
Orion berlarian dari sela-sela gedung ke gedung lainnya. Namun trnyata itu tidak membuahkan hasil yang cukup jelas. Di samping anak panah yang terus mengejar seolah bernyawa, Orion pun mengeluarkan setengah sayapnya.
Setiap bulu-bulu dari sayapnya menyerang anak panah itu hingga hancur. Dan ketika ia berlarian sepanjang waktu, tak sadar bahwa ia telah kembali ke posisi semula. Tempat di mana Endaru berada saat ini.
“Menghindar dari sana!” pekik Orion memperingati Endaru.
Terdapat hujan panah dari atas Endaru. Segera Endaru berlari namun tanpa pria yang sebelumnya ia bawa.
“Kau malah meninggalkan orang itu!?” amuk Orion.
“Kenapa, sih? Dia juga bukan orang penting!” sahut Endaru menegas.
Duak!!
Endaru menendang gedung, tempat di mana pemanah itu berada. Gedung itu bergetar dan membuat pemanah turun secara paksa.
Crak! Crak! Crak!
Bulu dari setiap sayap Orion menusuk tubuh si pemanah itu. Tentu saja si pemanah itu tidak bisa mengelak lantaran dirinya baru saja turun ke bawah.
“Ck! Benar-benar mengganggu!” Pemanah itu berdecak kesal. Kemudian ia mengangkat kedua tangan memegang busur dan siap menembak anak panah.
“Kau mengabaikanku?” Endaru berada tepat di belakangnya. Hentakannya membuat pemanah itu tidak bisa bergerak.
Gravitasi yang bertingkat 5 kali lipat itu menekan tubuhnya hingga jatuh ke tanah. Dengan rasa sakit serta kehabisan napas. Ia mengerang sembari mencekik lehernya sendiri.
“Jangan sampai kau jadi kriminal!” teriak Endaru. Melesat cepat dan menggunakan tendangan kaki tuk menyerang tubuh orang itu.
Kretek!
“Argh! Sakit!”
Seharusnya orang itu yang bilang sakit, tapi justru Orion sendiri. Ia merasakan nyeri di punggung karena tulang rusuk yang patah.
“Hei, kau kenapa?”
“Tulang rusukku patah.”
“Sinting!”
Tap! Tap!
Begitu pemanah itu berdiri dari jalanan, sontak mereka berdua menghindar. Melompat ke belakang dan bersikap waspada seraya mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
“Duh, bisa-bisanya aku lupa tulang rusukku patah begini.” Orion menggerutu.
Tampaknya tubuh pria itu sudah tidak kuat menahan rasa sakit. Untuk berjalan saja ia terlihat kesusahan. Namun, Endaru dan Orion semakin mewaspadainya.
“Heh, kalian berdua ini sungguh bodoh.”
Drap! Drap!
Pemanah itu berlari. Menghindari Orion dan Endaru yang kemudian mengejarnya.
Gedung betingkat berupa sebuah mall. Pemanah itu berlari menuju ke atas langsung dari dinding. Langkahnya seperti berjalan di jalanan aspal biasa.
“Aku akan ke naik ke atas!”
Swooshh!!
Orion melesat terbang dengan cepat mengejarnya. Tak berselang lama kemudian pun Endaru ikut menyusul dengan meringankan tubuhnya.
Beberapa panah melesat ke arah mereka berdua setelah berada di atap gedung. Salah satu panah berhasil menggores wajah Orion. Nyaris saja mengenai kepala.
“Tak kusangka kalian akan mengejarku,” ucap pemanah itu sembari mengarahkan anak panah pada mereka berdua.
“Tentu saja kami akan mengejar. Memangnya kenapa?” sahut Endaru seraya melepas kedua sarung tangannya dan berjalan mendekat secara perlahan.
“Ini cukup aneh. Apakah Chameleon bukan dia ataupun dia sedang tidak ada di sana?” gumam Orion mengerutkan kening.
Orion mengibaskan lengan berapinya. Membentuk sebuah dinding api yang mengitari mereka, di sekeliling atap gedung tersebut.
Sontak, pemanah itu sangat terkejut karena tiba-tiba api muncul dan menghalangi jalan keluarnya.
“Bagus sekali,” kata Endaru memuji.
“Belum saatnya merasa senang. Lihat, dia muncul!” Orion menunjuk ke arah bayangan si pemanah.
