
Selembar kertas yang ramai akan tulisan berwarna-warni. Terlihat sangat mencolok dan tampaknya itu bukan brosur produk atau makanan sajian dan lain-lainnya. Lebih terlihat seperti konser musik.
“Wah, aku baru pertama kali melihat adanya konser musik diadakan di universitas,” ucap Orion berdecak kagum.
“Iya, di tempat kami sebenarnya memang tidak mungkin diadakan tapi sepertinya itu juga menarik calon mahasiswa ke depannya jadi para dosen terutama mengijinkan hal ini.” Pria itu menjelaskan.
Lelaki yang jauh lebih muda dari Orion, ialah mahasiswa di universitas tersebut. Ia sangat berantusias begitu menjelaskan apa saja yang ada di selembar kertas sebagai bentuk promosi konser musik mereka. Tak hanya itu, bahkan katanya akan kedatangan tamu yakni penyanyi terkenal yang ada di negeri ini.
“Sepertinya menarik.”
“Jika tertarik, maka ikutilah nanti pada malam hari. Dan aku dengar akan ada pemusik yang berasal dari negara lain.”
“Pemusik lagi?”
“Iya, kudengar sekarang dia akan bermain kecapi.”
Orion tersenyum, mendapati informasi sebegitu mudahnya itu adalah hal ajaib, takkan Orion menyia-nyiakan namun sebelum memberitahukan informasi ini pada Gerhana Bulan, ia harus mencoba untuk memastikan apakah dia adalah pemain kecapi yang ia kenali ataukah bukan.
“Baiklah. Aku akan ke sana.”
***
Malam pun tiba lebih cepat dari dugaan. Lelah karena bertarung juga tubuh yang makin rentan karena usia, namun staminanya masih terkumpul berkat latihan sepanjang hari di masa dulu. Ia jadi teringat bagaimana cara ia hidup kembali serta bertemu dengan Gista, Mahanta, Endaru dan lainnya.
Sungguh kenangan lama yang sebetulnya ingin Orion lupakan, karena tak seharusnya ia berada di sini sekarang.
“Masalah terus saja berdatangan seperti dikerubungi lalat. Kalau begini caranya, akan lebih baik kalau aku mendekam dalam liang lahat.”
“Permisi, sepertinya gaya bicaramu sedikit aneh?” sahut seseorang yang berada di belakang Orion.
Malam itu, persiapan panggung di sebuah lapangan universitas sudah selesai. Hanya saja jadwal acaranya belum dimulai. Namun ketika Orion sudah sampai ke tempatnya, lapangan sudah cukup ramai.
Dan seseorang yang barusan memanggil Orion secara tidak langsung, terlihat ia mengenakan almamater universitas tersebut.
“Kau?”
“Sebentar lagi akan dimulai, silahkan.” Pria ini pernah Orion lihat sebelumnya, pria yang seringkali bersama dengan anjingnya, Gisan. Ia menawarkan sebuah kacamata hitam untuk Orion.
“Untuk apa ini?”
“Pakai saja, maka kamu akan tahu.”
Setelahnya ia pergi begitu saja.
“Aku tidak menyangka bahwa ada dia di sini? Dia tidak ingat aku ya?” gumam Orion.
Takdir di antara mereka telah terhubung untuk selamanya, namun akan tetapi tidak ada keinginan saling mengenal satu sama lain maka mungkin akan terjadi sesuatu hal yang tak terduga.
Namun, lupakanlah hal tersebut. Sekarang, Orion lebih berfokus dengan keberadaan pemain kecapi yang ia tunggu sejak tadi.
“Mau sampai berapa lagu hingga mereka menunjukkan pemusik itu,” lirih Orion seraya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
Terdapat satu pesan yang mengambang dalam notifikasi layar ponselnya. Berisikan, [Kapan kau akan kembali?]
“Kapan-kapan.” Orion membalas pesannya dengan sangat singkat. Dan orang yang barusan mengiriminya pesan, Mahanta lalu lainnya lantas mengamuk karena jawaban Orion itu.
“Lagi pula aku tidak akan lama berada di sini. Memangnya salah jika aku bergerak sendiri? Toh, Chameleon akan datang padaku cepat atau lambat. Kalau kalian datang justru mengacaukan rencana yang telah dibuat.”
