas berlari meninggalkannya. Sebelum gundukan tanah kembali mengejar nanti.


“Pantas saja wanita itu tidak datang. Ternyata ada penggantinya,” gerutu Orion.


Gundukan tanah kembali muncul di hadapannya. Di belakang, Fevi mengejar seraya memaki Orion dengan raut wajah kesal. Orion merasa terdesak. Melawan pun sepertinya akan meninggalkan jejak.


“Aduh! Sedikit serangan saja, aku bisa melukai dia. Darahnya akan terciprat di area yang sudah bersih. Tidak, bahkan sekarang kami berdua mengotorinya dengan jejak sepatu.”


Orion berhenti belari begitu gundukan semakin bertambah dan menutupi jalan ke depan. Ia berpikir dalam benaknya dengan menggigit jari.


Ia bukan khawatir kalau ia akan mati di tangannya melainkan karena lantai yang sudah bersih kembali dikotori. Akhirnya menjadi ragu untuk menyerang Fevi.


“Mau bagaimana lagi. Dinding tanah ini juga memadat. Kalau perlu aku harus tumbangkan orang ini,” pikir Orion seraya mengetuk-ngetuk gundukan tanah memadat kemudian beralih ke Fevi.


Kedua bilah pedang yang tajam muncul dari kedua lengannya. Melekat kuat pada kulit, senjata itu berwarna kemerahan mengkilap.


Ketika bersiap dalam posisi menyerang. Seorang pria bertubuh tinggi datang dari belakang Fevi.