Bayangannya bergeliat-liat menjijikan. Setelah beberapa saat, muncul sosok seseorang yang familiar dengan wajah Dicky. Yang tidak lain adalah Chameleon itu sendiri.
Ia muncul setelah dinding api menyebar. Bukan berwajah kecewa atau kesal justru menyunggingkan senyum dan tatapan sinis.
Beberapa orang dan kendaraan yang berlalu-lalang sempat berhenti sejenak. Mereka terkagum-kagum akan fenomena yang di luar nalar. Lantaran api yang muncul tepat di atas gedung mall terlihat tidak membakar apa pun.
Seperti lilin di atas kue. Gedung dengan api itu terlihat mirip. Beberapa dari mereka mulai memotretnya, mengabadikannya dalam foto atau video. Bahkan juga diunggah ke media sosial.
“Wah, wah, sepertinya di luar sangat ramai.” Chameleon berceloteh usai mendengar keramaian yang berada dekat dengannya.
Namun pemandangan yang berada di bawah sama sekali tidak terlihat karena dinding api milik Orion.
“Ternyata dia muncul. Apa dia tidak kuat dengan Api Abadi?” pikir Endaru.
“Bukannya tidak kuat. Hanya saja dia mengincarku karena Api Abadi, jadi kupikir dia akan muncul begitu merasakan Api Abadi itu sendiri,” ungkap Orion.
WUUNGG!!
Medan gravitasi meningkat sebanyak 10 kali lipat. Menekan keberadaan Chameleon yang seutuhnya keluar dari bayangan. Endaru hendak mengunci seluruh pergerakannya hingga suatu waktu Chameleon kehabisan napas.
Namun tentunya itu sangat sulit dilakukan. Meski dengan kekuatan Endaru sekalipun.
“Kekuatanmu tidak akan berguna kalau aku berada di wujud ruh.”
Baru saja Chameleon mengatakannya. Chameleon merasuk ke tubuh si pemanah itu dengan paksa. Lantas dengan tubuh pemanah itu, ia mengarahkan telapak tangan ke depan.
“Orion, menyingkir dari jangakauan serangnya!” pekik Endaru sembari mendorong tubuh Orion lebih jauh darinya.
Seketika medan gravitasi menekan Endaru dengan berkali lipat kuatnya. Tubuh Endaru merasa akan hancur, bagian atap datar pada gedung itu menimbulkan kerusakan yang cukup parah.
“Uhuk! Tuan ...Chameleon!” Dengan kesadaran pemanah itu sendiri ia berusaha mengatakan sepatah kata pada Chameleon. Dirinya memuntahkan darah segar lantaran ia tak cukup kuat tuk menahan kekuatan gravitasi yang bukan miliknya.
“Apa-apaan dia itu? Menggunakan tubuh bawahannya sendiri. Dia benar-benar bunglon psikopat,” gerutu Endaru. Perlahan ia merasakan kekuatan itu melemah seiring waktu hingga Endaru pun kembali bangkit dan menggunakan kekuatannya lagi.
Crak! Crak!
Dua bulu berapi melesat, menembus kedua kaki si pemanah itu. Endaru membuat kedua bulu itu semakin berat hingga tubuh si pemanah jatuh tak berdaya.
“Tubuhnya lemah sekali,” ucap Chameleon seraya menatap kedua telapak tangannya.
Lantas, Chameleon keluar dari tubuh itu. Dengan berwujud ruh ia melayang. Kemudian menatap sinis seraya menyunggingkan senyum untuk yang kedua kalinya.
“Itu bahaya!” teriak Orion.
“Hei, Orion! Apa yang kau lakukan?!” pekik Endaru yang melihat Orion pergi menghampiri si pemanah.
Tubuh pemanah itu sebelumnya hanya terduduk lemas. Namun karena sudah dalam kondisi tidak sadar, bagian dari kepala hingga ke tubuh bagian tengahnya hendak jatuh ke belakang.
Jika dibiarkan maka tubuhnya akan terbakar. Lebih parahnya lagi akan hangus menjadi abu.
Srek!
Dalam waktu sekejap dinding api lenyap. Pemanah itu hendak jatuh ke bawah, namun Orion berhasil menahannya tepat waktu sampai kakinya nyaris tergelincir di pinggir gedung.
“Kena kau, Orion!”
Yang ia kira Chameleon sudah keluar. Justru masih berada dalam tubuh pemanah tersebut. Dia menyeringai seolah menertawakan hati kecil Orion.