Orion kembali memperhatikan foto seorang pria yang memegang alat musik tradisional. Ia hendak mengingatnya dalam memori panjang agar tidak melupakan bagaimana wajah si pemain kecapi tersebut.
“Di sini dia terlihat muda. Mungkin dulunya pernah tinggal di sini? Tapi, nama yang dia punya sangat berbeda dengan nama yang sering disebut oleh beberapa orang di negara ini.”
Tak berselang lama kemudian, terdengar suara kemeriahan di sekitarnya. Para penonton dari almameter lain ataupun penduduk sekitar tampak sangat bersemangat dalam acara malam ini, konser musik yang berapi-api ini membuat Orion agaknya terpaku dalam setiap pertunjukkan.
“Oh, wow. Jadi ini gunanya?”
Orion memakai kacamata hitamnya, dan sontak saja ia berdecak kagum akan teknologi yang semakin canggih. Ia melihat area panggung seolah bergerak dan menarik seiring para pemusik atau anggota band di depan sana menyanyikan lagunya dengan sangat luar biasa.
Juga, efek-efek digitalisasi yang sangat meriah, berbagai serpihan api seperti kembang api ataupun efek lainnya yang seolah berada di atas cakrawala. Keseluruhan efek panggung di desain begitu rapi hanya dengan sebuah kacamata hitam ini.
“Wah, tak aku sangka ini sangat luar biasa. Oh tunggu, tujuanku di sini bukan untuk itu. Dan apa yang sebelumnya aku katakan tentang Chameleon? Hm, seakan aku mendukung dia daripada NED.”
Barusan Orion sadar, bahwa tak seharusnya ia mengatakan jika Mahanta dan lain-lain datang maka rencana Chameleon akan gagal untuk menangkapnya. Di sisi lain, Orion merasa bersalah karena terlihat seakan mendukungnya namun di satu sisi lainnya lagi, ia merasa itu ada benarnya jika memikirkan akan jadi bagaimana mereka bertemu nanti.
“Gista belum datang kemari. Jadi setidaknya aku harus memastikan pemain kecapi itu lebih dulu. Lainnya bisa aku urus nanti.”
Satu hal yang menjengkelkan, ialah sampai saat ini tidak bisa menemukan jejak Madeira lagi. Ia kebenaran yang sungguh mengesalkan.
“Aku tidak akan melupakanmu. Karena aku masih hidup pun hanya untukmu,” gumam Orion, ia mengerutkan keningnya.
Festival musik, konser musik, apa pun namanya tetaplah sangat meriah. Akan tetapi ia sama sekali tidak kunjung menemukan keberadaan pemain kecapi yang ia cari. Orang itu juga tampaknya takkan muncul ke panggung.
“Ataukah aku salah orang? Karena pemain kecapi juga tidak hanya dia seorang,” pikir Orion.
Itu ada benarnya juga. Lantas kalau benar begitu, keberadaannya di sini sungguh sia-sia.
“Ck, benar-benar menjengkelkan!”
DUAAR!
Tiba-tiba saja terdengar ledakan yang kencang, Orion dan para penonton lainnya lantas reflek menolehkan kepalanya ke belakang. Melihat apa yang telah terjadi juga terkejut karena ledakan tersebut.
“Kebakaran?”
Telah terjadi kebakaran di bagian depan yang berada dekat dengan gerbang halaman. Beberapa penonton yang berada di sana turut menjadi korban, dan terus berteriak meminta tolong.
“Tolong! Ada seseorang di dalam! Tolong!”
Semuanya berhamburan dengan panik, kecemasan luar biasa telah memuncak dan membuat mereka tak lagi menonton konser musik itu lagi. Setelah putaran lagu itu selesai pun, tiada yang bernyanyi lagi karena dilanda kepanikan akan kebakaran yang terus merambat ke bagian gerbang.
Di dalam kobaran api yang ganas, terdapat seorang pria yang terduduk telah dalam kondisi terbakar hidup-hidup.
“Astaga! Ini kacau.”
Pria itu tak terlihat bergerak lagi karena seluruh tubuhnya sudah terbakar dan tergerus oleh api. Bagaimana cara mereka menyalamatkannya sementara dibantu dengan siraman air yang banyak pun tidak membantu. Justru membuat api semakin menyala-nyala dengan hebat.
Siapa yang akan mengira bahwa akan terjadi kebakaran di tempat seperti ini, terlebih posisi di mana kebakaran itu terjadi pun tidak masuk akal. Dekat dengan gerbang, dan di sana terlihat ada seseorang yang terlahap oleh api. Sungguh mengerikan.
“Menjauhlah! Menjauhlah!”
Para dosen serta petugas keamanan lainnya ikut turun tangan tuk menjauhi para mahasiswa dan lainnya agar tidak terlibat lebih jauh tentang permasalahan ini. Banyak dari mereka bingung juga malah memotret kejadian tersebut.
Sementara Orion, langkahnya tertahan oleh seseorang. Seseorang yang pastinya tidak ia duga sejak awal, kedatangan Chameleon.
“Sejak awal kau memang berniat datang kemari ya, Chameleon?”
“Aku sendiri yang bilang, bahwa aku akan membuatmu berada di pihakku apa pun yang terjadi. Entah kau yang datang atau aku sendiri yang mendatangiku, pasti pemikiranmu akan berubah.”
“Pria itu, sepertinya kau mengenalinya.”
“Mengenalinya?”
“Hei, masa' kau tidak ingat? Kalau aku jadi dia pasti merasa sedih nih,” ucap Chameleon.
“Bicaramu semakin melantur saja. Apa kau yakin kau tidak sedang mabuk atau semacamnya?”
“Gisan, kalau tidak salah itu namanya.”
“Eh!”
Sontak saja Orion terkejut. Chameleon berpikir bahwa orang yang telah dibakar hidup-hidup itu adalah Gisan, pria yang pernah bertemu setidaknya satu atau dua kali yang juga bersama Chameleon.
“Jangan bilang bahwa ...”
“Jangan menuduhku. Aku tidak melakukan apa pun, hanya saja api itu terlihat familiar bagiku, api abadi.”
Semakin merasa ada yang janggal di setiap perkataan Chameleon, namun akan tetapi Orion merasa bahwa yang dikatakannya itu adalah benar.
Api Abadi terlihat sama seperti api di sana. Tapi, bagaimana mungkin sebab api abadi hanya ada satu dan kriterianya juga cukup jelas kalau api itu tidak bisa dipadamkan bahkan oleh damkar sekalipun.
“Ck! Sebenarnya apa yang terjadi?!”
Orion sudah tidak tahan lagi, bergegas ia mencoba untuk mengendalikan Api Abadi tersebut dari kejauhan namun Chameleon menghalangi.
“Jangan ikut campur lebih dari ini, Chameleon! Pergilah dari sini!”
Chameleon tersenyum masam seraya melepaskannua cengkeramannya. Bergegas Orion menerobos kerumunan dan sampai di dekat area kebakaran itu.
“Hei, sedang apa kau?”
“Pergi, menjauhlah!”
Beberapa dari petugas menghentikan langkah Orion, dan karena sudah tidak cukup waktu untuk berdebat ataupun mengoceh ini itu, ia lantas tidak lagi memperdulikannya dan pergi tuk mendatangi pria tersebut.
“Hei, seseorang! Hentikan dia!”
“Apa dia mau mati?!”
“Astaga, sepertinya kita bertemu dengan orang gila di sini!”
Tak peduli dengan cara dari mereka yang hendak menghentikan Orion, tapi Orion tetap terus melangkah maju ke depan. Tanpa menunggu waktu yang lama lagi, Orion masuk ke dalam kobaran api.
“Ya ampun, dia berniat bunuh diri?”
“Tunggu! Ada yang aneh!”
Di balik banyaknya kerumunan banyak orang, di situ pula Chameleon berdiri dalam bayangan. Ia tersenyum makin lebar ketika tahu bahwa tindakan Orion mudah terbaca seperti itu. Ini memang murni kecelakaan yang takkan bisa diatasi oleh orang biasa, tapi agaknya Chameleon merasa beruntung.
“Aku tidak akan mengijinkan orang-orang biasa melihat fenomenal itu.”
Bayangan dari banyaknya orang menyatu dengan bayangan miliknya sendiri. Dan dalam sekejap, mereka semua jatuh tak sadarkan diri di tempat termasuk para petugas damkar.
“Cepat selesaikan urusanmu, Orion. Dengan begitu aku bisa melihat apa yang ingin aku lihat.”
Entah dengan tujuan apa si Chameleon itu.
Sementara Orion sudah mengeluarkan Gisan dan bahkan mengendalikan apinya agar padan lebih cepat. Tapi mungkin sudah terlambat, tak hanya membakar juga sempat adanya ledakan kecil sudah pasti nyawanya tidak selamat.
“Sepertinya aku terlalu terlambat. Tapi satu pertanyaan terbesarku, kenapa api ini mirip sekali denganku?”
Tubuh pria itu sudah diselimuti oleh abu, ia menjadi gosong dan permukaan kulitnya telah keras namun juga rapuh. Perlahan Orion membaringkannya ke jalan, seraya ia menghela napas sejenak.
“To ...long!”
Tidak lebih dan tidak kurang dari satu menit berlalu usai Orion mengeluarkannya dari kobaran api, tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan suara serta menggenggam tangan Orion. Ia meminta tolong.
“Kau masih hidup?! Katakan sesuatu!”
Chameleon yang berada di sana pun terkejut karena kejadian hari ini, di mana Gisan seolah bangkit kembali.
“Ini di luar dugaanku. Apakah api abadi juga mulai bangkit di negeri lain? Tapi terlihat sama, apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Chameleon.
Tubuh yang sudah seperti arang itu kini mulai luntur, hitam-hitam yang memenuhi tubuhnya menghilang seolah memulihkan luka Gisan. Ia juga mulai bernapas dengan normal. Itu sungguh aneh.
Orion yang masih tidak mengerti hanya bisa terdiam dalam beberapa waktu saja. Lalu, kemudian ia teringat sesuatu.
“Mungkin saja karena darah langka itu,” pikirnya seraya menelusuri setiap tubuhnya yang mungkin saja terluka.
Tetapi nihil, ia sama sekali tidak bisa menemukan luka atau bekas luka yang kemudian terbuka lagi. Ini jelas sangat aneh sebab tidak ada yang mengira bahwa kebangkitan akan terjadi tanpa adanya pertukaran darah.
Atau,
“NED? Kebangkitan murni?”
“Apa yang kau bicarakan, paman?” tanya Gisan yang akhirnya sadarkan diri. Ia mengubah posisinya menjadi duduk.
“Apa ...ah, tidak. Tunggu, apa kau ingat sesuatu?” Orion memutuskan untuk bertanya.
“Aku terbakar oleh api, dan apinya tidak mau padam. Dan ketika aku sudah dikeluarkan barulah aku mulai merasa tenang,” ungkap Gisan.
'Kebangkitan secepat ini. Tidak bisa aku bayangkan. Atau adakah sesuatu yang lain?' batin Orion kembali ia berpikir sesuatu.
“Kamu tidak berpikir bahwa kamu sudah mati. Tubuhmu sudah terbakar dan hangus karena api, kau tahu!” pekik Orion.
“Ya, itu tidak masuk akal karena mengingat aku masih hidup. Tetapi, jauh dari itu lebih aneh lagi,” kata Gisan.
“Maksudmu?”
“Saya bangun di parit, dulu seingat saya, saya sudah mati karena ledakan peluru yang menghujani tubuh saya. Tapi saya teringat itu terjadi sudah beberapa tahun yang lalu,” jelas Gisan.
“Ah, tidak! Aku tidak seharusnya mengatakan itu!” teriak Gisan yang mendadak panik.
“Tenanglah, aku tidak akan berpikir bahwa kau itu aneh atau tidak waras. Kurang lebih aku sama sepertimu, jadi tidak perlu khawatir dan ceritakan semuanya padaku,” pinta Orion.
Keajaiban terjadi, ternyata kebangkitan awalnya bukanlah saat tubuhnya terbakar hidup-hidup melainkan dirinya sudah lama mati, entah selang beberapa tahun.
Namun, misteri di balik api abadi yang dimiliki Gisan. Masih belum tertata jelas bagaimana mungkin itu bisa bangkit.
“Api itu, apakah kau tahu sesuatu?”
“Api? Oh, ya. Kalau bersama dengan Anda, saya jauh lebih merasa tenang. Begini, aku melihat Anda saat masih muda di dalam mimpi saya.”
Dan baru saja terkuak, kemungkinan besar api abadi itu mengalir dari darah Orion pada Gisan. Mimpi itulah buktinya, Gisan memiliki ingatan Orion serta Orion sendiri mengingat adanya ingatan yang bukan miliknya sendiri.